Lokasi: Ruang Oval, Gedung Putih. Washington, D.C. Waktu: 06 Oktober 2026, pagi. Hujan turun di luar.Membasahi jendela-jendela tinggi itu seperti air mata yang tidak diminta. Trump sudah duduk sebelum seorang Jurnalis Indonesia, KGM (Ki Gempur Mudharat) masuk. Kali ini tidak ada TV menyala. Tidak ada dokumen tebal di meja. Hanya ada selembar kliping koran Indonesia. Terjemahan bahasa Inggris. Dengan judul besar yang dicetak tebal.
"Daftar Kasus Korupsi Terbesar di Indonesia (Berdasarkan Nilai Kerugian Negara)."
Trump: (menunjuk kliping saat aku duduk) Baca ini..!
KGM: Saya sudah membacanya, Mr. Presiden.
Trump: Baca lagi. (mendorong kliping itu ke arahku) Aku ingin kau tahu apa yang aku tahu.
(Aku membaca. Angka-angka itu. Ada triliunan rupiah, Ratusan nama. Puluhan tahun. Foto koruptor. Sebuah sistem yang tidak dibangun dalam semalam. Tetapi bertahan selama puluhan tahun.)
Trump: (bersandar) Kau tahu apa yang paling menggangguku? (berhenti) Bukan angkanya. Angka itu...(mengibaskan tangan)...angka itu tidak begitu berarti apa-apa bagiku. Yang menggangguku lihat wajah-wajahnya. (mengetuk kliping) Lihat, mereka semua tersenyum. Di foto-foto itu. Semua tersenyum dan ada yang melambaikan tangan ke wartawan. (menggeleng) Aku tahu senyuman dan lambaian tangan itu. Aku pernah melihatnya di New York. Di Atlantic City. Orang-orang yang mengambil uang orang lain. Lalu berfoto seolah-olah mereka pahlawan.
KGM: Anda menyebut korupsi sebagai masalah. Tapi banyak yang mengatakan perjanjian ART justru membuka celah baru untuk korupsi. Karena perusahaan AS bisa masuk tanpa divestasi. Tanpa transparansi penuh.
(Catatan: Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat pada 19 Februari 2026 menandai babak baru hubungan ekonomi bilateral kedua negara. Perjanjian ini menekankan kedaulatan ekonomi, kemakmuran, serta ketangguhan rantai pasok.red.)
Trump: (mata menyipit) Transparansi. (mengulang kata itu) Kau tahu siapa yang bicara tentang "transparansi"? Orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. Atau orang yang ingin kau percaya bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. (berhenti) Dengar. Aku tidak datang ke Indonesia untuk memberantas korupsi kalian. Itu bukan tugasku. Itu tugas kalian. (mengetuk meja) Tapi aku tidak akan menambah masalah itu. Perjanjian kami punya klausul anti-suap. Punya klausul audit. Punya klausul pemutusan kalau ada pelanggaran.
KGM: Tapi klausul itu hanya berlaku untuk perusahaan Amerika. Bukan untuk pejabat Indonesia yang menerima suap.
Trump: (tertawa, tanpa humor) Oh, jadi sekarang aku yang harus mengawasi pejabat kalian? (menggeleng) Aku sudah mengawasi negaraku sendiri. Kau tahu berapa banyak orang yang kupecat karena korupsi? (tidak menunggu jawaban) Banyak. Dan kau tahu apa yang terjadi? (berhenti) Mereka menulis buku. Mereka muncul di CNN. Mereka bilang aku "otoriter". (mengangkat tangan) Jadi maafkan aku kalau aku tidak terlalu bersemangat membersihkan rumah orang lain. Ketika rumahku sendiri masih penuh tikus.
KGM: Tapi Anda sendiri pernah mengatakan Indonesia adalah mitra strategis. Bukankah mitra seharusnya saling membantu?
Trump: (diam lama..untuk pertama kalinya dan terlihat benar-benar berpikir): Kau tahu apa arti "mitra" bagiku? (menatapku) Mitra berarti kau tidak menipuku. Kalau kau menipuku, kau bukan mitra. Kau musuh. (berhenti) Dan aku sudah melihat cukup banyak negara yang bilang "mitra" sambil menggelapkan uang bantuan. (menggeleng) Indonesia? Memang Aku belum melihat itu. Tapi aku juga belum mempercayai sepenuhnya.
