Sabtu, 10 Oktober 2026

Humor Kaum Bajingan Pengadilan


Pengantar: Berikut ini adalah paket humor kaum bajingan pengadilan. Tentu saja ini merupakan fiksi satire. Sebuah jurnalistik rekayasa. Jadi, ya, jangan ditiru. Lalu kalau mirip? Berarti pengadilan kita sejatinya sedang tidak humor.

Paket 1: Keadilan Express

Terdakwa: "Yang Mulia, saya minta keadilan."
Hakim: "Minta keadilan? Boleh-boleh saja. Tapi harap antre dulu..!"
Terdakwa: "Antreannya berapa lama Yang Mulia?"
Hakim: "Tergantung."
Terdakwa: "Tergantung apa?"
Hakim: "Tergantung siapa yang mengantar dan berapa nominalnya."
Terdakwa: "Kalau saya hanya sendiri dan gak bawa apa-apa??"
Hakim: "Bisa saja. Tapi jangan harap."
Terdakwa: "Jangan harap apa?"
Hakim: "Jangan harap dilayani dengan cepat. Harap berbekal sabar tak terbatas."
Terdakwa: "Duh, nasib orang kecil.."

(Punchline: Di negeri ini, keadilan bukan buta. Cuma pura-pura tidak melihat.)

Paket 2: Lelang Pasal

Jaksa: "Pasal yang cocok untuk Anda ada tiga paket: 2 tahun, 5 tahun, atau 10 tahun."
Terdakwa: "Saya pilih yang 2 tahun, pak Jaksa."
Jaksa: "Boleh. Itu namanya paket hemat. Tapi ada biaya tambahan."
Terdakwa: "Berapa?"
Jaksa: "Tergantung kecepatan putusan."
Terdakwa: "Kalau saya mau cepat?"
Jaksa: "Berarti di-upgrade ke paket express. Sidang pagi. Vonis siang, Sore bebas."
Terdakwa: "Kalau nggak bayar?"
Jaksa: "Itu paket reguler. Lama sidang lima bulan. Vonis lima menit. Penjara lima tahun."

(Punchline: Pasal bisa dipilih seperti menu restoran. Yang mahal bukan makanannya. Tapi diskonnya.)

Paket 3: Amplop Kenangan

Hakim: "Catat..! Saya tidak menerima suap..!"
Terdakwa: "Keren, Yang Mulia. Saya juga tidak berniat untuk menyuap."
Hakim: "Lalu ini apa?"
Terdakwa: "Ini...cuma kenang-kenangan Yang Mulia."
Hakim: "Kenang-kenangan apa?"
Terdakwa: "Agar Yang Mulia ingat saya."
Hakim: "Loh, Saya sudah ingat kok.."
Terdakwa: "Tapi belum cukup Yang Mulia. Jangan sampai lupa saat putusan."
Hakim: "Saya tidak pernah lupa pasal."
Terdakwa: "Saya tahu Yang Mulia. Tapi kan yang sering terjadi. Begitu lupa amplopnya, otomatis pasalnya jadi lupa."

(Punchline: Kadang hakim lupa pasal, tapi tidak lupa kado.)


Paket 4: Mediasi Damai


Pengacara A: "Kita sudahi dengan damai saja."
Pengacara B: "Damai bagaimana?"
A: "Klien saya bayar, Klien Anda terima. Perkara hilang."
B: "Itu bukan damai. Itu transaksi."
A: "Sama saja. 
B: "Lalu bedanya apa?"
A: "Bedanya,  kalau  damai ada berita acaranya."
B: "Kalau transaksi?"
A: "Nggak ada berita acara. Tapi ada rekaman dan tanda terima."
B: "Rekaman?"
A: "Iya. Rekaman...Kalau nanti ada yang tidak beres dan tidak puas."

(Punchline: Di pengadilan, damai bisa berarti kedua pihak sepakat untuk tidak jujur.)


