Selasa, 21 April 2026

Ketika Mengharamkan Tanpa Dalil



Mengharamkan sesuatu tanpa dalil yang jelas menunjukkan keharamannya adalah Bid'ah Dholalah, hukumnya haram, karena membuat syariat baru. Tapi sangat digemari oleh Wahabi.

Dalam ilmu fiqih perkara "mengharam-haramkan sesuatu" tanpa dalil, konsekuensinya tidak ringan. Bahkan Rasulullah ﷺ pernah ditegur Allah ketika melakukannya:

"Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu?" (QS. At-Tahrim: 1)

Bayangkan, Rasulullah ﷺ saja ditegur, apalagi kita.

Ketika Sahabat Nabi mengharamkan sesuatu yang tidak di haramkan Allah, Allah langsung menegurnya.

Dari Ibnu Abbas, seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
"Wahai Rasulullah, jika aku makan daging, hasratku kepada wanita memuncak. Karena itu, aku mengharamkan daging atas diriku."

Maka turunlah firman Allah:"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu." (QS. Al-Maidah: 87) [Tafsir Ibnu Katsir]

Lihat, bukan Rasul yg menjawabnya. Melainkan Allah langsung yg menjawab, menunjukkan beratnya persoalan mengharamkan sesuatu itu.

Sahabat Nabi Mengharamkan Kasur

Ma’qal bin Muqarrin berkata kepada Abdullah bin Mas’ud:
"Aku mengharamkan tempat tidurku (kasur empuk)."
Ibnu Mas’ud lantas membacakan QS. Al-Maidah: 87 dan menegurnya.
[HR. Bukhari-Muslim]

Allah sangat murka kepada mereka yang mudah mengharamkan sesuatu. Berikut ancaman dan teguran-Nya:

1. Dianggap Menyekutukan Allah dengan menyembah Ulama
"Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah." (QS. At-Taubah: 31)

Adi bin Hatim ra sebelum masuk Islamnya cukup dekat dengan kaum Nasrani. Kala itu ia pernah mendatangi Rasulullah saw untuk menanyakan QS. At-Taubah 31 tersebut. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (kaum nasrani) itu tidak menyembah para pastor dan pendeta"

Rasulullah saw menjawab : "Bukankah mereka telah menghalalkan untuk kalian apa yang Allah haramkan sehingga kalianpun menghalalkannya?,

Adi bin Hatim menjawab : "Benar"

Rasulullah saw bertanya lagi : "Bukankah mereka juga mengharamkan apa yang Allah halalkan sehingga kalian mengharamkannya?"

Adi bin Hatim berkata : "Benar".

Rasulullah saw berkata : "Itulah yang dimaksud menyembah mereka" (H.R. Tirmidzi dan Ahmad)

2. Kecaman keras Allah terhadap mereka yang berani mengharamkan dan menghalalkan tanpa seizin-Nya.

"Katakanlah, "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (menjadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal) ataukah kamu mengada-ada atas nama Allah?"(QS Yunus: 59)

3. Allah swt mengatakan mereka telah berdusta atas nama-Nya, mengada-adakan kebohongan terhadap-Nya dan Allah mengancam orang seperti ini tidak akan beruntung.

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram," untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung" (QS. An-Nahl Ayat 116)

Contoh Sikap Hati-Hati Para Sahabat dan Ulama terhadap hal itu.

"Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berani mengeluarkan fatwa terhadap suatu permasalahan, jika hal tersebut sampai kepada Sayyidina Umar bin Khattab, maka beliau akan mengumpulkan para Ahlul Badar (para sahabat yang pernah ikut serta dalam perang badar)” (Kitab Kanzul Ummal juz 5 hal 241).

Ibnu Abi Layla berkata:

“Sesungguhnya aku mengetahui 120 orang sahabat Rasulullah SAW dari golongan Anshar, salah seorang dari mereka ketika ditanya tentang hukum (Halam Haram) suatu permasalahan, maka ia akan melemparkan pertanyaan tersebut kepada lainnya, dan begitu seterusnya (saling melempar) kepada yang lainnya, hingga pertanyaan tersebut kembali lagi kepadanya (orang yang ditanya pertama kali)” (Riwayat Imam Ibnu Saad dalam Thabaqat al Kubra juz 6 hal 110, Imam Darimi dalam Sunan 1/53, Imam Ibnu Abdilbarr dalam Jami'ul Bayan Al ilmi wa Fadhlihi Juz 1 hal177)

Anak Abdullah bin Umar pernah dikritik ketika tidak menjawab "ini hukumnya haram". Beliau tidak menjawab satu pertanyaan pun karena sikap hati-hatinya.
Orang-orang heran, "bagaimana mungkin orang sepertimu, anak seorang pemimpin di dalam ilmu yang memberikan petunjuk, ketika ditanya sebuah perkara, dan anda tidak bisa menjawabnya?".

