Kamis, 02 Juli 2026

Penempuh Lorong Sunyi Menuju Cahaya Ilahi...(Sebuah feature spiritual tentang pencarian hakikat dalam tradisi tasawuf)


Di sebuah desa di kaki Gunung Merbabu, hiduplah seorang pemuda bernama Ahmad. Ia bukanlah orang istimewa. Seorang anak petani. Lulusan sekolah menengah. Pekerja serabutan yang menghabiskan hari-harinya di pasar dan sawah. 

Namun pada malam-malam tertentu, saat azan subuh belum berkumandang dan alam masih diam, Ahmad terbangun dengan perasaan aneh: seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan. Bukan suara, bukan mimpi, melainkan sebuah rasa yang merambat di tulang punggungnya, seperti sungai bawah tanah yang tak terlihat.

Ia tidak mengerti apa itu. Tapi ia faham, sesuatu telah bergerak dalam dirinya.
Orang-orang menyebutnya salik—para pejalan spiritual yang menempuh jalan panjang menuju Tuhan. Tapi bagi Ahmad, itu bukanlah gelar yang ia pilih. Ia hanyalah seseorang yang tidak bisa lagi tidur nyenyak setelah merasakan bahwa dunia ini hanyalah bayangan dari sesuatu yang lebih nyata.

Kau tidak seperti yang lain

Suatu hari, Ahmad mengunjungi makam seorang wali tua di lereng bukit. Para peziarah lain datang dengan doa dan harapan. Minta jodoh, minta rezeki, minta kesembuhan. Tapi Ahmad datang dengan pertanyaan kosong yang bahkan tidak mampu ia rumuskan dengan kata-kata. Ia duduk di bawah pohon randu, menatap batu nisan yang sudah lumut, dan menunggu.

"Kau tidak seperti yang lain," kata seorang kakek tua yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Bajunya lusuh, sorot matanya tajam.

"Apa yang membedakan saya?" tanya Ahmad.

"Kau tidak meminta apa pun. Padahal kau bisa meminta segalanya di sini."

Ahmad terdiam. "Saya tidak tahu apa yang harus saya minta."

Kakek itu tersenyum. "Karena kau bukan mencari sesuatu. Kau mencari Yang Tidak Bernama. Dan kabar baiknya—Dia juga mencari kau."

Tiga Penjara Jiwa

Dalam perjalanan pulang, kakek itu berbisik tentang tiga penjara yang mengurung setiap salik.
Pertama: Penjara dunia—keinginan akan harta, pujian, dan kekuasaan. Kedua: Penjara diri—ego yang merasa dirinya terpisah dari yang lain. Ketiga: penjara pikiran—keyakinan bahwa Tuhan dapat dipahami dengan akal semata.

"Tapi pintu-pintu penjara itu tidak terkunci dari luar," kata kakek itu sebelum menghilang di tikungan jalan. "Mereka terkunci dari dalam. Kunci yang sama yang mengurung, juga bisa membebaskan. Kau hanya harus berani memutarnya."

Ahmad mulai mengamati dirinya sendiri. Ia melihat betapa selama 25 tahun hidupnya, ia telah menjadi budak keinginan—ingin diakui, ingin sukses, ingin dicintai. Ia melihat bagaimana egonya selalu membela diri, membenarkan kesalahan, menyalahkan keadaan. Dan ia melihat bagaimana pikirannya terus menerus menjerat Tuhan dalam kata-kata, sementara hati kecilnya tahu bahwa Tuhan terlalu agung untuk dibatasi bahasa.
---
Itikaf di Gua Sunyi

Malam itu, Ahmad memanjat ke sebuah gua kecil di tebing belakang desanya. Ia tidak membawa bekal, hanya sebotol air dan sebuah buku tua berisi syair-syair Jalaluddin Rumi yang ditemukannya di pasar loak. 

Di dalam gua, gelap. Tidak ada suara kecuali tetesan air dari stalaktit dan detak jantungnya sendiri.

