Berikut ini adalah 6 Paket Humor “Nestapa Indonesia". Tentu saja ini merupakan fiksi radikal satire. Radikal dalam arti mengkritik habis-habisan. Tentu saja, bukan mengajak rusuh. Tapi kalau mirip realita. Bukan salah humor. Itu salah kita semua yang sudah terbiasa.
Paket 1: KTP Abadi
Warga: "Maaf pak, saya mau bikin KTP."
Petugas: "Okeh, bawa surat pengantar RT."
Warga: "Bawa pak."
Petugas: "Bawa fotokopi KK."
Warga: "Siap, sudah, pak."
Petugas: "Bawa fotokopi KTP."
Warga: "Lah, saya kan mau bikin KTP pak, kok suruh bawa fotokopi KTP?"
Petugas: "Ini sudah menjadi prosedur. Kalau belum punya KTP, boleh bawa KTP sementara."
Warga: "KTP sementara dari mana pak? dari Hongkong?"
Petugas: "Ya dari kelurahan dong, masa dari Hongkong."
Warga: "Tapi Kelurahan juga dulu minta fotokopi KTP."
Petugas: "Ya sudah, itu namanya lingkaran setan. Selamat datang di Indonesia, ya...!"
Punchline: Di sini, untuk jadi warga negara, kamu harus sudah jadi warga negara. Nah, Puyeng kan...!
Paket 2: Sembako Naik, Gaji Diam.
Istri: "Bapake, harga beras naik lagi."
Suami: "Tenang bu'e, gaji bapak juga ikut naik."
Istri: "Naik berapa?"
Suami: "Naik...harapan."
Istri: "Ealah...emang harapan bisa dimakan kah?"
Suami: "Bisa bu. Tapi harus dimasak dulu biar jadi sabar."
Istri: "Terus ini Anak minta susu piye?."
Suami: "Yo, kasih susu... versi iklan bae bu'e."
Istri: "Maksudnya?"
Suami: "Lihat gambar iklan, bayangken rasane, lalu minum air putih. Wis..beres kan..!"
Punchline: Ekonomi kita emang sedang kuat-kuatnya. Kuat menahan lapar.
Paket 3: Macet Berjamaah
Pengendara A: "Bang, emang mulai macetnya dari mana?"
Pengendara B: "Dari jauh."
A: "Maksudnya jauh dari mana?"
B: "Dari zaman Orde Baru."
A: "Kok bisa?"
B: "Ya iya lah wong jalan nggak nambah, mobilnya terus nambah, sementara para pejabat pada sibuk rapat."
A: "Rapat apa sih?"
B: "Ya Rapat soal macet."
A: "Terus hasilnya?"
B: "Ya dilanjut rapat berikutnya lah."
Punchline: Macet di Indonesia bukan masalah transportasi. Itu agenda nasional yang nggak pernah selesai.
Paket 4: Sekolah Gratis
Bapak: "Sekolah kita sudah gratis, kan?"
Ibu: "Iya, gratis."
Bapak: "Lalu ini tagihan apa?"
Ibu: "Uang gedung, uang seragam, uang buku, uang kegiatan, uang kebersihan, uang keamanan."
Bapak: "Itu yang namanya gratis kah?"
Ibu: "Gratis...cuma ya gitu ada biaya sukarelanya."
Bapak: "Sukarela kok rasanya seperti wajib?"
Ibu: "Yah namanya juga sukarela versi Indonesia pak. Rela atau tidak rela, harus tetap bayar."
Punchline: Pendidikan itu investasi. Investasi paling mahal dan investasi paling sabar.
Paket 5: Antre Rumah Sakit
Pasien: "Maaf Pak, saya mau berobat."
Petugas: "Mohon Antre dulu..!"
Pasien: "Antre berapa lama?"
Petugas: "Tergantung."
Pasien: "Tergantung apa?"
Petugas: "Tergantung kartu."
Pasien: "Saya punya BPJS pak."
Petugas: "Oh, itu antrenya panjang."
Pasien: "Kalau bayar sendiri?"
Petugas: "Antrenya pendek."
Pasien: "Kalau mau cepat?"
Petugas: "Bayar sendiri, berobat ke praktek dokter swasta."
Punchline: Di Indonesia, sehat itu pilihan. Tapi pilihan sehat itu mahal.
Paket 6: Banjir Tahunan
Warga: "Pak Lurah, daerah kita banjir lagi nih.."
Lurah: "Itu sebenarnya bukan banjir, tapi siklus."
Warga: "Siklus apa?"
Lurah: "Siklus tahunan: hujan, banjir, foto, janji, lupa."
Warga: "Solusinya?"
Lurah: "Normalisasi."
Warga: "Sungai?"
Lurah: "Bukan. Anggaran."
Warga: "Anggaran dinormalisasi bagaimana?"
Lurah: "Dikurangi, sisanya dibagi."
Punchline: Banjir di Indonesia bukan bencana alam. Itu acara tahunan yang wajib dihadiri.
Bonus Pantun Nestapa:
Pergi ke pasar beli jamur,
Pulang lagi nonton fim avatar.
Negeri ini katanya makmur,
Tapi rakyatnya jago menahan lapar.
NanaSuryana.Com
enough four: Sabar, Syukur, Istighfar, Doa...
