Memamerkan Spiritualitas
Islam ala Prabowo. Frasa ini dipandang janggal secara metodologis. Dikhawatirkan menjadi pintu masuk bagi sebuah dosa besar dalam tradisi keilmuan Islam. Katakanlah dengan mempersempit agama universal ke dalam pemahaman seorang tokoh. Apalagi tokoh itu masih hidup dan sedang berkuasa.
Ditengarai ada upaya, agama yang diturunkan sebagai rahmatan lil 'alamin sedang dijinakkan. Dikurung. Dan dijadikan alat legitimasi politik. Apakah ini sebuah taktik dan strategi kaum penjilat untuk meraih posisi?
Islam mengajarkan bahwa amal terbaik adalah yang dilakukan tersembunyi. Jauh dari pandangan manusia.
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang memperdengarkan (amalnya) maka Allah akan memperdengarkan (keburukannya), dan barangsiapa yang memperlihatkan (amalnya) maka Allah akan memperlihatkan (keburukannya)" (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam tradisi sufistik, menyembunyikan amal adalah tanda keikhlasan tertinggi. Sedangkan memamerkan ibadah di hadapan publik adalah pintu masuk riya. Penyakit hati yang paling halus dan berbahaya.
Maka pertanyaan yang harus diajukan adalah, mengapa kehidupan beragama seorang presiden harus dikemas khusus? dibukukan? Dan diluncurkan di hotel mewah? Bahkan untuk mendapat pujian dari ulama yang dianggap terlalu dekat dengan kekuasaan?.
Maka pertanyaan yang harus diajukan adalah, mengapa kehidupan beragama seorang presiden harus dikemas khusus? dibukukan? Dan diluncurkan di hotel mewah? Bahkan untuk mendapat pujian dari ulama yang dianggap terlalu dekat dengan kekuasaan?.
Bukankah itu justru membunuh makna spiritualitas itu sendiri? Jika benar seseorang mengamalkan Islam dengan tulus, biarlah Allah yang menilai. Bukankah lebih mulia seorang pemimpin yang diam-diam bersujud di malam hari? Daripada yang ibadahnya diabadikan dalam buku setebal 368 halaman?
Ketika Penjaga Moral Menjadi Pelayan Kekuasaan
Sejarah Islam penuh dengan peringatan tentang ulama yang menjilat penguasa. Imam Abu Hanifah menolak jabatan hakim dari Khalifah Al-Mansur dan dipenjarakan karenanya. Imam Ahmad bin Hanbal dicambuk dan dipenjarakan karena menolak mengakui kemakhlukan Al-Qur'an demi kepentingan politik Khalifah Al-Ma'mun. Mereka adalah teladan. Bahwa ulama sejati tidak menjual agamanya demi kedekatan dengan kekuasaan.
Namun hari ini, kita menyaksikan fenomena yang sebaliknya. Ketika MUI, lembaga yang seharusnya menjadi penjaga moral umat, justru menjadi peluncur buku yang menuhankan figur politik. Maka pertanyaan yang muncul adalah, di mana independensi ulama?
Ketika Penjaga Moral Menjadi Pelayan Kekuasaan
Sejarah Islam penuh dengan peringatan tentang ulama yang menjilat penguasa. Imam Abu Hanifah menolak jabatan hakim dari Khalifah Al-Mansur dan dipenjarakan karenanya. Imam Ahmad bin Hanbal dicambuk dan dipenjarakan karena menolak mengakui kemakhlukan Al-Qur'an demi kepentingan politik Khalifah Al-Ma'mun. Mereka adalah teladan. Bahwa ulama sejati tidak menjual agamanya demi kedekatan dengan kekuasaan.
Namun hari ini, kita menyaksikan fenomena yang sebaliknya. Ketika MUI, lembaga yang seharusnya menjadi penjaga moral umat, justru menjadi peluncur buku yang menuhankan figur politik. Maka pertanyaan yang muncul adalah, di mana independensi ulama?
Gustave Le Bon dalam The Crowd mengingatkan bahwa massa mudah tersihir oleh pemimpin yang tampil sebagai simbol. Dan pemimpin yang cerdas memahami bahwa agama adalah alat mobilisasi paling powerful. Setidaknya, yang pernah ada dalam sejarah manusia.
