Sabtu, 17 Oktober 2026

Perang Houthi Arab Saudi: "Ketika Dua Narasi Suci Berbenturan"


Leaderline: Perang antara gerakan Houthi (Ansar Allah) dan Arab Saudi bukan sekadar perang geopolitik atau perang proksi. Di balik rudal, drone, dan blokade laut. Terdapat lapisan spiritual yang dalam dan kontradiktif. Dua pihak sama-sama mengklaim membela Tuhan. Sama-sama merasa dizalimi. Dan sama-sama mengangkat senjata atas nama iman. Narasi spiritual ini bukan hiasan retoris. Melainkan inti dari bagaimana kedua pihak memahami diri mereka dan membenarkan perang.

Akar Zaidiyah: Spiritualitas yang Terpinggirkan

Gerakan Houthi lahir dari rahim Zaidiyah. Cabang Syiah yang khas Yaman dan berbeda secara doktrinal dari Syiah Dua Belas Imam yang dianut Iran. 

Zaidiyah mengambil nama dari Zayd bin Ali, cicit Ali bin Abi Thalib. Yang mati syahid dalam pemberontakan melawan Dinasti Umayyah pada tahun 740. Zayd bukan sekadar simbol teologis. 

Ia adalah prototipe pemimpin yang berani melawan kezaliman. Kaum Zaidiyah memandang Zayd sebagai teladan khalifah yang sejati, yang seharusnya memerintah menggantikan Umayyah yang korup.

Selama seribu tahun, Zaidiyah memerintah Yaman Utara melalui sistem imamah. Sebuah kekuasaan yang menggabungkan otoritas spiritual dan sekuler. 

Namun, revolusi republik tahun 1962 menggulingkan monarki Zaidiyah. Dan sejak itu komunitas Zaidiyah mengalami marginalisasi sistematis. 

Identitas mereka sebagai komunitas religius-politik ditekan oleh negara republik yang didominasi elite Sunni dan Salafi. Inilah luka historis yang menjadi bahan bakar gerakan Houthi.

Kebangkitan Hussein al-Houthi: Dari Forum Iman Menuju Perlawanan Suci

Pada 1990-an, di bawah kepemimpinan Hussein al-Houthi. Sebuah forum pemuda bernama al-Shabab al-Mu'min (Pemuda Beriman) bertransformasi dari gerakan pendidikan Zaidiyah menjadi platform politik dan militer. 

Hussein, yang pernah belajar di Qom, Iran. Memadukan doktrin Zaidiyah dengan visi revolusioner Iran. Ia tidak sekadar menuntut hak-hak komunitas Zaidiyah. Ia membangun kerangka spiritual yang menempatkan perlawanan sebagai kewajiban ilahi.

Puncak dari artikulasi spiritual ini adalah slogan "Sarkha" (Jeritan): Allahu Akbar, Mati untuk Amerika, Mati untuk Israel. Laknat bagi Yahudi. Kemenangan bagi Islam. 

Slogan ini pertama kali membawa para pejuang Houthi ke medan perang pada 2004. Dan sejak itu menjadi alat mobilisasi yang mengakar dalam budaya Yaman Utara. 

Dalam pidato-pidato Abdul-Malik al-Houthi, pemimpin saat ini, konflik ini dibingkai sebagai "perang suci" yang tidak hanya melawan Arab Saudi. Tetapi melawan "kesombongan global" yang mengancam identitas iman umat Islam. 

Ia memperingatkan tentang "perang baru yang parah" yang menyasar iman dan identitas Yaman. Menyerukan umat untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Al-Quran.

Yang membuat narasi spiritual Houthi begitu kuat adalah klaim wilayah. Otoritas spiritual yang mereka anggap sebagai hak ilahi. Abdul-Malik al-Houthi dipandang sebagai keturunan Nabi Muhammad. 

Dengan garis keturunan yang, menurut doktrin Houthi, memberinya hak untuk memimpin umat secara politik dan religius. Ini bukan sekadar kepemimpinan politik. Ini adalah imamah yang direvitalisasi. Sebuah klaim legitimasi sakral yang melampaui batas-batas negara-bangsa modern.

Fatwa Arab Saudi: Perang Suci dari Sisi Seberang

Arab Saudi tidak tinggal diam dalam perang narasi spiritual ini. Pada September 2026, Grand Mufti Arab Saudi, Sheikh Saleh bin Fawzan al-Fawzan, mengeluarkan fatwa. Menyerukan kepada tentara Saudi untuk "siap mengorbankan hidup" dalam melawan Houthi. 