Selasa, 27 Oktober 2026
Serial Tasawuf-34, Al Hikam-1: "Ketika Amal Menjadi Tirai yang Menutupi Rahmat"
Malam itu, angin dari laut Iskandariyah berhembus pelan. Membawa aroma garam dan debu pasir ke beranda zawiyah. Syekh Ahmad bin Atha'illah as-Sakandari (Ibnu Atha'illah) duduk di atas sajadah lusuh yang telah menemaninya puluhan tahun. Di hadapannya, duduk bersila para salik. Murid-murid yang tengah menempuh jalan menuju Allah. Wajah mereka bersih. Tetapi hati mereka menyimpan pertanyaan yang belum terjawab.
Seorang salik muda bernama Zaid mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, aku ingin bertanya tentang sesuatu yang mengganjal di hatiku."
"Silakan, anakku," ujar Ibnu Atha'illah dengan suara lembut namun berwibawa.
"Aku telah lama beribadah. Aku shalat, aku puasa, aku bersedekah. Tetapi suatu hari, aku berbuat dosa. Sejak saat itu, aku merasa tidak mungkin lagi diampuni. Aku merasa amalku sia-sia. Aku merasa Allah pasti marah dan tidak akan memaafkanku. Apakah perasaanku ini benar?"
Ibnu Atha'illah tersenyum. Senyumnya bukan senyum yang ringan. Melainkan senyum yang mengandung beban hikmah yang dalam. Ia memandang Zaid dengan mata yang teduh, lalu berkata:
"Ketahuilah, anakku, bahwa di antara tanda-tanda seseorang bersandar pada amal usahanya adalah berkurangnya harapan kepada rahmat Allah ketika ia melakukan kesalahan atau dosa. "
Zaid terdiam. "Wahai Mursyid, apakah maksudnya bahwa putus asaku itu adalah tanda bahwa aku bersandar pada amalku sendiri?"
"Benar, anakku," jawab Ibnu Atha'illah. "Ketika engkau berbuat dosa. Lalu engkau merasa tidak mungkin diampuni. Itu artinya engkau mengira bahwa keselamatanmu ditentukan oleh amalmu sendiri. Engkau lupa bahwa yang menyelamatkanmu bukanlah amalmu. Melainkan rahmat Allah semata. "
Dalil Pertama: Rahmat Allah Meliputi Segala Sesuatu
Ibnu Atha'illah membuka mushaf kecil di sisinya. "Dengarkanlah, anakku, apa yang Allah katakan tentang rahmat-Nya."
"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS. Al-A'raf: 156)
"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Allah tidak berkata 'rahmat-Ku meliputi orang-orang yang beramal saleh.' Ia berkata 'rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.' Rahmat Allah lebih luas dari amalmu. Lebih luas dari dosamu. Lebih luas dari seluruh perjalanan hidupmu."
Seorang salik bernama Fatimah mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah rahmat Allah benar-benar lebih luas dari murka-Nya?"
Ibnu Atha'illah tersenyum. "Dengarkanlah sabda Nabi Muhammad SAW:
Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menuliskan di dalam kitab-Nya. Yang kitab itu berada di sisi-Nya di atas Arsy:
"Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku." (HR. Bukhari dan Muslim)
"Rahmat Allah bukan hanya lebih luas dari murka-Nya. Rahmat-Nya mengalahkan murka-Nya. Itulah janji Allah yang tertulis di atas Arsy. Sebelum engkau dilahirkan. Sebelum engkau berbuat dosa. Sebelum engkau menyesal."
Dalil Kedua: Jangan Berputus Asa
Ibnu Atha'illah kemudian membacakan ayat yang paling membuat hati para salik bergetar:
"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'" (QS. Az-Zumar: 53)
"Lihatlah," kata Ibnu Atha'illah dengan mata berkaca-kaca. "Allah tidak berkata 'wahai orang-orang berdosa.' Ia berkata 'wahai hamba-hamba-Ku.'
Bahkan dalam keadaan melampaui batas. Engkau masih disebut hamba-Nya. Dan Allah tidak berkata 'jangan berputus asa dari amalmu.' Ia berkata 'jangan berputus asa dari rahmat-Ku.'"
Zaid menunduk. Air matanya jatuh ke sajadah. "Wahai Mursyid, aku telah lama merasa bahwa dosaku terlalu besar untuk diampuni."
Ibnu Atha'illah meletakkan tangannya di pundak Zaid. "Ketahuilah, anakku, bahwa tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir. " (QS. Yusuf: 87) "Putus asa bukanlah tanda kerendahan hati. Putus asa adalah tanda bahwa engkau belum mengenal Allah."
Dalil Ketiga: Amal Tidak Memasukkan Seseorang ke Surga
Seorang salik bernama Umar bertanya, "Wahai Mursyid, jika bukan amal yang menyelamatkan kami, lalu untuk apa kami beramal?"
Ibnu Atha'illah tersenyum. "Pertanyaan yang sangat baik, Umar. Dengarkanlah sabda Nabi Muhammad SAW:
'Tidak akan masuk surga seorang di antara kalian karena sebab amalnya.' Ditanya para sahabat, 'Termasuk engkau, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya.' (HR. Bukhari dan Muslim)
"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Bahkan Nabi Muhammad SAW. Manusia yang paling mulia, yang amalnya paling banyak, yang dosanya telah diampuni. Tidak akan masuk surga karena amalnya. Beliau masuk surga karena rahmat Allah."
"Lalu untuk apa kita beramal?" tanya Umar lagi.