Anak Abdullah bin Umar ra menjawab: "Demi Allah, sungguh aku merasa lebih heran lagi, di sisi Allah dan bagi mereka yang mengenal Allah, dan bagi orang yang mengetahui Allah, aku mengatakan sesuatu yang aku tidak memilki ilmu akannya atau aku diberitahukan dari orang yang tidak dipercaya". [Musnad Syafi'i]

Imam Malik berkata:

"Aku tidak akan bersedia memberikan fatwa apapun, sebelum ada 70 orang Alim Madinah yang bersaksi bahwa aku memenuhi syarat untuk itu.
[Riwayat Imam Al-Khatib al-Baghdadi dalam Al Faqih wal Mutafaqqih]
Imam Syafi'i menceritakan:

"Sesungguhnya guru dari guruku, Qadhi Abu Yusuf (murid Abu Hanifah yang sangat terkenal itu), pernah berkata, "Aku jumpai guru-guruku dari para ahli ilmu, bahwa mereka itu tidak suka berfatwa mengatakan ini halal dan ini haram, kecuali menurut apa yang terdapat dalam Al-Quran dengan tegas tanpa memerlukan tafsiran.”
[Al-Umm]

Imam Ahmad bin Hanbal banyak berkata:

"Saya tidak mengetahui hukum keharamannya" [Al-Atsram]
Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal adalah Imam 3 mazhab, tidak berani mengharamkan begitu mudah, tapi wahabi sangat berani, untuk itu kita sangat salut sama mereka.

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat lain yg bisa kita temukan dari ribuan kitab yg mengabarkan hal serupa.

Saking beratnya perkara ini, Rasulullah saw berkali-kali mengingatkannya.

Rasulullah SAW bersabda :

"Ketika orang-orang bodoh ditanyai tentang masalah agama mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan" (HR Bukhari dan Muslim)
“Siapa yang diberi fatwa tanpa landasan ilmu, maka dosanya atas orang yang memberi fatwa”. (HR Abu Daud)

“Barangsiapa berfatwa tanpa ilmu, maka dilaknat oleh Malaikat langit dan bumi.” (HR Ibnu Asakir)

"Orang yang paling berani di antara kalian dalam berfatwa adalah orang yang paling berani masuk neraka" (HR Darimi)

Meskipun demikian, namun nyatanya hal ini dijadikan hobi oleh Wahabi.
Wallahu a’lam bish-shawwab.
(unknow/facebook/04/26)

Kamis, 16 April 2026

Sejarah Berdirinya Kerajaan Saudi



Dr. Abdullah Mohammad Sindi di dalam sebuah artikelnya yang berjudul : Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud menyajikan tinjauan ulang tentang sejarah Wahabisme, peran Pemerintah Inggeris di dalam perkembangannya, dan hubungannya dengan peran keluarga kerajaan Saudi. “Salah satu sekte Islam yang paling kaku dan paling reaksioner saat ini adalah Wahabi,” demikian tulis Dr. Abdullah Mohammad Sindi dalam pembukaan artikelnya tersebut. Dan kita tahu bahwa Wahabi adalah ajaran resmi Kerajaaan Saudi Arabia, tambahnya.

Wahabisme dan keluarga Kerajaan Saudi telah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sejak kelahiran keduanya. Wahabisme-lah yang telah menciptakan kerajaan Saudi, dan sebaliknya keluarga Saud membalas jasa itu dengan menyebarkan paham Wahabi ke seluruh penjuru dunia. One could not have existed without the other – Sesuatu tidak dapat terwujud tanpa bantuan sesuatu yang lainnya.

Wahhabisme memberi legitimasi bagi Istana Saud, dan Istana Saud memberi perlindungan dan mempromosikan Wahabisme ke seluruh penjuru dunia. Keduanya tak terpisahkan, karena keduanya saling mendukung satu dengan yang lain dan kelangsungan hidup keduanya bergantung padanya.