KGM: Jadi Anda tidak percaya pada Indonesia?
Trump: Aku percaya pada Prabowo. (menunjuk) Dia datang ke sini. Dia menatap mataku. Dia bilang apa yang dia mau. Dan dia bilang apa yang dia tidak mau. (berhenti) Itu jarang. Sangat jarang. (diam) Tapi Prabowo bukan Indonesia. Prabowo adalah satu orang. Dan satu orang...(mengangkat bahu)...satu orang tidak bisa mengubah sistem yang sudah berkarat selama puluhan tahun.
(Hujan di luar semakin deras. Trump berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap kota Washington yang basah.)
Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang paling kusesalkan? (diam) Bukan perjanjian. Bukan tarif. (menoleh, matanya tajam) Aku menyesal tidak memasukkan klausul yang lebih keras. Klausul yang bilang: "Kalau kalian korupsi, kalian bayar." (berhenti) Tapi aku tidak bisa. Karena kalau aku lakukan itu, mereka tidak akan tanda tangan. (tertawa pahit) Itulah politik. Itulah dunia.
KGM: Jadi Anda tahu ada korupsi, Dan Anda tetap tanda tangan?
Trump: (kembali ke kursinya, duduk, menatapku langsung) Aku tanda tangan karena alternatifnya lebih buruk. (berhenti) Kalau aku tidak tanda tangan, China yang akan tanda tangan. Dan China tidak peduli soal korupsi. China menggunakan korupsi. (mengetuk meja) Aku memilih kalah kecil daripada kalah besar. Itu namanya strategi.
KGM: Beberapa pihak menyebut itu "membiarkan".
Trump: (mengangkat alis) Membiarkan? (tertawa) Aku tidak membiarkan apa pun. Aku memilih. Itu berbeda. (mencondongkan tubuh) Dan kau tahu apa bedanya? Orang yang "membiarkan" tidak peduli. Tapi Aku peduli. Aku peduli karena kalau Indonesia runtuh karena korupsi, Amerika rugi. (menunjuk dirinya) Dan aku tidak suka rugi.
KGM: Satu pertanyaan terakhir. Jika Anda bisa berbicara langsung kepada rakyat Indonesia yang 280 juta orang yang setiap hari membayar harga dari korupsi. Apa yang akan Anda katakan?
(Trump menatap lama. Hujan berhenti di luar. Sinar matahari pertama menembus jendela, jatuh di meja, tepat di kliping itu.)
Trump: Aku akan bilang ini. (suaranya lebih pelan) Korupsi bukan masalah Amerika. Bukan masalah Trump. (berhenti) Itu masalah kalian. Dan hanya kalian yang bisa menghentikannya. (diam) Aku bisa menandatangani perjanjian. Aku bisa mengirim investasi. Aku bisa menekan Prabowo untuk membersihkan rumahnya. (menggeleng) Tapi aku tidak bisa memaksa kalian untuk memilih pemimpin yang jujur. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk berhenti menerima amplop. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk marah. (menatapku) Itu... itu pekerjaan kalian.
Trump: (mata menyipit) Transparansi. (mengulang kata itu) Kau tahu siapa yang bicara tentang "transparansi"? Orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. Atau orang yang ingin kau percaya bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. (berhenti) Dengar. Aku tidak datang ke Indonesia untuk memberantas korupsi kalian. Itu bukan tugasku. Itu tugas kalian. (mengetuk meja) Tapi aku tidak akan menambah masalah itu. Perjanjian kami punya klausul anti-suap. Punya klausul audit. Punya klausul pemutusan kalau ada pelanggaran.
KGM: Tapi klausul itu hanya berlaku untuk perusahaan Amerika. Bukan untuk pejabat Indonesia yang menerima suap.
Trump: (tertawa, tanpa humor) Oh, jadi sekarang aku yang harus mengawasi pejabat kalian? (menggeleng) Aku sudah mengawasi negaraku sendiri. Kau tahu berapa banyak orang yang kupecat karena korupsi? (tidak menunggu jawaban) Banyak. Dan kau tahu apa yang terjadi? (berhenti) Mereka menulis buku. Mereka muncul di CNN. Mereka bilang aku "otoriter". (mengangkat tangan) Jadi maafkan aku kalau aku tidak terlalu bersemangat membersihkan rumah orang lain. Ketika rumahku sendiri masih penuh tikus.