"Amal bukanlah tujuan, anakku. Amal adalah persembahan, bukan sandaran. " "Kita beramal karena Allah memerintahkan kita untuk beramal. Kita beramal karena kita mencintai Allah. Tetapi kita tidak bersandar pada amal kita. Kita bersandar pada rahmat Allah."
Kisah Nabi dan Seorang Ibu yang Mencintai Anaknya
Ibnu Atha'illah kemudian bercerita. "Suatu hari, Nabi Muhammad SAW melihat seorang perempuan yang sedang menyusui anaknya. Beliau bertanya kepada para sahabat: 'Apakah engkau pikir perempuan ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam api?' Para sahabat menjawab: 'Tidak, Wahai Rasulullah.'
Nabi SAW bersabda: 'Sungguh, Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada perempuan ini kepada anaknya.' (HR. Bukhari dan Muslim)"
"Jika seorang ibu, yang hatinya dipenuhi cinta, tidak tega menyakiti anaknya, bagaimana mungkin Allah, yang menciptakan cinta itu sendiri, tega menyiksa hamba-Nya yang bertaubat? Rahmat Allah lebih besar dari cinta seorang ibu. Dan engkau, Zaid, adalah anak yang dicintai Allah."
Kembali ke Rahmat
Malam semakin larut. Angin dari laut masih berhembus, membawa aroma garam yang segar. Ibnu Atha'illah bangkit dari duduknya. Membetulkan selendangnya. Dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.
"Anak-anakku," ujarnya, "janganlah engkau bersandar pada amalmu sendiri. Janganlah engkau merasa aman karena amalmu. Dan janganlah engkau putus asa karena dosamu. Yang menyelamatkanmu bukanlah amalmu. Melainkan rahmat Allah. "
"Maka berdoalah seperti ini: 'Ya Allah, janganlah Engkau serahkan aku kepada amalku sendiri. Karuniakanlah kepadaku rahmat-Mu, karena rahmat-Mulah yang menyelamatkanku.'"
Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Ia bukan salah karena berbuat dosa. Ia hanya salah karena putus asa.
Dan malam itu, ia pulang dengan hati yang lebih lapang. Karena ia telah menemukan bahwa pintu rahmat Allah tidak pernah tertutup.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Hikmah Kedua Al-Hikam: Pakaian yang Terlalu Sempit untuk Tubuhmu"
Senin, 26 Oktober 2026
Etika Dakwah Bukan Hiasan Retorika: "Apalagi Rendahkan Harkat Perempuan"
(Secangkir Anggur Merah, Edisi-67)
Leaderline: Di sebuah majelis yang menyejukkan. Seorang penceramah memulainya dengan senyum. Ia menyebut perempuan sebagai “sumber fitnah. Tidak wajib pintar. Tugas utamanya melayani suami. Jemaah meresponnya dengan tertawa. Ada yang merekam. Mengunggah. Lalu cuplikan itu menjadi viral. Di kolom komentar. Perempuan-perempuan muda saling menguatkan. Ada yang merasa terluka dan terhina. Ada pula yang mulai percaya bahwa dirinya memang kurang. Di titik inilah etika dakwah diuji. Bukan di atas panggung. Tetapi di ruang hati yang paling rapuh.
Rahmat Tidak Dibangun Diatas Penghinaan
Dakwah adalah menyampaikan ajaran dengan cara yang memuliakan manusia. Al-Qur’an menyebut misi Nabi sebagai rahmat bagi semesta. Memerintahkan perkataan yang benar. Ma’ruf. Serta mulia.
Jadi tidak mungkin rahmat itu dibangun di atas penghinaan. Ketika ceramah tentang perempuan bergeser menjadi lelucon tentang tubuh, kodrat, dan kepatuhan. Yang tersisa bukan tuntunan. Melainkan penundukan. Perempuan tidak diajak berpikir. Ia dijadikan objek contoh, peringatan, dan ketakutan.
Kritik pertama mesti diarahkan pada bahasa. Banyak materi dakwah populer memakai dikotomi kasar: Perempuan saleh versus perempuan sumber dosa. Aurat dibahas dengan analogi yang menggambarkan perempuan seperti barang atau makanan.
Kritik pertama mesti diarahkan pada bahasa. Banyak materi dakwah populer memakai dikotomi kasar: Perempuan saleh versus perempuan sumber dosa. Aurat dibahas dengan analogi yang menggambarkan perempuan seperti barang atau makanan.
Hadis tentang kurang akal dan agama dikutip tanpa konteks. Seolah menjadi vonis abadi. Padahal teks suci tidak hadir di ruang hampa. Ia dibaca dalam sejarah, konteks, dan tujuan syariat yang justru melindungi kehormatan.
Etika dakwah menuntut pendakwah menjelaskan, bukan mengejek. Membimbing, bukan mempermalukan.
Kritik kedua menyangkut relasi kuasa. Mimbar memberi otoritas. Ketika seorang penceramah terkenal menyebut perempuan “wajib nurut” atau “tidak layak menjadi pemimpin”, ucapannya bukan sekadar pendapat.
Kritik kedua menyangkut relasi kuasa. Mimbar memberi otoritas. Ketika seorang penceramah terkenal menyebut perempuan “wajib nurut” atau “tidak layak menjadi pemimpin”, ucapannya bukan sekadar pendapat.
Ia bergerak sebagai legitimasi sosial. Bagi suami yang ingin menindas. Bagi lingkungan yang ingin mengontrol. Bagi perempuan yang kehilangan ruang bersuara.
