Selasa, 16 Juni 2026

Rabiah Al-Adawiyah, Sufi Perempuan Peletak Dasar Mazhab Cinta


Abdul Wahhab As-Sya’rani merasa tidak perlu memperkenalkan riwayat Rabiatul Adawiyah atau Rabiah. Dalam At-Thabaqatul Kubra: Lawaqihul Anwar fi Thabaqatil Akhyar, sebuah hagiografi karya As-Sya’rani, ia mengatakan, kelebihan sufi perempuan yang satu ini cukup banyak dan begitu populer. 

Rabiah diperkirakan lahir pada 713-717 M atau 95-99 H di Kota Basrah. Ia adalah ibu dari para sufi besar setelahnya. Pandangan-pandangan spiritualnya terus hidup di kalangan sufi selanjutnya. Ulama yang menaruh hormat kepadanya antara lain adalah Sufyan At-Tsauri, Al-Hasan Al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Syaqiq Al-Balkhi. 

Rabiatul Adawiyah ahli ibadah perempuan yang kerap menangis dan bersedih karena ingat akan kekurangan-kekurangan dirinya di hadapan Allah. Jika mendengar keterangan perihal neraka, Rabiah jatuh tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Rabiatul Adawiyah dapat dikategorikan sebagai khawashul khawash dalam tingkatan Imam Al-Ghazali atau superistimewa, tingkat tertinggi setelah tingkat orang kebanyakan (awam) dan tingkat orang istimewa (khawash). 

Kalau kebanyakan orang beristighfar atau meminta ampunan Allah atas dosa, Rabiah beristighfar untuk ibadah yang tidak sempurna. Rabiah menganggap ibadahnya penuh kekurangan baik secara lahiriyah-formal maupun batin-spiritual karena masih tercampur niat-niat yang kurang tulus dan segala penyakit batin yang menyertai ibadah tersebut. Istighfar di akhir ibadah merupakan pengakuan atas kekurangan dalam ibadah tersebut. Ahli makrifat menyepakati anjuran istighfar usai beramal saleh. 

Dalam riwayat, para sahabat bercerita bahwa Rasulullah SAW beristighfar tiga kali tiap selepas sembahyang wajib. Maksudnya, menetapkan syariat istighfar usai beramal bagi umatnya sekaligus mengingatkan akan ketidaksempurnaan ibadah mereka. (As-Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah). 

Kita kemudian mengenal ucapan yang populer dari Rabiatul Adawiyah, “Istighfāruna yahtāju ilā istigfārin” atau “Kalimat istighfar atau permohonan ampun kita (baca: ibadah) perlu juga dimintakan ampun kembali.” (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin; An-Nawawi, Al-Adzkar; dan As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 65). Rabiah bukan tipe orang yang mudah menerima pemberian orang lain. 

Ia begitu zuhud. Ia kerap menolak pemberian orang lain. Ia akan dengan jujur mengatakan, “Aku tidak terlalu berhajat pada dunia.” Memasuki usia ke-80, fisiknya melemah. Tubuhnya begitu kurus sehingga hampir-hampir jatuh ketika berjalan. Tempat sujud Rabiah persis seperti tempat genangan air. Tempat sujudnya selalu basah dengan air mata. 

 Rabiah sering terlibat percakapan dengan Sufyan At-Tsauri. Suatu ketika, ia mendengar Sufyan At-Tsauri menyatakan prihatin atas dirinya, “Alangkah sedihnya.” Rabiah lalu menjawab, “Betapa kecil kesedihan itu. Andai aku bersedih, niscaya tidak ada kehidupan di sana.” Sufyan At-Tsauri pernah berdoa di dekat Rabiah, “Ya Allah, berikanlah ridha-Mu padaku.” Rabiah menanggapinya, “Apakah kau tidak malu kepada Allah dengan meminta ridha-Nya. Sedangkan dirimu tidak ridha atas ketentuan-Nya.” Sufyan At-Tsauri kemudian beristighfar. (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin: 346). 

Kematian Rabiah pernah ditanya kapan seorang hamba dikatakan ridha atas ketentuan Allah. Ia mengatakan, “Ketika musibah membuatnya bahagia sebagaimana kebahagiaannya ketika mendapatkan nikmat.” (Imam Al-Qusyairi, Risalatul Qusyairiyah: 89). 