Awalnya ia mencoba berdoa. Lalu ia mencoba bermeditasi. Lalu ia mencoba mengingat semua ayat yang pernah ia hafal. Semuanya terasa seperti tembok yang menghalanginya, bukan jembatan yang menghubungkannya.

Sampai akhirnya, dalam keputusasaan yang manis, ia berhenti berusaha.
Dan di situlah—di tengah keheningan yang tidak dibuat-buat—cahaya itu muncul. Bukan cahaya yang terlihat mata, tapi cahaya yang dirasakan. Seperti ketika seseorang sangat mencintaimu tanpa perlu mengatakannya. Seperti ketika kau pulang ke rumah setelah bertahun-tahun merantau. Seperti ketika kau mengingat sesuatu yang tidak pernah kau alami, tapi terasa begitu akrab.

Ahmad menangis. Bukan karena sedih, bukan karena bahagia. Tapi karena ia menyadari: selama ini ia mencari di luar, padahal yang dicari selalu berada di dalam. Ia mencari dengan kepala, padahal seharusnya dengan hati. Ia berbicara kepada Tuhan, padahal seharusnya ia mendengarkan.

Cahaya yang Menjalar

Keesokan paginya, Ahmad turun dari gua. Wajahnya tidak berubah—masih sama seperti sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya: sebuah ketenangan yang tidak dapat dijelaskan. Para tetangga bertanya apa yang terjadi, tapi Ahmad hanya tersenyum.

Ia tidak menjadi suci. Ia masih marah ketika ditipu, masih sedih ketika kehilangan, masih ingin ketika melihat sesuatu yang indah. Namun kini ada jarak—sebuah kesadaran yang mengamati semua itu tanpa terperangkap. Seperti orang yang menonton ombak di pantai; ia tidak menjadi ombak, ia tidak melawan ombak, ia hanya menyaksikannya datang dan pergi.

Bahkan ketika ibunya meninggal enam bulan kemudian, Ahmad tidak jatuh dalam keputusasaan yang hancur. Ia menangis, tentu saja. Tapi di balik air matanya, ada keheningan yang tahu: ibunya bukanlah mayat yang terbaring di kain kafan itu. Ibunya adalah cinta yang masih mengalir di nadinya, doa yang ia panjatkan, dan senyum yang terus hidup dalam ingatannya.

Kembali ke Kesadaran

Kini, di usia 40 tahun, Ahmad sudah tidak lagi "mencari". Bukan karena ia menemukan segalanya, tapi karena ia menyadari bahwa mencari dan menemukan adalah permainan ego belaka. Yang harus dilakukan hanyalah kembali. Kembali ke kesadaran bahwa sejak awal, ia tidak pernah terpisah dari Cahaya itu. Ia pikir ia adalah debu yang berjalan di jalan; ternyata ia adalah jalan itu sendiri.

Ia masih tinggal di desa yang sama, masih bekerja di sawah, masih berbincang dengan tetangga soal cuaca dan harga cabai. Namun kini, setiap helai rumput baginya adalah ayat, setiap hembus angin adalah bisikan, setiap manusia yang ia temui adalah cermin yang memantulkan Wajah Yang Satu.

Dan pada malam-malam tertentu, ketika semua orang tidur dan alam sunyi, Ahmad masih terbangun dengan perasaan aneh yang sama. Hanya kali ini, ia tidak lagi bertanya siapa yang memanggil. Ia hanya tersenyum, karena ia tahu: panggilan itu adalah dirinya sendiri, mengingatkan dirinya yang lain, bahwa perjalanan tidak pernah berakhir—karena ia sendiri adalah perjalanan menuju dirinya yang asli.

Sebab di ujung jalan, para salik tidak menemukan Tuhan. Mereka menemukan bahwa selama ini, Tuhan-lah yang berjalan dalam diri mereka, mengalami diri-Nya sendiri melalui mata, telinga, dan hati manusia.

