Senin, 05 Oktober 2026

Wawancara Imajiner dengan "Sang Penjemput"


Latar: Sebuah kamar rumah sakit di lantai tujuh, pukul 03.17 dini hari. Lampu neon berkedip pelan. Mesin pemantau detak jantung berbunyi ritmis—bip… bip… bip...Seperti tetesan air di gua sunyi. Di ranjang terbaring Haji Fulan (79 tahun). Seorang mantan Anggota DPR. Dikenal sangat alim, bersahaja dan sangat jujur. Tubuhnya kurus oleh usia dan penyakit. Tetapi wajahnya bercahaya aneh. Seperti bulan yang akan purnama. Di kursi samping ranjang, duduk Malaikat Izrail. Dalam wujud yang tak bisa dijelaskan. Kadang seperti cahaya keemasan. Kadang seperti lelaki tua berjubah putih. Kadang seperti beraroma tanah basah setelah hujan. Ia datang bukan untuk mengambil. Ia datang untuk menjemput dengan penuh adab.

Izrail: (suaranya seperti bisikan angin di dedaunan, lembut namun menggetarkan tulang) Assalamu'alaikum, wahai hamba yang alim dan jujur.

Haji Fulan: (membuka mata perlahan, senyum tipis) Waalaikumussalam…Aku sudah menunggu. Sejak tadi malam, aku dengar langkahmu di koridor. Kau yang aku lihat dalam mimpi. Yang berdiri di ujung lorong bercahaya itu.

Izrail: Kau mengenalku?

Haji Fulan: Aku tidak mengenal wajahmu. Tapi aku mengenal kedatanganmu. Seperti mengenal musim kemarau dari bau tanah kering. Tubuhku sudah bilang. Ini waktunya pulang.

Izrail: (duduk di kursi, jubahnya tidak menyentuh lantai) Banyak yang menangis saat aku datang. Meronta. Minta ditunda. Menawar dengan amal. Tapi kau…Kau malah senang dan tersenyum.

Haji Fulan: Aku sudah 79 tahun menunggu tamu ini. Dulu aku takut. Sekarang… Aku hanya ingin bertemu dengan Yang Mengutusmu.

(Mesin jantung berbunyi lebih pelan. Perawat jaga di luar tidak mendengar apa-apa. Baginya, Haji Fulan sedang tidur nyenyak.)

Izrail: Ceritakan padaku. Apa yang kau bawa hari ini? Bekal apa yang kau siapkan untuk perjalanan ini?

Haji Fulan: (tertawa kecil, napasnya berat) Bekalku…tidak banyak. Tidak ada emas batangan. Tidak ada tanah. Hanya selembar sajadah usang yang aku pakai sejak berdinas dulu. Anakku membelikannya di pasar Tanah Abang. Ada lubang di ujungnya. Tempat aku menekan dahi terlalu lama.

Izrail: Itu bekal yang aneh. Manusia biasanya menyebut harta, jabatan, keturunan.

Haji Fulan: Harta? Aku pernah punya sawah dua hektar dan beberapa petak tanah. Aku jual semuanya untuk membangun masjid di kampung. Anakku bersedih. Aku bilang, "Nak, sawah dan tanah bisa dicari. Tapi amal yang mengalir, itu yang menuntunmu pulang." Jabatan? Aku hanya mantan anggota DPR. Tidak ada yang istimewa apalagi menulis namaku di koran. Keturunan? Aku punya tujuh anak dan dua belas cucu. Tiga sudah mendahuluiku. Empat masih hidup. Mereka semua aktif di DKM dan terkadang mengisi kajian di masjid setempat. Bagiku itu sudah cukup.

Izrail: (mengangguk, matanya menyala seperti kunang-kunang) Aku melihatnya. Di ruang tamu rumahmu, ada Al-Qur'an yang kau baca setiap subuh. Ada karpet yang kau duduki untuk mengajar mengaji cucumu dan anak-anak tetangga. Ada bekas air mata yang kau tumpahkan saat kau tahu kau tak bisa lagi bangun untuk shalat malam.

Haji Fulan: (matanya berkaca) Kau tahu itu? Aku pikir tidak ada yang melihat.

Izrail: Kami mencatat semuanya. Bukan hanya amal besar. Justru air mata penyesalan. Itulah yang paling berat di timbangan. Kau pernah menangis karena tidak bisa lagi membaca Al-Qur'an dengan lancar? Itu lebih berharga dari seribu khatam bagi orang yang hatinya kosong.

Haji Fulan: Aku takut, Izrail. Bukan takut mati. Tapi takut dosa-dosaku. Dulu aku pernah marah pada stafku. Aku pecat dia dan aku usir dari ruang kerjaku. Dia menangis. Aku sangat menyesal dengan tindakanku. Sampai sekarang aku tidak tahu apakah dia memaafkanku.