Paket 5: Kasasi Express

Terdakwa: "Saya mau kasasi."
Pengacara: "Boleh. Ada dua jalur. Jalur hukum atau jalur cepat."
Terdakwa: "Bedanya?"
Pengacara: "Jalur hukum butuh bukti. Jalur cepat butuh kenalan."
Terdakwa: "Saya pilih yang jalur kenalan dan cepat saja."
Pengacara: "Bagus. Tapi kalau ketahuan, kita ganti nama jadi upaya hukum luar biasa ya..."
Terdakwa: "Maksudnya luar biasa apa?"
Pengacara: "Luar biasa...muahal..."

(Punchline: Kasasi bisa lambat, bisa cepat. Tergantung siapa yang dihubungi dan berapa besaran nominalnya.)

Paket 6: Keadilan Masih Tersedia

Terdakwa: "Yang Mulia, saya minta keadilan."
Hakim: "Siap. Kebetulan keadilan masih tersedia. Tapi ada biaya administrasinya."
Terdakwa: "Administrasi apa?"
Hakim: "Administrasi...dalam rangka mempercepat proses."
Terdakwa: "Kalau tidak bayar?"
Hakim: "Prosesnya tetap jalan terus."
Terdakwa: "Bagus dong."
Hakim: "Iya. Tapi arahnya pake baju orange ke penjara."
Terdakwa: "Kalau bayar?"
Hakim: "Arahnya ke rumah sakit. Nominalnya bikin sakit perut dan mencret mendadak."

Bonus 
Punchline: 

Di pengadilan, yang disebut negeri bisa berarti tempat berjuang membela hukum. Atau tempat jual beli hukum.

Bonus Pantun:

Pergi ke pasar beli kacamata
Beli juga sepasang selop
Bajingan itu setengah buta,
Mata ijo lihat amplop

Serial Tasawuf-15 (1): "Ridha, Ketika Hati Berdebat dengan Takdir"


Pengantar: Hujan telah berlalu, dan sumur di belakang zawiyah kembali terisi. Namun malam itu, langit kembali gelap. Bukan karena awan. Melainkan karena gerhana yang menelan bulan. Para salik duduk di serambi. Memandangi langit yang kehilangan cahayanya. Di antara mereka, seorang salik bernama Yunus menangis tanpa suara. Ia baru saja kehilangan anaknya yang masih bayi. Dan hatinya masih bergulat dengan pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

Ketika Bulan Tersembunyi di Balik Awan

Mursyid duduk di sampingnya. Tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan tangannya di pundak Yunus. Membiarkan kehangatan itu berbicara lebih dari seribu kalimat.

Setelah lama terdiam. Mursyid akhirnya berbicara dengan suara yang pelan. Seperti bisikan angin di antara dedaunan.

"Yunus, anakku. Malam ini bulan tertutup. Tetapi ia tidak hilang. Cahayanya masih ada. Hanya tersembunyi di balik awan. Begitu pula hikmah dari apa yang engkau alami. Engkau tidak melihatnya sekarang. Tetapi ia ada. Dan ia akan muncul. Ketika engkau siap melihatnya."

Yunus mengangkat wajahnya. Matanya merah. "Wahai Mursyid, bagaimana aku bisa menerima ini? Bagaimana aku bisa ridha ketika hatiku hancur?"

Mursyid menghela napas. "Itulah pertanyaan yang paling berat, anakku. Dan jawabannya adalah maqam yang paling tinggi: Ridha."

Kisah Seorang Ayah dan Dua Anaknya

Mursyid memulai kisahnya malam itu dengan suara yang dalam. Seperti air yang mengalir di bawah tanah.

"Ada seorang ayah yang memiliki dua anak. Ketika ayah itu sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit jauh. Ia memanggil kedua anaknya. Kepada anak pertama. Ia berkata: 'Aku akan pergi untuk waktu yang lama. Jagalah rumah. Rawatlah ibumu. Dan janganlah engkau berhenti berdoa untukku.'"