Akhir Perjalanan

Perjalanan salik bukanlah tentang mencapai puncak. Ia adalah tentang menyadari bahwa kau tidak pernah berada di bawah. Bahwa cahaya ilahi tidak bersinar dari langit yang jauh; ia bersinar dari kedalaman hatimu sendiri, menunggu kau berhenti mencari cukup lama untuk melihat bahwa kau adalah cahaya itu, dan cahaya itu adalah kau—dalam bentuk yang selalu ada, sebelum kata-kata, sebelum dunia, sebelum waktu dimulai.
(features expresionis seorang salik/awal-juli/2026)

Selasa, 30 Juni 2026

Wawancara Imaginer dengan Donald J.Trump: "KAU BILANG SAYA PEMBUNUH..!!"


Catatan: Berikut ini adalah wawancara imaginer (khayalan) antara Saya (Kang Nana Seorang Jurnalis Indonesia) dengan Presiden AS Donald J. Trump. Berikut petikan wawancaranya.

Gedung Putih, pukul 21.33. Saya diizinkan masuk ke Ruang Oval setelah konferensi pers sore yang berakhir ricuh. (Trump duduk di balik meja kayu besar, dasi merahnya ditanggalkan, jari-jari kedua tangannya teranyam rapat diatas permukaan meja kerjanya).

Trump: (tanpa menoleh) Kau jurnalis dari Indonesia yang berteriak tadi. Berani sekali anda. Tapi Saya suka itu. Duduk...!

Saya: (duduk di kursi yang disodorkan Trump) Terima kasih, Mr. Presiden.

Trump: Kau bilang saya pembunuh. Teroris. Genosida. Kata-kata besar dari orang kecil. (menyipitkan mata). Tapi saya tidak marah. Saya penasaran. Katakan, mengapa kau begitu yakin?

Saya: Saya melihat kebijakan luar negeri AS — perang, sanksi, blokade. Ratusan ribu nyawa melayang atas nama "perdamaian". Bukankah itu kemunafikan?

Trump: (tertawa pendek) Kemunafikan? Itu kata yang indah. Tapi kau tahu apa masalah dunia? Terlalu banyak orang berpikir. Terlalu banyak orang berfilsafat. Analisis ini, analisis itu. Beginilah, begitulah. Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya bertindak. Amerika bertindak. Dan ketika Amerika bertindak, dunia mendengarkan.

Saya: Bukankah tindakan tanpa refleksi adalah kekerasan?

Trump: (mencondongkan badan) Dengar, saya sudah membaca buku-buku tebal. Saya sudah mendengar orang-orang pintar berbicara berjam-jam tentang moralitas, etika, dan semua omong kosong itu. Tapi bisnis, politik, kekuasaan — ini bukan tentang apa yang benar secara filsafat. Ini tentang apa yang berhasil. Dan apa yang berhasil adalah kekuatan. Berpolitik demi kekuatan dan kekuasaan.

(Dia berdiri dan berjalan ke jendela, memandang ke arah Washington yang gelap).

Trump: Lihatlah ke luar sana. Semua orang ingin menjadi baik. Mereka ingin dihormati, dicintai, dianggap bijak. Tapi hanya sedikit yang berani menjadi kuat. Saya tidak peduli jika mereka menyebut saya arogan, narsis, satu dimensi — saya mendengar semua kata-kata itu. Tapi lihatlah saya. Saya di sini. Mereka tidak.

Saya: Apakah itu yang kau cari? Bukti bahwa kau "di sini" dan mereka tidak?

Trump: (berbalik, alis terangkat) Pertanyaan psikologis. Saya suka itu. Tapi kau salah jika berpikir saya mencari validasi. Saya sudah mendapat validasi dari 80 juta orang yang memilih saya. Apa yang saya cari? (diam sejenak) Saya mencari legacy. Nama yang tidak akan dilupakan. Seperti piramida di Mesir. Seperti Tembok Besar Cina. Orang-orang mungkin membencinya, tetapi mereka mengingatnya.

Saya: Kau ingin menjadi monumen?

