Selasa, 13 Oktober 2026

Pendidikan gratis, Wacana Indah di Atas Kertas


Di ujung gang itu. Sebuah sekolah berdiri dengan atap yang bocor. Sejak tahun pertama republik ini merdeka. Ia bernama negeri. Tetapi tak seorang pun tahu siapa yang benar-benar memilikinya. 

Anak-anak datang dengan seragam yang lusuh. Sepatu yang bergantian dipakai kakak-beradik. Dan mata yang menyala. Mata yang percaya bahwa di balik pintu kelas. Ada sesuatu yang tak bisa dirampok oleh siapa pun: Pengetahuan.

Konon, pendidikan itu gratis. Konon, negara menjaminnya. Konon, konstitusi telah menuliskannya dengan tinta emas. Tetapi tinta emas. Rupanya, tak pernah sampai ke desa ini. Yang sampai hanyalah brosur. Spanduk. Dan janji-janji yang bertebaran seperti daun kering di musim kemarau.

Gratis, kata mereka. Tetapi lihatlah. Uang pangkal, uang seragam, uang buku, uang kegiatan, uang ini, uang itu. Semuanya berbaris rapi seperti pasukan yang menunggu komando. 

Orang tua di kampung ini menggarap sawah orang lain. Upahnya tak cukup untuk membeli sepatu. Apalagi membayar "sumbangan sukarela" yang nilainya lebih besar dari penghasilan sebulan. 

Pendidikan gratis? Ia adalah hantu yang menakut-nakuti dompet orang miskin.

Seorang ibu pernah berkata kepadaku. Sambil menumbuk padi. "Kalau sekolah itu gratis. Kenapa anakku harus berhenti di kelas empat? Apa karena kami miskin. Jadi kami tak berhak tahu?" Ia tidak menangis. 

Matanya kering seperti sawah di musim kemarau panjang. Dan aku tak punya jawaban. Hanya ada rasa malu yang menjalar. Sebab aku tahu. Negara ini punya uang untuk membangun gedung-gedung megah. Punya uang untuk perjalanan dinas ke luar negeri. Punya uang untuk segala hal yang tak pernah menyentuh dapur orang miskin.

Pendidikan gratis adalah wacana yang indah di atas kertas. Ia adalah puisi yang dibacakan di seminar-seminar. Dikutip dalam pidato kenegaraan. Ditulis dalam naskah akademik. 

Tetapi di lapangan. Ia adalah rakyat yang berjuang sendiri. Guru-guru honorer yang digaji sebesar uang rokok. Mengajar dengan sepenuh jiwa. Lalu pulang ke rumah untuk menghadapi tagihan listrik. Yang tak bisa dibayar dengan idealisme. 

Kepala sekolah yang harus memutar otak mencari dana. Bukan untuk kesejahteraan. Tetapi agar sekolah tetap berdiri. Dan anak-anak. Anak-anak yang seharusnya menjadi masa depan. Terpaksa memilih: Sekolah atau makan?

Ada ironi yang menganga seperti luka. Negara ini kaya. Tanahnya subur. Lautnya luas. Tambangnya berlimpah. Tetapi kekayaan itu mengalir ke tempat yang salah. Ia menjadi gedung-gedung pencakar langit. Mobil-mobil mewah. Dan rekening-rekening di bank asing. 

Sementara itu. Di desa-desa. Di pinggiran kota. Di pelosok-pelosok yang tak tersentuh peta pembangunan. Anak-anak belajar di bawah langit yang retak. Dengan papan tulis yang sudah putih karena terlalu tua. Dan buku yang halamannya hilang dimakan zaman.

Pendidikan gratis bukanlah utopia. Negara-negara lain telah membuktikannya. Finlandia, Kuba, Jerman. Mereka tahu bahwa investasi terbaik adalah manusia. Mereka tak bertanya: "Apakah kita mampu?" Mereka bertanya, "Apakah kita mau?" Dan mereka mau. Mereka menganggap pendidikan sebagai hak. Bukan belas kasihan. Mereka menganggap anak-anak sebagai aset. Bukan beban.