Fatwa itu, yang dikutip oleh media negara. Membingkai kampanye militer sebagai kewajiban religius dan memuji mereka yang berjaga di perbatasan. Sebagai orang yang berjuang di jalan Tuhan.

Mufti tersebut mengecam Houthi sebagai kelompok yang mendirikan perjuangan mereka di atas "kerusakan keyakinan dan kerusakan metodologi". 

Ini bukan sekadar pernyataan politik. Ini adalah perang teologis. Arab Saudi, sebagai penjaga dua kota suci Islam. Memobilisasi otoritas religiusnya untuk membenarkan perang sebagai pembelaan terhadap "korupsi iman" yang dibawa oleh Houthi.

Dua Narasi, Satu Tragedi

Di sini terletak tragedi spiritual yang paling dalam. Dua pihak yang sama-sama mengucapkan syahadat. Sama-sama menghadap kiblat yang sama. Sama-sama mengklaim membela Islam. Saling membunuh atas nama Tuhan. 

Seorang analis Lebanon menyebut perang ini sebagai "luka paling menyakitkan dalam tubuh umat Islam". Perang antara "saudara seiman dan satu kiblat" yang ikatan agama, geografi, dan sejarahnya terjalin erat.

Houthi memandang Saudi sebagai intervensionis yang melanggar Piagam PBB sejak 2015,. Memblokade Yaman. Menghancurkan infrastruktur sipil. 

Bagi mereka, perlawanan adalah pembelaan diri yang sah. Sebuah perang defensif yang diwajibkan secara moral dan religius. Saudi memandang Houthi sebagai proksi Iran yang mengancam keamanan perbatasan. Stabilitas regional. Dan tatanan Sunni yang mereka pimpin. 

Bagi Riyadh, ini adalah perang eksistensial melawan proyek Syiah revolusioner yang didukung Tehran.

Kritik spiritual yang paling tajam adalah ini. Kedua belah pihak telah mengubah teologi menjadi ideologi perang. 

Zaidiyah, yang lahir dari perlawanan terhadap kezaliman. Direduksi menjadi mesin mobilisasi militer. 

Islam Saudi, yang seharusnya menjadi penjaga harmoni umat. Dijadikan instrumen legitimasi perang. 

Al-Quran yang sama dibaca untuk memberkati rudal yang menghantam bandara. Membunuh warga sipil. Dan menghancurkan masa depan generasi Yaman.

Yang paling menderita bukanlah para pemimpin yang mengklaim mandat ilahi. Melainkan rakyat Yaman. Komunitas Zaidiyah yang selama berabad-abad telah menjadi bagian dari sejarah Islam. Kini terjebak dalam perang yang menghancurkan rumah, masjid, sekolah, dan harapan mereka. 

Perang ini bukan perang suci. Ini adalah perang yang menodai kesucian itu sendiri.

Hak yang Terputus: "Pensiunan Telkom dan Kezaliman Sistemik"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-62)

Leaderline: Pandapotan Nasution. Pensiunan PT Telkom. Menangis di ruang sidang Mahkamah Konstitusi pada September 2026. Tangisnya bukan sekadar ekspresi keputusasaan personal. Ia adalah metafora hidup dari sebuah kezaliman sistemik. Ada hak yang terputus. Pensiunan Telkom merana. Ada kegagalan dalam kontrak sosial?


Syahdan, seorang manusia yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk sebuah perusahaan negara. Namun di ujung usianya justru harus berjuang sendirian. Tanpa pengacara. Tanpa dukungan institusional. Hanya untuk mendapatkan hak yang seharusnya sudah menjadi miliknya sejak hari pertama ia pensiun.

Pandapotan mengungkapkan sebuah kebenaran yang menghunjam. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun yang telah memutus hubungan antara pensiunan BUMN dengan perusahaan tempat mereka mengabdi. Undang-undang inilah yang tengah diperjuangkan Pandapotan. Untuk dipulihkan. Diluruskan. Agar mengibas pada rasa keadilan.

Berbeda dengan pensiunan PNS yang tetap terhubung dengan APBN. Sehingga ketika gaji pokok PNS secara aktif naik. Pensiunan pun merasakan kenaikannya.