KGM: Tapi Anda sendiri pernah mengatakan Indonesia adalah mitra strategis. Bukankah mitra seharusnya saling membantu?
Trump: (diam lama..untuk pertama kalinya dan terlihat benar-benar berpikir): Kau tahu apa arti "mitra" bagiku? (menatapku) Mitra berarti kau tidak menipuku. Kalau kau menipuku, kau bukan mitra. Kau musuh. (berhenti) Dan aku sudah melihat cukup banyak negara yang bilang "mitra" sambil menggelapkan uang bantuan. (menggeleng) Indonesia? Memang Aku belum melihat itu. Tapi aku juga belum mempercayai sepenuhnya.
KGM: Jadi Anda tidak percaya pada Indonesia?
Trump: Aku percaya pada Prabowo. (menunjuk) Dia datang ke sini. Dia menatap mataku. Dia bilang apa yang dia mau. Dan dia bilang apa yang dia tidak mau. (berhenti) Itu jarang. Sangat jarang. (diam) Tapi Prabowo bukan Indonesia. Prabowo adalah satu orang. Dan satu orang...(mengangkat bahu)...satu orang tidak bisa mengubah sistem yang sudah berkarat selama puluhan tahun.
(Hujan di luar semakin deras. Trump berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap kota Washington yang basah.)
Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang paling kusesalkan? (diam) Bukan perjanjian. Bukan tarif. (menoleh, matanya tajam) Aku menyesal tidak memasukkan klausul yang lebih keras. Klausul yang bilang: "Kalau kalian korupsi, kalian bayar." (berhenti) Tapi aku tidak bisa. Karena kalau aku lakukan itu, mereka tidak akan tanda tangan. (tertawa pahit) Itulah politik. Itulah dunia.
KGM: Jadi Anda tahu ada korupsi, Dan Anda tetap tanda tangan?
Trump: (kembali ke kursinya, duduk, menatapku langsung) Aku tanda tangan karena alternatifnya lebih buruk. (berhenti) Kalau aku tidak tanda tangan, China yang akan tanda tangan. Dan China tidak peduli soal korupsi. China menggunakan korupsi. (mengetuk meja) Aku memilih kalah kecil daripada kalah besar. Itu namanya strategi.
KGM: Beberapa pihak menyebut itu "membiarkan".
Trump: (mengangkat alis) Membiarkan? (tertawa) Aku tidak membiarkan apa pun. Aku memilih. Itu berbeda. (mencondongkan tubuh) Dan kau tahu apa bedanya? Orang yang "membiarkan" tidak peduli. Tapi Aku peduli. Aku peduli karena kalau Indonesia runtuh karena korupsi, Amerika rugi. (menunjuk dirinya) Dan aku tidak suka rugi.
KGM: Satu pertanyaan terakhir. Jika Anda bisa berbicara langsung kepada rakyat Indonesia yang 280 juta orang yang setiap hari membayar harga dari korupsi. Apa yang akan Anda katakan?
(Trump menatap lama. Hujan berhenti di luar. Sinar matahari pertama menembus jendela, jatuh di meja, tepat di kliping itu.)
Trump: Aku akan bilang ini. (suaranya lebih pelan) Korupsi bukan masalah Amerika. Bukan masalah Trump. (berhenti) Itu masalah kalian. Dan hanya kalian yang bisa menghentikannya. (diam) Aku bisa menandatangani perjanjian. Aku bisa mengirim investasi. Aku bisa menekan Prabowo untuk membersihkan rumahnya. (menggeleng) Tapi aku tidak bisa memaksa kalian untuk memilih pemimpin yang jujur. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk berhenti menerima amplop. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk marah. (menatapku) Itu... itu pekerjaan kalian.
Trump: Kau tanya soal korupsi. Sudah Aku jawab. Tapi kau tidak tanya apa yang harus dilakukan Prabowo. (menaikkan alis) Itu pertanyaan yang seharusnya kau ajukan sejak awal.
KGM: Baik. Jadi apa yang harus dilakukan Prabowo?