Di tengah luapan rindunya yang tak terkendali, Rabiah pernah melontarkan kalimat ini dalam munajatnya, “Apakah dengan api aku harus membakar hati ini yang mencintai-Mu?” (Imam Al-Qusyairi, Risalatul Qusyairiyah: 147). 

Rabiah dikenal sebagai sufi bermazhab cinta. Salah satu Syarah Al-Hikam mengutip syair yang cukup mewakili pandangan sufistiknya. 

Syair Rabiah itu diterjemahkan dalam tiga larik berikut ini: Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (untung) melimpah.// Atau mereka menempati surga, lalu mendapatkan istana dan meminum air Salsabila// Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti. 

Rabiah wafat sekitar tahun 801 M atau 185 H. Ia wafat pada usia 83 tahun. Rabiah ingin memastikan kafan pembungkus jenazahnya berasal dari harta yang jelas. Oleh karena itu, ia telah menyiapkan jauh-jauh hari kain kafan yang kelak membungkus jenazahnya. Ia semasa hidup meletakkan kain kafan itu di depannya, tepatnya di tempat sujudnya. (As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 66). Wallahu a’lam. 
(Alhafiz Kurniawan//https://islam.nu.or.id/hikmah).


Minggu, 14 Juni 2026

Virus Wahabi: "PERUSAK PERDAMAIAN"


Istilah "virus Wahabi" biasanya merujuk pada perubahan pola pikir dan perilaku keagamaan yang dinilai kaku dan eksklusif. Berdasarkan pengamatan sejumlah pihak, fenomena ini memiliki beberapa ciri yang umum disoroti .

Gejala-Gejala Paparan "Virus Wahabi" memiliki ciri-ciri seperti Penampilan Fisik dengan melakukan perubahan gaya berpakaian meniru model Timur Tengah (jenggot, celana cingkrang, cadar).

Pola Pikir (Inti Utama), yakni terlalu mudah mengkafirkan atau membid'ahkan orang yang berbeda pandangan. Aanya klaim kebenaran mutlak (menganggap diri paling benar). 

Dalam melakukan pemahaman teks agama dilakukan secara tekstual/harfiah/saklek tanpa konteks.

Sedangkan sikap sosialnya bersifat eksklusif, sulit menghargai tradisi lokal yang sudah mengakar . Bahkan agresif dalam menyebarkan pendapat dan melabeli amalan umum (seperti tahlilan, ziarah kubur) sebagai "sesat".

Mengapa Ini Perlu Dipahami?

Pola pikir seperti ini menjadi perhatian karena berpotensi memicu konflik horizontal di masyarakat. Jika dibiarkan, sikap eksklusif dan mudah menyalahkan orang lain dapat mengikis kerukunan antar umat beragama, terutama di tengah kemajemukan Indonesia.

Di beberapa daerah, masyarakat dan pemerintah lokal bahkan telah mengambil sikap tegas karena ajaran ini dinilai mengancam stabilitas dan tradisi keagamaan yang sudah mapan.


Apa kata Denny Siregar tentang Virus Wahabi


Kalau kalian melihat model Islam dengan cara-cara yang tidak Islami seperti tidak mensholatkan jenazah pendukung kafir, itulah yang dinamakan virus Wahabi.

Wahabi atau Wahabisme adalah aliran dalam Islam yang puritan. Diambil dari nama tokohnya Muhammad bin abdul Wahab. Paham Wahabi adalah paham yang dianut kerajaan Saudi Arabia dan disebarkan ke seluruh dunia.

Jadi jangan kaget jika mereka yang terkena virus itu menjadi sumbu pendek dan gagal paham akut. Mereka menjadi zombie yang tidak mampu menggunakan logika berfikir dengan benar dan pada tingkat yang lebih parah menjadi tidak manusiawi.

Triliunan rupiah dana disebarkan ke seluruh dunia untuk menyebarkan paham ini. Tujuannya membentuk kelompok beragama yang bodoh sehingga mudah dicucuk hidungnya. Dengan begitu mereka akan mudah disetir untuk merusak negara dari dalam.

Tafsir ayat dan hadis diselewengkan, buku-buku dipalsukan. Mereka adalah senjata penghancur massal yang dibiayai oleh Amerika, Israel dan koalisinya dari negara Timur Tengah.

Tidak perlu senjata nuklir untuk menguasai Libya, Suriah, Irak, Afghanistan dan Nigeria. Cukup bentuk organisasi bernama Alqaeda, ISIS, Front al Nusra, Boko Haram dan mereka akan merusak tatanan negara yang ingin dikuasai. Di dalam negeri mereka punya nama lain sendiri.