Di negeri ini, kita terlalu sibuk bertanya: "Dari mana uangnya?" Padahal, uangnya ada. Korupsi merajalela. Anggaran bocor di mana-mana. Tapi ketika bicara pendidikan. Tiba-tiba kita menjadi pelit. 

Ada uang untuk membangun monumen. Tapi tak ada uang untuk membangun sekolah. Ada uang untuk membeli alutsista. Tapi tak ada uang untuk membeli buku. Ada uang untuk segalanya. Kecuali untuk masa depan.

Maka pendidikan gratis tetap menjadi wacana. Ia menjadi dongeng yang diceritakan dari generasi ke generasi. Seperti mitos tentang keadilan yang tak pernah datang. 

Sementara itu, di ujung gang. Sekolah itu masih berdiri. Atapnya masih bocor. Anak-anaknya masih datang. Dan mereka masih percaya. Karena itulah satu-satunya yang mereka punya.

Tetapi sampai kapan? Sampai kapan kita membiarkan mereka belajar di bawah langit yang retak? Sampai kapan kita menutup mata pada kenyataan. Bahwa pendidikan gratis hanyalah ilusi bagi mereka yang tak punya suara?

Jika negara ini benar-benar merdeka. Maka merdekanya harus dimulai dari ruang kelas. Bukan dari pidato. Bukan dari spanduk. Tetapi dari keberanian untuk mengakui bahwa pendidikan adalah hak. Bukan kemewahan. Dan bahwa selama satu anak saja masih berhenti sekolah karena miskin. Selama itu pula republik ini belum sepenuhnya merdeka.

Langit masih retak. Tetapi selama masih ada yang mau menambalnya. Harapan itu belum mati. 

Jangan jadikan pendidikan gratis terus-terusan menjadi wacana dan slogan politis. Kalau pada kenyataannya "an-sich nonsens". Hanya omong kosong belaka...!!

Serial Tasawuf-20: "Syariat dan Hakikat, Dua Sayap Tak Terpisahkan"


Pendahuluan: Tahun 521 Hijriah. Kota Baghdad. Pusat peradaban dunia. Tenggelam dalam cahaya lentera yang bergoyang ditiup angin Tigris. Di sebuah madrasah tua di Babul Azaj. Seorang lelaki duduk di atas sajadah yang telah lusuh dimakan usia. Wajahnya teduh. Namun matanya menyimpan kedalaman. Yang membuat siapa pun yang memandangnya merasa sedang berdiri di tepi samudra. Namanya Abdul Qadir al-Jailani. Lelaki yang kelak dijuluki Sulthan al-Auliya. Raja Para Wali.

Landasan Tasawuf Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Di hadapannya. Ratusan murid duduk bersila. Mereka datang dari berbagai penjuru. Dari Yaman. Dari Syam. Dari negeri-negeri yang jauh. Ada yang berilmu tinggi. Ada yang buta huruf. Ada yang kaya. Ada yang miskin. Tetapi semua datang dengan satu tujuan yang sama. Mencari jalan menuju Allah.

Malam itu, seorang murid mengangkat tangan. "Wahai Syekh, aku telah mempelajari fiqih selama sepuluh tahun. Aku hafal Al-Qur'an. Aku tahu halal dan haram. Tetapi hatiku terasa kering. Apakah aku harus meninggalkan ilmu syariat untuk menempuh jalan tasawuf?"

Al-Jailani tersenyum. Senyumnya bukan senyum yang ringan. Melainkan senyum yang mengandung beban hikmah berabad-abad. "Duduklah, anakku," ujarnya dengan suara yang dalam. Seperti gemuruh sungai di kejauhan. "Malam ini, aku akan bercerita tentang dua sayap yang tidak boleh terpisah."

Kisah Burung yang Kehilangan Satu Sayap

"Ada seekor burung yang ingin terbang tinggi ke langit. Ia memiliki dua sayap. Sayap kanan dan sayap kiri. Suatu hari, ia berkata kepada dirinya sendiri: 'Sayap kananku terlalu berat. Aku akan memotongnya. Agar aku bisa terbang lebih ringan.'"