Izrail: (mengambil tangan Haji Fulan, dingin namun menenangkan) Hamba itu, sudah wafat empat tahun lalu. Dan sebelum wafat, ia berdoa: "Ya Allah, ampunilah atasanku dulu yang pernah memecat dan mengusirku. Ia melakukannya karena kesalahanku."

Haji Fulan: (mengeluarkan napas panjang, seperti beban gunung terangkat) Alhamdulillah… Alhamdulillah…

(Detak jantung melemah. 40 denyut per menit. 30. 20.)

Izrail: Waktu kita hampir habis. Ada yang ingin kau sampaikan? Pesan? Permintaan?

Haji Fulan: (berbisik) Tolong… sampaikan pada anak-anakku. Jangan mereka menjual rumah ini untuk biaya pemakaman. Kuburkan aku di pemakaman di desa saja. Di bawah pohon sukun. Aku ingin dekat dengan tempat aku dulu pernah mengajar mengaji. Dan…tolong sampaikan pada murid-muridku, teruskan mengaji. Jangan putus. Karena aku akan menunggu mereka di sana.

Izrail: (berdiri, cahaya di sekitarnya semakin terang) Aku akan sampaikan. Tapi sebelum aku membawamu, ada satu hal lagi.

Haji Fulan: Apa?

Izrail: Kau tahu siapa yang mengutusku?

Haji Fulan: (tersenyum, air mata jatuh ke bantal) Allah… Rabbul 'Alamin.

Izrail: Dan kau tahu apa yang Dia firmankan tentang hamba-Nya yang sabar?

Haji Fulan: "Innallaha ma'ash shabirin…" Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Izrail: Bukan itu. Yang lain.

Haji Fulan: (matanya tiba-tiba terbuka lebar, seperti melihat sesuatu di balik langit-langit kamar) … "Yaa ayyuhan nafsul muthmainnah. Irji'ii ilaa rabbiki raadiyatan mardhiyyah. Fadkhulii fii 'ibaadii. Wadkhulii jannatii."

("Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.")

Izrail: (mengulurkan tangan, cahaya dari telapak tangannya menerangi seluruh ruangan) Itulah yang Dia ucapkan untukmu. Bukan sebagai ancaman. Tapi sebagai undangan.

Haji Fulan: (menutup mata, senyum terakhirnya seperti fajar pertama) Aku… siap.

(Mesin jantung berbunyi panjang—biiiiiiip. Pukul 03.33.)

(Perawat Nur masuk kamar. Ia memeriksa denyut nadi, lalu menatap wajah Haji Fulan. Ia heran. Wajah itu tidak seperti orang yang baru saja meninggal. Ada cahaya. Atau mungkin pantulan lampu? Ada ketenangan. Atau mungkin kebiasaan? Ia mencatat: "Pasien Haji Fulan bin Abdullah. Wafat pukul 03.33. Ekspresi: tersenyum.")

(Di luar jendela, adzan subuh belum berkumandang. Tapi di kamar itu, seakan-akan seluruh alam ikut mengucapkan: "Selamat pulang, hamba yang tenang.")

(Izrail telah pergi. Tapi ia meninggalkan satu bisikan yang hanya didengar oleh jiwa yang berangkat: "Kau bukan mati. Kau sedang dijemput. Dan penjemputan ini, adalah hadiah.")

(Di kejauhan, di rumah salah satu anaknya, seorang cucunya terbangun dari tidur. Ia menangis tanpa tahu kenapa. Ibunya bertanya, "Ada apa, Nak?")

(Cucu itu menjawab, "Aku mimpi… Kakek terbang. Tapi bukan pakai sayap. Pakai cahaya. Dan Kakek bilang: 'Jangan lupa mengaji, ya.'")

(Ibunya terdiam. Telepon berdering. Kabar itu datang dari rumah sakit.)

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

(Husnul khotimah. Akhir yang indah. Bukan karena tidak ada dosa. Tapi karena dosa-dosa itu telah tenggelam dalam lautan ampunan. Dan jiwa itu pergi dengan senyum. Sebagaimana ia dahulu menyambut tamu. Dengan salam. Dengan sabar. Dengan cinta.)


(TAMAT)

Serial Tasawuf -12: "Tawakal, Menyerahkan Tali pada Dzat yang Tak Pernah Tidur"


Pengantar: Musim kemarau telah berlangsung lama. Sumur di belakang zawiyah yang biasanya menjadi tempat para salik berwudhu kini benar-benar kering. Debu menumpuk di dasar sumur. Dan tanah di sekitarnya mulai retak-retak seperti kulit yang menua. Setiap pagi, para salik harus berjalan jauh ke sungai di kaki bukit untuk mengambil air. Sebuah perjalanan yang melelahkan. Terutama bagi Mursyid yang usianya telah senja.

Aku Sedang Menunggu

Suatu malam, ketika para salik berkumpul. Mereka mendapati Mursyid tidak berada di tempat biasanya. Mereka mencarinya. Dan menemukannya duduk di tepi sumur yang kering. Wajahnya tenang. Tetapi matanya memandang jauh ke langit. Seolah sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat.

