Kamis, 11 Juni 2026

Istighfar Cara Arjuna : "Lembar Baru Di Ujung Senja"



Dulu, namanya adalah gosip di setiap warung kopi. Arjuna, mantan pengusaha sukses yang kini bangkrut dan terjerat utang. Ia dikenal sombong, pemarah, dan sering menyakiti hati orang dengan ucapannya yang pedas. Bisnisnya yang dulu jaya runtuh bukan hanya karena ekonomi, tapi karena ia telah kehilangan "restu" dari orang-orang di sekitarnya.

Puncak kesedihannya terjadi ketika istrinya pergi membawa anak semata wayangnya. Arjuna duduk sendirian di teras rumah kontrakan yang dindingnya mulai lembab. Langit senja berwarna jingga, tapi baginya hitam pekat. Air matanya jatuh. 

Ia menatap kedua telapak tangannya; tangan yang dulu gemar menepuk meja saat membentak karyawan, tangan yang enggan bersedekah. Di sudut hati yang paling dalam, ia tersadar: kehancurannya bukan karena orang lain, tapi karena dosa-dosanya sendiri.

Lalu, ia teringat pesan mendiang ibunya saat kecil: "Nak, kalau hatimu terasa sesak, ucapkanlah 'Astaghfirullah'. Istighfar itu membuka pintu langit."

Malam itu, dengan suara parau dan dada yang berguncang oleh isak tangis, Arjuna mulai beristighfar. Bukan sekadar lisan, tapi dari lubuk hatinya yang remuk. Satu kali, dua kali, hingga tak terhitung. Lidahnya basah mengakui kelemahannya di hadapan Allah.

Hari berganti pekan. Tetangga yang biasa mendengar umpatannya mulai heran. Arjuna yang dulu galak, kini menyapa lebih dulu. Ketika seorang anak kecil menjatuhkan jualannya, bukannya marah, Arjuna malah membantu memungutinya sambil tersenyum. "Astaghfirullah," ucapnya pelan. Bukan karena ada yang salah, tapi karena istighfar telah menjadi nafas barunya.

Perlahan, keajaiban datang. Seorang teman lama yang dulu pernah ia khianati tiba-tiba datang. Bukan untuk menuntut balas, tetapi menawarkan modal usaha kecil-kecilan. "Aku dengar kamu berubah, Arjuna. Aku percaya kedua kalinya," kata temannya.

Arjuna menangis. Ia tahu ini bukan hanya rezeki, tapi rahmat yang diturunkan dari langit karena istighfar. Seperti firman-Nya: "Mintalah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat kepadamu, dan membantumu dengan harta dan anak-anakmu."

Kini, setiap habis salat, Arjuna selalu menyisihkan waktunya untuk beristighfar. Ia mengajarkan hal yang sama kepada anaknya yang sudah kembali tinggal bersamanya. Bukan karena takut miskin, tapi karena ia paham: istighfar tidak hanya mengubah nasib, tetapi mengubah hati manusia menjadi lapang, lembut, dan kembali kepada fitrahnya.

Seringkali kita mencari solusi yang rumit untuk masalah hidup, padahal kuncinya sederhana: "Astaghfirullah." Sebuah pengakuan bahwa kita lemah, dan hanya kepada-Nya kita memohon ampun dan pertolongan.
(enough four:3.Istighfar)

Ganjar Kurnia: "MEMBAYANGKAN PAKAI ROMPI ORANYE"

(10 anggota dprd Muara Enim diborgol pakai rompi oranye)

Ada pakaian yang membuat orang tampak gagah. Jas lengkap, membuat kelihatan penting, batik membuat tampak berbudaya, toga membuat terlihat berilmu, seragam membuat terasa kompak, tapi ada satu pakaian yang begitu dipakai, semua lakon hidup mendadak menunduk, yaitu rompi oranye.

Rompi oranye bukan sekadar kain. Ia adalah semacam bendera moral. Tidak perlu bicara. Begitu seseorang keluar dari gedung pemeriksaan dengan rompi itu, seluruh tubuhnya menjadi pengumuman berjalan: “Saudara-saudara, inilah babak baru kehidupan saya.”