"Burung itu memotong sayap kanannya. Ia mencoba terbang. Tetapi ia hanya berputar-putar di tempat. Ia tidak bisa naik. Tidak bisa turun. Tidak bisa ke mana-mana. Ia jatuh ke tanah. Dan ia menangis."

"Seorang bijak datang kepadanya dan bertanya: 'Mengapa engkau menangis?'"

"Burung itu menjawab: 'Aku ingin terbang tinggi. Tetapi aku telah memotong sayapku.'"

"Bijak itu berkata: 'Engkau bodoh. Sayap kanan dan sayap kiri adalah satu kesatuan. Engkau tidak bisa terbang dengan hanya satu sayap. Engkau harus memiliki keduanya.'"

Al-Jailani memandang para muridnya. "Syariat adalah sayap kanan. Hakikat adalah sayap kiri. Engkau tidak bisa terbang menuju Allah dengan hanya salah satunya. Engkau tidak bisa mengabaikan fiqih dan hanya berdzikir. Dan engkau tidak bisa hanya mempelajari hukum dan mengabaikan hatimu. Keduanya harus berjalan bersama."

Syariat Zahir, Hakikat Batin

Al-Jailani menegaskan bahwa syariat adalah aspek zahir (lahiriah) dari ibadah. Sedangkan tarekat atau hakikat adalah aspek batin-nya. Keduanya tidak boleh dipisahkan. 

Ia sendiri adalah pengikut mazhab Hanbali yang tegas dalam fiqih. Namun juga seorang sufi yang mendalam dalam spiritualitas. Ia menjembatani kesenjangan antara ulama fiqih yang sibuk dengan nash-nash. Dengan para sufi yang kadang melampaui batas dalam aspek rohani.

"Akidah yang benar adalah pondasi pertama," ujar al-Jailani. "Pada masa hidupnya. Beliau selalu mewanti-wanti pentingnya berakidah seperti generasi salaf. Yaitu Ahlussunnah wal Jamaah". 

Caranya adalah dengan bersungguh-sungguh memahami dan mengamalkan Al-Qur'an dan Sunnah. Dengan begitu, seseorang akan mendapatkan petunjuk dalam menapaki jalan menuju Allah.

Al-Jailani berkata kepada murid-muridnya: "Lihatlah dirimu dengan penglihatan yang penuh kasih sayang dan cinta. Jadikanlah Al-Qur'an dan Sunnah di depanmu. Lihatlah keduanya lalu kerjakan. Jangan terpedaya dengan perkataan orang."

Beliau juga menegaskan: "Ambilah nasihat dari Al-Qur'an dengan mengamalkannya. Bukan dengan menentangnya."

Tauhid yang Hidup

Menurut al-Jailani, tauhid bukan sekadar doktrin atau spekulasi rasional. Ia adalah bukti eksistensial yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Kesadaran akan kehadiran Allah menjadi sumber inspirasi bagi aktivitas hidup yang dinamis. Sekaligus menanamkan nilai transendental pada setiap tindakan.

"Jika engkau benar-benar bertauhid," ujar al-Jailani, "engkau akan melihat Allah dalam setiap helaan napas. Dalam setiap detak jantung. Dalam setiap langkah kakimu. Engkau tidak akan pernah merasa sendirian. Karena engkau tahu bahwa Allah bersamamu. Engkau tidak akan pernah takut. Karena engkau tahu bahwa Allah melindungimu."

Dua Sayap yang Terbang Bersama

Malam semakin larut. Lampu-lampu minyak di madrasah mulai meredup. Tetapi mata para murid justru semakin bercahaya. Al-Jailani bangkit dari duduknya. Membetulkan serbannya. Dan berkata dengan suara yang menggema di seluruh ruangan:

"Anak-anakku, tasawuf tanpa syariat adalah bangunan tanpa pondasi. Syariat tanpa tasawuf adalah jasad tanpa ruh. Engkau harus memiliki keduanya. Engkau harus mempelajari fiqih. Tetapi engkau juga harus membersihkan hatimu. Engkau harus menjalankan shalat. Tetapi engkau juga harus khusyuk dalam shalatmu."