Zaid mendekat dengan hati yang cemas. "Wahai Mursyid, mengapa engkau duduk di sini? Sumur ini telah kering. Tidak ada air yang bisa kami ambil."

Mursyid tersenyum, tetapi tidak menoleh. "Aku tahu, anakku. Aku sedang menunggu."

"Menunggu apa, Wahai Mursyid?"

"Menunggu hujan turun," jawab Mursyid dengan suara yang tenang. Seperti orang yang telah melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Zaid terdiam. Ia ingin bertanya. Tetapi mulutnya terasa kelu. Mursyid lalu bangkit. Membetulkan sarungnya. Dan berjalan menuju serambi tempat para salik berkumpul. Malam itu, ia membuka majelis dengan pertanyaan yang membuat semua salik terdiam.

"Anak-anakku, apa yang engkau lakukan ketika semua usahamu gagal? Apa yang engkau lakukan ketika pintu-pintu tertutup. Ketika jalan-jalan buntu. Ketika doa-doamu seolah tidak dijawab?"

Kisah Seorang Nelayan dan Badai

Mursyid memulai kisahnya dengan suara yang pelan. Tetapi setiap katanya menghunjam ke dalam hati.

"Ada seorang nelayan tua yang hidup di tepi laut. Ia telah melaut sejak usia muda. Ia mengenal laut seperti ia mengenal telapak tangannya sendiri. Suatu hari, ia dan anaknya pergi melaut untuk mencari ikan. Langit cerah, angin bertiup lembut. Ombak tenang. Mereka menebar jala dan menunggu."

"Tetapi tiba-tiba, langit berubah gelap. Awan hitam menutupi matahari. Angin bertiup kencang. Badai datang tanpa peringatan. Ombak setinggi rumah menghantam perahu mereka. Jala mereka hilang. Dayung mereka patah. Dan perahu mereka mulai terisi air."

"Anak nelayan itu menangis ketakutan. 'Ayah, apa yang harus kita lakukan? Kita akan mati!'"

"Nelayan tua itu tidak panik. Ia memegang kemudi dengan tangan yang kuat. Ia berkata: 'Anakku, aku telah melaut selama empat puluh tahun. Aku telah menghadapi badai yang lebih besar dari ini. Aku tidak bisa mengendalikan angin, aku tidak bisa menghentikan ombak. Tetapi aku bisa mengendalikan perahuku. Dan aku tahu. Seperti aku tahu bahwa matahari akan terbit. Bahwa badai ini akan berlalu. Kita hanya perlu bertahan.'"

"Nelayan itu berjuang dengan sekuat tenaga. Ia menimba air. Memperbaiki kemudi. Dan mengarahkan perahu ke arah yang ia yakini benar. Dan benar saja. Setelah berjam-jam. Badai itu berlalu. Langit kembali cerah. Mereka pu sampai di pantai dengan selamat."

Mursyid memandang para salik. "Nelayan tua itu telah bertawakal. Ia tidak duduk diam menunggu badai berlalu. Ia berusaha semaksimal mungkin. Tetapi hatinya tidak goyah. Karena ia yakin bahwa Allah tidak akan membiarkannya tenggelam."

Hakikat Tawakal yang Sesungguhnya

Seorang salik bernama Ibrahim mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah tawakal berarti kami harus menyerahkan segala sesuatu kepada Allah tanpa berusaha? Apakah kami harus duduk di masjid dan menunggu rezeki turun dari langit?"

Mursyid tersenyum. Tetapi senyumnya mengandung teguran yang halus. "Ibrahim, engkau telah mendengar kisah nelayan tadi. Apakah ia duduk diam menunggu badai berlalu? Tidak. Ia berjuang. Ia menimba air. Ia memperbaiki kemudi. Tetapi hatinya tidak goyah. Karena ia yakin bahwa Allah bersamanya."

"Imam al-Ghazali, semoga Allah merahmatinya, mengajarkan bahwa tawakal bukanlah meninggalkan usaha. Tetapi menggantungkan hati kepada Allah setelah melakukan usaha semaksimal mungkin. Tawakal adalah buah dari tauhid. Pengakuan bahwa tidak ada yang berkuasa selain Allah."

"Ada tiga unsur dalam tawakal. Pertama, ilmu. Yaitu keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan Maha Pengasih kepada hamba-Nya. 

Kedua, hal. Yaitu keadaan hati yang tenang, yang tidak gelisah ketika menghadapi kesulitan, karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya. 

Ketiga, amal. Yaitu usaha yang dilakukan dengan sekuat tenaga. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Karena Allah memerintahkan kita untuk berusaha."

Mursyid menatap Ibrahim. "Tawakal bukanlah fatalisme. Tawakal bukanlah pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah usaha yang disertai dengan penyerahan hati. Engkau berusaha seolah-olah engkau yang menentukan hasilnya. Tetapi engkau menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena engkau tahu bahwa engkaulah yang tidak menentukan apa-apa."