"Anak pertama menangis. Tetapi ia berkata: 'Baik, Ayah. Aku akan melakukan apa yang engkau minta.'"

"Kepada anak kedua. Ayah itu berkata hal yang sama. Tetapi anak kedua menjawab: 'Ayah, mengapa engkau harus pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami? Apakah engkau tidak mencintai kami? Aku tidak mau engkau pergi. Aku akan melakukan apa pun agar engkau tetap di sini.'"

Mursyid berhenti sejenak. "Anak pertama menerima keputusan ayahnya dengan ridha. Anak kedua menolaknya dengan keluh kesah. Keduanya mencintai ayah mereka. Tetapi hanya anak pertama yang memahami bahwa cinta sejati bukanlah memaksa kehendak sendiri. Melainkan menerima kehendak yang dicintai."

"Ayah itu pergi juga. Ia tidak bisa tinggal hanya karena anaknya menangis. Tetapi ketika ia kembali, setelah sembuh, ia memeluk anak pertama dengan erat dan berkata: 'Engkau telah membuatku bangga. Engkau telah menunjukkan cinta yang sejati.'"

Mursyid menatap Yunus. "Allah adalah Ayah kita yang sejati. Ia mengambil sesuatu dari kita bukan karena Ia tidak mencintai kita. Tetapi karena Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Ridha adalah ketika kita menerima keputusan-Nya. Meskipun kita tidak memahaminya."

Hakikat Ridha yang Sesungguhnya

Seorang salik bernama Bilal mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah ridha berarti kami tidak boleh bersedih? Apakah ridha berarti kami harus tersenyum ketika hati kami menangis?"

Mursyid menggeleng pelan. "Tidak, anakku. Itu bukan ridha. Itu kemunafikan."

"Ridha bukanlah tidak adanya kesedihan. Ridha adalah ketenangan hati di tengah kesedihan. Nabi Muhammad SAW menangis ketika anaknya, Ibrahim, meninggal. Beliau bersabda: 'Mata ini menangis. Dan hati ini bersedih. Tetapi kami tidak mengatakan apa pun yang tidak diridhai Allah.'"

"Perhatikanlah, Nabi SAW tidak mengatakan bahwa beliau tidak sedih. Beliau bersedih. Tetapi beliau tidak mengeluh. Beliau tidak menyalahkan Allah. Beliau tidak berputus asa. Itulah ridha. Kesedihan yang tidak melahirkan kedurhakaan."

Mursyid menjelaskan, "Imam al-Ghazali, mengajarkan bahwa ridha adalah buah dari mahabbah. Ketika engkau mencintai Allah dengan sepenuh hati. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia lakukan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau percaya bahwa Dzat yang engkau cintai tidak akan pernah menyakitimu."

"Ridha bukanlah pasrah yang buta. Ridha adalah kepercayaan yang total. Engkau tidak tahu mengapa Allah melakukan sesuatu. Tetapi engkau tahu bahwa Allah tidak pernah salah. Engkau tidak tahu apa hikmah di balik musibah. Tetapi engkau tahu bahwa Allah selalu ingin yang terbaik untukmu."

Dalil-Dalil dari Al-Qur'an

Mursyid membuka mushafnya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang ridha."

"Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah (karunia) yang besar." (Al-Maidah: 119)

"Perhatikanlah," ujar Mursyid, "ridha itu timbal balik. Jika engkau ridha kepada Allah, Allah akan ridha kepadamu. Dan keridhaan Allah adalah karunia yang paling besar. Lebih besar dari surga. Lebih besar dari segala kenikmatan."

"Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh. Niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah benar-benar ridha terhadap mereka. Dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah (karunia) yang besar." (Al-Mujadilah: 22)

"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai." (Al-Fajr: 27-28)

Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah ayat ini. Allah tidak memanggil jiwa itu dengan 'hai jiwa yang sabar' atau 'hai jiwa yang zuhud'. Ia memanggilnya dengan 'hai jiwa yang tenang'. Ketenangan adalah buah dari ridha. Ketika engkau ridha. Jiwamu menjadi tenang. Tidak lagi gelisah. Tidak lagi memberontak. Tidak lagi bertanya-tanya."

"Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak." (Ibrahim: 42)

Dalil-Dalil dari Hadits

Mursyid melanjutkan dengan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.

"Rasulullah SAW bersabda:

'Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya.' (HR. Muslim)

"Perhatikanlah, Nabi SAW menyebutkan bahwa orang mukmin selalu dalam kebaikan. Tetapi ada satu tingkatan yang lebih tinggi dari syukur dan sabar. Yaitu ridha. Orang yang ridha tidak hanya bersyukur ketika senang dan bersabar ketika susah. Ia ridha dalam segala keadaan."

'Barangsiapa yang ridha. Maka ia mendapat keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang murka. Maka ia mendapat murka Allah.' (HR. Tirmidzi)

Mursyid juga mengisahkan sabda Nabi:

'Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah, lalu ia berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" dan "Ya Allah, berilah aku pahala atas musibahku ini, dan gantilah untukku dengan yang lebih baik," melainkan Allah akan memberinya pahala dan menggantinya dengan yang lebih baik.' (HR. Muslim)

"Ridha," ujar Mursyid, "bukanlah sekadar menerima musibah. Ridha adalah yakin bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Jika bukan di dunia, maka di akhirat."

Ridha Maqam Paling Berat

Malam semakin larut. Gerhana telah berlalu. Dan bulan kembali menampakkan wajahnya yang pucat namun indah. Mursyid bangkit dari duduknya. Membetulkan sarungnya. Memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya. "Ridha adalah maqam yang paling tinggi. Tetapi juga yang paling berat. Ia bukan dicapai dengan kekuatan. Tetapi dengan cinta. Ketika engkau mencintai Allah dengan sepenuh hati. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia lakukan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau percaya bahwa Dia tidak akan pernah menyakitimu."

"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa memahami hikmah di balik setiap kejadian. Tetapi engkau bisa mempercayai Dzat yang mengetahui hikmah itu. Engkau tidak bisa melihat masa depan. Tetapi engkau bisa mempercayai Dzat yang menciptakan masa depan. Engkau tidak bisa mengubah takdir. Tetapi engkau bisa ridha dengan takdir. Dan ridha itu akan mengubah hatimu menjadi taman yang penuh kedamaian."

Mursyid menutup majelis dengan doa:

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang ridha—hati yang tidak berdebat dengan takdir, hati yang tidak mengeluh atas musibah, hati yang tidak gelisah atas masa depan. Jadikanlah kami hamba-hamba yang Engkau ridhai, dan berikanlah kami keridhaan-Mu, karena keridhaan-Mu adalah kebahagiaan yang sejati. Amin."

Yunus mengusap air matanya. Ia belum bisa ridha sepenuhnya. Tetapi ia mulai memahami. Anaknya tidak hilang. Ia hanya dipanggil pulang oleh Dzat yang lebih mencintainya daripada ia sendiri. Dan suatu hari, ia akan bertemu lagi.

Malam itu, para salik pulang dengan hati yang lebih lapang. Mereka belum mencapai ridha. Tetapi mereka telah melihatnya. Dan melihatnya adalah langkah pertama.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Serial-15 (2): "Tujuh Tingkatan Ridha"

Jumat, 09 Oktober 2026

Wacana Penarikan Kembali Purbaya: "Idealnya di Posisi Mana?


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-60)

Pengantar: Angin politik di Kabinet Merah Putih kembali berembus kencang. Isu yang mencuat belakangan ini bukanlah sekadar perombakan biasa. Melainkan wacana menarik kembali sosok Purbaya Yudhi Sadewa. Tentu saja ke dalam lingkaran inti pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Jika benar terjadi. Idealnya di posisi mana beliau berkiprah kembali?