Pencatutan Nama, Dosa Intelektual
Kita hendak mencari bukti bahwa proyek ini bukanlah gerakan spiritual. Bukti bahwa proyek ini sepertinya lebih ke operasi pencitraan politik. Maka lihatlah skandal pencatutan nama yang mencoreng wajah buku ini.
Pencatutan Nama, Dosa Intelektual
Kita hendak mencari bukti bahwa proyek ini bukanlah gerakan spiritual. Bukti bahwa proyek ini sepertinya lebih ke operasi pencitraan politik. Maka lihatlah skandal pencatutan nama yang mencoreng wajah buku ini.
Tuan Guru Bajang K.H. Muhammad Zainul Majdi, mantan Gubernur NTB yang dihormati, membantah pernah mengirim tulisan untuk buku tersebut. Gus Kautsar, pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, juga tidak pernah memberikan izin pencantuman namanya sebagai penulis bab. Begitupun K.H. Said Aqil Siroj, mantan Ketua Umum PBNU, termasuk yang membantah.
Ini adalah bentuk penipuan intelektual paling rendah. Mencuri nama orang lain untuk membangun legitimasi. Apalagi nama ulama besar. Tindakan ini dalam tradisi Islam disebut sebagai ghulul. Mengambil sesuatu yang bukan haknya. Jika dalam urusan buku saja sudah terdapat manipulasi seperti ini, apa lagi yang disembunyikan di balik proyek-proyek lain yang mengatasnamakan Islam?
Ini adalah bentuk penipuan intelektual paling rendah. Mencuri nama orang lain untuk membangun legitimasi. Apalagi nama ulama besar. Tindakan ini dalam tradisi Islam disebut sebagai ghulul. Mengambil sesuatu yang bukan haknya. Jika dalam urusan buku saja sudah terdapat manipulasi seperti ini, apa lagi yang disembunyikan di balik proyek-proyek lain yang mengatasnamakan Islam?
Dosa Kekuasaan yang Tak Terampuni
Pada akhirnya, yang paling berbahaya dari fenomena ini bukanlah buku itu sendiri. Melainkan premis yang mendasarinya. Bahwa agama dapat dijadikan instrumen untuk membangun citra kekuasaan. Ini adalah penistaan paling halus terhadap agama.
Pada akhirnya, yang paling berbahaya dari fenomena ini bukanlah buku itu sendiri. Melainkan premis yang mendasarinya. Bahwa agama dapat dijadikan instrumen untuk membangun citra kekuasaan. Ini adalah penistaan paling halus terhadap agama.
Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW adalah agama yang menolak pembungkaman kritik. Menolak ketidakadilan. Dan menolak penguasaan manusia atas manusia.
Fahmi Salim, Direktur Al-Fahmu Institute, menulis dengan tajam bahwa kemunculan buku ini di tengah ketegangan politik pasca-muktamar NU dan manuver bulan Agustus membuatnya dicurigai sebagai "penjilatan intelektual" (at-tamalluq al-fikri).
Fahmi Salim, Direktur Al-Fahmu Institute, menulis dengan tajam bahwa kemunculan buku ini di tengah ketegangan politik pasca-muktamar NU dan manuver bulan Agustus membuatnya dicurigai sebagai "penjilatan intelektual" (at-tamalluq al-fikri).
Ia bahkan menegaskan bahwa Presiden sendiri kemungkinan besar tidak pernah meminta agar langkah-langkah kebijakannya diberi labelisasi normatif agama. Dengan kata lain, inisiatif ini lahir dari mereka yang ingin mencari muka di hadapan penguasa. Sebuah tradisi yang telah diwarisi dari zaman kerajaan-kerajaan Nusantara hingga era Orde Baru.
Kembalikan Agama ke Tempat yang Suci
Jika kita sungguh-sungguh ingin menjaga kemurnian Islam, maka ada beberapa langkah yang harus diambil:
Pertama, hentikan politisasi agama. Judul buku harus diganti. "Islam ala Prabowo" adalah degradasi terhadap kesakralan agama menjadi sekadar instrumen politik. Anwar Abbas benar ketika ia meminta judulnya diubah. Lebih dari itu, umat Islam harus menolak segala upaya yang menjadikan agama sebagai kendaraan kekuasaan.
Kedua, tegakkan independensi ulama. MUI dan lembaga keagamaan lainnya harus mengembalikan marwahnya sebagai penjaga moral, bukan pelayan penguasa. Ulama harus berani berkata benar di hadapan penguasa. Sebagaimana yang dilakukan Rois Faisal Ridho dan Ustaz Hilmi Firdausi.