Anehnya, rompi itu tidak mahal. Tidak bermerek luar negeri. Bukan “haute couture” yang dijahit oleh desainer Paris. Namun efek psikologisnya mengalahkan jas Brioni, dasi Hermès, sepatu Italia, dan jam tangan yang harganya bisa membuat tukang cilok pingsan setelah beberapa kali istghfar. Rompi itu sederhana, tetapi auranya luar biasa. Ia bisa mengubah mantan orang kuat menjadi manusia biasa dalam hitungan detik.

Secara psikologis, barangkali yang paling berat bukan rompinya, melainkan perubahan mendadak dari “Yang Terhormat” menjadi “tersangka”. Kemarinnya masih disambut ajudan, pintu mobil dibukakan, kursi disiapkan. Hari berikutnya, kamera televisi menunggu seperti burung pemakan bangkai yang berdoa agar wajah yang disorot terlihat jelas. Kemarin-kemarinnya orang-orang berkata, “Siap, Pak!” Hari ini mereka berbisik, “Itu dia orangnya.”

Rompi oranye menjadi pengalaman eksistensial. Wajah menjadi milik publik, langkah menjadi milik berita, tunduk kepala menjadi bahan tafsir nasional. Kalau ia tersenyum, disebut tidak punya malu. Kalau menangis, disebut sandiwara. Kalau diam, disebut menyembunyikan sesuatu. Kalau bicara, banyak orang merasa panik.

Secara sosiologis, rompi oranye adalah ritual pembalikan status. 
Dalam masyarakat kita, status sering kali dibangun dengan simbol: mobil dinas, rumah besar, panggilan “Bapak”, kursi depan, karangan bunga, foto bersama pejabat, dan ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang yang sebenarnya tidak tahu tanggal lahirnya. Tetapi rompi oranye membalik semua simbol itu. Ia seperti terompet kecil dari dunia hukum: bahwa kekuasaan ternyata bisa masuk angin.

Hal menarik, masyarakat kita punya hubungan yang rumit dengan orang berompi oranye. Di satu sisi marah, di sisi lain penasaran. Di satu sisi mengutuk, di sisi lain menikmati dramanya. Kita seperti diajak menonton sinetron moral yang pemerannya dulu sering memberi ceramah tentang integritas. Ada rasa gereget, ada kepuasan kecil, ada sinisme, tetapi juga ada kelucuan yang sulit dijelaskan.

Di belakang satu rompi oranye, sering ada barisan panjang orang yang dulu tepuk tangan, minta proyek, minta rekomendasi, minta bantuan, minta jatah, lalu ketika kasus meledak, merka mendadak menjadi pesilat yang menggunakan jurus berkelit: “Saya sudah lama tidak dekat dengan beliau…...”

Keluarga adalah korban sunyi dari rompi oranye. Istri atau suami yang semula mendampingi dalam acara resmi, tiba-tiba harus terterpa badai berita. Anak-anak mendadak menjadi tatapan orang. Di sekolah, di kampus, di kantor, di lingkungan rumah, nama keluarga menjadi koper berat yang harus ditenteng ke mana-mana.

Betapa anehnya hidup. Yang menikmati uang mungkin satu lingkaran kecil, tetapi yang menanggung malu bisa satu keluarga besar, sampai- sampai sepupu saja yang tidak kecipratan pindah rumah dua kali. Anak yang semalam masih mengerjakan tugas matematika, pagi-pagi harus belajar ilmu sosial paling pahit: bahwa nama keluarga bisa jatuh lebih cepat daripada nilai ujian.

Bagi keluarga, rompi oranye bukan hanya tampak di televisi. Ia masuk ke ruang makan, duduk di kursi kosong, menempel di layar ponsel, bergetar di grup WhatsApp keluarga. Setiap notifikasi terasa seperti sirene. Setiap telepon dari nomor tak dikenal membuat dada berdebar. Tetangga yang biasanya ramah, tiba-tiba menjauh. Tukang sayur menaikkan suaranya. Satpam kompleks pura-pura tidak tahu menahu, padahal sudah nonton berita di Youtube beberapa kali.