Pencopotan Efek Gesekan Politis

Nama mantan Menteri Keuangan yang dicopot secara mendadak pada September 2026. Kini kembali menjadi buah bibir. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah ia akan ditarik. Melainkan di posisi mana penempatannya akan paling tepat dan  ideal. Terutama demi menjawab tantangan ekonomi ke depan.

Pencopotan Purbaya dari kursi bendahara negara memang menyisakan tanda tanya besar. Pengamat politik menilai bahwa keputusan tersebut tidak semata-mata didasari oleh evaluasi kinerja. Melainkan juga sarat akan kepentingan politik. Ada gesekan kebijakan dengan program prioritas presiden. 

Meski demikian, rekam jejak Purbaya selama satu tahun menjabat tidak bisa dinafikan. Ia dikenal sebagai teknokrat yang berani. Blak-blakan. Dan memiliki pandangan tajam terhadap perekonomian nasional. 

Di bawah kepemimpinannya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat berada pada laju tercepat dalam tiga tahun. Meskipun di sisi lain defisit anggaran melebar. Dan arus modal keluar sempat menekan rupiah.

Wacana Penarikan Kembali

Wacana penarikan kembali Purbaya ke dalam kabinet. Sebenarnya bukanlah isapan jempol belaka. Pendiri Great Institute, Syahganda Nainggolan, secara eksplisit memprediksi bahwa Presiden Prabowo dapat kembali memanggil Purbaya untuk menempati posisi strategis. 

Menurut analisisnya, pencopotan tersebut tidak berkaitan dengan penilaian buruk terhadap kinerja Purbaya. Justru sebaliknya, Presiden mengapresiasi capaian yang telah diraihnya. 

Pencopotan itu dinilai sebagai langkah pragmatis untuk meredam instabilitas akibat manajemen konflik. Terutama terkait langkah agresif Purbaya dalam menertibkan skandal pajak korporasi. Dan menolak intervensi lembaga keuangan global.

Lalu, jika benar ia ditarik kembali. Posisi manakah yang paling ideal? Beberapa opsi mengemuka. Salah satu yang paling kuat adalah posisi Gubernur Bank Indonesia (BI). 

Syahganda menilai posisi ini sebagai yang paling sesuai dengan kapasitas dan pengalaman Purbaya. Latar belakangnya sebagai mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi modal penting dalam menangani persoalan sektor perbankan yang dinilai masih "tambal sulam". 

Pengalaman tersebut membuatnya paham betul bank-bank atau lembaga keuangan mana yang perlu dibenahi atau bahkan ditutup. Penempatan Purbaya di BI diprediksi akan diterima dengan baik. Dan ia disebut sebagai teknokrat yang fokus menjalankan tugas institusional. Tanpa manuver politik pencitraan.

Opsi lain yang sempat beredar adalah posisi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Namun, tawaran ini sepertinya kurang mengakomodasi kekuatan utama Purbaya di bidang ekonomi dan keuangan. 

Purbaya sendiri secara tegas menolak wacana kembali menjadi menteri setelah dicopot. Dengan nada bercanda ia menyatakan, "Baru dipecat, masa jadi menteri lagi". 

Ia bahkan lebih memilih untuk menikmati masa pensiun. Memancing di kolam belakang rumahnya. Sambil menepis rumor penempatan di posisi lain. Seperti Gubernur Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII).

Sebuah Paradoks Menarik

Dengan demikian, narasi penarikan kembali Purbaya ke kabinet menyisakan paradoks menarik. Di satu sisi, kapasitasnya sebagai teknokrat ekonomi tidak perlu diragukan lagi. 

Ia memiliki visi pro-growth yang kuat dan berani mengambil langkah-langkah tidak konvensional. Seperti penempatan dana pemerintah di bank-bank Himbara untuk mendorong likuiditas dan pertumbuhan kredit. 

Di sisi lain, kepribadiannya yang keras dan cenderung "koboi" dalam mengambil kebijakan. Mungkin menjadi bumerang dalam ekosistem kabinet yang membutuhkan harmoni dan stabilitas.