Ketiga, perkuat literasi keagamaan umat. Umat Islam harus dididik untuk membedakan antara spiritualitas sejati dan pencitraan politik. Islam tidak memerlukan pembelaan dari kekuasaan. Islam berdiri di atas kebenaran, dan kebenaran tidak memerlukan stempel dari Istana.
Keempat, hormati kesakralan agama. "Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidak ada seorang pun yang memaksakan diri dalam agama kecuali ia akan dikalahkan" (HR. Bukhari). Islam adalah agama yang membebaskan, bukan agama yang dipasung. Ia adalah cahaya yang menerangi, bukan proyek yang dipamerkan.
Merdeka dari Penjajahan Nama
Jika "Islam ala Prabowo" terus dibiarkan, maka yang mati bukanlah pekik "merdeka atau mati." Melainkan kemerdekaan spiritual umat Islam Indonesia.
Kembalikan Agama ke Tempat yang Suci
Jika kita sungguh-sungguh ingin menjaga kemurnian Islam, maka ada beberapa langkah yang harus diambil:
Pertama, hentikan politisasi agama. Judul buku harus diganti. "Islam ala Prabowo" adalah degradasi terhadap kesakralan agama menjadi sekadar instrumen politik. Anwar Abbas benar ketika ia meminta judulnya diubah. Lebih dari itu, umat Islam harus menolak segala upaya yang menjadikan agama sebagai kendaraan kekuasaan.
Kedua, tegakkan independensi ulama. MUI dan lembaga keagamaan lainnya harus mengembalikan marwahnya sebagai penjaga moral, bukan pelayan penguasa. Ulama harus berani berkata benar di hadapan penguasa. Sebagaimana yang dilakukan Rois Faisal Ridho dan Ustaz Hilmi Firdausi.
Ketiga, perkuat literasi keagamaan umat. Umat Islam harus dididik untuk membedakan antara spiritualitas sejati dan pencitraan politik. Islam tidak memerlukan pembelaan dari kekuasaan. Islam berdiri di atas kebenaran, dan kebenaran tidak memerlukan stempel dari Istana.
Keempat, hormati kesakralan agama. "Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidak ada seorang pun yang memaksakan diri dalam agama kecuali ia akan dikalahkan" (HR. Bukhari). Islam adalah agama yang membebaskan, bukan agama yang dipasung. Ia adalah cahaya yang menerangi, bukan proyek yang dipamerkan.
Merdeka dari Penjajahan Nama
Jika "Islam ala Prabowo" terus dibiarkan, maka yang mati bukanlah pekik "merdeka atau mati." Melainkan kemerdekaan spiritual umat Islam Indonesia.
Kita akan menyaksikan agama yang telah membebaskan bangsa ini dari penjajahan. Justru dijajah kembali oleh ambisi kekuasaan yang tidak pernah puas. Kita akan menyaksikan ulama yang seharusnya menjadi pewaris Nabi. Justru menjadi pewaris tradisi penjilat penguasa.
Islam bukan milik siapa pun. Ia milik Allah. Dan mereka yang mencoba mengurungnya dalam nama seorang manusia. Siapapun dia. Sekalipun seorang presiden. Sedang melakukan pengkhianatan terhadap amanah paling suci yang pernah diturunkan ke bumi.
Islam bukan milik siapa pun. Ia milik Allah. Dan mereka yang mencoba mengurungnya dalam nama seorang manusia. Siapapun dia. Sekalipun seorang presiden. Sedang melakukan pengkhianatan terhadap amanah paling suci yang pernah diturunkan ke bumi.
"Dan barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir" (QS. Al-Ma'idah: 44).
Sudah saatnya umat Islam merdeka dari penjajahan nama. Bukan Islam ala Prabowo. Bukan Islam ala siapa pun. Melainkan Islam ala Rasulullah. Islam yang menolak dijajah. Menolak dibungkam. Dan menolak dijual demi kursi kekuasaan. Yah, ada-ada saja nih inisiatif kaum penjilat..!!
Sudah saatnya umat Islam merdeka dari penjajahan nama. Bukan Islam ala Prabowo. Bukan Islam ala siapa pun. Melainkan Islam ala Rasulullah. Islam yang menolak dijajah. Menolak dibungkam. Dan menolak dijual demi kursi kekuasaan. Yah, ada-ada saja nih inisiatif kaum penjilat..!!