Sementara pensiunan BUMN, layaknya Telkom. Mereka dilemparkan ke dalam sebuah badan otonom bernama Dana Pensiun. Seolah-olah seluruh tanggung jawab negara terhadap mereka telah selesai. Seakan setelah diperas tenaganya selama aktif berkarya. Lalu dienyahkan tanpa rasa peduli.

Ketika gaji pokok pensiunan PNS pada naik. Pensiunan Telkom harus meresponnya dengan gigit jari. Memelas berkepanjangan. Seraya merenungi nasibnya. Dan tak faham. mengapa hal ini harus terjadi.

Dalam pikirnya. Ini bukan sekadar persoalan administratif. Ini adalah pengkhianatan terhadap kontrak sosial yang paling dasar. Serasa habis manis. Sepah dibuang.

Dalam filsafat politik. Kontrak sosial. Sebagaimana dirumuskan Rousseau dan Locke. Bahwa individu menyerahkan sebagian kebebasannya kepada negara dengan imbalan perlindungan hak-hak fundamentalnya.

Bagi pekerja, kontrak ini bersifat inter-generasional. Hari ini aku bekerja. Esok aku berhak atas jaminan hari tua. Yang pantas dan dipantaskan.

Ketika negara memindahkan tanggung jawab pensiun ke badan otonom. Yang notabene tidak lagi memiliki kewajiban moral terhadap pekerja. Maka yang terjadi bukanlah efisiensi. Melainkan abrogasi tanggung jawab. Penghapusan aturan lama diganti dengan aturan baru.

Negara telah menerima pengabdian puluhan tahun. Tetapi menolak membayar utangnya. Apalagi kalau bukan kezaliman?

Lebih ironis lagi. Ketentuan dalam UU P2SK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan) yang membatasi pencairan manfaat pensiun sekaligus hanya untuk nilai di bawah Rp500 juta menciptakan diskriminasi yang terang-terangan.

SEKAR Telkom, memang pernah melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Dengan tepat menyebut aturan ini "diskriminatif". Karena menutup potensi peserta untuk memilih skema pencairan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pekerja yang telah menyetor iuran lebih besar. Yang justru berarti mereka lebih disiplin dan lebih bertanggung jawab. Mendapat perlakuan lebih buruk daripada mereka yang iurannya kecil.

Ini adalah logika terbalik yang hanya bisa dijelaskan sebagai bentuk pengabaian sistematis terhadap hak pekerja.

Putusan MK Nomor 61/PUU-XXIII/2025 yang menolak permohonan SEKAR Telkom sepenuhnya memperlihatkan betapa hukum formal dapat menjadi instrumen ketidakadilan.

Mahkamah berargumen bahwa pembayaran berkala adalah demi kemanfaatan jangka panjang peserta.

Namun, argumen ini mengabaikan realitas konkret. Pensiunan yang sakit. Yang membutuhkan dana mendesak. Yang ingin mempersiapkan masa depan keluarganya. Abstraksi hukum telah mengalahkan kebutuhan manusia yang nyata.

Dalam bahasa Giorgio Agamben, pensiunan Telkom telah direduksi menjadi bare life. Kehidupan biologis yang diatur oleh kekuasaan tanpa hak untuk menuntut. Pensiunan Telkom dipandang sebagai kelompok marjinal yang sudah tidak diakui lagi secara penuh oleh negara.

Yang paling memilukan adalah posisi P2Tel. Organisasi yang seharusnya membela pensiunan.

Dalam sebuah putusan pengadilan yang mengejutkan. P2Tel Pusat justru bertindak sebagai lawan (tegen stander) terhadap para pensiunan yang seharusnya dilindunginya.

Ini adalah pengkhianatan ganda. Pertama oleh negara yang memutus hubungan. Kedua oleh organisasi yang seharusnya menjadi rumah bagi mereka.

Solidaritas telah digantikan oleh kepentingan. Dan perjuangan bersama telah dikhianati oleh mereka yang seharusnya memimpinnya.

Di sinilah perjuangan SEKAR Telkom menemukan urgensinya yang paling radikal. Serikat pekerja tidak bisa lagi berhenti pada isu-isu upah dan kondisi kerja bagi pekerja aktif.

Ia harus memperluas mandatnya untuk mencakup pembelaan terhadap mereka yang telah pensiun. Mereka yang telah menyelesaikan tugasnya. Tetapi justru ditinggalkan di saat paling rentan.

Perjuangan untuk keadilan pensiun bukan sekadar advokasi hukum. Ia adalah pernyataan filosofis bahwa manusia tidak berhenti menjadi manusia ketika ia berhenti bekerja.