Trump: (bersandar, menyilangkan tangan): Pertama, berhenti berpura-pura. (mengetuk meja) Aku sudah melihat banyak pemimpin. Yang berhasil adalah yang bilang, "Ya, negara saya korup. Saya akan hadapi." Yang gagal adalah yang bilang, "Tidak, itu fitnah." (menggeleng) Prabowo bukan orang bodoh. Dia tahu. Tapi tahu saja tidak cukup. Dia harus mengatakannya. Di depan rakyatnya. Di depan dunia. (berhenti) Pemimpin yang tidak mengakui masalahnya. Tidak akan pernah menyelesaikannya.
KGM: Dan yang kedua?
Trump: Kedua, jangan lindungi kawan. (matanya tajam) Kau tahu kenapa korupsi bertahan di mana pun? Bukan karena orang jahat. Karena orang baik melindungi orang jahat. (mengetuk meja) "Dia teman saya." "Dia membantu saya waktu kampanye." "Dia dari partai saya." (menggeleng) Itu... itu kanker. Prabowo harus siap kehilangan koalisi. Kehilangan kursi. Kehilangan suara. Kalau dia tidak siap. Ia bukan pemimpin. Dia pedagang.
KGM: Itu berat secara politik.
Trump: (tertawa kering) Politik? (mencondongkan tubuh) Aku pernah kehilangan segalanya. Tiga kali bangkrut. Kau tahu apa yang kupelajari? Kalau kau takut kehilangan. Kau akan kehilangan segalanya. Prabowo harus berani. Bukan berani mati. Berani kehilangan.
KGM: Ketiga?
Trump: Ketiga, beri KPK gigi. (menunjuk) Bukan taring. Bukan cakar. Gigi. (berhenti) Kau tahu apa yang terjadi pada lembaga anti-korupsi yang lemah? Mereka jadi monumen. Bagus untuk foto. Tidak berguna untuk penjara. (menggeleng) Prabowo harus memastikan KPK punya anggaran. Punya perlindungan. Punya kebebasan. Kalau tidak. Dia sama saja dengan pendahulunya.
KGM: Sekarang KPK. Apa yang harus dilakukan lembaga anti-rasuah itu?
(Trump diam lama. Untuk pertama kalinya sejak wawancara ini dimulai, ia terlihat tidak nyaman.)
Trump: KPK. (mengulang kata itu dengan pelan) Kau tahu apa yang kupikirkan tentang KPK?
KGM: Apa?
Trump: Mereka berani. (mengangguk) Aku sudah baca. Mereka menangkap menteri. Menangkap gubernur. Menangkap hakim. (berhenti) Di negara mana pun, itu...itu bunuh diri politik. Dan mereka melakukannya. (diam) Aku menghormati itu. Aku tidak suka mereka. Karena mereka pernah menyelidiki hal-hal yang...(mengibaskan tangan)...tidak penting. Tapi aku menghormati mereka.
KGM: Jadi apa yang harus mereka lakukan?
Trump: Pertama. Berhenti mengejar tikus kecil. (mengetuk meja) Aku dengar KPK menangkap pejabat desa. Pejabat kecamatan. (menggeleng) Itu bukan korupsi. Itu kelaparan. (berhenti) Kejar yang besar. Yang menandatangani kontrak triliunan. Yang punya rekening di Singapura. Yang anaknya kuliah di London. (menunjuk) Itu...Itu target yang sebenarnya.
KGM: Kedua?
Trump: Kedua, jangan main politik. (matanya tajam) KPK harus netral. Bukan alat pemerintah. Bukan alat oposisi. (berhenti) Kalau KPK menangkap orang karena dia oposisi — itu bukan penegakan hukum. Itu balas dendam. Dan rakyat tahu. (menggeleng) Rakyat selalu tahu.
KGM: Ketiga?
Trump: Ketiga, bekerja dengan kami. (mencondongkan tubuh) Amerika punya FBI. Punya CIA. Punya Treasury. Kami punya data. Kami punya jejak uang. (mengetuk meja) Kalau KPK mau, kami bisa membantu. Tapi KPK harus meminta. Jangan sombong. Jangan merasa bisa sendiri. (berhenti) Korupsi itu lintas negara. Uangnya lari ke Singapura, ke Swiss, ke Amerika. Kalau KPK tidak bekerja dengan kami. Mereka hanya menangkap bayangan.
KGM: Tapi ada kritik bahwa Amerika sendiri tidak serius memberantas korupsi. Bahwa Anda justru menerima uang dari oligarki.