Tiga Tingkatan Tawakal

Mursyid menuangkan air dari kendi ke cangkir-cangkir kecil. Air itu adalah air yang ia ambil dari sungai pagi tadi. Air yang menjadi bukti bahwa usaha tidak pernah sia-sia.

"Para ulama membagi tawakal menjadi tiga tingkatan."

"Tingkatan pertama adalah tawakalnya orang awam. Yaitu tawakal yang masih disertai dengan kecemasan. Orang pada tingkatan ini berusaha. Tetapi hatinya masih gelisah. Ia masih bertanya-tanya: 'Apakah usahaku akan berhasil? Apakah Allah akan menolongku?' Ia seperti orang yang berjalan di atas jembatan sambil terus melihat ke bawah. Takut jembatan itu akan runtuh."

"Tingkatan kedua adalah tawakalnya orang pilihan. Yaitu tawakal yang disertai dengan ketenangan. Orang pada tingkatan ini berusaha. Dan hatinya tenang. Karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya. Ia seperti orang yang berjalan di atas jembatan yang kokoh. Ia tahu bahwa jembatan itu tidak akan runtuh. Meskipun ia belum melihat ujungnya."

"Tingkatan ketiga adalah tawakalnya para kekasih Allah. Yaitu tawakal yang disertai dengan kepasrahan total. Orang pada tingkatan ini tidak lagi memikirkan hasil. Karena ia telah menyerahkan segalanya kepada Allah. Ia seperti orang yang telah menyerahkan dirinya kepada seorang dokter yang ia percayai sepenuhnya. Ia tidak bertanya: 'Apakah operasi ini akan berhasil?' Ia hanya berkata: 'Aku pasrah kepada dokter ini. Karena aku tahu ia lebih tahu daripada aku.'"

Mursyid tersenyum. "Engkau boleh memilih tingkatan mana yang engkau kejar. Tetapi ketahuilah, tingkatan tertinggi hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya."

Dalil-Dalil dari Al-Qur'an

Mursyid membuka mushafnya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang tawakal."

"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (
At-Talaq: 3)

"Perhatikanlah," ujar Mursyid, "Allah tidak berkata 'barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia inginkan.' Ia berkata 'Allah akan mencukupkan kebutuhannya.' Ada perbedaan besar antara keinginan dan kebutuhan. Allah tidak selalu memberikan apa yang engkau inginkan. Tetapi Ia selalu memberikan apa yang engkau butuhkan."

"Dan berserahlah kamu kepada Allah Yang Hidup. Yang tidak mati. Dan bertasbihlah dengan memuji-Nya." (Al-Furqan: 58)

"Katakanlah: 'Allah cukup bagiku; kepada-Nya bertawakal orang-orang yang bertawakal.'" (Az-Zumar: 38)

"Dan mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah. Padahal Dia telah menunjukkan kepada kami jalan-jalan kami? Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah orang-orang yang bertawakal berserah diri." (Ibrahim: 12)

Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah ayat ini. Ibrahim AS berkata: 'Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah. Padahal Dia telah menunjukkan kepada kami jalan-jalan kami?' Artinya, tawakal bukanlah sesuatu yang berat. Karena Allah telah menunjukkan jalan-Nya kepada kita. Kita hanya perlu berjalan di jalan itu. Dan menyerahkan sisanya kepada-Nya."

"Dan bertawakallah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai pemelihara." (Al-Ahzab: 3)

Dalil-Dalil dari Hadits

Mursyid melanjutkan dengan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.

"Rasulullah SAW bersabda:

'Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti Dia memberikan rezeki kepada burung-burung. Mereka keluar pagi dalam keadaan lapar. Dan kembali sore dalam keadaan kenyang.' (HR. Tirmidzi)

"Perhatikanlah," kata Mursyid, "burung-burung itu tidak duduk di sarangnya menunggu makanan datang. Mereka keluar pagi. Terbang mencari makan. Mereka berusaha. Tetapi mereka tidak menyimpan makanan untuk besok. Karena mereka tahu bahwa Allah akan memberikan rezeki esok hari. Inilah tawakal. Usaha yang disertai dengan keyakinan bahwa Allah akan mencukupi."

'Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.' (HR. Tirmidzi)

Mursyid juga mengisahkan sabda Nabi:

'Aku heran kepada orang yang berputus asa. Padahal ia bisa berdoa. Aku heran kepada orang yang gelisah. Padahal ia bisa bertawakal. Aku heran kepada orang yang sedih. Padahal ia bisa beristighfar.'

"Engkau tidak perlu gelisah, anakku," ujar Mursyid. "Engkau hanya perlu bertawakal. Engkau tidak perlu sedih. Engkau hanya perlu beristighfar. Engkau tidak perlu berputus asa. Engkau hanya perlu berdoa."