Rakernas SEKAR Telkom saat ini harus menjadi momen untuk mendeklarasikan perang melawan amnesia institusional ini. Perang melawan ketidakadilan. Perang untuk berjuang memperbaiki nasib para pensiunan yang tertindas.

Tuntutannya harus jelas. Revisi UU Dana Pensiun. Pemulihan hubungan pensiunan dengan perusahaan. Dan jaminan kesejahteraan yang tidak didasarkan pada belas kasihan melainkan pada hak yang tidak bisa dicabut.

Jika serikat pekerja tidak berani mengambil posisi yang tidak nyaman. Berhadapan dengan direksi. Dengan pemerintah. Bahkan dengan organisasi pensiunan yang telah terkooptasi. Maka ia telah mengkhianati mereka yang telah berjuang sebelum ia ada.

Pandapotan menangis bukan karena ia lemah. Tetapi karena sistem yang seharusnya melindunginya justru mengabaikannya. Tangis itu adalah dakwaan. Tangisan itu adalah perjuangan. Tangisan itu adalah lambang penindasan kepada para pensiunan Telkom.

Pertanyaannya bukan lagi apakah SEKAR Telkom akan tetap berjuang membela pensiunan. Melainkan apakah ia masih memiliki keberanian untuk melakukannya? Jika tak ada lagi keberanian. Maka percuma. Dan jangan pernah lagi berteriak Sekkkaaarrrr....!!!

(Ki Gempur, Mantan Jurnalis Sekar dan Ketua DPD Sekar Corporate Periode Tahun 2007-2010)

Serial Tasawuf-24: "Takhalliy-2, Tiga Pintu Penyakit Hati"


Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Spotlite: Tiga hari telah berlalu sejak salik melewati pintu tauhid. Kini ia datang dengan mata yang lebih jernih, tetapi juga dengan hati yang lebih gelisah. Ia telah merenungkan pelajaran sebelumnya. Dan ia mulai menyadari bahwa dirinya masih terikat pada banyak hal. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di atas sajadahnya. Memandangnya dengan tatapan yang menembus dinding-dinding hati.


Pelajaran Ketiga: Cinta Dunia, Pangkal Segala Kejahatan

"Hari ini kita akan membicarakan tentang ḥubbud-dunyā. Cinta dunia," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik. Bahwa cinta dunia adalah pangkal segala kejahatan. Ia adalah akar yang menumbuhkan banyak cabang dosa."

"Bukankah kita perlu dunia untuk hidup, Guru? Bukankah kita butuh makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal?"

"Benar, anakku. Dunia bukanlah haram untuk dimiliki. Yang haram adalah engkau dimiliki oleh dunia. Perbedaan itu halus Tetapi sangat menentukan. Engkau boleh memiliki dunia di tanganmu. Tetapi jangan sampai ia memiliki hatimu."

Salik merenung. Ia teringat pada rumahnya yang besar. Pada sawahnya yang luas. Pada kedudukannya di tengah masyarakat.

"Bagaimana tanda-tanda bahwa cinta dunia telah menguasai hatiku, Guru?"

"Pertama," kata Mursyid, "engkau merasa sedih berlebihan ketika kehilangan sesuatu dari dunia. 

Kedua, engkau merasa gelisah bila rezekimu berkurang. 

Ketiga, engkau rela melakukan hal-hal yang haram untuk memperoleh dunia.

Keempat, engkau merasa bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan harta.

Kelima, engkau sulit bersedekah karena takut hartamu berkurang."

Salik menunduk. Ia merasa bahwa sebagian besar tanda itu ada pada dirinya.

"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Dunia ini ibarat air laut. Orang yang meminumnya akan semakin haus. Ia yang mengejar dunia akan semakin gelisah. Sebab dunia itu mengundang. Tetapi tidak pernah memuaskan. 

Adapun orang yang telah mengenal Allah. Dunia itu hanya ibarat jalan yang dilalui oleh musafir. Ia tak berhenti di jalan. Sebab tujuannya ada di ujung perjalanan."

"Bagaimana aku bisa membebaskan hatiku dari cinta dunia, Guru?"

"Ada empat cara. Pertama, renungkanlah kefanaan dunia. Lihatlah orang-orang yang telah mati sebelum engkau. Mereka juga mencintai dunia. Tetapi dunia tak pernah mencintai mereka. 