Trump: Saya ingin menjadi kenyataan. Dunia ini penuh dengan orang yang berbicara tentang apa yang seharusnya terjadi. Saya membuat sesuatu terjadi. Kadang buruk, kadang baik — saya tidak naif. Tapi setidaknya saya nyata. Tidak seperti filsuf-filsuf kau yang duduk di menara gading dan bicara tentang "solidaritas" tanpa pernah memegang kekuasaan sejati.

(Dia kembali duduk, menatap saya dengan intens).

Trump: Kau tahu apa yang saya pelajari selama bertahun-tahun? Bahwa dunia ini tidak adil. Tidak pernah adil. Dan semua omongan tentang kebaikan, keadilan, kesetaraan — itu hanya kata-kata yang membuat orang merasa nyaman sebelum tidur. Saya tidak menjual kenyamanan. Saya menjual hasil.

Saya: Tapi bukankah hasil tanpa moral hanya meninggalkan kehampaan?

Trump: (tersenyum lebar) Itu pertanyaan yang bagus. Mungkin kau harus menulis buku tentang saya. Tapi saya akan beri tahu sesuatu: orang-orang yang paling banyak bicara tentang moral adalah orang-orang yang paling takut menggunakan kekuasaan. Saya tidak takut. Itu sebabnya saya menang.

(Dia mengangkat gelas air, menyesapnya, lalu menatap saya panjang).

Trump: Kau sudah tidak muda lagi. Tapi kau masih punya idealisme. Itu bagus. Tapi ingat: idealisme tidak pernah membangun satu gedung pun, tidak pernah menandatangani satu perjanjian pun, tidak pernah menyelamatkan satu nyawa pun di medan perang. Yang membangun dunia adalah orang-orang yang bersedia mengotori tangan mereka. Suatu hari nanti, kau akan mengerti.

Saya: (diam sejenak) Mungkin. Tapi saya khawatir jika semua orang berpikir seperti kau, dunia akan menjadi panggung kekuasaan tanpa panggung kemanusiaan.

Trump: (tertawa, lalu berdiri mengakhiri pertemuan) Kau datang jauh-jauh dari Indonesia ke sini untuk melawan saya, tapi kau pulang dengan pertanyaan untuk dirimu sendiri. Itu sudah lebih dari yang didapat kebanyakan orang. 
(mengulurkan tangan) Besok, pikirkan baik-baik: apakah kau ingin menjadi benar, atau ingin menjadi berkuasa?

(Saya menjabat tangannya. Tangannya besar, hangat, dan terasa sangat nyata).

Trump: (sambil berbalik) Dan jangan lupa tulis itu dengan bagus. Saya suka tulisan yang bagus. Believe me...!!
---
(Keesokan paginya, saya Ki Gempur Mudharat meninggalkan Washington. Saya tidak mendapatkan jawaban. Tapi saya mendapatkan sebuah pertanyaan baru yang mungkin lebih penting).

Senin, 29 Juni 2026

Hanya Wahabi Memvonis di luar Kelompoknya Sebagai Ahlul Bid'ah


Tidak ada sesama Muslim memanggil saudara muslim lainnya dengan Ahlul Bid'ah. Hanya Kaum Salafi-Wahabi yang memandang atau memvonis kaum muslimin diluar kelompoknya sebagai Ahlul Bid'ah.

Berbeda dengan para Salaf. Di masa salaf, jika disebut Ahlul bid’ah maksudnya firqah dan pemikiran sesat menyimpang seperti Khawarij, Murjiah, Syiah Rafidah, Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah, Mujassimah dan Musyabbihah. 

Sebutan ahlul bid'ah bukan untuk yang melakukan amaliyah yang termasuk persoalan khilafiyah ijtihadiyah. Bukan yang dimaksud oleh kaum Wahabi saat ini.

Ada pun perbedaan pendapat masalah fiqih dimasa salaf tidak ada yang menyebutnya sebagai bid’ah yang sesat.  Tidak seperti sekarang, ngaku2 ngikut manhaj salaf, tetapi sangat kaku dalam beragama, dikit-dikit bid'ah sesat, padahal dalam perbedaan fikih ulama salaf berlapang dada.