"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa mencapai Allah dengan hanya satu sayap. Engkau harus terbang dengan keduanya. Syariat dan hakikat. Agar engkau bisa naik ke langit yang tinggi. "

Para murid mengaminkan dengan hati yang bergetar. Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman baru tentang tasawuf. Tetapi dengan kesadaran bahwa jalan menuju Allah adalah jalan yang seimbang. Antara zahir dan batin. Antara ilmu dan amal. Atara syariat dan hakikat.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Bersambung ke Serial-21: Tujuh Maqam Menuju Hadirat Ilahi.)

Senin, 12 Oktober 2026

Ketika Kapolri Menjadi Khotib Shalat Jumat: "Pesan Moral Apa yang Ingin Disampaikan kepada Jajarannya?"


Narasi Pemicu: Di tengah badai kritik yang tak henti menghantam institusi Polri. Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto memilih jalan yang jarang ditempuh pendahulunya. Jumat, 9 Oktober 2026. Ia naik ke mimbar Masjid Al-Ikhlas Mabes Polri. Bertindak sebagai khatib shalat Jumat. Sejatinya ada pesan moral yang ingin disampaikan Sang Jenderal kepada jajarannya. Pesan moral seperti apa?

Mengapa Momen Ini begitu Berarti

Pesannya sederhana namun menghunjam. Jadilah pribadi yang rendah hati, Jangan sombong, Dan jangan pernah merasa lebih hebat daripada orang lain. Apakah ini sekadar simbolisme religius? Atau benar-benar pertanda harapan baru bagi Polri?

Dalam khotbahnya. Ia menegaskan. Bahwa jabatan. Pangkat. Kedudukan. Dan harta. Bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. 

Kapolri menjadi khatib bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah pernyataan publik. Bahwa nilai-nilai keimanan harus diwujudkan dalam perilaku nyata, Bukan hanya dalam ibadah ritual. 

Kehadiran Suyudi di mimbar Jumat, setidaknya telah menunjukkan sosok religius. Yang ingin menyampaikan pesan moral langsung kepada jajarannya. 

Lebih dari itu. Pesan kerendahan hati yang disampaikan di hadapan anggota Polri memiliki bobot tersendiri. Selama ini, kritik yang paling sering dialamatkan kepada Polri adalah arogansi. Sikap merasa kebal hukum. Dan perilaku yang tidak mencerminkan pelindung masyarakat.

Suyudi sendiri menyadari hal ini. Ia bahkan mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari pangkat. Jabatanta. Au kekayaan. Melainkan dari akhlak. Ketulusan hati. Serta caranya memperlakukan orang lain. 

Itu adalah pengakuan implisit. Bahwa selama ini ada jarak antara citra yang ingin dibangun Polri dan realitas yang dirasakan masyarakat.

Reformasi yang Dijanjikan

Momen khatib ini bukanlah langkah tunggal. Sejak dilantik pada 1 Oktober 2026, Suyudi telah memaparkan agenda reformasi yang cukup komprehensif. Ia mengusung tema "Polisi Bersama Masyarakat". Menggantikan slogan "Presisi" era Listyo Sigit. Arahnya jelas. Polisi hadir untuk mendengar. Melayani. Dan bekerja bersama masyarakat.

Dalam uji kelayakan di Komisi III DPR, Suyudi memaparkan enam program prioritas transformasi. Penguatan kelembagaan. Pembinaan SDM dan rekrutmen. Penguatan pelayanan publik. Penguatan penegakan hukum. Penguatan pengawasan. Dan akuntabilitas anggaran. 

Ia secara eksplisit menyatakan bahwa tidak boleh ada ruang bagi titipan. Transaksi. Dan sponsorship dalam rekrutmen. Ia juga berkomitmen menghapus fenomena no viral no justice. Dimana laporan masyarakat baru ditindaklanjuti setelah ramai di media sosial.

Yang paling fundamental. Suyudi menyatakan bahwa hal paling mendasar dalam reformasi adalah transparansi dan keterbukaan terhadap kritik. Kritik berbasis fakta, katanya, adalah sistem peringatan dini yang harus segera ditindaklanjuti. 

Ini adalah pernyataan yang berani dari seorang Kapolri. Mengingat selama ini kritik terhadap Polri sering kali direspons dengan defensif atau bahkan represif.