Trump: (mata menyipit) Oligarki. (mengulang kata itu) Kau tahu siapa oligarki? Orang yang punya uang. Dan orang yang punya uang... (mengangkat tangan) ...biasanya pintar. (tersenyum tipis) Aku tidak menerima uang dari oligarki. Aku menerima investasi. Itu berbeda. (berhenti) Dan kau tahu apa bedanya dengan korupsi Indonesia? Di sini, itu legal. (mengetuk meja) Kalau kalian mau uang kami. Kalian harus membuatnya legal. Bukan dengan amplop. Tapi dengan kontrak.
KGM: Itu terdengar seperti pembenaran.
Trump: (tertawa) Pembenaran? (menggeleng) Kau tahu apa itu pembenaran? Pembenaran adalah ketika kau bilang, "Semua orang melakukannya." (menunjuk dirinya) Aku tidak bilang begitu. Aku bilang, "Aku melakukannya. Dan itu legal." (berhenti) Kalau kalian tidak suka. Ubah hukumnya. Jangan salahkan aku.
(Hari mulai sore. Trump berdiri, berjalan ke jendela. Kali ini ia tidak menatap kota. Ia menatap langit.)
Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang paling kuharapkan dari Indonesia?
KGM: Apa?
Trump: Aku berharap...suatu hari nanti. Aku membaca berita dari Jakarta. Bukan tentang korupsi. Bukan tentang skandal. (berhenti) Tapi tentang seorang jenderal yang menolak amplop. Atau seorang menteri yang mengundurkan diri karena tidak mau berbohong. (menoleh, matanya aneh, seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang lama hilang) Sesuatu seperti itu. Sesuatu yang...jujur.
KGM: Anda optimis?
Trump: (diam lama) Aku realistis. (kembali ke kursinya) Optimis adalah ketika kau berharap tanpa alasan. Realistis adalah ketika kau melihat data. (mengetuk meja) Dan datanya bilang. Indonesia punya semua yang dibutuhkan. Pemimpin yang berani. Lembaga yang bertaring. Rakyat yang...(berhenti)...Ah, rakyat. Rakyat yang selalu jadi korban. (menggeleng) Itu yang harus berubah.
(Ia mengambil pena. Menulis sesuatu di kliping itu. Lalu mendorongnya ke arahku.)
Aku membaca. Tulisannya besar. Tebal. Seperti perintah:
"PRABOWO: BERANI. KPK: NETRAL. RAKYAT: MARAH. — DJT"
Trump: Itu resepnya. (bersandar) Kau bisa mengutip aku. Kau bisa membenciku. Tapi kau tidak bisa bilang aku tidak peduli.
KGM: Apakah Anda peduli?
Trump: (menatapku lama. Untuk pertama kalinya. Ada sesuatu di matanya. Bukan kehangatan. Tapi sesuatu yang lebih tua): Aku peduli karena korupsi membuat negara lemah. Dan negara lemah...(berhenti)...negara lemah tidak bisa menjadi mitra. Negara lemah hanya bisa menjadi beban. (mengetuk meja) Dan aku tidak suka beban. Aku suka mitra.
(Ia berdiri. Mengulurkan tangan. Jabatan kali ini. Tidak kuat, tidak lemah. Hanya jujur.)
Trump: Sampaikan ini ke Prabowo. Dari aku. (berhenti) "Jangan jadi pemimpin yang dikenang karena apa yang dia ambil. Jadilah pemimpin yang dikenang karena apa yang dia tolak."
(Ia melepas tangan. Berjalan ke meja. Sudah kembali ke pekerjaannya. Telepon. Layar. Dunia yang tidak pernah tidur.)
(Tapi sebelum aku keluar. Ia sempat berucap. Tanpa menoleh. Hampir seperti bisikan):
Trump: Hey. Kalau kau bertemu orang KPK...bilang aku bilang "terima kasih". (berhenti) Mereka bertarung sendirian. Itu...itu berat.
Pintu menutup.
Di luar, matahari mulai tenggelam di atas Washington. Tetapi di suatu tempat, ribuan kilometer jauhnya, di sebuah kantor di Jakarta, seseorang sedang membaca berkas — dan tidak tahu bahwa di Ruang Oval, seorang lelaki tua dengan rambut pirang baru saja memberikan satu-satunya pujian tulus yang pernah ia berikan kepada lembaga asing.