Ketika satu negara dikuasai, maka sumber daya alam negara itu akan dikeruk habis dan dijual melalui makelar-makelar internasional.

Ada dua keuntungan memelihara Wahabi ini sebagai mesin perang yang murah meriah. Satu, penjualan senjata akan meningkat. Dan dua, harta jarahan yang bisa dijual berlipat.

Indonesia mungkin belum separah negara-negara di Timur Tengah dan Afrika yang luluh lantak, tapi tanda-tanda menuju kesana sudah terlihat jelas. Salah satunya dengan kebodohan berdasarkan fanatisme.

Tanda-tanda lain adalah pemujaan yang tinggi kepada ulama mereka, kebanggaan terhadap golongan, mudah tersinggung, mimpi indah tentang surga (merasa sebagai pemilik kunci surga) dan banyak lagi yang menandakan akal mereka yang lemah. Pengetahuan agama mereka instan dan didapat dari guru mereka yang juga instan.

Ada satu hal yang tampak jelas menandakan kelemahan logika berfikir mereka. Mereka selalu menggaungkan konsep khilafah, tapi memuja negara pendana mereka yang monarkhi. Cacat logika, kan?
















Sabtu, 13 Juni 2026

Sεni Mεnikmαti Mαsα Pεnsiun: "MΕNYUSURI SΕNJΑ MΕNΕMUKΑN MUΑRΑ DIRI"


Sαhαbαt yαng bεrbαhαgiα,

Hidυp ini sεpεrti sυngαi yαng mεngαlir pεlαn… kαdαng dεrαs sεpεrti kεhidupαn di mαsα mυdα, kαdαng mεlεbαr tεnαng mεnjεlαng sεnjα. Dαn di ujυng αlirαn itu, bυkαn kεhαbisαn αir yαng mεnυnggυ, mεlαinkαn lαυt lυαs yαng bεlυm pεrnαh kitα kεnαl sεpεnυhnyα. Mυngkin… pεnsiυn itu bυkαn tεntαng bεrhεnti, tεtαpi tεntαng bεlαjαr mεngαlir dεngαn cαrα yαng bαru. Sεtεlαh sibυk mεngεjαr dυniα, kini sααtnyα mεnεmυkαn diri.

Kαlαυ bοlεh jυjυr, bαnyαk di αntαrα kitα yαng diαm-diαm tαkυt dεngαn kαtα “pεnsiυn”. Sεolαh-olαh, sεtεlαh itu… hidυp mεnjαdi sυnyi, tidαk lαgi bεrgυnα, dαn kεhilαngαn αrti. Pαdαhαl, mυngkin yαng hαrυs kitα ubαh bυkαn hidυp kitα, tεtαpi cαrα kitα mεmαndαngnyα. Pεnsiυn itu bυkαn αkhir cεritα. Iα hαnyα pεrgαntiαn bαb, dαn sεring kαli, justrυ di sinilαh cεritα yαng sεbεnαrnyα dimυlαi.

Sαhαbαt, siαpα bιlαng pεnsiυn itu tidαk produktif? Kαlαυ sεlαmα ini produktif diυkυr dαri tαrgεt, lαporαn, dαn dεαdlinε, mυngkin kitα pεrlυ mεndεfinisikαn υlαng. Di mαsα pεnsiυn: produktif bυkαn lαgi sοαl sεbεrαpα bαnyαk yαng kitα kεrjαkαn, tεtαpi sεbεrαpα dαlαm kitα mεnghαyαti hidυp. Sααtnyα untuk mεmbongkαr mitos bαhwα “pεnsiυn = tidαk produktif”.

Pεnsiυn mεmbεrikαn kitα sεsυαtυ yαng dυlυ sεring kitα tυndα: wαktυ. Wαktυ untuk mεngεnαl diri sεndiri. Wαktυ untuk kεmbαli kεpαdα hobi yαng pεrnαh tεrtinggαl. Wαktυ untuk dυdυk lεbih lαmα bεrsαmα kεlυαrgα. Bαhkαn, wαktυ untuk mεnjαdi bεrgυnα dεngαn cαrα yαng bεrbεdα: mεnjαdi mεntοr, bεrbαgi pεngαlαmαn, αtαυ sεkαdαr mεnjαdi pεndεngαr yαng bαik. Kαrεnα tεrkαdαng, kεhαdirαn kitα sυdαh cυkυp mεnjαdi hαdiαh bαgi orαng lαin.