Tidak seperti negeri-negeri Muslim lainnya, Wahabisme memperlakukan perempuan sebagai warga kelas tiga, membatasi hak-hak mereka seperti : menyetir mobil, bahkan pada dekade lalu membatasi pendidikan mereka.

Juga tidak seperti di negeri-negeri Muslim lainnya, Wahabisme :

  • Melarang perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw
  • Melarang kebebasan berpolitik dan secara konstan mewajibkan rakyat untuk patuh secara mutlak kepada pemimpin-pemimpin mereka.
  • Melarang mendirikan bioskop sama sekali.
  • Menerapkan hukum Islam hanya atas rakyat jelata, dan membebaskan hukum atas kaum bangsawan, kecuali karena alasan politis.
  • Mengizinkan perbudakan sampai tahun ’60-an.Mereka juga menyebarkan mata-mata atau agen rahasia yang selama 24 jam memonitor demi mencegah munculnya gerakan anti-kerajaan.

Wahabisme juga sangat tidak toleran terhadap paham Islam lainnya, seperti terhadap Syi’ah dan Sufisme (Tasawuf). Wahabisme juga menumbuhkan rasialisme Arab pada pengikut mereka. Tentu saja rasialisme bertentangan dengan konsep Ummah Wahidah di dalam Islam.

Wahhabisme juga memproklamirkan bahwa hanya dia saja-lah ajaran yang paling benar dari semua ajaran-ajaran Islam yang ada, dan siapapun yang menentang Wahabisme dianggap telah melakukan BID’AH dan KAFIR!

LAHIRNYA AJARAN WAHABI

Wahhabisme atau ajaran Wahabi muncul pada pertengahan abad 18 di Dir’iyyah sebuah dusun terpencil di Jazirah Arab, di daerah Najd.

Kata Wahabi sendiri diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul-Wahhab (1703-92). Laki-laki ini lahir di Najd, di sebuah dusun kecil Uyayna. Ibn Abdul-Wahhab adalah seorang mubaligh yang fanatik, dan telah menikahi lebih dari 20 wanita (tidak lebih dari 4 pada waktu bersamaan) dan mempunyai 18 orang anak. 2]

Sebelum menjadi seorang mubaligh, Ibn Abdul-Wahhab secara ekstensif mengadakan perjalanan untuk keperluan bisnis, pelesiran, dan memperdalam agama ke Hijaz, Mesir, Siria, Irak, Iran, dan India.

Hempher mata-mata Inggris

Walaupun Ibn Abdul-Wahhab dianggap sebagai Bapak Wahabisme, namun aktualnya Kerajaan Inggris-lah yang membidani kelahirannya dengan gagasan-gagasan Wahabisme dan merekayasa Ibn Abdul-Wahhab sebagai Imam dan Pendiri Wahabisme, untuk tujuan menghancurkan Islam dari dalam dan meruntuhkan Daulah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki. Seluk-beluk dan rincian tentang konspirasi Inggeris dengan Ibn Abdul-Wahhab ini dapat Anda temukan di dalam memoar Mr. Hempher : “Confessions of a British Spy”

Selagi di Basra, Iraq, Ibn Abdul-Wahhab muda jatuh dalam pengaruh dan kendali seorang mata-mata Inggris yang dipanggil dengan nama Hempher yang sedang menyamar (undercover), salah seorang mata-mata yang dikirim London untuk negeri-negeri Muslim (di Timur Tengah) dengan tujuan menggoyang Kekhalifahan Utsmaniyyah dan menciptakan konflik di antara sesama kaum Muslim. Hempher pura-pura menjadi seorang Muslim, dan memakai nama Muhammad, dan dengan cara yang licik, ia melakukan pendekatan dan persahabatan dengan Ibn Abdul-Wahhab dalam waktu yang relatif lama.

Hempher, yang memberikan Ibn Abdul-Wahhab uang dan hadiah-hadiah lainnya, mencuci-otak Ibn Abdul-Wahhab dengan meyakinkannya bahwa : Orang-orang Islam mesti dibunuh, karena mereka telah melakukan penyimpangan yang berbahaya, mereka – kaum Muslim – telah keluar dari prinsip-prinsip Islam yang mendasar, mereka semua telah melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah dan syirik.

Hempher juga membuat-buat sebuah mimpi liar (wild dream) dan mengatakan bahwa dia bermimpi Nabi Muhammad Saw mencium kening (di antara kedua mata) Ibn Abdul-Wahhab, dan mengatakan kepada Ibn Abdul-Wahhab, bahwa dia akan jadi orang besar, dan meminta kepadanya untuk menjadi orang yang dapat menyelamatkan Islam dari berbagai bid’ah dan takhayul.