Dakwah yang etis harus sadar bahwa kata-katanya bisa menjadi alat kekerasan simbolik. Karena itu, tidak cukup berniat baik. Perlu kehati-hatian, pengetahuan, dan tanggung jawab.
Belajar dari Kasus Habib Alwi Assegaf
Kasus yang menimpa Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf menjadi cermin getir. Dalam potongan ceramah yang viral. Ia tidak hanya membicarakan tarif ceramah Rp75 juta. Tetapi juga meminta agar santriwati dihadirkan dengan dalih mencari calon istri keempat.
Belajar dari Kasus Habib Alwi Assegaf
Kasus yang menimpa Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf menjadi cermin getir. Dalam potongan ceramah yang viral. Ia tidak hanya membicarakan tarif ceramah Rp75 juta. Tetapi juga meminta agar santriwati dihadirkan dengan dalih mencari calon istri keempat.
Ia bahkan menyebut kehadiran jemaah perempuan berusia di atas 60 tahun “mengganggu pandangan” dan “tidak ada pahalanya” berceramah di depan mereka. Yang lebih memilukan. Jemaah tertawa.
Tawa itu direkam. Disebarkan, dam. Menjadi semacam pengesahan kolektif bahwa merendahkan perempuan adalah hal yang lucu. Bukan pelanggaran.
Ceramah Perusak Islam
Ceramah Perusak Islam
Reaksi pun datang. Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menyerukan agar umat tidak lagi mengundang dan mengikuti majelis penceramah tersebut.
Ia menilai ceramah semacam itu “bikin rusak agama dan manusia” dan bahkan justru “merusak Islam”.
Kementerian Agama turut mengingatkan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan. Tetapi juga memberikan keteladanan melalui tutur kata dan perilaku.
Namun, ada beberapa pelajaran yang harus diambil lebih jauh. Pertama, gelar habib, ustaz, kiai, atau nama besar tidak imun terhadap kritik etika. Otoritas keagamaan bukan lisensi untuk memperlakukan perempuan sebagai objek pilihan pribadi.
Namun, ada beberapa pelajaran yang harus diambil lebih jauh. Pertama, gelar habib, ustaz, kiai, atau nama besar tidak imun terhadap kritik etika. Otoritas keagamaan bukan lisensi untuk memperlakukan perempuan sebagai objek pilihan pribadi.
Kedua, tawa jemaah menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya satu penceramah. Melainkan budaya yang telah menormalisasi pelecehan sebagai bahan ceramah.
Ketiga, institusi agama tidak boleh berhenti pada imbauan. Jika ada dugaan pelanggaran etik, perlu mekanisme klarifikasi, pemeriksaan, dan sanksi sosial yang jelas. Bukan pembiaran karena takut dianggap menyerang ulama.
Keempat, publik perlu berhenti meromantisasi keturunan dan popularitas. Dakwah dinilai dari isi dan adab. Bukan dari garis nasab atau jumlah jemaah.
Kelima, media sosial harus disadari sebagai ruang yang mempercepat luka. Potongan ceramah yang merendahkan perempuan menjadi tontonan. Sementara koreksi etik sering kalah cepat.
Jangan Jadikan Perempuan Sebagai ALat
Kasus ini bukan untuk menghakimi pribadi tanpa ruang klarifikasi. Ia adalah peringatan bahwa mimbar bisa berubah menjadi panggung penundukan ketika kekuasaan agama dipakai untuk memuaskan selera.
Jangan Jadikan Perempuan Sebagai ALat
Kasus ini bukan untuk menghakimi pribadi tanpa ruang klarifikasi. Ia adalah peringatan bahwa mimbar bisa berubah menjadi panggung penundukan ketika kekuasaan agama dipakai untuk memuaskan selera.
Dakwah yang benar tidak menjadikan perempuan sebagai alat. Baik untuk mencari istri. Menarik perhatian. Maupun mengukur pahala ceramah.
Kritik ketiga adalah kebiasaan menjadikan perempuan bahan cerita. Kisah tentang istri durhaka. Perempuan berebut suami. Atau wanita cantik penyebab krisis moral kerap dipakai untuk menarik perhatian. Ini bukan edukasi, melainkan eksploitasi narasi.
Kritik ketiga adalah kebiasaan menjadikan perempuan bahan cerita. Kisah tentang istri durhaka. Perempuan berebut suami. Atau wanita cantik penyebab krisis moral kerap dipakai untuk menarik perhatian. Ini bukan edukasi, melainkan eksploitasi narasi.
Harkat perempuan direduksi menjadi konflik rumah tangga yang menghibur. Lebih buruk lagi. Di media sosial, potongan ceramah dipotong agar paling mengejutkan. Algoritma memberi hadiah pada sensasi, bukan pada etika. Dakwah lalu berubah menjadi industri perhatian yang mengorbankan martabat.
Etika dakwah terhadap perempuan seharusnya berangkat dari prinsip karamah insaniyah. Perempuan adalah subjek utuh, bukan objek moral. Ia punya akal, pilihan, pengalaman, dan suara.
Etika dakwah terhadap perempuan seharusnya berangkat dari prinsip karamah insaniyah. Perempuan adalah subjek utuh, bukan objek moral. Ia punya akal, pilihan, pengalaman, dan suara.
Dakwah yang memuliakan perempuan tidak akan berbicara tentang tubuhnya di depan publik tanpa kebutuhan dan izin.
Tidak akan membuka aib rumah tangga. Tidak akan memaksa perempuan memikul seluruh beban kesalehan keluarga. Ia akan mengajak laki-laki dan perempuan sama-sama bertanggung jawab atas akhlak, ruang publik, dan keadilan.
