Narasi Pembuka: Ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai dibahas manusia. Sebuah pertanyaan yang menggantung di langit teologi. Bagai bintang yang tak terjangkau. Namun cahayanya menuntun setiap pencari. Mungkinkah aku melihat Tuhanku? Bukan sekadar merasakan kehadiran-Nya dalam sujud. Bukan sekadar mendengar bisikan-Nya dalam doa. Tetapi melihat. Dengan mata. Dengan penglihatan. Dengan segala kapasitas persepsi yang dikaruniakan-Nya. Pertanyaan ini bukan pertanyaan iseng. Ia lahir dari kedalaman cinta yang paling murni. Dari jiwa yang tidak puas hanya dengan mengenal. Tetapi merindukan menatap.
Menjadi "Medan Pertempuran"
Rabi'ah al-Adawiyah, sufi perempuan yang namanya terukir dalam sejarah ketulusan. Pernah melantunkan syair yang mengguncang. Aku mencintai-Mu dengan dua cinta: Cinta karena rindu. Dan cinta karena Engkau layak dicintai.
Di sini, ru'yatullah (melihat Allah), bukan sekadar isu teologis yang diperdebatkan di menara-menara gading. Ia adalah telos. Ujung dari seluruh perjalanan spiritual. Puncak dari segala puncak kenikmatan.
Namun, justru karena pertanyaan ini begitu agung. Ia menjadi medan pertempuran paling berdarah dalam sejarah pemikiran Islam. Mu'tazilah dengan tegas menolaknya atas nama tanzih. Transendensi mutlak Allah. Ahlus Sunnah dengan tidak kurang tegas menetapkannya atas nama nash. Teks-teks suci yang tidak bisa ditawar.
Di Dunia: Cahaya yang Terlalu Terang untuk Dilihat
Mari kita mulai dari yang paling mendasar. Al-Qur'an, dalam Surah Al-A'raf ayat 143, mengabadikan sebuah momen yang mengguncang gunung Tursina.
Namun, justru karena pertanyaan ini begitu agung. Ia menjadi medan pertempuran paling berdarah dalam sejarah pemikiran Islam. Mu'tazilah dengan tegas menolaknya atas nama tanzih. Transendensi mutlak Allah. Ahlus Sunnah dengan tidak kurang tegas menetapkannya atas nama nash. Teks-teks suci yang tidak bisa ditawar.
Di Dunia: Cahaya yang Terlalu Terang untuk Dilihat
Mari kita mulai dari yang paling mendasar. Al-Qur'an, dalam Surah Al-A'raf ayat 143, mengabadikan sebuah momen yang mengguncang gunung Tursina.
Musa, kalimullah, yang berbicara langsung dengan Allah, memohon: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau."
Perhatikan: ini bukan permintaan orang awam. Ini permintaan seorang nabi yang telah menerima wahyu langsung. Jika ada manusia yang berhak melihat Allah di dunia, dialah Musa.
Namun jawaban Allah datang seperti palu godam: "Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku."
Ia adalah penafian yang bersifat abadi. Permanen. Tidak mungkin. Ini bukan kamu belum bisa. Bukan kamu tidak boleh. Tetapi kamu tidak akan pernah bisa.
Ia adalah penafian yang bersifat abadi. Permanen. Tidak mungkin. Ini bukan kamu belum bisa. Bukan kamu tidak boleh. Tetapi kamu tidak akan pernah bisa.
Allah kemudian menambahkan: "Tetapi lihatlah ke bukit itu. Jika ia tetap di tempatnya. Maka kamu akan dapat melihat-Ku."
Bukit itu pun hancur berkeping-keping. Dan Musa jatuh pingsan. Ini bukan sekadar penolakan. Ini adalah demonstrasi kosmik bahwa kapasitas manusia. Bahkan nabi sekalipun. Tidak sanggup menanggung tajalli Zat Ilahi dalam kondisi duniawinya.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dalam Al-Ghunyah, menegaskan: "Barangsiapa mengaku melihat Allah di dunia dengan mata kepala, maka ia telah kafir."
Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dalam Al-Ghunyah, menegaskan: "Barangsiapa mengaku melihat Allah di dunia dengan mata kepala, maka ia telah kafir."
Ini bukan pernyataan yang berlebihan. Ini konsekuensi logis dari ijma' yang telah mapan. Allah berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 103: لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ("Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu.")
Kesimpulan yang keras. Di dunia, ru'yatullah dengan mata kepala adalah kemustahilan mutlak. Tidak ada nabi, tidak ada wali, tidak ada siapa pun yang bisa melakukannya. Yang mungkin, dan ini pun hanya bagi hamba-hamba pilihan. Adalah ru'yatul qalb. Atau ma'rifah yang tidak terjangkau oleh bahasa.
Di Akhirat: Janji yang Tak Terbantahkan
Jika di dunia pintu itu tertutup rapat. Bagaimana dengan akhirat? Di sinilah pertempuran teologis mencapai puncaknya. Ahlus Sunnah menetapkan dengan tegas: Orang-orang mukmin akan melihat Allah di akhirat dengan mata kepala. Tanpa penghalang. Tanpa keraguan.
Dalil pertama, dan yang paling sentral, adalah Surah Al-Qiyamah ayat 22-23:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ . إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat."
Kata نَاظِرَة (nazhirah) berasal dari akar kata nazhara, yang berarti melihat. Dalam konteks ini, ia dihubungkan dengan إِلَى (ila). Kata depan yang menunjukkan arah pandangan.