Setelah mendengar mimpi liar Hempher, Ibn Abdul-Wahhab jadi ge-er (wild with joy) dan menjadi terobsesi, merasa bertanggung jawab untuk melahirkan suatu aliran baru di dalam Islam yang bertujuan memurnikan dan mereformasi Islam.

Di dalam memoarnya, Hempher menggambarkan Ibn Abdul-Wahhab sebagai orang yang berjiwa “sangat tidak stabil” (extremely unstable), “sangat kasar” (extremely rude), berakhlak bejat (morally depraved), selalu gelisah (nervous), congkak (arrogant), dan dungu (ignorant).

Mata-mata Inggeris ini, yang memandang Ibn Abdul-Wahhab sebagai seorang yang bertipikal bebal/dungu (typical fool), juga mengatur pernikahan mut’ah bagi Ibn Abdul Wahhab dengan 2 wanita Inggeris yang juga mata-mata yang sedang menyamar.

Wanita pertama adalah seorang wanita beragama Kristen dengan panggilan Safiyya. Wanita ini tinggal bersama Ibn Abdul Wahhab di Basra. Wanita satunya lagi adalah seorang wanita Yahudi yang punya nama panggilan Asiya. Mereka menikah di Shiraz, Iran.

KERAJAAN SAUDI-WAHHABI PERTAMA : 1744-1818

Setelah kembali ke Najd dari perjalanannya, Ibn Abdul-Wahhab mulai “berdakwah” dengan gagasan-gagasan liarnya di Uyayna. Bagaimana pun, karena “dakwah”-nya yang keras dan kaku, dia diusir dari tempat kelahirannya.

Dia kemudian pergi berdakwah di dekat Dir’iyyah, di mana sahabat karibnya, Hempher dan beberapa mata-mata Inggeris lainnya yang berada dalam penyamaran ikut bergabung dengannya.

Dia juga tanpa ampun membunuh seorang pezina penduduk setempat di hadapan orang banyak dengan cara yang sangat brutal, menghajar kepala pezina dengan batu besar

Padahal, hukum Islam tidak mengajarkan hal seperti itu, beberapa hadis menunjukkan cukup dengan batu-batu kecil. Para ulama Islam (Ahlus Sunnah) tidak membenarkan tindakan Ibn Abdul-Wahhab yang sangat berlebihan seperti itu.

Walaupun banyak orang yang menentang ajaran Ibn Abdul-Wahhab yang keras dan kaku serta tindakan-tindakannya, termasuk ayah kandungnya sendiri dan saudaranya Sulaiman Ibn Abdul-Wahhab, – keduanya adalah orang-orang yang benar-benar memahami ajaran Islam -, dengan uang,mata-mata Inggeris telah berhasil membujuk Syeikh Dir’iyyah, Muhammad Saud untuk mendukung Ibn Abdul-Wahhab.

Pada 1744, al-Saud menggabungkan kekuatan dengan Ibn Abdul-Wahhab dengan membangun sebuah aliansi politik, agama dan perkawinan. Dengan aliansi ini, antara keluarga Saud dan Ibn Abdul-Wahhab, yang hingga saat ini masih eksis, Wahhabisme sebagai sebuah “agama” dan gerakan politik telah lahir!

Dengan penggabungan ini setiap kepala keluarga al-Saud beranggapan bahwa mereka menduduki posisi Imam Wahhabi (pemimpin agama), sementara itu setiap kepala keluarga Wahhabi memperoleh wewenang untuk mengontrol ketat setiap penafsiran agama (religious interpretation).

Mereka adalah orang-orang bodoh, yang melakukan kekerasan, menumpahkan darah, dan teror untuk menyebarkan paham Wahabi (Wahhabism) di Jazirah Arab. Sebagai hasil aliansi Saudi-Wahhabi pada 1774, sebuah kekuatan angkatan perang kecil yang terdiri dari orang-orang Arab Badui terbentuk melalui bantuan para mata-mata Inggeris yang melengkapi mereka dengan uang dan persenjataan.

Sampai pada waktunya, angkatan perang ini pun berkembang menjadi sebuah ancaman besar yang pada akhirnya melakukan teror di seluruh Jazirah Arab sampai ke Damaskus (Suriah), dan menjadi penyebab munculnya Fitnah Terburuk di dalam Sejarah Islam (Pembantaian atas Orang-orang Sipil dalam jumlah yang besar).