Regulasi dakwah sering berhenti pada administrasi, bukan etika isi. Sertifikasi pendakwah, pelatihan retorika, dan aturan mimbar belum tentu menyentuh cara pandang terhadap perempuan.
Regulasi dakwah sering berhenti pada administrasi, bukan etika isi. Sertifikasi pendakwah, pelatihan retorika, dan aturan mimbar belum tentu menyentuh cara pandang terhadap perempuan.
Maka masyarakat perlu menjadi penyaring kritis. Menolak ceramah yang merendahkan. Menegur dengan santun. Dan mendukung penceramah yang menghormati.
Media perlu berhenti menjadikan konflik gender sebagai komoditas. Pesantren dan kampus agama perlu membuka ruang bagi tafsir yang adil dan perspektif perempuan.
Harus Berani Mengaudit Diri
Harus Berani Mengaudit Diri
Yang paling mendesak. Para pendakwah harus berani mengaudit diri. Apakah ceramah saya membuat perempuan merasa lebih dekat pada Tuhan, atau justru lebih takut pada laki-laki? Apakah saya sedang menjelaskan agama, atau menjual stereotip? Apakah kata dakwah saya menambah luka, atau merawat harapan?
Etika bukan lampiran opsional. Ia adalah bagian dari pesan itu sendiri. Dakwah yang menghina tidak pernah menjadi dakwah yang benar. Sebab kebenaran tidak butuh korban harga diri.
Jika mimbar terus dibiarkan menjadi panggung penundukan. Jangan heran bila sebagian perempuan menjauh bukan karena menolak Tuhan. Tetapi karena lelah disakiti atas nama-Nya.
Jika mimbar terus dibiarkan menjadi panggung penundukan. Jangan heran bila sebagian perempuan menjauh bukan karena menolak Tuhan. Tetapi karena lelah disakiti atas nama-Nya.
Etika dakwah harus menghunjam sampai ke akar. Bahwa memuliakan perempuan bukan kemewahan liberal, melainkan konsekuensi iman.
Mimbar yang benar tidak mengecilkan perempuan. Ia membebaskan manusia dari ketidakadilan. Termasuk dari ceramah yang kehilangan adab.
Nah, kini terpulang pada kaum perempuan sendiri? Berani gak "kepret" penceramah kurang adab? Atau lebih suka pakai senjata kerlingan yang mematikan...!!!
Serial Tasawuf-33, Tajalliy-4: "Tajalli al-Baqā’ — Kekekalan Setelah Kefanaan dan Kembalinya Hamba ke Dunia"
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Pagi itu fajar datang seperti tamu yang telah lama dinanti. Cahayanya menyusup pelan-pelan ke dalam ribat. Menyentuh dinding-dinding kayu yang telah bertahun-tahun menyerap zikir para salik. Burung-burung bangun lebih awal dari biasanya. Suara mereka seperti tasbih yang tersebar di udara. Salik duduk di serambi. Tetapi ia tidak lagi duduk seperti orang yang datang untuk belajar. Ia duduk seperti orang yang baru kembali dari perjalanan jauh. Tubuhnya masih di ribat. Tetapi hatinya masih meraba-raba sesuatu yang belum ia pahami.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani datang membawa dua potong roti dan secangkir susu. Beliau meletakkannya di antara mereka. Lalu duduk tanpa berkata-kata. Beberapa saat mereka hanya mendengar burung-burung dan angin pagi.
“Engkau belum pulang, anakku,”Akhirnya Mursyid membuka suara. “Tubuhmu ada di sini. Tetapi hatimu masih di tepi lautan itu. Engkau telah fana. Engkau telah melihat bahwa engkau tidak ada. Tetapi engkau belum baqa. Engkau belum kembali.”
Salik menunduk. “Guru, aku tidak tahu bagaimana harus kembali. Ketika aku melihat bahwa diriku tidak ada. Aku merasa tidak ada gunanya aku berbuat apa-apa. Aku merasa semua amal itu sia-sia. Sebab yang beramal bukan aku. Aku merasa seperti bayangan yang tidak perlu bergerak. Sebab yang bergerak adalah yang menimbulkan bayangan.”
Mursyid tersenyum, tetapi senyum itu bukan senyum ringan. “Itu bukan baqa, anakku. Itu istidraj yang halus. Engkau telah melihat kefanaan. Lalu engkau berhenti di situ. Engkau seperti orang yang telah menyeberangi sungai. Lalu duduk di tepi seberang tanpa mau masuk ke negeri yang ia tuju.
Ketahuilah, fanā’ itu bukan tujuan. Fanā’ itu adalah pintu. Adapun tujuannya adalah baqā’ . Engkau kembali kepada wujudmu. Tetapi engkau kembali dengan kesadaran baru. Engkau ada karena Allah mengadakanmu. Engkau hidup karena Allah menghidupkanmu. Engkau berbuat karena Allah menggerakkanmu.”
“Apakah baqa’ berarti aku kembali seperti dahulu, Guru?”
“Tidak seperti dahulu, anakku. Orang yang kembali dari fanā’ itu tidak sama dengan orang yang belum pernah fana. Engkau seperti orang yang telah masuk ke dalam lautan. Lalu keluar dengan tubuh yang masih basah. Engkau tidak sama dengan orang yang hanya mendengar tentang lautan. Engkau telah merasakan kedalamannya. Dan sekarang engkau kembali ke pantai dengan membawa sesuatu yang tidak bisa dibawa oleh orang lain: ma‘rifah, Pengenalan.”