Para imam salaf menjelaskan :
Imam Yahya bin Sa’id Al Qaththan Rahimahullah berkata:

ما برح أولو الفتوى يفتون فيحل هذا ويحرم هذا فلا يرى المحرم أن المحل هلك لتحليله ولا يرى المحل أن المحرم هلك لتحريمه

Para ahli fatwa sering berbeda fatwanya, yang satu menghalalkan yang ini dan yang lain mengharamkannya. Tapi, mufti yang mengharamkan tidaklah menganggap yang menghalalkan itu binasa karena penghalalannya itu. 

Mufti yang menghalalkan pun tidak menganggap yang mengharamkan telah binasa karena fatwa pengharamannya itu. (Imam Ibnu Abdil Bar, Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, 2/161).

Syaikh Umar bin Abdullah Kamil berkata:

لقد كان الخلاف موجودا في عصر الأئمة المتبوعين الكبار: أبي حنيفة ومالك والشافعي وأحمد والثوري والأوزاعي وغيرهم. ولم يحاول أحد منهم أن يحمل الآخرين على رأيه أو يتهمهم في علمهم أو دينهم من أجل مخالفتهم

“Telah ada perselisihan sejak lama pada masa para imam besar panutan: Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Ats Tsauri, Al Auza’i, dan lainnya. Tak satu pun mereka memaksa yang lain untuk mengubah agar mengikuti pendapatnya, atau melemparkan tuduhan terhadap keilmuan mereka, atau tuduhan terhadap pemahaman agama mereka lantaran perselisihan mereka itu.”
(Syaikh Umar bin Abdullah Kamil, Adab Al Hiwar wal Qawaid Al Ikhtilaf, hal. 32. Mauqi’ Al Islam).

Ada pun amalan yang dituduh bid'ah sesat oleh Salafi-Wahabi, sebagian ulama mengatakan justru itu sunnah, atau mubah, dan yang lain mengatakan makruh, maka ini BUKAN ZONANYA MENYEBUT yang melakukannya sebagai ahlul bid'ah sesat masuk neraka.

Misalnya, perbedaan ahli fiqh tentang:

– Qunut subuh, atau tidak qunut;
– Melafazkan niat (nawaitu, ushalli), mayoritas mengatakan sunnah, sebagian mengatakan mubah, makruh. Seperti yang tertera dalam Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu.
– Maulid nabi, mayoritas fuqaha membolehkan (Abu Syamah, Izzuddin bin Abdissalam, An Nawawi, Ibnu Hajar, As Suyuthi, dll),
– Dzikir dengan tasbih, mayoritas ulama salaf dan khalaf mengatakan boleh, Sebagian mengatakan bagus (mustahab).
- Membaca surah Yasin malam Jumat, Membaca Al Fatihah, Tahlilan yang tentu saja berbeda dengan Ma'tam dan Nihayah.

Inilah contoh perbedaan fiqih bukan bid'ah sesat yang diancam masuk neraka. Semoga para ustadz Salafi Wahabi beserta ternak-ternaknya dapat memahami hal ini.

Sabtu, 27 Juni 2026

Cerpen Absurditas: "HIDUP ADALAH PUISI YANG HARUS DIBACA DENGAN HATI"


Di hari ketujuh penciptaan, saat para dewa beristirahat, aku lahir ke dunia. Bukan dari rahim ibu, melainkan dari celah antara batu dan waktu, di sebuah lembah yang dilupakan peta. Aku tidak memiliki nama, karena nama adalah belenggu pertama bagi mereka yang ingin mengerti hakikat.

Sejak ingatan pertama, aku dikelilingi oleh pertanyaan. Mengapa daun-daun berguguran di musim yang sama setiap tahun? Mengapa sungai mengalir ke satu arah, seolah tahu tujuannya? 

Aku duduk di tepi tebing, menyaksikan burung-burung terbang dalam formasi yang teratur, dan bertanya pada angin, 

"Ke mana kau pergi?" Angin hanya membawa debu dan aroma tanah basah.