Posisi paling tepat dan ideal bagi Purbaya

Jika memang ia ditarik kembali. Bukanlah di kursi menteri yang bersifat politis. Melainkan di posisi yang menuntut kemurnian teknis dan keberanian dalam pengambilan keputusan berbasis data. 

Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter yang independen. Adalah rumah yang tepat. Di sana, ia dapat melanjutkan misi mulianya dalam membenahi sektor keuangan. Mengidentifikasi bank-bank bermasalah. Dan menjaga stabilitas sistem keuangan tanpa harus terbelit dalam intrik politik kabinet yang rumit.

Pada akhirnya, wacana penarikan kembali Purbaya adalah cerminan dari pencarian sosok yang tepat. Untuk mengawal ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. 

Jika Presiden Prabowo benar-benar ingin memanfaatkan kembali kapasitas emas Purbaya, maka Gubernur BI adalah jawabannya. Sebuah posisi yang tidak hanya menghargai kecerdasan dan integritasnya. 

Tetapi juga memberikan ruang bagi Purbaya untuk berkontribusi secara maksimal bagi negeri ini. Tanpa harus kembali merasakan getirnya intrik kursi menteri.

Persoalannya terpulang pada kebijakan Presiden Prabowo sendiri. Mau gak memanfaatkan doktor ekonomi lulusan luar negeri yang pemberani dan berotak encer ini?

Seraial Tasawuf-14 (3): "Buah Ma'rifatullah , Ketika Hati Mengenal Tuhannya"


Narasi Pemicu: Apa yang terjadi ketika seseorang benar-benar mengenal Allah? Apakah hidupnya menjadi tanpa masalah? Apakah ia terbang di udara atau berjalan di atas air? Tidak. Buah ma'rifatullah bukanlah kemampuan supranatural. Melainkan perubahan yang mengakar dalam jiwa. Sebuah transformasi yang membuat seseorang memandang dunia dengan mata baru. Merasakan hidup dengan hati baru. Dan menjalani hari-hari dengan kesadaran baru. 

Menuju Hidup Penuh Makna

Ma'rifatullah tidak mengubah apa yang ada di luar. Melainkan mengubah cara seseorang melihat apa yang ada di luar. Ia adalah cahaya yang menerangi seluruh ruang kehidupan. Sehingga yang dulunya gelap menjadi terang. Yang dulunya berat menjadi ringan. Dan yang dulunya hampa menjadi penuh makna.

Buah pertama ma'rifatullah adalah ketenangan jiwa. 

Al-Qur'an berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Ketika seseorang mengenal Allah. Ia tahu bahwa tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa izin-Nya. Ia tahu bahwa rezeki telah dijamin. Ajal telah ditetapkan. Dan segala sesuatu berjalan sesuai rencana yang sempurna. 

Pengetahuan ini melahirkan ketenangan yang tidak bisa diguncang oleh badai kehidupan. Orang yang mengenal Allah tidak panik ketika kehilangan pekerjaan. Tidak putus asa ketika gagal dalam ujian. Tidak gelisah ketika masa depan tampak tidak pasti. Sebab ia mengenal Allah sebagai Al-Mudabbir. Maha Pengatur. Yang tidak pernah salah dalam mengatur urusan hamba-Nya.

Buah Kedua Mahabbah

Buah kedua adalah mahabbah. Cinta kepada Allah yang mengalahkan segala cinta. Orang yang mengenal Allah akan mencintai-Nya lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. Keluarganya. Hartanya. Dan seluruh dunia. 

Cinta ini bukan cinta yang menuntut. Melainkan cinta yang memberi. Bukan cinta yang mengeluh. Melainkan cinta yang bersyukur. 