Dengan cara ini, angkatan perang ini dengan kejam telah mampu menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab untuk menciptakan Negara Saudi-Wahhabi yang pertama.

Sebagai contoh, untuk memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai syirik dan bid’ah yang dilakukan oleh kaum Muslim, Saudi-Wahhabi telah mengejutkan seluruh dunia Islam pada 1801, dengan tindakan brutal menghancurkan dan menodai kesucian makam Imam Husein bin Ali (cucu Nabi Muhammad Saw) di Karbala, Irak. Mereka juga tanpa ampun membantai lebih dari 4.000 orang di Karbala dan merampok lebih dari 4.000 unta yang mereka bawa sebagai harta rampasan.

Sekali lagi, pada 1810, mereka, kaum Wahabi dengan kejam membunuh penduduk tak berdosa di sepanjang Jazirah Arab. Mereka menggasak dan menjarah banyak kafilah peziarah dan sebagian besar di kota-kota Hijaz, termasuk 2 kota suci Makkah dan Madinah.

Di Makkah, mereka membubarkan para peziarah, dan di Madinah, mereka menyerang dan menodai Masjid Nabawi, membongkar makam Nabi, dan menjual serta membagi-bagikan peninggalan bersejarah dan permata-permata yang mahal.

Para teroris Saudi-Wahhabi ini telah melakukan tindak kejahatan yang menimbulkan kemarahan kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk Kekhalifahan Utsmaniyyah di Istanbul.

Sebagai penguasa yang bertanggung jawab atas keamanan Jazirah Arab dan penjaga masjid-masjid suci Islam, Khalifah Mahmud II memerintahkan sebuah angkatan perang Mesir dikirim ke Jazirah Arab untuk menghukum klan Saudi-Wahhabi.

Pada 1818, angkatan perang Mesir yang dipimpin Ibrahim Pasha (putra penguasa Mesir) menghancurkan Saudi-Wahhabi dan meratakan dengan tanah ibu kota Dir’iyyah .

Imam kaum Wahhabi saat itu, Abdullah al-Saud dan dua pengikutnya dikirim ke Istanbul dengan dirantai dan di hadapan orang banyak, mereka dihukum pancung. Sisa klan Saudi-Wahhabi ditangkap di Mesir.

KERAJAAN SAUDI-WAHHABI KE-II : 1843-1891

“Walaupun kebengisan fanatis Wahabisme berhasil dihancurkan pada 1818, namun dengan bantuan Kolonial Inggeris, mereka dapat bangkit kembali. Setelah pelaksanaan hukuman mati atas Imam Abdullah al-Saud di Turki, sisa-sisa klan Saudi-Wahhabi memandang saudara-saudara Arab dan Muslim mereka sebagai musuh yang sesungguhnya (their real enemies) dan sebaliknya mereka menjadikan Inggris dan Barat sebagai sahabat sejati mereka.” Demikian tulis Dr. Abdullah Mohammad Sindi.

Maka ketika Inggris menjajah Bahrain pada 1820 dan mulai mencari jalan untuk memperluas area jajahannya, Dinasti Saudi-Wahhabi menjadikan kesempatan ini untuk memperoleh perlindungan dan bantuan Inggeris.

Pada 1843, Imam Wahhabi, Faisal Ibn Turki al-Saud berhasil melarikan diri dari penjara di Cairo dan kembali ke Najd. Imam Faisal kemudian mulai melakukan kontak dengan Pemerintah Inggeris. Pada 1848, dia memohon kepada Residen Politik Inggeris (British Political Resident) di Bushire agar mendukung perwakilannya di Trucial Oman. Pada 1851, Faisal kembali memohon bantuan dan dukungan Pemerintah Inggeris. 10]

Dan hasilnya, Pada 1865, Pemerintah Inggeris mengirim Kolonel Lewis Pelly ke Riyadh untuk mendirikan sebuah kantor perwakilan Pemerintahan Kolonial Inggeris dengan perjanjian (pakta) bersama Dinasti Saudi-Wahhabi.