Di usia dua puluh tahun, aku bertemu seorang pengembara tua. Matanya seperti dua danau kering yang menyimpan hujan masa lalu. 

"Apa arti hidup?" tanyaku padanya. 

Dia tersenyum, memperlihatkan gigi yang keropos seperti batu karang.

 "Lihatlah pohon itu," katanya, menunjuk sebuah beringin purba. "Ia tidak bertanya mengapa ia harus berakar di sini. Ia hanya tumbuh."

Tapi jawaban itu tidak cukup. Aku pergi ke kota, tempat manusia berlomba-lomba mengisi waktu dengan kerja dan harta. 

Di sana aku bekerja sebagai penjaga malam di sebuah perpustakaan tua. Ribuan buku mengelilingiku, masing-masing berbisik dengan suara penulisnya yang telah mati. Aku membaca Plato, Nietzsche, dan Lao Tzu. Mereka semua berbicara tentang kebenaran, tapi masing-masing menunjukkan jalan yang berbeda.

Di malam-malam sunyi, aku menyaksikan tikus-tikus berlarian di antara rak-rak buku. Mereka tidak membaca, tidak bertanya, namun mereka hidup. 

Aku mulai iri pada kesederhanaan mereka. Tapi kemudian, seekor tikus tua mati di sudut ruangan. Tubuhnya kaku, matanya terbuka lebar seperti masih bertanya. Rekan-rekannya lewat tanpa peduli. Begitukah cara dunia bekerja?

Pada usia empat puluh, aku meninggalkan kota dan kembali ke lembah kelahiranku. Di sana aku bertemu dengan seorang anak perempuan yang sedang memunguti kerikil di tepi sungai. 

"Untuk apa kerikil-kerikil itu?" tanyaku. 

Dia menatapku dengan mata jernih. 

"Mereka ingin dikumpulkan," jawabnya sederhana, tanpa keraguan.

Aku tertawa untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Mungkin, pikirku, jawabannya bukanlah sebuah kata, tapi sebuah tindakan. Bukan "apa", tapi "bagaimana". 

Aku duduk di bebatuan yang sama tempat aku pernah duduk empat puluh tahun lalu. Sungai masih mengalir ke arah yang sama. Burung-burung masih terbang dalam formasi yang sama. Hanya aku yang berubah, dari pertanyaan menjadi keheningan.

Di hari tuaku, aku tidak lagi bertanya. Aku hanya duduk dan mengamati. Aku melihat rumput tumbuh, awan bergerak, dan anak-anak bermain di kejauhan.

Mereka tidak bertanya mengapa mereka harus bermain, mereka hanya bermain. Mereka tidak bertanya mengapa mereka harus tertawa, mereka hanya tertawa.
Dan pada suatu malam, saat rembulan berbentuk sabit menggantung di atas lembah, aku mengerti. 

Hidup bukanlah pertanyaan yang harus dijawab, tapi sebuah puisi yang harus dibaca dengan hati. Bukan untuk dipahami, tapi untuk dirasakan. Aku tidak menemukan makna, aku menjadi makna itu sendiri. Aku menghembuskan nafas terakhirku dengan senyum, seperti beringin yang tidak pernah bertanya mengapa ia harus berakar di sini.

Dan jika suatu saat aku mati, lembah itu dipastikan tetap sunyi. Burung-burung masih terbang. Sungai masih mengalir. Dan seorang anak perempuan masih memunguti kerikil di tepi sungai. 

Mereka tidak menangis, karena mereka mengerti—aku tidak pergi. Aku hanya kembali menjadi bagian dari pertanyaan yang selalu aku tanyakan. Dan itulah jawaban sesungguhnya. Yah...Begitulah...!
(refleksivitas akhir Juni'26)

Penempuh Lorong Sunyi Menuju Cahaya Ilahi...(Sebuah feature spiritual tentang pencarian hakikat dalam tradisi tasawuf)

Di sebuah desa di kaki Gunung Merbabu, hiduplah seorang pemuda bernama Ahmad. Ia bukanlah orang istimewa. Seorang anak petani. Lulusan sekol...