Sαhαbαt, yαng pεrlυ kitα pεlαjαri bυkαn hαnyα “cαrα hidυp di mαsα pεnsiυn”, tεtαpi “sεni mεnikmαtinуα”. Bυkαn hilαng rυtinitαs, tεtαpi mεnggαnti rυtinitαs. Yαng pεrgi itu hαnyα jαbαtαn, bυkαn kεhidυpαn. Bαngυn tεtαp pαgi, bukαn untuk rαpαt, mεlαinkαn untuk mεnyαpα hαri, bεrjαlαn pεlαn, dαn mεndεngαr diri sεndiri. Bυkαn bεrhεnti bεrkαryα, tεtαpi mεnggαnti αrαh kαryα. Yαng dυlυ untuk kεwαjibαn, kini untuk kεbαhαgiααn. Mεnulis, bεrkεbυn, mεngαjαr, bεrbisnis kεcil-kεcilαn, bυkαn lαgi sοαl pεndαpαtαn, tεtαpi mαknα.

Pεnsiυn itu bυkαn bεrhεnti, pεnsiυn αdαlαh mυlαi, tεtαp bεrkαryα, tεtαp bεrmαknα. Dulu mεngαtur pεkεrjααn, kini mεngαtur kεbαhαgiααn. Sααtnyα untuk mεngαtυr ulαng mαknα “bεrhαrgα”. Dυlυ, kitα dihαrgαi kαrεnα jαbαtαn. Sεkαrαng, kitα dihαrgαi kαrεnα kεhαdirαn. Dυlυ, kitα sibυk mεmbυktikαn sεsυαtυ. Sεkαrαng, kitα bεlαjαr mεnεrimα sεgαlαnyα. Dαn di sitυ, αdα kεdαmαiαn yαng pεrlαhαn tυmbυh, tαnpα riυh, tαnpα kεjαrαn.

Nαmυn, tidαk sεmυα jαlαn itu mυdαh. Αdα jεbαkαn yαng pεrlυ diwαspαdαi. Αdα yαng tεrjεbαk dαlαm kεsεpiαn, mεnghαbiskαn hαri tαnpα gεrαk, αtαυ tεrlαlυ lαmα hidυp di mαsα lαlυ. Αdα jυgα yαng lυpα mεmbεri rυαng untuk diri sεndiri, kαrεnα tεrlαlυ sibυk mεmεnυhi pεrαn bαrυ. Pαdαhαl, pεnsiυn bυkαn tεntαng mεnghilαngkαn diri, tεtαpi mεnεmυkαnnyα kεmbαli.

Sεdikit tεntαng pεrsiαpαn. Pεnsiυn yαng tεnαng, bυkαn hαnyα sοαl υsiα, tεtαpi jυgα pεrsiαpαn. Kευαngαn yαng dijαgα, kεsεhαtαn yαng dirαwαt, dαn jαringαn sοsiαl yαng dipεlihαrα. Kαrεnα hidυp tidαk pεrnαh dijαlαni sεndiri. Di mαsα ini, kitα mυlαi lεbih sεring bεrtαnyα: “Untuk αpα sεmuα ini?” 

Dαn mυngkin, jαwαbαnnyα tidαk lαgi di lυαr, tεtαpi di dαlαm. Mεndεkαtkαn diri kεpαdα Αllαh, mεnεnαngkαn pikirαn, mεmbεrsihkαn hαti dαri yαng bεlum sεlεsαi. Bυkαn kαrεnα hidυp hαmpir usαi, tεtαpi kαrεnα kitα ingin mεnjαlαninуα dεngαn lεbih sαdαr.

Sαhαbαt… pεnsiυn itu bυkαn libυr pαnjαng. Iα αdαlαh pεkεrjααn bαrυ dεngαn “bοs” yαng bαrυ, yαitu diri kitα sεndiri. Dαn sαtυ-sαtυnyα tυgαs: mεmbυαt diri ini bαhαgiα, bεrmαknα, dαn mεrαsα tεnαng sεtiαp hαri. Kεtikα αlirαn sυngαi kεhidupαn sυdαh mεndεkαti mυαrα, jαngαn tαkυt pαdα lαυt yαng lυαs. 