Kisah Nabi Muhammad dan Gua Tsur

Mursyid kemudian bercerita tentang Nabi Muhammad SAW. Kisah yang selalu membuat para salik bergetar.

"Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Beliau bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Kaum Quraisy mengejar mereka. Dan mereka sampai di mulut gua. Abu Bakar sangat cemas. Ia berkata: 'Wahai Rasulullah. Jika salah satu dari mereka melihat ke bawah. Mereka akan melihat kita.'"

"Tetapi Nabi SAW dengan tenang berkata: 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' (At-Taubah: 40)"

Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah, Nabi SAW tidak berkata 'kita akan selamat karena kita bersembunyi di gua.' Beliau tidak berkata 'kita akan selamat karena kita berlari cepat.' Beliau berkata 'Allah bersama kita.' Inilah tawakal. Keyakinan bahwa Allah bersama kita. Apa pun yang terjadi."

"Abu Bakar melihat dengan mata kepalanya bahwa mereka dalam bahaya. Tetapi Nabi SAW melihat dengan mata hatinya bahwa Allah bersama mereka. Itulah perbedaan antara orang yang bertawakal dan orang yang tidak."

Kisah Nabi Ibrahim dan Api

Mursyid juga mengisahkan tentang Nabi Ibrahim AS.

"Ketika Nabi Ibrahim AS dilemparkan ke dalam api oleh Raja Namrud, beliau tidak berteriak. Tidak menangis. Tidak memohon pertolongan kepada manusia. Beliau hanya berkata: 'Hasbunallah wa ni'mal wakil'. Cukuplah Allah bagi kami. Dan Dia adalah sebaik-baik pelindung."

"Api itu membakar. Tetapi tidak menyentuh Ibrahim. Mengapa? Karena Allah memerintahkan api itu untuk menjadi dingin: 'Hai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.' (Al-Anbiya: 69)"

Mursyid tersenyum. "Ibrahim tidak memadamkan api itu dengan tangannya. Ia tidak melarikan diri. Ia bertawakal. Dan Allah. Dzat yang menciptakan api. Memerintahkan api itu untuk tidak membakarnya. Jika Allah berkehendak. Tidak ada yang bisa melukaimu. Jika Allah tidak berkehendak. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu."

Tawakal di Zaman Kita

Seorang salik bernama Maryam bertanya, "Wahai Mursyid, bagaimana kami bisa bertawakal di zaman ini? Zaman ketika semua orang cemas tentang masa depan. Ketika pekerjaan tidak pasti. Ketika harga-harga naik. Dan ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok?"

Mursyid menghela napas. "Pertanyaan yang sangat baik, Maryam. Tawakal di zaman ini memang lebih sulit. Tetapi juga lebih mulia."

"Pertama, sadarilah bahwa engkau tidak bisa mengendalikan segalanya. Engkau bisa bekerja. Engkau bisa menabung. Engkau bisa merencanakan. Tetapi engkau tidak bisa mengendalikan apakah pekerjaanmu akan bertahan. Apakah tabunganmu akan cukup. Apakah rencanamu akan berhasil. Setelah engkau berusaha. Serahkanlah hasilnya kepada Allah."

"Kedua, ingatlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Jika engkau merasa sendirian. Ingatlah bahwa Allah bersamamu. Jika engkau merasa tidak ada yang menolongmu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong. Jika engkau merasa tidak ada yang mencukupimu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki."

"Ketiga, perbanyaklah dzikir dan doa. Dzikir mengingatkanmu bahwa Allah selalu bersamamu. Doa mengingatkanmu bahwa engkau bergantung kepada-Nya. Ketika engkau merasa cemas, berdzikirlah. Ketika engkau merasa takut, berdoalah. Ketika engkau merasa lemah, berserahlah."

"Keempat, jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Setiap orang memiliki ujiannya sendiri. Engkau tidak tahu apa yang sedang Allah persiapkan untukmu. Mungkin apa yang engkau anggap sebagai kegagalan adalah awal dari keberhasilan yang lebih besar. Mungkin apa yang engkau anggap sebagai kehilangan adalah awal dari pemberian yang lebih berharga."

Tawakal adalah Ketenangan

Malam semakin larut. Langit di atas zawiyah mulai cerah. Dan bintang-bintang muncul satu per satu. Mursyid bangkit dari duduknya. Membetulkan selimutnya. Dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya, "tawakal bukanlah kepasrahan yang pasif. Tawakal adalah ketenangan yang aktif. Orang yang bertawakal adalah orang yang berusaha dengan sekuat tenaga. Tetapi hatinya tenang. Karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya."

"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa mengendalikan angin. Tetapi engkau bisa mengatur layar. Engkau tidak bisa menghentikan ombak. Tetapi engkau bisa belajar berenang. Engkau tidak bisa menghindari badai. Tetapi engkau bisa bertawakal kepada Dzat yang menciptakan badai. "

"Dan ketahuilah, orang yang bertawakal tidak pernah kecewa. Jika ia berhasil, ia bersyukur. Jika ia gagal, ia bersabar. Jika ia diberi, ia berbagi. Jika ia diambil, ia ridha. Ia tidak pernah kehilangan, karena ia tidak pernah memiliki. Segala sesuatu adalah milik Allah, dan ia hanya menitipkannya."