Untuk mengesankan Kolonel Lewis Pelly bagaimana bentuk fanatisme dan kekerasan Wahhabi, Imam Faisal mengatakan bahwa perbedaan besar dalam strategi Wahhabi : antara perang politik dengan perang agama adalah bahwa nantinya tidak akan ada kompromi, kami membunuh semua orang . 11]

Pada 1866, Dinasti Saudi-Wahhabi menandatangani sebuah perjanjian “persahabatan” dengan Pemerintah Kolonial Inggeris, sebuah kekuatan yang dibenci oleh semua kaum Muslim, karena kekejaman kolonialnya di dunia Muslim.

Perjanjian ini serupa dengan banyak perjanjian tidak adil yang selalu dikenakan kolonial Inggeris atas boneka-boneka Arab mereka lainnya di Teluk Arab (sekarang dikenal dengan : Teluk Persia).

Sebagai pertukaran atas bantuan pemerintah kolonial Inggeris yang berupa uang dan senjata, pihak Dinasti Saudi-Wahhabi menyetujui untuk bekerja-sama/berkhianatdengan pemerintah kolonial Inggeris yaitu : pemberian otoritas atau wewenang kepada pemerintah kolonial Inggris atas area yang dimilikinya.

Perjanjian yang dilakukan Dinasti Saudi-Wahhabi dengan musuh paling getir bangsa Arab dan Islam (yaitu : Inggris), pihak Dinasti Saudi-Wahhabi telah membangkitkan kemarahan yang hebat dari bangsa Arab dan Muslim lainnya, baik negara-negara yang berada di dalam maupun yang diluar wilayah Jazirah Arab.

Dari semua penguasa Muslim, yang paling merasa disakiti atas pengkhianatan Dinasti Saudi-Wahhabi ini adalah seorang patriotik bernama al-Rasyid dari klan al-Hail di Arabia tengah dan pada 1891, dan dengan dukungan orang-orang Turki, al-Rasyid menyerang Riyadh lalu menghancurkan klan Saudi-Wahhabi.

Bagaimanapun, beberapa anggota Dinasti Saudi-Wahhabi sudah mengatur untuk melarikan diri; di antara mereka adalah Imam Abdul-Rahman al-Saud dan putranya yang masih remaja, Abdul-Aziz. Dengan cepat keduanya melarikan diri ke Kuwait yang dikontrol Kolonial Inggeris, untuk mencari perlindungan dan bantuan Inggeris.

KERAJAAN SAUDI-WAHHABI KE III (SAUDI ARABIA) : Sejak 1902

Ketika di Kuwait, Sang Wahhabi, Imam Abdul-Rahman dan putranya, Abdul-Aziz menghabiskan waktu mereka “menyembah-nyembah” tuan Inggris mereka dan memohon-mohon akan uang, persenjataan serta bantuan untuk keperluan merebut kembali Riyadh. Namun pada akhir penghujung 1800-an, usia dan penyakit nya telah memaksa Abdul-Rahman untuk mendelegasikan Dinasti Saudi Wahhabi kepada putranya, Abdul-Aziz, yang kemudian menjadi Imam Wahhabi yang baru.

Melalui strategi licin kolonial Inggeris di Jazirah Arab pada awal abad 20, yang dengan cepat menghancurkan Kekhalifahan Islam Utsmaniyyah dan sekutunya klan al-Rasyid secara menyeluruh, kolonial Inggeris langsung memberi sokongan kepada Imam baru Wahhabi Abdul-Aziz.

Dibentengi dengan dukungan kolonial Inggeris, uang dan senjata, Imam Wahhabi yang baru, pada 1902 akhirnya dapat merebut Riyadh. Salah satu tindakan biadab pertama Imam baru Wahhabi ini setelah berhasil menduduki Riyadh adalah menteror penduduknya dengan memaku kepala al-Rasyid pada pintu gerbang kota. Abdul-Aziz dan para pengikut fanatik Wahhabinya juga membakar hidup-hidup 1.200 orang sampai mati. 12]

Imam Wahhabi Abdul-Aziz yang dikenal di Barat sebagai Ibn Saud, sangat dicintai oleh majikan Inggrisnya. Banyak pejabat dan utusan Pemerintah Kolonial Inggeris di wilayah Teluk Arab sering menemui atau menghubunginya, dan dengan murah-hati mereka mendukungnya dengan uang, senjata dan para penasihat. Sir Percy Cox, Captain Prideaux, Captain Shakespeare, Gertrude Bell, dan Harry Saint John Philby (yang dipanggil “Abdullah”) adalah di antara banyak pejabat dan penasihat kolonial Inggris yang secara rutin mengelilingi Abdul-Aziz demi membantunya memberikan apa pun yang dibutuhkannya.

