(Secangkir Anggur Merah, Edisi -70)
Narasi Pemicu: Ketika kabut asap dari karhutla Indonesia kembali menyelimuti langit Singapura pada Oktober 2026, respons Negeri Singa itu patut dicermati secara kritis. Di satu sisi, Perdana Menteri Lawrence Wong menyatakan bahwa Singapura telah menawarkan bantuan teknis dan pemadaman. Termasuk masker N95, air minum, hingga pesawat Hercules C-130. Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Grace Fu bahkan menyebut Singapura siap memberikan bantuan di bidang apa pun sesuai permintaan Indonesia.
Tersirat Posisi Superior
Namun, di sisi lain, Singapura secara paralel membuka penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan yang diduga menjadi pemicu kebakaran. Dan tidak ragu mengancam sanksi di bawah Transboundary Haze Pollution Act (THPA). Solidaritas Singapura, dengan demikian, bukanlah solidaritas tanpa syarat. Ia adalah empati yang berjalan seiring dengan penegakan hukum dan penuntutan akuntabilitas.
Kritik pertama yang harus diarahkan adalah pada sifat solidaritas itu sendiri. Tawaran bantuan Singapura. Seperti masker, air minum, Hercules C-130, memang terdengar murah hati. Tetapi sekaligus menggunakan bahasa yang menyiratkan posisi superior.
Singapura sebagai pemberi bantuan. Indonesia sebagai penerima yang perlu ditolong. Dalam krisis lingkungan lintas batas. Narasi “donor-resipien” semacam ini berisiko mereduksi persoalan struktural menjadi sekadar urusan logistik.
Padahal, akar karhutla bukanlah kekurangan pesawat atau masker. Melainkan tata kelola lahan yang timpang. Laporan Walhi mencatat 30.927 titik panas sepanjang Januari–September 2026. Dan hampir separuh berada di dalam area konsesi perusahaan perkebunan sawit. Serta pemegang izin pemanfaatan hutan.
Solidaritas yang hanya berhenti pada bantuan teknis. Tanpa menyentuh akar korporasi ini. Adalah solidaritas yang kosmetik.
Mengapa Hanya Perlengkapan Pemadaman
Kritik kedua menyentuh ketegangan antara diplomasi dan penegakan hukum. Di saat yang sama ketika Singapura menawarkan bantuan. Otoritasnya mengusut perusahaan-perusahaan yang lahannya terbakar dan mengancam sanksi THPA. Ini adalah langkah yang secara prinsip patut diapresiasi.
Mengapa Hanya Perlengkapan Pemadaman
Kritik kedua menyentuh ketegangan antara diplomasi dan penegakan hukum. Di saat yang sama ketika Singapura menawarkan bantuan. Otoritasnya mengusut perusahaan-perusahaan yang lahannya terbakar dan mengancam sanksi THPA. Ini adalah langkah yang secara prinsip patut diapresiasi.
Singapura tidak ingin bantuannya menjadi alibi bagi pembiaran. Namun, langkah ini juga memunculkan pertanyaan tentang konsistensi. Jika Singapura serius menegakkan akuntabilitas. Mengapa bantuan yang ditawarkan justru berfokus pada perlengkapan pemadaman. Bukan pada penguatan penegakan hukum di Indonesia?
Mengapa bukan dukungan untuk membongkar jaringan korporasi lintas batas yang, menurut analisis struktur kepemilikan, terkait dengan sembilan korporasi berisiko tinggi yang terhubung ke Singapura, Malaysia, dan Hong Kong?
Singapura memiliki kapasitas finansial dan yudisial untuk menindak anak perusahaan yang beroperasi di wilayahnya. Solidaritas sejatinya akan lebih bermakna jika ia menggunakan leverage itu secara maksimal. Bukan hanya mengirim Hercules.
Respon Indonesia yang Ambigu
Kritik ketiga adalah tentang respons Indonesia yang ambigu. Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui tawaran bantuan negara tetangga. Tetapi hingga akhir Oktober, BNPB masih “menginventarisasi” kebutuhan. Belum mengeksekusi bantuan secara signifikan.