Mursyid menutup majelis dengan doa:

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang bertawakal kepada-Mu dengan sebenar-benarnya. Karuniakanlah kepada kami ketenangan hati yang tidak tergoyahkan oleh badai kehidupan. Dan jadikanlah kami orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi menyerahkan hasilnya kepada-Mu. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."

Para salik mengaminkan dengan hati yang lebih tenang. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Kecemasan yang ia rasakan bukanlah karena ia tidak berusaha. Melainkan karena ia belum menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ia bukan tidak mampu. Ia hanya belum bertawakal.

Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman tentang tawakal. Tetapi dengan ketenangan baru di hati. Ketenangan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur. Dan Dia selalu bersama mereka.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan Serial Tasawuf-13, tentang Mahabbah)

Minggu, 04 Oktober 2026

Menakar Idealisme Rocky Gerung Masuk Istana: "Ketika Akal Sehat Berpindah Pagar"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-56)

Narasi Pemicu: Pada 2 Oktober 2026. Sejarah mencatat sebuah paradoks. Rocky Gerung. Pria yang tujuh tahun sebelumnya berjanji. Akan mengkritik Prabowo “12 menit setelah dilantik”. Justru kini berdiri di Istana Negara. Untuk menandatangani berita acara pelantikan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Ia tidak sendirian. Bersama 25 tokoh lain. Ia masuk ke dalam lingkaran. Yang selama bertahun-tahun ia gugat dari luar pagar. Ketika ditanya. Ia menjawab dengan tenang: “Saya cuma pindah dari luar ke dalam. Sikap dan pandangan saya tetap radical break”. Percayakah anda? Yuk, kita kupas..!

Merusak Iman Politik

Tapi filsafat kekuasaan tidak pernah menerima jawaban sesederhana itu. Kekuasaan. Sebagaimana dikatakan Adi Prayitno. Tak pernah bercerita. Tak perlu dimusuhi. Ia datang begitu saja. Tapi bisa ‘merusak iman politik’ semua orang.

Pertanyaannya bukan apakah Rocky masih bisa berkata kritis. Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi pada akal sehat ketika ia berpindah pagar? Apakah kritik tetap kritik? Ketika ia disampaikan dari dalam kursi yang empuk?

Sejarah pemikiran politik mengajarkan satu hukum besi. Jarak terhadap kekuasaan adalah sumber kebebasan. Tetapi kedekatan dengan kekuasaan adalah ujian terhadap kebebasan itu sendiri. 

Di ruang diskusi. Di kampus. Di warung kopi. Seseorang bisa berbicara tentang keadilan. Secara utuh dan tanpa ampun. Ia bisa mengatakan bahwa rakyat harus menjadi pusat kebijakan. Bahwa kekuasaan harus dikontrol. 

Tapi pemerintahan tidak bekerja dengan gagasan semata. Ia bekerja dengan regulasi. Anggaran. Kompromi. Dan kepentingan yang saling bertabrakan. Idealisme yang steril dari kepentingan akan berhadapan dengan medan yang jauh lebih rumit. Ketika ia masuk ke dalam ruang pengambilan keputusan.

Rocky membela diri dengan argumen yang secara filosofis menarik. Ia membedakan antara mengkritik dan bersikap kritis. Menurutnya, Wantimpres justru harus bersikap kritis terhadap kebijakan. Bukan sekadar mengkritik. 

Ia mengibaratkan dewan ini seperti oversight committee. Yang mengawasi arah kebijakan. Agar sesuai janji kampanye Presiden. Secara etis, argumen ini masuk akal. Tapi ada jurang antara argumen etis dan realitas politik.

Gigin Praginanto menyebut idealisme Rocky sebagai komoditas yang diperjualbelikan untuk masuk ke lingkaran istana. Tudingan ini mungkin terlalu keras. Tapi ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam. 

Dalam politik. Niat tidak pernah menjadi bukti. Yang menjadi bukti adalah tindakan. Dan tindakan pertama Rocky adalah menerima jabatan dari orang yang pernah ia janjikan. Akan ia kritik dalam hitungan menit. 

Jejak digital itu, kata Kompas, kini benar-benar dicatat publik. Bukan untuk menagih janji. Melainkan untuk bertanya. Kemana kritik itu pergi?”.

Pertanyaan itu filosofis sekaligus politis. Dalam tradisi filsafat politik. Ada perbedaan mendasar antara intelektual organik. Dan intelektual istana. Intelektual organik berbicara dari luar. Dari ruang yang memungkinkan ia mengambil jarak.