Rabi'ah al-Adawiyah menggambarkan cinta ini sebagai api yang membakar seluruh keinginan selain Allah. Ibnu Arabi melukiskan cinta ini sebagai lautan yang tidak memiliki tepi. Di mana setiap tetesnya menghanyutkan diri ke dalam kekasih. Cinta ini melahirkan ketaatan yang mudah. Ibadah yang nikmat. Dan pengorbanan yang ringan. Sebab cinta tidak pernah merasa berat untuk memberi.

Buah ketiga, khauf dan raja'

Buah ketiga adalah khauf dan raja'. Rasa takut dan harapan yang seimbang. Orang yang mengenal Allah akan takut kepada-Nya bukan karena takut hukuman. Melainkan karena takut kehilangan cinta-Nya. 

Ia akan berharap kepada-Nya. Bukan karena ingin surga. Melainkan karena ingin melihat wajah-Nya. Takut dan harapan ini menjaga seseorang dari kelalaian dan keputusasaan. Ia tidak merasa aman dari murka Allah. Tetapi juga tidak berputus asa dari rahmat-Nya. 

Inilah keseimbangan yang melahirkan kehati-hatian dalam melangkah dan keberanian dalam berharap. Dua sayap yang mengantar seseorang terbang menuju Allah.

Buah Keempat Tawadhu'

Buah keempat adalah tawadhu'. Kerendahan hati. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari betapa kecil dirinya. Ia tidak lagi merasa sombong dengan ilmunya. Tidak lagi merasa tinggi dengan amalnya. Tidak lagi merasa suci dengan ibadahnya. 

Sebab ia tahu bahwa segala kebaikan berasal dari Allah. Dan segala keburukan berasal dari dirinya sendiri. Tawadhu' membuat seseorang mudah memaafkan. Mudah meminta maaf. Dan mudah mengakui kesalahan. 

Ia tidak sibuk menilai orang lain. Karena ia sibuk memperbaiki diri. Ia tidak sibuk mencari pengakuan. Karena ia telah mendapat pengakuan dari Allah. Dan itu sudah cukup.

Buah Kelima, Musyahadah

Buah kelima adalah musyahadah. Menyaksikan kehadiran Allah di balik segala sesuatu. Orang yang mengenal Allah tidak lagi melihat dunia sebagai tujuan. Melainkan sebagai cermin yang memantulkan kebesaran Allah. 

Ia melihat senja bukan sekadar senja. Melainkan lukisan Allah yang Maha Indah. Ia mendengar burung berkicau bukan sekadar suara. Melainkan tasbih Allah yang Maha Suci. Ia merasakan sakit bukan sekadar derita. Melainkan kasih sayang Allah yang Maha Penyayang. 

Kesadaran ini membuat hidupnya penuh keajaiban. Penuh syukur. Dan penuh cinta. Tidak ada hari yang kosong dari kehadiran Allah. Tidak ada momen yang sunyi dari cinta-Nya.

Pada akhirnya, buah ma'rifatullah adalah kehidupan yang telah berubah. Bukan dari luar. Melainkan dari dalam. Ia adalah hati yang tenang di tengah badai. Cinta yang membara di tengah dinginnya dunia. Harapan yang menyala di tengah gelapnya masa depan. 

Ma'rifatullah tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Tetapi menjanjikan hati yang tidak goyah ketika masalah datang. Ia tidak menjanjikan dunia yang sempurna. Tetapi menjanjikan cara memandang dunia yang membuatnya terasa sempurna. Karena kehadiran Allah di dalamnya. 

Dan pada akhirnya, ma'rifatullah adalah pintu menuju kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang tidak tergantung pada apa yang dimiliki. Melainkan pada siapa yang dikenal. 

Allahumma inni as'aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa hubba 'amalin yuqarribuni ila hubbik—Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu. Dan cinta amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu. 

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Serial Tasawuf-15 (1): "Ridha, Ketika Malam Terbelah Awan"

Humor Kaum Bajingan Pengadilan

Pengantar: Berikut ini adalah paket humor kaum bajingan pengadilan. Tentu saja ini merupakan fiksi satire. Sebuah jurnalistik rekayasa. Jadi...