Kedua, renungkanlah bahwa semua yang engkau miliki adalah titipan. Bila engkau menganggapnya titipan. Engkau tak akan terlalu sedih ketika ia diambil. 

Ketiga, biasakanlah hidup sederhana. Jangan makan lebih dari yang engkau butuhkan. Jangan berpakaian lebih dari yang menutupi auratmu. Jangan tidur lebih lama dari yang diperlukan. 

Keempat, berikanlah hartamu kepada yang membutuhkan. Sesungguhnya sedekah itu adalah cara terbaik untuk mengendurkan ikatan hati pada dunia."

"Apakah aku harus meninggalkan semua hartaku, Guru?"

"Tidak, anakku. Engkau tidak perlu meninggalkan dunia secara lahir. Tetapi engkau harus meninggalkannya secara batin. Engkau boleh menjadi raja. Tetapi hatimu harus tetap seperti pengemis di depan pintu Allah. Engkau boleh memiliki banyak harta. Tetapi jangan sampai hatimu terikat pada satu butir pun dari harta itu."

Mursyid bangkit, berjalan ke jendela. Menunjuk pada pohon besar yang tumbuh di halaman ribat. "Lihatlah pohon itu," katanya. "Ia tumbuh tinggi dan berbuah lebat. Tetapi ia tidak meminta pujian. Ia tidak merasa bangga. Ia hanya menjalankan tugasnya. Begitulah seharusnya engkau. Bekerjalah di dunia. Tetapi jangan cintai dunia. Cukup Allah yang menjadi tujuanmu."

Salik meneteskan air mata. Ia merasakan bahwa selama ini ia telah memperbudak dirinya pada sesuatu yang tidak dapat menyelamatkannya.

"Bagaimana aku tahu bahwa cinta dunia telah hilang dari hatiku, Guru?"

"Bila engkau kehilangan sesuatu dari dunia dan hatimu tetap tenang, itu tandanya. Bila engkau mendapat keuntungan dan engkau tidak terlalu girang, itu tandanya. Bila engkau memandang harta sebagai alat untuk mencapai ridha Allah, bukan sebagai tujuan, itu tandanya. Bila engkau bisa tersenyum di tengah kekurangan, itu tandanya."

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, bebaskanlah hatiku dari cinta dunia, agar aku bisa mencintai-Mu dengan cinta yang sepenuhnya."

Pelajaran keempat, Sombong

Pelajaran keempat datang pada malam bulan purnama. Salik duduk di halaman ribat, memandang langit yang bertabur bintang. Syekh Abdul Qadir al-Jailani datang dan duduk di sampingnya tanpa berkata-kata. Mereka berdua terdiam beberapa saat. Hanya ditemani bisik angin yang mengalir di antara dedaunan.

"Guru," kata salik memecah keheningan. "Aku merasa bahwa diriku masih sombong. Tetapi aku takut mengakuinya. Sebab bila aku mengakui kesombonganku. Aku justru semakin sombong."

Mursyid tersenyum. "Engkau benar, anakku. Kesombongan itu penyakit yang licik. Ia bersembunyi dalam pengakuan bahwa engkau tidak sombong. Tetapi ketahuilah, bahwa mengakui kesombongan adalah langkah pertama untuk menyembuhkannya."

"Apakah yang dimaksud dengan sombong itu, Guru?"

"Kibr. Sombong. Adalah engkau memandang dirimu lebih tinggi dari yang seharusnya. Engkau merendahkan orang lain. Engkau merasa bahwa engkau lebih baik, lebih mulia, lebih berilmu, atau lebih beramal daripada orang lain. Engkau merasa bahwa engkau berhak atas sesuatu yang tidak diberikan pada orang lain. Engkau merasa bahwa pendapatmu selalu benar."

Salik terdiam. Ia teringat pada banyak peristiwa di mana ia merendahkan orang lain tanpa sadar.

"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid. "Bahwa kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan Iblis. Ketika Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak. 

Ia berkata, Aku lebih mulia dari dia. Engkau menciptakanku dari api. Dan Engkau menciptakannya dari tanah. Maka Iblis dilaknat sampai hari kiamat. Ketahuilah, bahwa kesombongan adalah satu-satunya dosa yang tidak diampuni. Sebab orang yang sombong tidak akan bertaubat."

Salik menggigil. Ia merasa bahwa selama ini ia telah menyimpan sifat Iblis di dalam hatinya.

"Bagaimana cara membersihkannya, Guru?"