Intelektual istana berbicara dari dalam. Dari ruang yang menuntut loyalitas. Rocky mungkin percaya bahwa ia bisa menjadi yang pertama tanpa menjadi yang kedua. Tapi kekuasaan tidak bekerja dengan cara itu. Kekuasaan selalu menuntut harga. Dan harga pertama adalah bahasa.

Kini Menjadi Pembela

Bahasa Rocky telah berubah. Dulu ia menyebut pembuat hoaks terbaik adalah penguasa. Dulu ia menyerukan radical break terhadap struktur kabinet. 

Kini ia membela program Makan Bergizi Gratis. Dan menyebut persetujuannya terhadap kebijakan pemerintah. Sebagai bagian dari menjaga kewarasan berpikir.

Warganet yang dulu mengidolakannya. Kini menuduhnya menggadaikan idealisme. Salah satu komentar sinis berbunyi. Sangat disayangkan. Ujung-ujungnya jabatan yang bicara.

Apakah ini pengkhianatan? Ataukah ini kedewasaan? Jawabannya tergantung pada siapa yang menilai. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibantah. Akal sehat yang dulu berada di luar pagar kini berada di dalam ruang yang ia kritik. 

Dan ruang itu memiliki aturannya sendiri. Seperti kata Adi Prayitno. Tak perlu mengutip istilah-istilah filosofis. Jika hanya sekedar ingin ikut nikmati kekuasaan.

Bahayanya Perubahan Tak Sadar

Filsafat mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang bisa berubah. Tapi filsafat juga mengajarkan. Bahwa perubahan yang paling berbahaya adalah perubahan yang tidak disadari. 

Rocky mungkin masih merasa sama. Tapi kekuasaan memiliki cara halus untuk mengubah manusia tanpa mereka sadari. Ia mengubah lawan bicara. Mengubah audiens. Mengubah apa yang dianggap layak untuk diperjuangkan.

Maka pertanyaan yang tersisa. Bukanlah apakah Rocky masih kritis. Melainkan, kritik untuk siapa? 

Jika kritik itu hanya sampai ke telinga Presiden. Ia adalah pertimbangan. Jika kritik itu sampai ke telinga publik dan mengubah kebijakan. Ia adalah idealisme. 

Tapi jika kritik itu berhenti di ruang tertutup. Dan tidak pernah terlihat oleh rakyat. Maka ia telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang mungkin tidak lagi layak disebut akal sehat.

Kita menunggu. Bukan dengan sinisme. Tetapi dengan kewaspadaan. Sebab idealisme tidak diuji oleh kata-kata. Melainkan oleh apa yang berani ia korbankan. Ketika kursi sudah diduduki.

Kursi memang bisa merubah akal sehat. Menjadi akal yang diragukan kesehatannya. Maaf...!!

Wantimpres: "Nasihat Mahal untuk Presiden, Harapan Kosong bagi Rakyat"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-56)

Pengantar: Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) kembali menjadi sorotan. Setelah Presiden Prabowo Subianto melantik 26 anggotanya pada 2 Oktober 2026. Jumlah ini hampir tiga kali lipat dari era Jokowi dan SBY. Yang hanya sembilan orang. Pertanyaan mendasarnya bukan sekadar berapa banyak. Melainkan apa kontribusi nyata lembaga ini bagi rakyat? Atau jangan-jangan. Ia hanya menjadi tempat parkir elite politik. Yang digaji mahal dengan hasil yang tak bisa diukur? Atau jangan-jangan hanya memberikan harapan kosong saja bagi rakyat.

Tugas Mulia, Kosong di Lapangan


Pasal 16 UUD 1945 mengamanatkan Wantimpres untuk memberikan nasihat kepada Presiden. Lembaga ini dibentuk berdasarkan UU No. 19 Tahun 2006. Fungsinya memberikan pertimbangan. Baik diminta maupun tidak. Secara perorangan maupun kolektif. 

Rocky Gerung, anggota baru Wantimpres, menegaskan bahwa tugasnya adalah kontemplasi. Dan membedah persepsi publik terhadap kekuasaan. Bukan urusan teknis birokrasi. Ia bahkan menyebut Wantimpres sebagai oversight committee. Yang mengawasi arah kebijakan agar selaras dengan visi Presiden.

Kedengarannya indah. Namun, jika kita bertanya kepada rakyat kecil. Pedagang pasar yang bergelut dengan harga cabai. Nelayan yang kesulitan BBM. Atau buruh yang terkena PHK. Apa yang mereka rasakan dari keberadaan Wantimpres selama ini? Jawabannya. Tidak ada. 

Survei Rumah Politik pada Maret 2025 menunjukkan 31,22% responden menilai Wantimpres tidak mendukung pemerintahan. Sementara 23,13% merasa belum mendapatkan manfaat apa pun dari peran lembaga ini.

Gaji Rp76,5 Juta, Kerja Ringan, Manfaat Tak Terukur

Berdasarkan Perpres No. 15 Tahun 2026, setiap anggota Wantimpres menerima hak keuangan Rp76,5 juta per bulan. Lengkap dengan fasilitas setingkat menteri.

