Dalam sejarah pembahasan aqidah Islam, muncul pelbagai kelompok yang menyimpang dari manhaj Ahli Sunnah Wal Jama‘ah. Antara lain yang sering disebut oleh para ulama ialah golongan mujassimah, yaitu mereka yang menetapkan sifat jisim dan menyerupakan Allah dengan makhluk. Kelompok seperti ini biasa menamakan manhajnya Salafi-Wahabi.
Penyimpangan ini bukan sekadar isu teori, bahkan mempunyai implikasi besar terhadap cara mereka beragama, berfikir dan berinteraksi dengan pihak lain.
Salah satu peringatan keras yang datang daripada ulama besar berkaitan sikap sebagian golongan ini yang menghalalkan segala cara untuk menyerang amaliah yang lain, bahkan harus dilakukan dengan penipuan dan fitnah demi mempertahankan manhajnya.
Kenyataan ini bukan sekadar kritikan kosong, tetapi lahir dari perhatian terhadap realitas pemikiran pada saat ini. Ia memberi isyarat bahwa apabila aqidah sudah menyimpang, maka akhlak dan integritas juga pasti mudah dikorbankan.
1) Upaya Menghalalkan Segala Cara
Islam tidak pernah mengajar bahwa tujuan yang baik boleh dicapai dengan cara yang batil. Bahkan dalam situasi paling darurat sekalipun, kejujuran tetap menjadi prinsip utama. Namun, apabila seseorang terlalu takjub dengan pemahaman sendiri, dia mungkin hanya berpandangan bahwa “kemenangan manhaj/mazhab” lebih penting daripada kebenaran itu sendiri.
Disinilah dimulainya bahaya. Penipuan dianggap strategi, fitnah dijadikan senjata, dan manipulasi dijustifikasi atas nama agama. Sedangkan hakikatnya, perbuatan tersebut bukan saja telah mencemarkan agama, namun juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap ilmu, adab dan ulama.
2) Bentuk-Bentuk Penyelewengan
Sejarah dan realitas menunjukkan beberapa bentuk penyelewengan yang sering dikaitkan dengan golongan ekstrem Wahabi dalam aqidah:
• Mengubah buku/teks ulama agar sejalan dengan pemahaman sendiri.
• Menisbahkan pandangan palsu kepada imam-imam besar untuk mendapatkan legitimasi.
• Menciptakan kisah atau naratif untuk menjatuhkan marwah ulama yang menentang mereka.
• Menyebarkan riwayat atau hadis palsu yang menggambarkan Allah menyerupai makhluk.
Perkara-perkara ini bukan sekadar kesalahan ilmiah, tetapi juga dosa besar dari sudut hukum agama karena telah melibatkan pendustaan terhadap agama dan para pewarisnya.
3) Prinsip Ahli Sunnah Wal Jama‘ah
Sebaliknya, manhaj Ahli Sunnah Wal Jama‘ah berdiri atas tiga asas utama: ilmu yang sahih, akhlak yang mulia, dan kejujuran dalam penyampaian.
4) Seruan Kepada Umat
Dalam era media sosial hari ini, penyebaran maklumat menjadi sangat pantas — termasuklah maklumat yang tidak sahih. Oleh karena itu, umat Islam perlu lebih berhati-hati:
• Semak sumbernya sebelum percaya dan menyebarkan.
• Kenali manhaj ulama muktabar.
• Hindari fanatisme berlebihan terhadap mana-mana kelompok.
• Utamakan adab ketika ada perbedaan pandangan.
Kita tidak dituntut untuk menjadi pakar dalam semua bidang, tetapi kita dituntut untuk menjaga agama ini dari segala bentuk kebatilan.
5) Penutup
Aqidah yang benar sepatutnya melahirkan akhlak yang benar. Jika suatu pemahaman mendorong kepada penipuan, fitnah dan kebencian, maka itu tanda bahwa ada yang tidak kena pada asasnya.
Semoga Allah memelihara umat Islam terjerumus dalam kesesatan yang samar maupun nyata, serta mengaruniakan kita keikhlasan untuk senantiasa bersama kebenaran — bukan sekadar mempertahankan arogansi kelompok.
“Kebenaran itu tidak memerlukan penipuan untuk menang.”
Salah satu peringatan keras yang datang daripada ulama besar berkaitan sikap sebagian golongan ini yang menghalalkan segala cara untuk menyerang amaliah yang lain, bahkan harus dilakukan dengan penipuan dan fitnah demi mempertahankan manhajnya.