"Ada beberapa cara. Pertama, renungkanlah asalmu. Engkau berasal dari setetes air yang hina. Dan engkau akan kembali menjadi bangkai yang busuk. Bila engkau tahu asal dan akhirmu. Bagaimana engkau bisa sombong? 

Kedua, renungkanlah nikmat-nikmat Allah pada orang lain. Engkau tidak tahu siapa yang lebih mulia di hadapan Allah. Bisa jadi orang yang engkau pandang rendah justru lebih dekat kepada Allah daripada dirimu. 

Ketiga, biasakanlah untuk memuji orang lain dan merendahkan diri. Jangan engkau memandang dirimu lebih baik dari seorang pun. 

Keempat, ingatlah bahwa semua amalmu tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Engkau tidak bisa menyelamatkan dirimu dengan amalmu sendiri."

"Tetapi Guru," kata salik, "bukankah kita harus menjaga harga diri?"

"Menjaga harga diri berbeda dari sombong. Menjaga harga diri adalah engkau tidak mau dihinakan oleh orang lain dalam hal yang benar. Adapun sombong adalah engkau memandang dirimu lebih tinggi dari orang lain. Engkau boleh menolak dihinakan. Tetapi jangan engkau menghina orang lain."

Mursyid menunjuk pada bulan yang bulat di langit. "Lihatlah bulan itu," katanya. "Ia bercahaya, tetapi ia tidak sombong. Ia tahu bahwa cahayanya bukan dari dirinya sendiri. Melainkan dari matahari. 

Begitu pula engkau. Semua kelebihanmu adalah karunia Allah. Bila engkau sombong dengan karunia Allah. Maka engkau telah menghina Pemberi karunia."

Salik menangis. Ia merasa bahwa selama ini ia telah berjalan di atas bumi dengan kepala yang terlalu tinggi. Ia memohon agar Allah menundukkan kepalanya di hadapan-Nya.

"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa orang yang sombong tidak akan pernah sampai pada Allah. Sebab Allah itu Mahatinggi. Dan orang yang merasa tinggi tidak bisa mendekat kepada Yang Mahatinggi. Hanya orang yang rendah hati yang bisa masuk ke dalam hadirat-Nya. Maka rendahkanlah dirimu. Agar Allah mengangkatmu."

Salik bangkit, bersujud di halaman ribat, dan berbisik, "Ya Allah, bersihkanlah daku dari sombong. Agar aku bisa menjadi hamba yang rendah hati."

Pelajaran Kelima, Ujub Lebih Halus dari Sombong

Malam kelima, salik datang dengan hati yang lebih ringan. tetapi masih membawa beban yang belum ia sadari. Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di atas sajadahnya. Memegang kitab yang telah lusuh. Ia menatap salik dengan mata yang tajam, seakan menembus dinding-dinding hati.

"Hari ini kita akan membicarakan tentang 'ujub. Kagum pada diri sendiri," kata Mursyid. "Ketahuilah, wahai salik, bahwa 'ujub itu lebih halus dari sombong.

Sombong itu engkau merendahkan orang lain. Adapun 'ujub itu engkau mengagumi dirimu sendiri. Tanpa memandang orang lain."

"Bukankah itu baik, Guru? Bukankah kita harus percaya pada diri sendiri?"

"Percaya pada diri sendiri berbeda dari kagum pada diri sendiri. Percaya pada diri sendiri adalah engkau menyadari kemampuan yang Allah berikan. Dan engkau menggunakannya untuk berbuat baik. 

Adapun 'ujub adalah engkau merasa bahwa kemampuan itu berasal dari dirimu sendiri. Dan engkau merasa bahwa amalmu sudah cukup. Sehingga engkau tidak lagi membutuhkan Allah."

Salik terdiam. Ia teringat bahwa ia sering merasa bangga pada amal ibadahnya.

"Ketahuilah, wahai salik," lanjut Mursyid, "bahwa 'ujub itu adalah penyakit yang mematikan amal. Engkau bisa beribadah sepanjang malam. Tetapi bila engkau merasa bahwa ibadahmu adalah hasil usahamu sendiri. Maka amalmu itu tertolak. Sebab engkau telah memandang dirimu memiliki andil dalam kebaikan itu. Padahal semua kebaikan hanya dari Allah."

"Bagaimana tanda-tanda 'ujub, Guru?"