Rompi oranye juga punya efek spiritual. Bukan karena warnanya mirip senja, tetapi karena ia memaksa manusia harus berhadapan dengan kefanaan reputasi. Rompi oranye bukan hanya pakaian tersangka. Ia adalah teks sosial yang dibaca oleh publik, keluarga, kawan, lawan, wartawan, pengacara, dan malaikat pencatat amal yang barangkali sejak awal sudah geleng-geleng kepala.

Memakai rompi oranye, seperti berdiri telanjang di tengah pasar, tetapi masih berusaha merapikan kerah. Maka sebelum rompi oranye itu dipakaikan oleh petugas, sebaiknya manusia mencoba memakainya dalam imajinasi. 

Berdirilah di depan cermin batin. Bayangkan kamera menyala. Bayangkan anak-anak dipermalukan. Bayangkan ibu dan bapak kita membaca berita. Bayangkan istri atau suami menahan tangis. Bayangkan teman-teman mendadak menjauh. Bayangkan dunia yang dulu memanggil “Bapak” dengan sopan, kini menyebut dengan teriak “Bangsat lu………”.


Profil Penulis:

Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA adalah akademisi dan budayawan asal Bandung. Mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015  ini lahir di Bandung, 3 Januari 1956. Beliau adalah guru besar Sosiologi Pertanian Unpad.
Riwayat Pendidikan: S1 di Unpad (1979), S2 dan S3 di Universitas Paris X Nanterre, Prancis (1983 & 1987). Beliau juga adalah Mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Paris (2004-2007). Saat di Prancis, aktif mempromosikan budaya Sunda, termasuk angklung. Peraih Penghargaan Knight of the Order of Academic Palms dari Prancis (2021) ini sempat meraih gelar Doktor Kehormatan dari UKM Malaysia (2013). Bidang Keahlian beliau fokus pada sosiologi pedesaan, pertanian, irigasi, dan kebudayaan Sunda.

Rabu, 10 Juni 2026

Bersyukur Cara Arman: "MELIHAT BERKAH DALAM SETIAP KETERBATASAN"


Di sebuah desa kecil di kaki Gunung Bromo, hiduplah seorang pemuda bernama Arman. Hidupnya jauh dari kata mewah. Ayahnya hanya seorang petani kentang, ibunya menjual gorengan di pasar. Arman sendiri bersepeda 10 kilometer setiap hari untuk bersekolah, melewati tanjakan terjal dan tikungan berbatu.

Suatu sore, saat ban sepedanya bocor di tengah jalan, Arman duduk di pinggir jurang dengan letih. "Tidak adil," gumamnya. "Teman-temanku naik motor, pakai seragam baru, punya ponsel canggih. Aku bahkan tidak punya uang untuk tambal ban."

Dari kejauhan, ia melihat seorang kakek tua berjalan tertatih, menyeret kakinya yang lumpuh sambil memanggul dua ember air kosong. Kakek itu tersenyum saat melihat Arman. "Nak, pinjam pompa sepedamu? Kakiku sudah tak mampu lagi," candanya meski tahu Arman tak punya pompa.

Arman tersenyum getir. "Maaf, Kek. Sepeda saya juga bocor."
Kakek itu duduk di sampingnya. "Dulu waktu muda, aku juga sering jalan kaki ke sekolah. 15 kilometer, pulang pergi. Sepatu dari ban bekas. Tapi aku bersyukur."
"Bersyukur, Kek? Hidup susah begini?"

Kakek itu menyentuh tanah di bawah mereka. "Setidaknya kau masih punya dua kaki untuk mengayuh sepeda. Masih punya sekolah untuk dituju. Masih punya ibu yang menunggumu pulang." Ia menunjukkan kakinya yang lumpuh. "Aku kehilangan ini saat perang, saat umurmu. Tapi setiap pagi aku masih bersyukur bisa melihat matahari terbit."

Arman terdiam. Sepanjang ini ia hanya fokus pada apa yang tidak dimilikinya. Ia lupa bersyukur untuk dua kaki yang sehat, sebuah sepeda yang masih bisa dikayuh, dan ibu yang menjual gorengan demi uang sekolahnya.