(Aku sudah berdiri. Sudah memegang tas. Sudah setengah jalan menuju pintu. Trump menghentikanku.)
(Ia hanya berkata. Pelan, hampir ke udara:)
Trump: Tunggu dulu. Sepertinya kau belum tanya soal mereka.
KGM: Mereka?
Trump: (menoleh dari kursinya) Para koruptor. (berhenti) Kau tanya aku soal Prabowo. Soal KPK. Soal Amerika. (mengetuk meja) Tapi kau tidak tanya apa yang harus mereka lakukan. Para Koruptor. Padahal itu...Itu bagian yang paling penting.
(Aku meletakkan tas. Duduk kembali.)
KGM: Baik. Ada saran untuk para koruptor Indonesia?
Trump: (bersandar. Tersenyum tipis. Tapi matanya tidak): Saran? (tertawa pelan) Aku bukan pendeta. Aku bukan hakim. Aku tidak akan bilang, "Bertobatlah." (menggeleng) Itu omong kosong. Orang seperti mereka...Mereka tidak bertobat karena nasihat. Mereka bertobat karena takut.
KGM: Jadi saran Anda adalah ancaman?
Trump: Bukan ancaman. Kenyataan. (condong ke depan) Dengarkan aku. Aku sudah melihat ratusan orang seperti mereka. Di New York. Di Atlantic City. Di Washington. (berhenti) Kau tahu apa yang terjadi pada mereka semua pada akhirnya? (tidak menunggu jawaban) Tiga hal. Penjara. Kebangkrutan. Atau kematian yang menyedihkan. Tidak ada yang keempat.
KGM Itu terdengar seperti vonis.
Trump: Itu pengalaman. (mengetuk meja) Aku pernah bekerja dengan orang yang mengambil uang klien. Dia bilang, "Aku hanya pinjam." (menggeleng) Dia mati sendirian di apartemen sewaan. Aku pernah kenal seorang politisi yang korup. Dia pikir dia pintar. (berhenti) Sekarang dia di penjara. Dan anaknya tidak mau mengunjunginya. (menatapku) Itu...itu harga. Dan harganya selalu lebih mahal dari yang mereka kira.
KGM: Jadi saran pertama Anda untuk koruptor?
Trump: Berhenti sekarang. (mengangkat satu jari) Bukan besok. Bukan setelah pemilu. Sekarang. (berhenti) Kau tahu kenapa? Karena setiap hari kau terus. Kau menambah utang. Bukan utang uang. Utang nyawa. (mengetuk meja) Setiap amplop yang kau terima. Ada anak yang tidak dapat sekolah. Ada ibu yang tidak dapat obat. Ada jalan yang tidak dibangun. (diam) Kau tidak mencuri dari pemerintah. Kau mencuri dari orang-orang yang tidak bisa melawan.
KGM: Kedua?
Trump: Kembalikan. (mengangkat dua jari) Aku tahu. Aku tahu. Kau tidak akan mengembalikan semuanya. Tidak ada yang mengembalikan semuanya. (menggeleng) Tapi kembalikan sebagian. Diam-diam. Lewat perantara. Lewat yayasan. (berhenti) Aku tidak bilang itu cukup. Aku bilang itu lebih baik dari tidak sama sekali. Dan kadang...Kadang itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan.
KGM: Itu terdengar seperti kompromi dengan kejahatan.
Trump: (tajam) Kompromi? (tertawa) Kau jurnalis tahu apa itu kompromi? Kompromi adalah ketika kau duduk dengan orang yang kau benci. Dan kau membuat kesepakatan yang tidak kau sukai. Karena alternatifnya lebih buruk. (berhenti) Aku melakukannya setiap hari. Setiap. Hari. (menunjuk) Aku tidak bangga. Tapi aku realistis.
KGM Baik. Saran ketiga untuk koruptor?
(Trump diam lama. Kali ini, ia menatap keluar jendela. Ke kota Washington yang mulai gelap. Ke lampu-lampu yang menyala seperti bintang jatuh.)
Trump: Ketiga, jangan ajari anakmu. (suaranya lebih pelan) Ini yang paling penting. (menoleh) Kau boleh korup. Kau boleh mengambil. Kau boleh berbohong. (berhenti) Tapi jangan wariskan itu. Jangan ajari anakmu bahwa itu normal. Jangan biarkan dia tumbuh berpikir bahwa mengambil uang rakyat adalah...cara hidup.