"Tandanya adalah engkau merasa bahwa amalmu sudah banyak. Engkau merasa bahwa engkau lebih rajin beribadah dari orang lain. Engkau merasa bahwa engkau berhak mendapat pahala. Engkau merasa bahwa engkau tidak perlu lagi memperbaiki diri. Engkau merasa bahwa engkau telah sampai pada derajat tertentu, sehingga engkau malas untuk meningkatkan ibadahmu."

Salik menunduk. Ia merasa bahwa sebagian dari tanda itu ada pada dirinya.

"Bagaimana aku bisa membersihkannya, Guru?"

"Ada beberapa cara. Pertama, ingatlah bahwa amalmu tidak berarti apa-apa di hadapan Allah. Sebesar apa pun amalmu. Ia tetap tidak mampu membayar nikmat Allah yang satu saja. 

Kedua, renungkanlah kekurangan-kekuranganmu. Setiap kali engkau merasa kagum pada dirimu. Ingatlah dosa-dosa yang pernah engkau lakukan. 

Ketiga, bandingkanlah dirimu dengan orang-orang yang lebih mulia dari engkau. Jangan bandingkan dengan yang lebih rendah. Sebab itu akan menumbuhkan 'ujub.

Keempat, ingatlah bahwa amal itu bukan tujuan, tetapi hanya jalan. Yang menjadi tujuan adalah ridha Allah. Bila engkau kagum pada jalan. Engkau akan lupa pada tujuan."

"Tetapi Guru," kata salik. "Bukankah kita harus bersyukur atas amal yang telah kita lakukan?"

"Bersyukur berbeda dari 'ujub. Bersyukur adalah engkau mengakui bahwa amal itu adalah karunia Allah, dan engkau berterima kasih kepada-Nya. Adapun 'ujub adalah engkau mengakui bahwa amal itu adalah hasil usahamu sendiri. Dan engkau merasa bangga pada dirimu. Bersyukur itu menumbuhkan kerendahan hati. Adapun 'ujub itu menumbuhkan kesombongan."

Mursyid mengambil sebatang lilin dan menyalakannya. "Lihatlah lilin ini," katanya. "Ia menyala karena ada api yang membakarnya. Bila lilin itu berkata, 'Akulah yang menerangi ruangan ini,' maka itu 'ujub. 

Tetapi bila lilin itu berkata, 'Api inilah yang menerangi ruangan ini,' maka itu syukur. Engkau adalah lilin. Dan amalmu adalah api. Jangan engkau mengaku bahwa engkaulah yang menerangi. Sebab engkau hanya alat."

Salik menangis. Ia merasa bahwa selama ini ia telah mencuri kemuliaan Allah untuk dirinya sendiri.

"Wahai anakku," kata Mursyid mengakhiri. "Ketahuilah bahwa 'ujub itu lebih berbahaya dari dosa besar. Sebab dosa besar bisa dihapus dengan taubat. Tetapi 'ujub itu menghapus amal-amal yang telah engkau lakukan. Maka bersihkanlah hatimu dari 'ujub. Agar amalmu diterima di sisi Allah."

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, "Ya Allah, bersihkanlah daku dari 'ujub. Agar aku bisa bersyukur dengan sebenar-benarnya."

Malam itu, ribat itu dipenuhi dengan keheningan yang dalam. Salik merasakan bahwa hatinya telah melalui tiga pintu: pintu cinta dunia, pintu kesombongan, dan pintu 'ujub. Ia tahu, bahwa perjalanannya masih panjang, tetapi ia juga tahu, bahwa setiap pintu yang ia lewati membawanya lebih dekat kepada Allah.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Nantikan Serial berikutnya: Takhalliy-3

Jumat, 16 Oktober 2026

Menyambut Rakernas Sekar Telkom; "Antara Falsafah Jawa dan Paradoks Kekuasaan"


Sportlite: Rakernas Sekar Telkom digelar mu;ai kemarin (15/10). Tentu bukan sekadar ritual organisasi tahunan. Ia adalah cermin retak yang memantulkan paradoks mendalam tentang bagaimana sebuah serikat pekerja di perusahaan telekomunikasi terbesar Indonesia menegosiasikan eksistensinya di tengah pusaran kekuasaan korporasi dan negara. Ketika Ketua Umum Sekar Telkom mengutip falsafah Jawa "hamemayu hayuning bawana". Memperindah keindahan dunia. Kita dihadapkan pada pertanyaan filosofis yang keras menghunjam. Memperindah untuk siapa?

SEKAR, Masih Punya Keberanian kah...