Respon Indonesia yang Ambigu
Kritik ketiga adalah tentang respons Indonesia yang ambigu. Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui tawaran bantuan negara tetangga. Tetapi hingga akhir Oktober, BNPB masih “menginventarisasi” kebutuhan. Belum mengeksekusi bantuan secara signifikan.
Menko PMK Sugiono bahkan menyatakan bahwa “sejauh ini semuanya bisa kita penuhi”. Pernyataan ini, di satu sisi, menunjukkan kepercayaan diri pemerintah terhadap kapasitas nasional—71.000 personel dan 50 lebih armada udara dikerahkan.
Namun, di sisi lain, ia menciptakan kesan bahwa Indonesia enggan menerima bantuan asing karena gengsi. Sementara asap terus menyeberang ke Singapura dan Malaysia.
Ketegangan ini memperlihatkan bahwa solidaritas regional tidak hanya diuji oleh kemauan negara tetangga untuk membantu. Tetapi juga oleh kesediaan Indonesia untuk menerima bantuan tanpa merasa dilecehkan kedaulatannya.
Menciptakan Spektrum Tidak Nyaman
Yang paling tajam, solidaritas Singapura harus dibaca dalam konteks hubungan ekonomi yang lebih luas. Beberapa hari setelah pertemuan bilateral Menlu RI dan Singapura. Indonesia mengumumkan pengurangan ekspor gas alam ke Singapura sebesar 31 juta kaki padu standar per hari.
Menciptakan Spektrum Tidak Nyaman
Yang paling tajam, solidaritas Singapura harus dibaca dalam konteks hubungan ekonomi yang lebih luas. Beberapa hari setelah pertemuan bilateral Menlu RI dan Singapura. Indonesia mengumumkan pengurangan ekspor gas alam ke Singapura sebesar 31 juta kaki padu standar per hari.
Meskipun kedua menteri tidak membahas isu ini secara terbuka. Kedekatan waktu antara pengurangan gas dan pembicaraan karhutla menciptakan spektrum yang tidak nyaman. Apakah solidaritas Singapura atas asap Indonesia sepenuhnya tulus. Ataukah ia berkelindan dengan kepentingan energi dan tekanan diplomatik?
Dalam politik regional. Solidaritas jarang hadir dalam ruang hampa. Ia selalu berkelindan dengan kepentingan. Mengabaikan dimensi ini akan membuat analisis tentang solidaritas Singapura menjadi naif.
Layak Dapresiasi
Pada akhirnya, solidaritas Singapura atas tragedi karhutla Indonesia layak diapresiasi sebagai gestur kemanusiaan dan pengakuan atas keterhubungan ekologis kawasan.
Layak Dapresiasi
Pada akhirnya, solidaritas Singapura atas tragedi karhutla Indonesia layak diapresiasi sebagai gestur kemanusiaan dan pengakuan atas keterhubungan ekologis kawasan.
Namun, narasi ini berargumen bahwa solidaritas sejati tidak boleh berhenti pada pengiriman masker dan pesawat. Ia harus berani menyentuh akar masalah: Tata kelola lahan gambut. Akuntabilitas korporasi lintas batas. Dan keadilan iklim.
Singapura, dengan kapasitas hukum dan finansialnya. Berada pada posisi unik untuk melampaui bantuan simbolik dan menjadi mitra dalam membongkar struktur yang membuat karhutla menjadi bencana tahunan.
Sebaliknya, Indonesia perlu keluar dari logika gengsi dan melihat bantuan asing bukan sebagai tanda kelemahan. Melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab kolektif kawasan. Asap tidak mengenal batas negara. Solidaritas pun seharusnya tidak berhenti di perbatasan.
Jadi sebaiknya dan sebijaknya, Indonesia menurunkan dulu sedikit gengsinya. Terima saja bantuannya. Jangan terlalu ngotot merasa terhina atau direndahkan. Mantabs kan..!