Dengan senjata, uang dan para penasihat dari Inggris, berangsur-angsur Imam Abdul-Aziz dengan bengis dapat menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab di bawah panji-panji Wahhabisme untuk mendirikan Kerajaan Saudi-Wahhabi ke-3, yang saat ini disebut Kerajaan Saudi Arabia.

Ketika mendirikan Kerajaan Saudi, Imam Wahhabi, Abdul-Aziz beserta para pengikut fanatiknya, dan para “tentara Tuhan”, melakukan pembantaian yang mengerikan, khususnya di daratan suci Hijaz. Mereka mengusir penguasa Hijaz, Syarif, yang merupakan keturunan Nabi Muhammad Saw.

Pada May 1919, di Turbah, pada tengah malam dengan cara pengecut dan buas mereka menyerang angkatan perang Hijaz, membantai lebih 6.000 orang.

Dan sekali lagi, pada bulan Agustus 1924, sama seperti yang dilakukan orang barbar, tentara Saudi-Wahabi mendobrak memasuki rumah-rumah di Hijaz, kota Taif, mengancam mereka, mencuri uang dan persenjataan mereka, lalu memenggal kepala anak-anak kecil dan orang-orang yang sudah tua, dan mereka pun merasa terhibur dengan raung tangis dan takut kaum wanita. Banyak wanita Taif yang segara meloncat ke dasar sumur air demi menghindari pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan tentara-tentara Saudi-Wahhabi yang bengis.

Tentara primitif Saudi-Wahhabi ini juga membunuhi para ulama dan orang-orang yang sedang melakukan shalat di masjid; hampir seluruh rumah-rumah di Taif diratakan dengan tanah; tanpa pandang bulu mereka membantai hampir semua laki-laki yang mereka temui di jalan-jalan; dan merampok apa pun yang dapat mereka bawa. Lebih dari 400 orang tak berdosa ikut dibantai dengan cara mengerikan di Taif.

________________________________________

* Dr. Abdullah Mohammad Sindi adalah seorang profesor Hubungan Internasional (professor of International Relations) berkebangsaan campuran Saudi-Amerika. Dia memperoleh titel BA dan MA nya di California State University, Sacramento, dan titel Ph.D. nya di the University of Southern California. Dia juga seorang profesor di King Abdulaziz University di Jeddah, Saudi Arabia. Dia juga mengajar di beberapa universitas dan college Amerika termasuk di : the University of California di Irvine, Cal Poly Pomona, Cerritos College, and Fullerton College. Dia penulis banyak artikel dalam bahasa Arab maupun bahasa Inggeris. Bukunya antara lain : The Arabs and the West: The Contributions and the Inflictions.

Catatan Kaki:

[1] Banyak orang-orang yang belajar Wahabisme (seperti di Jakarta di LIPIA) yang menjadi para pemuja syekh-syekh Arab, menganggap bangsa Arab lebih unggul dari bangsa lain. Mereka (walaupun bukan Arab) mengikuti tradisi ke-Araban atau lebih tepatnya Kebaduian (bukan ajaran Islam), seperti memakai jubah panjang, menggunakan kafyeh, bertindak dan berbicara dengan gaya orang-orang Saudi.

[2] Alexei Vassiliev, Ta’reekh Al-Arabiya Al-Saudiya [History of Saudi Arabia], yang diterjemahkan dari bahasa Russia ke bahasa Arab oleh Khairi al-Dhamin dan Jalal al-Maashta (Moscow: Dar Attagaddom, 1986), hlm. 108.

[3] Untuk lebih detailnya Anda bisa mendownload “Confessions of a British Spy” :http://www.ummah.net/Al_adaab/spy1-7.html

Cara ini juga dilakukan Imperialis Belanda ketika mereka menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia lewat Snouck Hurgronje yang telah belajar lama di Saudi Arabia dan mengirimnya ke Indonesia. Usaha Snouck berhasil gemilang, seluruh kerajaan Islam jatuh di tangan Kolonial Belanda, kecuali Kerajaan Islam Aceh. 

Salah satu provokasi Snouck yang menyamar sebagai seorang ulama Saudi adalah menyebarkan keyakinan bahwa hadis Cinta pada Tanah Air adalah lemah!(Hubbul Wathan minal Iman). Dengan penanaman keyakinan ini diharapkan Nasionalisme bangsa Indonesia hancur, dan memang akhirnya banyak pengkhianat bangsa bermunculan.