Sejarah Sekar Telkom lahir dari rahim reformasi 1998. Ketika KORPRI dibubarkan dan karyawan Telkom mendeklarasikan diri sebagai serikat pekerja yang "demokratis. Mandiri. Bebas. Bertanggungjawab. Dan terbuka". 

Deklarasi ini bukan sekadar pernyataan administratif. Ia adalah sumpah ontologis tentang hakikat keberadaan manusia pekerja. Yang menolak direduksi menjadi sekadar alat produksi. 

Dalam kerangka filsafat Hegelian. Ini adalah momen negasi. Penolakan terhadap tesis lama bahwa karyawan BUMN harus menjadi perpanjangan tangan kekuasaan.

Namun, lebih dari dua dekade kemudian, Kita menyaksikan sebuah antitesis yang mengganggu. Rakernas hari ini digelar di tengah bayang-bayang streamlining—eufemisme korporat untuk restrukturisasi. Yang justru mengancam hak-hak pekerja.

Kesepakatan tripartit antara Sekar Telkom. Danantara. Dan Direksi Telkom yang diteken Juli lalu memastikan "tidak ada PHK". 

Falsafah hamemayu hayuning bawana dalam konteks ini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mengingatkan pada tanggung jawab kosmologis untuk menjaga harmoni. Sebuah etika yang, dalam tradisi Jawa, menempatkan manusia sebagai khalifah yang memelihara keseimbangan alam dan masyarakat. 

Di sisi lain, ketika diucapkan dalam forum korporasi. Frasa ini berisiko menjadi mantra yang melegitimasi status quo. Memperindah dunia. Dalam tafsir yang paling sinis. Bisa berarti mempercantik fasad sementara fondasinya terus digerogoti.

Dalam tubuh Telkom, streamlining adalah state of exception itu. Sebuah kebijakan yang, meski dibungkus narasi transformasi digital. Pada hakikatnya adalah pemangkasan. 

Serikat pekerja yang seharusnya menjadi penjaga good corporate governance. Justru diposisikan sebagai pihak yang harus "memahami" kebutuhan perusahaan. Ini adalah inversi etis. Yang seharusnya mengawasi justru diminta untuk merestui.

Ketua Umum Sekar Telkom Peridoe 2025-2028, Nasri,  menyatakan bahwa transformasi bertujuan "menjaga eksistensi sebagai perusahaan digital". Eksistensi siapa? Perusahaan? Atau pekerja?

Dalam logika kapitalisme digital. Kedua entitas ini tidak selalu sejalan. Telkom memproyeksikan pendapatan Rp550 triliun pada 2030. Tetapi proyeksi gemilang itu tidak otomatis berarti kesejahteraan bagi mereka yang membangunnya. 

Inilah kontradiksi fundamental yang harus dihadapi Rakernas: Bisakah serikat pekerja menjadi mitra konstruktif sekaligus pengawal kritis dalam ekosistem yang menuntut efisiensi tanpa henti?

Rakernas yang dibuka mulai kemarin. Dengan segala ritualistiknya. Dari sharing eksternal hingga wisata ke lereng Merapi. Berpotensi menjadi ruang katarsis kolektif. 

Namun, katarsis tanpa tindakan hanyalah pelarian. Jika falsafah Jawa hendak dijadikan kompas. Maka hamemayu hayuning bawana harus dimaknai secara radikal: Memperindah dunia berarti menolak segala bentuk penindasan yang menyamar sebagai keniscayaan zaman. 

Serikat pekerja yang sejati bukanlah yang selalu berkata "ya" pada manajemen. Melainkan yang berani berkata "tidak" ketika keadilan dipertaruhkan.

Maka, pertanyaan filosofis yang tersisa adalah. Setelah Rakernas ini berakhir. Akankah Sekar Telkom kembali ke pelukan nyaman negosiasi bipartit yang steril. 

Atau akankah ia menemukan kembali jati dirinya sebagai suara kritis yang menggema melampaui dinding-dinding korporasi? 

Waktu. Dan keberanian. Yang akan menjawabnya. Sekkaaarrrr...!!!

(Kang Nana, Mantan Jurnalis Sekar dan Ketua Sekar DPD Corporate Periode 2007-2010)

Perang Houthi Arab Saudi: "Ketika Dua Narasi Suci Berbenturan"

Leaderline : Perang antara gerakan Houthi (Ansar Allah) dan Arab Saudi bukan sekadar perang geopolitik atau perang proksi. Di balik rudal, d...