Dengan 26 anggota. Negara mengeluarkan Rp1,99 miliar per bulan. Atau Rp23,87 miliar per tahun. Hanya untuk hak keuangan. Belum termasuk fasilitas operasional lainnya.

Angka ini mungkin terlihat kecil dibanding total APBN. Namun, seperti yang diingatkan pakar kebijakan publik Achmad Nur Hidayat, efisiensi tidak diukur dari besarnya anggaran terhadap total APBN. Melainkan dari nilai manfaatnya (value for money).

"Ketika kementerian dan pemerintah daerah diminta melakukan efisiensi. Standar yang sama harus berlaku pada lembaga yang berada paling dekat dengan Presiden," tegasnya.

Pertanyaan kritisnya. Manfaat apa yang dibeli negara dengan tambahan 17 kursi Wantimpres? Jika era Jokowi dengan 9 anggota saja dinilai tidak signifikan. Apa logikanya menambah hampir tiga kali lipat? 

Ahmad Tholabi Kharlie dari UIN Syarif Hidayatullah menegaskan, "Ukuran keberhasilan Wantimpres bukan terletak pada seberapa dekat anggotanya dengan pusat kekuasaan. Melainkan pada seberapa bermakna nasihat yang diberikan bagi kemajuan bangsa".

Beban Rakyat yang Sesungguhnya

Sementara 26 orang menikmati gaji Rp76,5 juta per bulan. Jutaan rakyat Indonesia masih berjuang untuk makan tiga kali sehari. Inflasi pangan yang mencapai 5,03% pada September 2026. Menghantam daya beli masyarakat bawah. PHK terus terjadi. Nilai rupiah tertekan. IHSG anjlok parah. Dan harga kebutuhan pokok melambung. 

Ketika negara diminta berhemat. Komnas HAM bahkan mengalami pemotongan anggaran hingga 90%. Mengapa Wantimpres justru digemukkan?

Ekonom Wijayanto Samirin dari Universitas Paramadina melihat penyusunan Wantimpres baru ini lebih menunjukkan agenda konsolidasi politik. Dibandingkan perbaikan kualitas nasihat kepada Presiden. 

"Kita tidak bisa terlalu berharap banyak akan perbaikan kualitas advise kepada presiden," ujarnya. Ia juga memperingatkan bahwa jumlah anggota yang besar. Justru berpotensi membuat koordinasi semakin sulit dan kinerja menurun.

Direktur Charta Politika, Yunarto Wijaya, menambahkan bahwa anggota yang terlalu banyak. Berpotensi membuat kritik dan nasihat dari masyarakat semakin sulit masuk ke Presiden. Jika benar demikian. Maka Wantimpres bukan hanya tidak efektif. Tetapi juga kontraproduktif bagi demokrasi.

Independensi yang Dipertanyakan

Kehadiran Rocky Gerung. Akademisi yang dikenal kritis. Dianggap sebagai upaya menyeimbangkan dominasi kepentingan politik praktis. 

Namun, komposisi Wantimpres yang diisi konglomerat seperti Chairul Tanjung. Politisi senior seperti Bambang Soesatyo. Dan tokoh agama dari ormas besar. Menghadirkan potensi benturan kepentingan (conflict of interest) yang nyata. 

Tanpa mekanisme blind trust yang tegas. Dan larangan rangkap jabatan yang ketat. Wantimpres berisiko berubah dari kompas kebijakan. Menjadi panggung kompromi bagi berbagai kepentingan korporasi dan politik.

Pertanyaan yang Menuntut Jawaban

UUD 1945 memang mengamanatkan Wantimpres. Tetapi amanat konstitusi tidak berarti lembaga ini boleh menjadi beban negara tanpa manfaat yang jelas. 

Rakyat berhak bertanya. Apa nasihat Wantimpres yang telah mengubah kebijakan secara signifikan demi kesejahteraan rakyat? Jika tidak ada. Mengapa lembaga ini tetap dipertahankan. Apalagi diperbesar. Bahkan harus dengan biaya yang tidak kecil?

Lembaga penasihat Presiden seharusnya diisi oleh mereka yang memiliki keahlian strategis. Bukan sekadar figur senior yang perlu diparkir. Jika Wantimpres tidak mampu membuktikan manfaatnya bagi rakyat. Maka ia bukan lagi kompas kebijakan. Ia hanyalah kemewahan yang dibiayai rakyat untuk kepentingan elite.


Persoalannya. Jika tak ada kontribusinya bagi negara dan rakyat. Apa gak malu menerima gaji buta Rp 76,5 juta per bulan?

Wawancara Imajiner dengan "Sang Penjemput"

L atar: Sebuah kamar rumah sakit di lantai tujuh, pukul 03.17 dini hari. Lampu neon berkedip pelan. Mesin pemantau detak jantung berbunyi r...