Ujian Sesungguhnya Setelah Mimbar

Namun, di sinilah letak persoalannya. Menjadi khatib tidak otomatis membuat seseorang berintegritas sempurna. Fikih membedakan keabsahan khutbah dari penilaian moral terhadap khatib itu sendiri. 

Keteladanan seseorang tetap dinilai dari rekam jejak. Kejujuran. Dan perbuatannya. Mimbar bukan sertifikat otomatis menjadi manusia tanpa cela.

Al-Qur'an sendiri dalam Surah Ash-Shaff ayat 2-3 mengingatkan: "Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?" 

Ayat itu cocok dipasang di setiap ruang rapat Polri. Bahkan di depan cermin setiap anggota. Karena itulah, publik patut mengapresiasi pesan Suyudi tanpa buru-buru mengangkatnya menjadi wali berjubah seragam. 

Ujian sesungguhnya ialah membuktikan nasihat tersebut bukan suara merdu yang menguap setelah salam penutup.

Reformasi kultural Polri adalah mandat rakyat yang belum tuntas. Watak pemimpin dan anggotanya harus humanis. Menghormati HAM. Membuang sikap arogan. Pamer harta. Koruptif. Tidak profesional. Dan kekerasan berlebih. 

Itu adalah daftar panjang persoalan. Yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu khotbah Jumat.

Anggota Komisi III DPR Benny K Harman menitipkan pesan yang sangat spesifik. Perkuat profesionalitas dan transparansi. Terapkan scientific crime investigation. Bentuk peradilan pidana independen untuk anggota Polri. Hentikan penggunaan UU ITE untuk membungkam kritik. 

Yang tidak kurang urgennya. Hapus jual beli jabatan Kapolres/Kapolda. Polri, adalah lembaga dengan anggaran Rp 120 triliun lebih. Publik berhak tahu bagaimana lelang jabatan di Polri berjalan secara transparan.

Harapan yang Harus Dibuktikan

Apakah ada harapan baru? Tentu ada. Kapolri yang mau turun dari podium konferensi pers ke mimbar masjid. Yang berbicara tentang kerendahan hati dan amanah di hadapan jajarannya sendiri. Adalah pemandangan yang menyegarkan.

Wajar jika Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas berharap. Masalah-masalah yang dikeluhkan masyarakat dapat ditanggulangi dengan lebih humanis dan berkeadilan. Sehingga Polri benar-benar dipercaya dan dicintai rakyat.

Namun, harapan itu tidak boleh berhenti pada kekaguman. Spanduk boleh baru. Desain boleh kinclong. Tetapi kalau pelayanan tidak berubah. Maka itu identik dengan renovasi kalimat. Bukan renovasi karakter. 

Bayangkan jika polisi benar-benar rendah hati, jujur, dan adil. Maka pengaduan masyarakat didengar. Korban memperoleh keadilan. Kritik yang tajam dan menghunjam tidak lagi dianggap serangan pribadi. Dan hukum tidak mendadak masuk angin ketika berhadapan dengan orang vokal dan berpengaruh.

Kapolri Suyudi telah menanam benih di mimbar Jumat. Tugasnya sekarang adalah memastikan benih itu tumbuh di setiap Polsek. Setiap Polda. Dan setiap anggota yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. 

Reformasi Polri bukan proyek seratus hari atau satu periode kepemimpinan. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi. Keberanian. Dan yang paling penting, keteladanan dari puncak komando. 

Khotbah Jumat kemarin, barulah sebagai pembuka. Babak sesungguhnya baru saja dimulai. Apakah khotbah Tuan Jenderal Suyudi di Shalat Jumat yang lalu, memiliki efek dahsyat terhadap perilaku dan moral jajarannya? Let's wait and see...!!

Serial Tasawuf-19: "Ridha, Buah-Buah Ketenangan dalam Kehidupan Sehari-hari"


Pengantar: Musim kemarau telah benar-benar berlalu. Sumur kembali penuh. Tanah kembali hijau. Para salik kembali menjalani kehidupan mereka di luar zawiyah. Namun suatu hari, Mursyid mengumpulkan mereka dengan pesan yang tidak biasa.

