Paket 1: Keadilan Express
Terdakwa: "Yang Mulia, saya minta keadilan."
Hakim: "Minta keadilan? Boleh-boleh saja. Tapi harap antre dulu..!"
Terdakwa: "Antreannya berapa lama Yang Mulia?"
Hakim: "Tergantung."
Terdakwa: "Tergantung apa?"
Hakim: "Tergantung siapa yang mengantar dan berapa nominalnya."
Terdakwa: "Kalau saya hanya sendiri dan gak bawa apa-apa??"
Hakim: "Bisa saja. Tapi jangan harap."
Terdakwa: "Jangan harap apa?"
Hakim: "Jangan harap dilayani dengan cepat. Harap berbekal sabar tak terbatas."
Terdakwa: "Duh, nasib orang kecil.."
(Punchline: Di negeri ini, keadilan bukan buta. Cuma pura-pura tidak melihat.)
Paket 2: Lelang Pasal
Jaksa: "Pasal yang cocok untuk Anda ada tiga paket: 2 tahun, 5 tahun, atau 10 tahun."
Terdakwa: "Saya pilih yang 2 tahun, pak Jaksa."
Jaksa: "Boleh. Itu namanya paket hemat. Tapi ada biaya tambahan."
Terdakwa: "Berapa?"
Jaksa: "Tergantung kecepatan putusan."
Terdakwa: "Kalau saya mau cepat?"
Jaksa: "Berarti di-upgrade ke paket express. Sidang pagi. Vonis siang, Sore bebas."
Terdakwa: "Kalau nggak bayar?"
Jaksa: "Itu paket reguler. Lama sidang lima bulan. Vonis lima menit. Penjara lima tahun."
(Punchline: Pasal bisa dipilih seperti menu restoran. Yang mahal bukan makanannya. Tapi diskonnya.)
Paket 3: Amplop Kenangan
Hakim: "Catat..! Saya tidak menerima suap..!"
Terdakwa: "Keren, Yang Mulia. Saya juga tidak berniat untuk menyuap."
Hakim: "Lalu ini apa?"
Terdakwa: "Ini...cuma kenang-kenangan Yang Mulia."
Hakim: "Kenang-kenangan apa?"
Terdakwa: "Agar Yang Mulia ingat saya."
Hakim: "Loh, Saya sudah ingat kok.."
Terdakwa: "Tapi belum cukup Yang Mulia. Jangan sampai lupa saat putusan."
Hakim: "Saya tidak pernah lupa pasal."
Terdakwa: "Saya tahu Yang Mulia. Tapi kan yang sering terjadi. Begitu lupa amplopnya, otomatis pasalnya jadi lupa."
(Punchline: Kadang hakim lupa pasal, tapi tidak lupa kado.)
Paket 4: Mediasi Damai
Pengacara A: "Kita sudahi dengan damai saja."
Pengacara B: "Damai bagaimana?"
A: "Klien saya bayar, Klien Anda terima. Perkara hilang."
B: "Itu bukan damai. Itu transaksi."
A: "Sama saja.
B: "Lalu bedanya apa?"
A: "Bedanya, kalau damai ada berita acaranya."
B: "Kalau transaksi?"
A: "Nggak ada berita acara. Tapi ada rekaman dan tanda terima."
B: "Rekaman?"
A: "Iya. Rekaman...Kalau nanti ada yang tidak beres dan tidak puas."
(Punchline: Di pengadilan, damai bisa berarti kedua pihak sepakat untuk tidak jujur.)
Paket 5: Kasasi Express
Terdakwa: "Saya mau kasasi."
Pengacara: "Boleh. Ada dua jalur. Jalur hukum atau jalur cepat."
Terdakwa: "Bedanya?"
Pengacara: "Jalur hukum butuh bukti. Jalur cepat butuh kenalan."
Terdakwa: "Saya pilih yang jalur kenalan dan cepat saja."
Pengacara: "Bagus. Tapi kalau ketahuan, kita ganti nama jadi upaya hukum luar biasa ya..."
Terdakwa: "Maksudnya luar biasa apa?"
Pengacara: "Luar biasa...muahal..."
(Punchline: Kasasi bisa lambat, bisa cepat. Tergantung siapa yang dihubungi dan berapa besaran nominalnya.)
Paket 6: Keadilan Masih Tersedia
Terdakwa: "Yang Mulia, saya minta keadilan."
Hakim: "Siap. Kebetulan keadilan masih tersedia. Tapi ada biaya administrasinya."
Terdakwa: "Administrasi apa?"
Hakim: "Administrasi...dalam rangka mempercepat proses."
Terdakwa: "Kalau tidak bayar?"
Hakim: "Prosesnya tetap jalan terus."
Terdakwa: "Bagus dong."
Hakim: "Iya. Tapi arahnya pake baju orange ke penjara."
Terdakwa: "Kalau bayar?"
Hakim: "Arahnya ke rumah sakit. Nominalnya bikin sakit perut dan mencret mendadak."
Bonus Punchline:
B: "Kalau transaksi?"
A: "Nggak ada berita acara. Tapi ada rekaman dan tanda terima."
B: "Rekaman?"
A: "Iya. Rekaman...Kalau nanti ada yang tidak beres dan tidak puas."
(Punchline: Di pengadilan, damai bisa berarti kedua pihak sepakat untuk tidak jujur.)
Paket 5: Kasasi Express
Terdakwa: "Saya mau kasasi."
Pengacara: "Boleh. Ada dua jalur. Jalur hukum atau jalur cepat."
Terdakwa: "Bedanya?"
Pengacara: "Jalur hukum butuh bukti. Jalur cepat butuh kenalan."
Terdakwa: "Saya pilih yang jalur kenalan dan cepat saja."
Pengacara: "Bagus. Tapi kalau ketahuan, kita ganti nama jadi upaya hukum luar biasa ya..."
Terdakwa: "Maksudnya luar biasa apa?"
Pengacara: "Luar biasa...muahal..."
(Punchline: Kasasi bisa lambat, bisa cepat. Tergantung siapa yang dihubungi dan berapa besaran nominalnya.)
Paket 6: Keadilan Masih Tersedia
Terdakwa: "Yang Mulia, saya minta keadilan."
Hakim: "Siap. Kebetulan keadilan masih tersedia. Tapi ada biaya administrasinya."
Terdakwa: "Administrasi apa?"
Hakim: "Administrasi...dalam rangka mempercepat proses."
Terdakwa: "Kalau tidak bayar?"
Hakim: "Prosesnya tetap jalan terus."
Terdakwa: "Bagus dong."
Hakim: "Iya. Tapi arahnya pake baju orange ke penjara."
Terdakwa: "Kalau bayar?"
Hakim: "Arahnya ke rumah sakit. Nominalnya bikin sakit perut dan mencret mendadak."
Bonus Punchline:
Di pengadilan, yang disebut negeri bisa berarti tempat berjuang membela hukum. Atau tempat jual beli hukum.
Bonus Pantun:
Pergi ke pasar beli kacamata
Beli juga sepasang selop
Bajingan itu setengah buta,
Mata ijo lihat amplop
Pergi ke pasar beli kacamata
Beli juga sepasang selop
Bajingan itu setengah buta,
Mata ijo lihat amplop