Dalam karya agung Ṭabaqāt al-Shāfi‘iyyah al-Kubrā, Al-Imam Tāj al-Dīn al-Subkī menyebut bahwa di kalangan kaum mujassimah menganggap pendustaan sebagai alat untuk mendominasi manhaj dan arogansinya, bahkan tanpa tedeng aling-aling melakukan tuduhan palsu terhadap pihak yang berbeda pandangan. Baik melalui pemalsuan terhadap buku-buku Ahli Sunah Wal Jamaah (ASWAJA) maupun melalui pemelintiran ayat dan hadits yang difahami secara saklek.
Kenyataan ini bukan sekadar kritikan kosong, tetapi lahir dari perhatian terhadap realitas pemikiran pada saat ini. Ia memberi isyarat bahwa apabila aqidah sudah menyimpang, maka akhlak dan integritas juga pasti mudah dikorbankan.
1) Upaya Menghalalkan Segala Cara
Islam tidak pernah mengajar bahwa tujuan yang baik boleh dicapai dengan cara yang batil. Bahkan dalam situasi paling darurat sekalipun, kejujuran tetap menjadi prinsip utama. Namun, apabila seseorang terlalu takjub dengan pemahaman sendiri, dia mungkin hanya berpandangan bahwa “kemenangan manhaj/mazhab” lebih penting daripada kebenaran itu sendiri.
Disinilah dimulainya bahaya. Penipuan dianggap strategi, fitnah dijadikan senjata, dan manipulasi dijustifikasi atas nama agama. Sedangkan hakikatnya, perbuatan tersebut bukan saja telah mencemarkan agama, namun juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap ilmu, adab dan ulama.
2) Bentuk-Bentuk Penyelewengan
Sejarah dan realitas menunjukkan beberapa bentuk penyelewengan yang sering dikaitkan dengan golongan ekstrem Wahabi dalam aqidah:
• Mengubah buku/teks ulama agar sejalan dengan pemahaman sendiri.
• Menisbahkan pandangan palsu kepada imam-imam besar untuk mendapatkan legitimasi.
• Menciptakan kisah atau naratif untuk menjatuhkan marwah ulama yang menentang mereka.
• Menyebarkan riwayat atau hadis palsu yang menggambarkan Allah menyerupai makhluk.
Perkara-perkara ini bukan sekadar kesalahan ilmiah, tetapi juga dosa besar dari sudut hukum agama karena telah melibatkan pendustaan terhadap agama dan para pewarisnya.
3) Prinsip Ahli Sunnah Wal Jama‘ah
Sebaliknya, manhaj Ahli Sunnah Wal Jama‘ah berdiri atas tiga asas utama: ilmu yang sahih, akhlak yang mulia, dan kejujuran dalam penyampaian.
Perbedaan pandangan diraikan dengan adab, bukan dengan tuduhan atau fitnah.
Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa mempertahankan aqidah tidak boleh dilakukan dengan cara yang bertentangan dengan prinsip Islam. Bahkan, kebenaran itu sendiri mempunyai kekuatan — ia tidak memerlukan pembohongan untuk ditegakkan.
Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa mempertahankan aqidah tidak boleh dilakukan dengan cara yang bertentangan dengan prinsip Islam. Bahkan, kebenaran itu sendiri mempunyai kekuatan — ia tidak memerlukan pembohongan untuk ditegakkan.
4) Seruan Kepada Umat
Dalam era media sosial hari ini, penyebaran maklumat menjadi sangat pantas — termasuklah maklumat yang tidak sahih. Oleh karena itu, umat Islam perlu lebih berhati-hati:
• Semak sumbernya sebelum percaya dan menyebarkan.
• Kenali manhaj ulama muktabar.
• Hindari fanatisme berlebihan terhadap mana-mana kelompok.
• Utamakan adab ketika ada perbedaan pandangan.
Kita tidak dituntut untuk menjadi pakar dalam semua bidang, tetapi kita dituntut untuk menjaga agama ini dari segala bentuk kebatilan.
5) Penutup
Aqidah yang benar sepatutnya melahirkan akhlak yang benar. Jika suatu pemahaman mendorong kepada penipuan, fitnah dan kebencian, maka itu tanda bahwa ada yang tidak kena pada asasnya.
Semoga Allah memelihara umat Islam terjerumus dalam kesesatan yang samar maupun nyata, serta mengaruniakan kita keikhlasan untuk senantiasa bersama kebenaran — bukan sekadar mempertahankan arogansi kelompok.
“Kebenaran itu tidak memerlukan penipuan untuk menang.”
(Sumber/fb/april/2026).