Malam Ketika Zawiyah (Surau) Berpindah ke Kota

"Anak-anakku," ujarnya. "Malam ini kita tidak akan berkumpul di zawiyah. Kita akan turun ke kota."

Para salik saling memandang. Zaid mengangkat tangan. "Ke kota, Wahai Mursyid? Untuk apa?"

Mursyid tersenyum. "Untuk melihat buah-buah ridha. Selama ini kita membicarakannya di dalam ruangan. Di bawah lindungan dinding dan atap. 

Malam ini kita akan melihatnya di pasar. Di jalan. Di tengah manusia yang sibuk dengan urusan mereka. Karena ridha bukanlah buah yang hanya tumbuh di zawiyah. Ia harus tumbuh di mana pun engkau berada."

Buah Pertama: Hati yang Tidak Gelisah

Mereka berjalan menyusuri jalanan kota yang masih ramai meski malam telah larut. Di depan sebuah toko yang mulai tutup. Seorang pedagang tua tampak membereskan dagangannya dengan wajah muram. Barang dagangannya tidak terjual habis hari itu.

Mursyid berhenti dan menyapa lelaki itu. "Assalamu'alaikum, saudaraku. Mengapa wajahmu muram?"

Pedagang itu menghela napas. "Hari ini daganganku tidak laku. Aku sudah bekerja keras. Tetapi rezekiku sedikit. Aku takut besok lebih buruk lagi."

Mursyid menatap para salik. Lalu kembali kepada pedagang itu. "Saudaraku, apakah engkau telah berusaha?" tanyanya lembut.

"Tentu. Aku bangun sebelum subuh. Aku membuka toko paling awal. Aku melayani pembeli dengan ramah."

"Kalau begitu," ujar Mursyid. "Engkau telah melakukan bagianmu. Sisanya adalah bagian Allah. Apakah engkau percaya bahwa Allah mengetahui kebutuhanmu?"

Pedagang itu terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Ya, aku percaya."

"Maka janganlah engkau gelisah. Rezeki bukan diukur dari berapa yang engkau dapat hari ini. Tetapi dari seberapa tenang hatimu menerimanya. Buah pertama ridha adalah hati yang tidak gelisah. Meski dompet kosong. Hati tetap lapang."

Buah Kedua: Lisan yang Tidak Mengeluh

Mereka melanjutkan perjalanan. Di sudut jalan, seorang perempuan tua duduk di bangku kayu. Mengeluh kepada siapa pun yang lewat tentang anaknya yang tidak pernah menengoknya.

Mursyid duduk di sampingnya tanpa diminta. Ia mendengarkan keluhannya dengan sabar. Tidak memotong. Tidak menghakimi. Ketika perempuan itu selesai. Mursyid berkata, "Ibu, berapa lama engkau telah menunggu anakmu?"

"Lima tahun," jawabnya lirih.

"Dan selama lima tahun itu. Apakah engkau masih diberi kesehatan? Apakah engkau masih diberi makan? Apakah engkau masih bisa bangun setiap pagi?"

Perempuan itu mengangguk pelan.

"Maka syukurilah apa yang masih ada. Sebelum engkau mengeluhkan apa yang tidak ada. Buah kedua ridha adalah lisan yang tidak mengeluh. Bukan karena hidup ini tanpa luka. Tetapi karena lisan yang ridha memilih untuk menyebut nikmat daripada menuntut takdir."

Air mata perempuan tua itu jatuh. Ia tidak berkata apa-apa. Tetapi ia menggenggam tangan Mursyid erat-erat.

Buah Ketiga: Amal yang Tidak Terhenti

Di depan sebuah masjid kecil. Seorang pemuda duduk termenung. Ia baru saja gagal dalam ujian yang ia impikan bertahun-tahun. Ia merasa hidupnya hancur.

Mursyid duduk di sampingnya. "Apa yang engkau lakukan setelah gagal?"

"Aku berhenti belajar," jawab pemuda itu. "Untuk apa? Usahaku tidak dihargai."