Dengan sisa tenaga, ia mendorong sepeda bocornya pulang. Keringat bercucuran, langkahnya berat, tapi hatinya anehnya terasa ringan.

Ia tiba di rumah saat ibu sedang melipat dagangan yang tidak laku. "Bu, hari ini aku bisa bantu jualan besok?" tanyanya. Ibu menatap heran, lalu tersenyum.

Kisah Arman mengajarkan bahwa rasa syukur tidak muncul karena apa yang kita miliki, tapi karena kita memilih untuk melihat berkah dalam setiap keterbatasan.

Kebahagiaan sejati bukan saat semua keinginan terpenuhi, melainkan saat kita mampu berterima kasih atas apa yang hari ini kita rasakan—dengan lapang dada dan hati yang melihat sisi terang dalam setiap keadaan.

Syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup, bahkan menjadi berlimpah makna.
(enough four: 2.Syukur)

Selasa, 09 Juni 2026

Sabar Cara Karta: "BUKANLAH KELEMAHAN YANG PASRAH"



Di suatu senja yang merah menitikkan embun di ujung daun talok, hiduplah seorang tua bernama Karta. Tubuhnya ringkih bagai bilah bambu termakan usia. Namun matanya jernih bagai telaga di kaki gunung yang tak pernah keruh diterpa lumpur. Ia tinggal sebatang kara di gubuk reyot tepian sungai.  Setelah anak dan istrinya pergi meninggalkan luka yang tak pernah sembuh.

Setiap pagi, Karta duduk di atas batu besar menatap aliran sungai yang berliku. Tetangga sering berkata, "Mengapa kau tak meratapi nasib, Karta? Hidupmu penuh duri, tak berbuah manis."Namun Karta hanya tersenyum, bibirnya yang kering mengulum sabar sebagaimana kerbau mengunyah rumput pahit dan mengubahnya menjadi susu.

Pada suatu hari, seorang saudagar kaya lewat di hadapannya. Saudagar itu terheran melihat Karta yang tetap tersenyum meskipun perutnya keroncongan menahan lapar. "Wahai Karta, bukankah sabar itu batasnya ada? Mengapa kau diam saja dihinakan zaman?"

Maka Karta pun berkata dengan suara lirih bagai bisik angin di sela ilalang, "Tuan, lihatlah sungai ini. Ia sabar mengalir, tak pernah memaksa airnya berbalik ke hulu. Namun lihatlah, pada akhirnya ia sampai ke muara dan bertemu samudra yang luas."

Demikian pula sabar, lanjut Karta, ia bukanlah kelemahan yang pasrah, melainkan kekuatan yang tahu kapan harus diam dan kapan harus bergerak. Sabar adalah menanam benih di tengah kemarau, percaya bahwa hujan akan tiba meskipun langit terlihat tebal mendung hitam.

Saudagar itu terdiam. Ia mengambil sebuah kantung berisi emas dan meletakkannya di pangkuan Karta. Namun Karta menolak dengan halus. "Harta akan habis, tuan. Yang saya perlukan hanya ketenangan seperti air sungai ini, yang sabar mengikis batu karang setahun demi setahun hingga suatu hari batu itu akan menjadi pasir."

Maka saudagar itu mengangguk, mendapat pelajaran lebih berharga daripada seribu keping emas. Dan Karta tetap duduk di atas batu, tersenyum, karena ia tahu sabar bukanlah menunggu tanpa tujuan. Sabar adalah keyakinan yang dirawat setiap hari, laksana mutiara yang terbentuk dari butiran pasir yang sabar ditahan dalam kulit kerang, hingga pada waktunya ia memancarkan cahaya yang tak pernah padam..
(enough four:1. Sabar)



Istighfar Cara Arjuna : "Lembar Baru Di Ujung Senja"

Dulu, namanya adalah gosip di setiap warung kopi. Arjuna, mantan pengusaha sukses yang kini bangkrut dan terjerat utang. Ia dikenal sombong,...