KGM: Mengapa itu yang paling penting?
Trump: Karena itu satu-satunya hal yang bisa mengubah Indonesia. (mengetuk meja) Bukan KPK. Bukan Prabowo. Bukan Amerika. (menggeleng) Anak-anak kalian. Kalau mereka tumbuh jujur. Dalam dua puluh tahun Indonesia akan berbeda. Kalau mereka tumbuh seperti kalian...(berhenti)...Dalam dua puluh tahun, Indonesia akan sama. Atau lebih buruk.
(Hening. Lampu ruangan berkedip sekali.)
KGM: Anda bilang Anda bukan pendeta. Tapi itu terdengar seperti khotbah.
Trump: (tersenyum. Kali ini ada sesuatu yang lain di matanya): Mungkin. (bersandar) Tapi kau tahu apa bedanya aku dengan pendeta? (berhenti) Pendeta bilang, "Tuhan akan mengampuni." (menggeleng) Aku bilang, "Aku tidak akan."
KGM: Tapi Anda kan bukan hakim.
Trump: Memang Aku bukan hakim. (mengangguk) Tapi aku presiden. Dan presiden...Presiden punya ingatan. (mengetuk meja) Kalau kau korup. Dan kau datang ke Amerika untuk berbisnis. Untuk menaruh uang. Untuk mengirim anakmu ke sekolah. (berhenti) Aku akan tahu. Dan aku tidak akan lupa.
KGM: Itu ancaman?
Trump: Itu informasi. (mengangkat bahu) Kau bisa mengabaikannya. Banyak orang mengabaikan. (diam) Mereka semua menyesal.
(Ia berdiri. Berjalan ke pintu. Membukanya sendiri. Sesuatu yang jarang ia lakukan.)
Trump: (berdiri di ambang pintu): Kau tahu apa yang paling kusuka dari Indonesia?
KGM: Apa?
Trump: Rakyatnya. (berhenti) Mereka sabar. Mereka tabah. Terlalu sabar dan tabah. (menggeleng) Mereka bisa memaafkan. Mereka bisa lupa. (menatapku) Itu kekuatan kalian. Tapi juga kelemahan kalian. (diam) Karena orang yang terlalu sabar...Akan selalu dimanfaatkan.
(Ia mengulurkan tangan. Jabatan terakhir. Kuat, singkat, seperti segel.)
Trump: Sampaikan ini ke mereka. Dari aku. Langsung. (berhenti) "Aku tidak akan mengejar kalian. Aku tidak akan menghukum kalian. Aku tidak akan mengirim FBI ke Jakarta." (menatap mataku) "Tapi ingat. Dunia mengecil. Dan pada akhirnya. Kalian akan bertemu seseorang yang tidak sabar."
(Ia melepas tangan. Masuk kembali. Pintu mulai menutup.)
(Tapi sebelum tertutup sepenuhnya. Suaranya masih terdengar. Dan, hampir seperti doa yang tidak ia akui:)
Trump: Semoga kalian tidak bertemu orang itu. Karena kalau kalian bertemu... (berhenti)...dia tidak akan sebaik aku.
(Pintu menutup.)
(Di luar, malam sudah penuh. Washington menyala seperti kota yang tidak pernah tidur dan tidak pernah jujur. Dan di suatu tempat. Ribuan kilometer jauhnya. Di sebuah rumah besar berpagar tinggi. Seseorang sedang menghitung uang dan emas batangan. Dan mereka tidak tahu bahwa di Ruang Oval. Seorang lelaki tua dengan rambut pirang baru saja menulis wasiat untuk jiwanya.)
(Yang tersisa di mejanya. Tertinggal di bawah kliping koran:)
"BERHENTI. KEMBALIKAN. JANGAN WARISKAN. — DJT"
(Wawancara imajiner ini adalah karya fiksi sastra. Semua dialog adalah imajinasi. Tidak ada klaim faktual atas pernyataan Donald Trump atau Prabowo atau maupun pihak mana pun. Isu korupsi yang disebutkan berdasarkan laporan publik dan tidak menunjuk individu tertentu. )
== T A M A T ==
(Nantikan Wawancara Imajiner Berikutnya)