Salik mengangkat wajahnya. “Lalu apa yang harus aku lakukan dengan pengenalan itu, Guru?”
“Engkau harus kembali kepada manusia, anakku. Engkau harus kembali bekerja, kembali beribadah, kembali berinteraksi, kembali menanggung amanah. Tetapi engkau kembali bukan sebagai orang yang mencari pujian, bukan sebagai orang yang takut celaan, bukan sebagai orang yang mengejar dunia. Engkau kembali sebagai alat di tangan Allah.
“Apakah baqa’ berarti aku kembali seperti dahulu, Guru?”
“Tidak seperti dahulu, anakku. Orang yang kembali dari fanā’ itu tidak sama dengan orang yang belum pernah fana. Engkau seperti orang yang telah masuk ke dalam lautan. Lalu keluar dengan tubuh yang masih basah. Engkau tidak sama dengan orang yang hanya mendengar tentang lautan. Engkau telah merasakan kedalamannya. Dan sekarang engkau kembali ke pantai dengan membawa sesuatu yang tidak bisa dibawa oleh orang lain: ma‘rifah, Pengenalan.”
Salik mengangkat wajahnya. “Lalu apa yang harus aku lakukan dengan pengenalan itu, Guru?”
“Engkau harus kembali kepada manusia, anakku. Engkau harus kembali bekerja, kembali beribadah, kembali berinteraksi, kembali menanggung amanah. Tetapi engkau kembali bukan sebagai orang yang mencari pujian, bukan sebagai orang yang takut celaan, bukan sebagai orang yang mengejar dunia. Engkau kembali sebagai alat di tangan Allah.
Engkau kembali sebagai pena yang siap menulis apa yang diperintahkan. Engkau kembali sebagai bayangan yang siap mengikuti cahaya. Engkau kembali sebagai hamba, bukan sebagai tuan.”
“Tetapi Guru,” kata salik, “bukankah dunia ini penuh tipu daya? Bukankah lebih baik aku tinggal di ribat, menjauh dari manusia, dan beribadah sampai mati?”
Mursyid menggeleng. “Itu bukan baqa, anakku. Itu pelarian. Ketahuilah, bahwa orang yang telah fana lalu kembali ke dunia itu lebih mulia daripada orang yang tinggal di ribat tetapi belum pernah fana.
“Tetapi Guru,” kata salik, “bukankah dunia ini penuh tipu daya? Bukankah lebih baik aku tinggal di ribat, menjauh dari manusia, dan beribadah sampai mati?”
Mursyid menggeleng. “Itu bukan baqa, anakku. Itu pelarian. Ketahuilah, bahwa orang yang telah fana lalu kembali ke dunia itu lebih mulia daripada orang yang tinggal di ribat tetapi belum pernah fana.
Sebab orang yang kembali itu telah melihat bahwa dunia ini bukan tujuan. Tetapi ia juga melihat bahwa dunia ini adalah ladang. Ia tidak terikat pada dunia. Tetapi ia juga tidak meninggalkannya. Ia seperti orang yang berjalan di atas air. Ia tidak tenggelam. Tetapi ia juga tidak terbang. Ia berjalan dengan izin Allah.”
“Bagaimana aku bisa berjalan di atas air tanpa tenggelam, Guru?”
“Ada tiga penjaga, anakku. Pertama, syariat. Jangan engkau tinggalkan perintah dan larangan. Meskipun engkau telah melihat rahasia-rahasia. Orang yang telah sampai pada baqa justru semakin ketat menjaga syariat. Sebab ia tahu bahwa syariat itu adalah jalan yang Allah tetapkan. Bukan jalan yang ia ciptakan.
“Bagaimana aku bisa berjalan di atas air tanpa tenggelam, Guru?”
“Ada tiga penjaga, anakku. Pertama, syariat. Jangan engkau tinggalkan perintah dan larangan. Meskipun engkau telah melihat rahasia-rahasia. Orang yang telah sampai pada baqa justru semakin ketat menjaga syariat. Sebab ia tahu bahwa syariat itu adalah jalan yang Allah tetapkan. Bukan jalan yang ia ciptakan.
Kedua, khidmah: Pelayanan. Jangan engkau sibuk dengan penglihatanmu. Tetapi sibuklah dengan melayani manusia. Sebab orang yang telah melihat Allah tetapi tidak melayani manusia itu belum sempurna.
Ketiga, tawadhu‘: Kerendahan hati. Jangan engkau merasa bahwa engkau telah sampai. Tetapi merasa bahwa engkau masih dalam perjalanan. Orang yang merasa telah sampai itu berhenti; Orang yang merasa masih dalam perjalanan itu terus berjalan.”
Salik merenung. “Guru, aku merasa bahwa aku tidak lagi memiliki keinginan. Aku tidak ingin makan. Aku tidak ingin tidur. Aku tidak ingin berbicara. Apakah itu tanda baqa’?”
“Hati-hati, anakku. Itu bisa menjadi tanda baqa’. Bisa juga menjadi tanda kelemahan. Orang yang telah baqa tidak kehilangan keinginan. Tetapi keinginannya telah berubah.
Salik merenung. “Guru, aku merasa bahwa aku tidak lagi memiliki keinginan. Aku tidak ingin makan. Aku tidak ingin tidur. Aku tidak ingin berbicara. Apakah itu tanda baqa’?”