Kesimpulan yang keras. Di dunia, ru'yatullah dengan mata kepala adalah kemustahilan mutlak. Tidak ada nabi, tidak ada wali, tidak ada siapa pun yang bisa melakukannya. Yang mungkin, dan ini pun hanya bagi hamba-hamba pilihan. Adalah ru'yatul qalb. Atau ma'rifah yang tidak terjangkau oleh bahasa.
Di Akhirat: Janji yang Tak Terbantahkan
Jika di dunia pintu itu tertutup rapat. Bagaimana dengan akhirat? Di sinilah pertempuran teologis mencapai puncaknya. Ahlus Sunnah menetapkan dengan tegas: Orang-orang mukmin akan melihat Allah di akhirat dengan mata kepala. Tanpa penghalang. Tanpa keraguan.
Dalil pertama, dan yang paling sentral, adalah Surah Al-Qiyamah ayat 22-23:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ . إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat."
Kata نَاظِرَة (nazhirah) berasal dari akar kata nazhara, yang berarti melihat. Dalam konteks ini, ia dihubungkan dengan إِلَى (ila). Kata depan yang menunjukkan arah pandangan.
Dalam bahasa Arab, ketika nazhara diikuti oleh ila, ia berarti "melihat dengan mata". Imam Asy'ari, dalam Al-Ibanah, menegaskan: Kata nazhirah adalah ra'iyah yang berarti melihat.
Dalil kedua, dan ini yang paling qath'i, adalah hadis-hadis mutawatir yang tidak terhitung jumlahnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ
"Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Kalian tidak akan kesulitan dalam melihat-Nya."
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan lainnya. Dari berbagai jalur yang mencapai derajat mutawatir. Dan yang lebih menohok: Allah sendiri membedakan antara orang mukmin dan orang kafir dalam hal ini.
Dalil kedua, dan ini yang paling qath'i, adalah hadis-hadis mutawatir yang tidak terhitung jumlahnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ
"Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Kalian tidak akan kesulitan dalam melihat-Nya."
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan lainnya. Dari berbagai jalur yang mencapai derajat mutawatir. Dan yang lebih menohok: Allah sendiri membedakan antara orang mukmin dan orang kafir dalam hal ini.
Dalam Surah Al-Mutaffifin ayat 15, Allah berfirman tentang orang-orang kafir: كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ—("Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.")
Perhatikan logikanya. Jika tidak ada seorang pun yang bisa melihat Allah. Maka tidak ada gunanya Allah menyebut secara khusus bahwa orang kafir terhalang. Penghalangan hanya bermakna jika ada yang tidak terhalang.
Perhatikan logikanya. Jika tidak ada seorang pun yang bisa melihat Allah. Maka tidak ada gunanya Allah menyebut secara khusus bahwa orang kafir terhalang. Penghalangan hanya bermakna jika ada yang tidak terhalang.
Imam Syafi'i, dengan kecerdasan yang tajam, menangkap isyarat ini: "Ketika Allah menghalangi suatu kaum dengan kemurkaan-Nya, itu menunjukkan bahwa kaum yang lain melihat-Nya dengan keridhaan-Nya."
Mengapa Ini Penting?
Mengapa kita harus keras dalam mempertahankan doktrin ru'yatullah? Jawabannya sederhana: Karena ru'yatullah adalah puncak dari seluruh janji Allah kepada orang-orang beriman.
Mengapa Ini Penting?
Mengapa kita harus keras dalam mempertahankan doktrin ru'yatullah? Jawabannya sederhana: Karena ru'yatullah adalah puncak dari seluruh janji Allah kepada orang-orang beriman.
Allah berfirman dalam Surah Yunus ayat 26: لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ—{"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan ziyadah (tambahan)}." Para mufasir menafsirkan ziyadah sebagai melihat wajah Allah. Inilah kenikmatan yang melampaui surga itu sendiri.
Jika ru'yatullah hanya sekadar "pengetahuan" atau "keyakinan", maka tidak ada bedanya dengan iman di dunia. Tetapi ru'yatullah adalah transisi dari iman ke penglihatan. Dari keyakinan ke kepastian. Dari kerinduan ke pertemuan. Inilah yang membuat seluruh perjalanan hidup manusia bermakna.
Di dunia, kita tidak akan pernah melihat Allah. Di akhirat, orang-orang mukmin akan melihat Allah. Tetapi di antara keduanya. Antara penafian di dunia dan penetapan di akhirat. Ada ruang bagi kerinduan.
Jika ru'yatullah hanya sekadar "pengetahuan" atau "keyakinan", maka tidak ada bedanya dengan iman di dunia. Tetapi ru'yatullah adalah transisi dari iman ke penglihatan. Dari keyakinan ke kepastian. Dari kerinduan ke pertemuan. Inilah yang membuat seluruh perjalanan hidup manusia bermakna.
Di dunia, kita tidak akan pernah melihat Allah. Di akhirat, orang-orang mukmin akan melihat Allah. Tetapi di antara keduanya. Antara penafian di dunia dan penetapan di akhirat. Ada ruang bagi kerinduan.
Ruang bagi doa. Ruang bagi air mata yang jatuh dalam sujud. Bukan karena kita telah melihat. Tetapi karena kita belum melihat. Dan justru dalam kerinduan itulah, kita menemukan makna sejati dari iman.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang tidak hanya mengenal-Mu. Tetapi merindukan-Mu. Aamiin Ya Allahu Ya Robbal Alamin.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang tidak hanya mengenal-Mu. Tetapi merindukan-Mu. Aamiin Ya Allahu Ya Robbal Alamin.