Mursyid menggeleng. "Engkau salah memahami ridha, anakku. Ridha bukan berarti berhenti berusaha. Ridha adalah tetap melangkah meski hasilnya bukan yang engkau inginkan. Orang yang ridha tidak menyerahkan masa depannya kepada keputusasaan. Ia menyerahkannya kepada Allah. Sambil tetap berjalan."

"Buah ketiga ridha adalah amal yang tidak terhenti. Engkau boleh gagal, tetapi jangan berhenti. Engkau boleh kecewa. Tetapi jangan mati. Bangkitlah. Serahkan hasilnya kepada Dzat yang tidak pernah salah menakar."

Buah Keempat: Cinta yang Tidak Bersyarat

Saat fajar mulai menyingsing. Mursyid mengajak para salik duduk di tepi sungai. Air mengalir tenang, dan burung-burung mulai berkicau.

"Buah terakhir ridha" ujar Mursyid. "Adalah cinta yang tidak bersyarat. Engkau mencintai Allah bukan karena Dia memberimu kesehatan. Bukan karena Dia memberimu rezeki. Bukan karena Dia memberimu kebahagiaan. Engkau mencintai-Nya karena Dia adalah Allah. 

Dan ketika engkau mencintai-Nya tanpa syarat. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia berikan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena cinta itu lebih besar dari sakit itu sendiri."

Zaid menunduk. "Wahai Mursyid, apakah kami bisa mencapai itu?"

Mursyid tersenyum, lalu berdiri. "Engkau tidak akan mencapainya hari ini. Atau besok. Atau tahun depan. Tetapi setiap kali engkau memilih untuk tidak mengeluh. 

Setiap kali engkau memilih untuk tetap beramal. Setiap kali engkau memilih untuk mencintai Allah meski hatimu menangis. Engkau sedang menanam benih ridha. Dan suatu hari. Benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang rindang. Tempat orang-orang berlindung dari panasnya dunia."

Ridha adalah Rumah

Matahari mulai terbit. Para salik kembali ke zawiyah. Di perjalanan pulang. Tidak ada yang berbicara. Mereka masing-masing merenungkan apa yang baru saja mereka lihat. Pedagang yang tidak gelisah. Perempuan tua yang berhenti mengeluh. Pemuda yang bangkit. Dan cinta yang tidak bersyarat.

Sesampainya di zawiyah, Mursyid berkata untuk terakhir kalinya dalam majelis panjang ini:

"Anak-anakku, engkau telah menempuh tujuh maqam. Taubat, sabar, zuhud, tawakal, mahabbah, makrifat, dan ridha. 

Ketahuilah, ridha bukanlah maqam terakhir. Ia adalah rumah tempat semua maqam itu bertemu. Di dalam ridha. Taubat menjadi manis. Sabar menjadi ringan. Zuhud menjadi indah. Tawakal menjadi tenang. Mahabbah menjadi sempurna. Dan makrifat menjadi cahaya."

"Ingatlah pesan terakhir ini. Orang yang ridha tidak pernah kehilangan. Karena ia tidak pernah memiliki. Segala sesuatu adalah milik Allah. Dan ia hanya menitipkannya. Ketika Allah mengambilnya. Ia tidak berduka. Karena ia tahu bahwa yang mengambil adalah Dzat yang lebih mencintainya daripada ia mencintai dirinya sendiri. "

Mursyid mengangkat tangan, dan para salik mengaminkan doa penutup:

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang ridha. Ridha dengan takdir-Mu. Ridha dengan ketentuan-Mu. Ridha dengan segala yang Engkau berikan dan Engkau ambil. Dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang Engkau ridhai. Di tempat yang tidak ada lagi kesedihan. Tidak ada lagi keluhan. Dan tidak ada lagi perpisahan. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."

Matahari telah naik sepenuhnya. Dan para salik pulang dengan hati yang—untuk pertama kalinya—merasa seperti rumah yang telah lama mereka cari.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan serial Tasawuf-20, Wejangan Sheikh Abdul Qodir Al Jaelani)

Pendidikan gratis, Wacana Indah di Atas Kertas

Di ujung gang itu. Sebuah sekolah berdiri dengan atap yang bocor. Sejak tahun pertama republik ini merdeka. Ia bernama negeri. Tetapi tak se...