Kαrεnα di sitυ, kitα bukαn kεhilαngαn αrαh, tεtαpi mεnεmυkαn kεbεbαsαn. Dαn mυngkin, sεtεlαh sεmυα pεrjαlαnαn pαnjαng ini, kitα bαru mεngεrti: bαhwα nikmαt hidυp itυ tidαk pεrnαh pεrgi, kitα hαnyα bαru sεmpαt mεrαsαkαnnyα sεkαrαng.

Sαlαm αwεt sεhαt, jαngαn lupα bαhαgiα.
Bαndυng Sεlαtαn, 11 Juni 2026.

Mυchtαr ΑF
Inspirε Without Limits
Mεnginspirαsi Tiαdα Hεnti

Jumat, 12 Juni 2026

Doa Cara Siti: "DOA YANG TAK PERNAH MENYERAH"


Setiap malam, sebelum tidur, Siti tak pernah lupa berdoa. Bukan doa panjang yang rumit, hanya bisikan kecil, “Ya Allah, sembuhkan ibuku.” 

Ibunya terbaring lumpuh sejak dua tahun lalu. Dokter bilang, kemungkinan untuk berjalan lagi sangat kecil. Tapi Siti, gadis 12 tahun itu, tak pernah berhenti berharap.

Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Siti membasuh wajah ibunya, menyuapi bubur hangat, lalu berbisik, “Ibu, hari ini mungkin keajaiban datang.” Sang ibu hanya tersenyum lemah. Mereka miskin. Biaya berobat pun hanya mengandalkan bantuan tetangga. 

Tapi doa adalah hal termahal yang tak pernah habis Siti berikan.
Hingga suatu malam, Siti bermimpi. Dalam mimpinya, seorang tua berjubah putih berkata, “Pergilah ke sungai kecil di belakang rumah, ambil batu yang paling licin, lalu gosokkan ke kaki ibumu.” Siti bangun dengan jantung berdebar. Bukan karena takut, tapi karena keyakinan. 

Tanpa ragu, keesokan paginya ia langsung ke sungai.
Ia mencari batu yang paling licin. Susah payah ia menyelam, tangannya luka tergores bebatuan tajam. Akhirnya ia menemukan batu hitam halus seperti kaca. Dengan hati berdebar, ia menggosokkannya lembut ke kaki ibunya. Hari pertama, tak ada perubahan. Hari kedua, sama saja. Tetangga mulai bergunjing, “Kasihan Siti, jadi percaya takhayul.”

Tapi Siti terus melakukannya. Hari ketujuh, saat Siti selesai menggosok, tiba-tiba jari kaki ibunya bergerak. Siti menjerit bahagia. Hari kedelapan, pergelangan kaki mulai terangkat. Hari kesepuluh, ibu Siti bisa duduk sendiri. Sebulan kemudian, untuk pertama kalinya, ibunya berdiri. Seminggu setelahnya, ia melangkah. Siti menangis haru, memeluk erat sang ibu.

Mereka berdua mendatangi dokter yang dulu merawat. Dokter itu terbelalak, “Ini mustahil secara medis! Apa yang kau lakukan?” Siti tersenyum, “Hanya doa, Dok. Dan batu dari sungai.” Tentu, secara ilmiah, batu itu tak punya khasiat. Yang menyembuhkan bukan batunya, melainkan keyakinan dan ketekunan Siti yang lahir dari doa.

Kisah Siti menyebar. Banyak yang bertanya, “Doa macam apa yang kau panjatkan?” Siti menjawab polos, “Doa yang tak pernah menyerah. Doa yang diikuti usaha, sekecil apa pun.

”Dari Siti, kita belajar bahwa doa bukan mantra ajaib yang langsung mengubah keadaan. Doa adalah kunci yang membuka pintu harapan, lalu kita sendiri yang harus melangkah melewatinya. Seringkali, mukjizat bukanlah sesuatu yang spektakuler. 

Mukjizat adalah ketekunan orang beriman yang terus berbuat, meski akal berkata mustahil. Sebab, doa yang tulus akan menemukan jalannya—entah melalui batu di sungai, atau melalui perubahan dalam hati yang tak pernah lelah percaya.
(enough four:4.Doa)

Rabiah Al-Adawiyah, Sufi Perempuan Peletak Dasar Mazhab Cinta

Abdul Wahhab As-Sya’rani merasa tidak perlu memperkenalkan riwayat Rabiatul Adawiyah atau Rabiah. Dalam At-Thabaqatul Kubra: Lawaqihul Anwa...