“Hati-hati, anakku. Itu bisa menjadi tanda baqa’. Bisa juga menjadi tanda kelemahan. Orang yang telah baqa tidak kehilangan keinginan. Tetapi keinginannya telah berubah.
Ia tidak lagi menginginkan dunia untuk dirinya. Tetapi ia menginginkan dunia untuk Allah. Ia makan bukan karena tubuhnya membutuhkan. Tetapi ia makan dengan niat agar kuat beribadah. Ia tidur bukan karena tubuhnya membutuhkan. Tetapi ia tidur dengan niat agar bangun untuk beribadah.
Ia berbicara karena manusia membutuhkan. Tetapi ia berbicara dengan niat agar manusia mengingat Allah. Keinginannya tidak hilang. Keinginannya telah disucikan.”
Mursyid mengambil sepotong roti dan menyerahkannya pada salik. “Makanlah, anakku. Jangan engkau meninggalkan makan karena engkau merasa telah fana. Tubuhmu adalah amanah. Bila engkau tidak menjaganya. Engkau tidak bisa beribadah. Orang yang telah baqa itu menjaga tubuhnya. Tetapi hatinya tidak terikat pada tubuhnya. Ia menjaga dunia. Tetapi hatinya tidak terikat pada dunia.”
Salik memakan roti itu perlahan. Ia merasakan sesuatu yang baru: ia makan, tetapi ia tidak merasa bahwa ia yang makan. Ia merasa bahwa Allah yang memberi makan. Dan ia hanya alat yang menerima. Ia makan dengan syukur. Bukan dengan tamak.
“Guru,” katanya, “bagaimana aku bisa mengetahui bahwa aku telah benar-benar baqa’?”
“Tandanya ada empat. Pertama, engkau kembali kepada manusia dengan hati yang penuh kasih. Bukan dengan hati yang penuh penghinaan. Engkau melihat manusia sebagai hamba-hamba Allah. Bukan sebagai orang-orang yang lebih rendah dari engkau.
Mursyid mengambil sepotong roti dan menyerahkannya pada salik. “Makanlah, anakku. Jangan engkau meninggalkan makan karena engkau merasa telah fana. Tubuhmu adalah amanah. Bila engkau tidak menjaganya. Engkau tidak bisa beribadah. Orang yang telah baqa itu menjaga tubuhnya. Tetapi hatinya tidak terikat pada tubuhnya. Ia menjaga dunia. Tetapi hatinya tidak terikat pada dunia.”
Salik memakan roti itu perlahan. Ia merasakan sesuatu yang baru: ia makan, tetapi ia tidak merasa bahwa ia yang makan. Ia merasa bahwa Allah yang memberi makan. Dan ia hanya alat yang menerima. Ia makan dengan syukur. Bukan dengan tamak.
“Guru,” katanya, “bagaimana aku bisa mengetahui bahwa aku telah benar-benar baqa’?”
“Tandanya ada empat. Pertama, engkau kembali kepada manusia dengan hati yang penuh kasih. Bukan dengan hati yang penuh penghinaan. Engkau melihat manusia sebagai hamba-hamba Allah. Bukan sebagai orang-orang yang lebih rendah dari engkau.
Kedua, engkau kembali bekerja dengan tekun, bukan dengan malas. Engkau tahu bahwa kerja itu adalah ibadah, dan engkau tahu bahwa Allah mencintai hamba yang bekerja dengan sungguh-sungguh.
Ketiga, engkau kembali beribadah dengan penuh kesadaran. Bukan dengan penuh kebanggaan. Engkau tahu bahwa ibadahmu adalah karunia. Engkau tahu bahwa engkau tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan.
Keempat, engkau kembali hidup dengan sederhana, bukan dengan mewah. Engkau tahu bahwa dunia ini adalah titipan. Engkau tahu bahwa titipan itu akan diambil kembali.”
Salik meneteskan air mata. “Ya Allah, aku ingin kembali, tetapi aku takut kembali.”
“Rasa takut itu adalah penjagamu, anakku. Orang yang takut kembali itu lebih dekat kepada keselamatan daripada orang yang merasa aman. Teruslah berjalan dengan adab.
Salik meneteskan air mata. “Ya Allah, aku ingin kembali, tetapi aku takut kembali.”
“Rasa takut itu adalah penjagamu, anakku. Orang yang takut kembali itu lebih dekat kepada keselamatan daripada orang yang merasa aman. Teruslah berjalan dengan adab.
Engkau telah melewati empat pintu tajalliy: tajalli dalam perbuatan, tajalli dalam nama dan sifat, tajalli dalam dzat, dan tajalli dalam baqa’.
Tetapi ketahuilah, bahwa pintu-pintu ini bukanlah tingkat-tingkat yang bisa engkau hitung dengan angka. Ia adalah lautan yang tidak bertepi.
Engkau bisa menyelam lebih dalam. Tetapi engkau tidak akan pernah mencapai dasarnya. Maka jangan engkau merasa bahwa engkau telah selesai. Engkau belum selesai. Engkau baru saja memulai.”
Mursyid bangkit, lalu berjalan ke pintu ribat. Beliau membukanya, dan cahaya pagi masuk membanjiri ruangan. “Lihatlah cahaya ini,” katanya. “Ia masuk ke dalam ribat, tetapi ia tidak berhenti di dalam. Ia menerangi, lalu ia keluar.
Mursyid bangkit, lalu berjalan ke pintu ribat. Beliau membukanya, dan cahaya pagi masuk membanjiri ruangan. “Lihatlah cahaya ini,” katanya. “Ia masuk ke dalam ribat, tetapi ia tidak berhenti di dalam. Ia menerangi, lalu ia keluar.
Begitu pula engkau. Engkau masuk ke dalam ribat untuk belajar. Lalu engkau keluar untuk mengajar. Engkau masuk untuk menerima. Lalu engkau keluar untuk memberi. Engkau masuk untuk fana. Lalu engkau keluar untuk baqa.”
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke pintu. Ia berdiri di ambang pintu. Memandang dunia yang terbentang di luar. Ia melihat jalan, sawah, pasar, manusia, dan langit yang luas.
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke pintu. Ia berdiri di ambang pintu. Memandang dunia yang terbentang di luar. Ia melihat jalan, sawah, pasar, manusia, dan langit yang luas.
Ia tidak lagi melihat dunia sebagai tempat yang menakutkan. Ia melihatnya sebagai ladang yang harus digarap. Ia tidak lagi melihat manusia sebagai ancaman. Ia melihat mereka sebagai saudara yang harus dilayani.
“Guru,” katanya, “aku akan pergi. Tetapi aku tidak tahu apakah aku akan kembali.”
Mursyid tersenyum. “Engkau tidak perlu kembali ke sini, anakku. Engkau hanya perlu kembali kepada Allah. Dan Allah itu ada di mana-mana. Engkau bisa menemukan-Nya di ribat, di pasar, di sawah, di rumah, di jalan. Maka pergilah, dan jadilah hamba yang baqa.
“Guru,” katanya, “aku akan pergi. Tetapi aku tidak tahu apakah aku akan kembali.”
Mursyid tersenyum. “Engkau tidak perlu kembali ke sini, anakku. Engkau hanya perlu kembali kepada Allah. Dan Allah itu ada di mana-mana. Engkau bisa menemukan-Nya di ribat, di pasar, di sawah, di rumah, di jalan. Maka pergilah, dan jadilah hamba yang baqa.
Jadilah pena yang menulis kebaikan. Jadilah bayangan yang mengikuti cahaya. Jadilah air yang meresap ke dalam tanah. Lalu menumbuhkan bunga-bunga kebaikan.”
Salik melangkah keluar. Ia tidak lagi merasa sebagai salik yang mencari. Ia merasa sebagai hamba yang telah menemukan. Ia tidak lagi merasa sebagai orang yang berjalan menuju Allah. Ia merasa sebagai orang yang berjalan bersama Allah.
Salik melangkah keluar. Ia tidak lagi merasa sebagai salik yang mencari. Ia merasa sebagai hamba yang telah menemukan. Ia tidak lagi merasa sebagai orang yang berjalan menuju Allah. Ia merasa sebagai orang yang berjalan bersama Allah.
Dan dalam langkahnya yang pertama di luar ribat, ia berbisik, “Ya Allah, Engkaulah Yang Awal, Engkaulah Yang Akhir, Engkaulah Yang Zahir, Engkaulah Yang Batin. Aku telah fana, dan Engkaulah Yang Baqa. Aku telah kembali, dan Engkaulah Yang Menyertai. Jadikanlah langkahku sebagai langkah yang Engkau ridhai. Dan jadikanlah hidupku sebagai hidup yang Engkau berkahi.”
Mursyid memandang dari pintu ribat, lalu berkata lirih, “Engkau telah sampai pada pintu keempat, anakku.
Mursyid memandang dari pintu ribat, lalu berkata lirih, “Engkau telah sampai pada pintu keempat, anakku.
Tetapi ketahuilah, bahwa pintu ini bukanlah akhir. Masih ada perjalanan yang lebih panjang. Engkau telah baqa, kini engkau harus terus berjalan. Engkau telah kembali, kini engkau harus terus kembali. Sebab perjalanan menuju Allah itu tidak pernah berakhir. Dan setiap akhir adalah awal yang baru.”
Dan salik pun berjalan menyusuri jalan yang berdebu. Menuju dunia yang menantinya. Ia tidak lagi membawa beban. Tetapi ia juga tidak lagi membawa kesombongan.
Dan salik pun berjalan menyusuri jalan yang berdebu. Menuju dunia yang menantinya. Ia tidak lagi membawa beban. Tetapi ia juga tidak lagi membawa kesombongan.
Ia membawa sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Sebuah cahaya yang menyala di dalam dadanya. Yang tidak berasal dari dirinya. Tetapi yang telah menjadi bagian dari dirinya.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Serial Tasawuf Takhalliy, Tahalliy dan Tajalliy telah Selesai
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Serial Tasawuf Takhalliy, Tahalliy dan Tajalliy telah Selesai
Insyaallah akan dilanjutkan Ngaji Al-Hikam dari Syekh Ahmad bin Atho'illah as-Sakandari.
Langganan:
Postingan (Atom)
Humor Paket Nestapa Indonesiaku
Berikut ini adalah 6 Paket Humor “Nestapa Indonesia". Tentu saja ini merupakan fiksi radikal satire. Radikal dalam arti mengkritik habi...
-
( Secangkir Anggur Merah, Edisi-62 ) Leaderline : Pandapotan Nasution. Pensiunan PT Telkom. Menangis di ruang sidang Mahkamah Konstitusi pad...
-
Islam (Arab: al-islām, الإسلام : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Agama in...