[4] Memoirs Of Hempher, The British Spy To The Middle East, page 13.
[5] Lihat “The Beginning and Spreading of Wahhabism”,http://www.ummah.net/Al_adaab/wah-36.html
[6] William Powell, Saudi Arabia and Its Royal Family (Secaucus, N.J.: Lyle Stuart Inc., 1982), p. 205.
[7] Confessions of a British Spy.
[8] Ibid.
[9] Vassiliev, Ta’reekh, p. 117.
[10] Gary Troeller, The Birth of Saudi Arabia: Britain and the Rise of the House of Sa’ud(London: Frank Cass, 1976), pp. 15-16.
[11] Quoted in Robert Lacey, The Kingdom: Arabia and the House of Saud (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1981), p. 145.

Senin, 13 April 2026

Dahsyatnya Doa Seorang Istri


Doa istri untuk suami adalah salah satu doa paling mustajab untuk memohon perlindungan, keberkahan rezeki, dan keselamatan dalam ketaatan. Amalkan doa agar suami dilindungi dari keburukan, dilapangkan rezekinya, diberikan kesehatan, dan dijaga keharmonisannya setelah shalat fardu maupun saat suami berjuang mencari nafkah.

Berikut adalah kumpulan doa istri untuk suami yang dikutip dari berbagai sumber:

1. Doa Rezeki dan Keberkahan Usaha Suami

Allahumma aktsir mala zauji wa barik lahu fima a'thoitahu wa athil hayatahu 'ala tho'atika wa ahsin 'amalahu waghfirlahu.

Artinya: "Ya Allah, perbanyaklah harta suamiku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padanya, panjangkanlah umurnya dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalnya serta ampunilah dosa-dosanya."

2. Doa Perlindungan dan Keselamatan (Saat Bekerja)

Allahumma innii as-alikal 'afwa wal 'aaffiyah fid dun-yaa wal aakhirah. Allahumma innii as-alukal 'afwa wal 'aafiyah fi diini wa dunyaa-ya wa ahlii wa maalii.

Artinya: "Ya Allah, aku mohon ampunan dan kesehatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku mohon ampunan dan kesehatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku."

3. Doa Agar Suami Ditetapkan Hatinya dalam Ketaatan

Allahumma jannibnii munkaraatil akhlaaqi, wal ahwaa-li wal a'maali, wal adwaa-i.

Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah kami dari berbagai kejelekan akhlak, hawa nafsu, dan amal perbuatan, serta segala macam penyakit."

4. Doa Harmonis Rumah Tangga (Sakinah, Mawaddah, Warahmah)

Allâhumma allif bainahumâ kamâ allafta baina Adam wa Hawwa, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ Ibrâhîm wa Sârah...

Artinya: "Ya Allah, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Adam dan Hawa... (lanjutan doa rukun keluarga nabi) ...dan rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Ali dan Fathimah Az-Zahra."

Keutamaan Doa Istri untuk Suami

Doa istri untuk suami yang jauh maupun dekat adalah salah satu doa yang mustajab dan segera dikabulkan. Mendoakan suami adalah wujud ketaatan istri kepada Allah yang akan mendapatkan pahala dan Rida-Nya. Doa yang tulus akan membawa keberkahan dan kesejahteraan dalam keluarga.

Selalu niatkan doa untuk kebaikan dunia dan akhirat suami.

Seorang istri mungkin tidak selalu mampu meringankan beban suaminya dengan harta atau kekuatan. 
Namun ia memiliki sesuatu enerji yang sangat kuat melalui doa yang tulus kepada Allah swt.

Maka sangat dianjurkan berdoa ketika suami sedang berjuang mencari rezeki atau ketika langkahnya begitu berat dan melelahkan dalam menghadapi kehidupan.

Ketika seorang istri yang diam-diam mengangkat tangannya di malam hari dan berkata:

“Ya Allah, jagalah suamiku, mudahkan urusannya, berkahilah rezekinya, dan kuatkan imannya.”

Doa itu mungkin sepele dan ringan atau mungkin hanya dengan bisikan yang tidak terdengar, namun doa itu sungguh bisa menembus langit. Apalagi jika dilakukan di sepertiga malam sehingga doa itu hanya dapat didengar oleh Allah swt yang menguasai langit dan bumi.

Betapa banyak suami yang selamat dari kesulitan dan rezekinya dimudahkan, tentu
hanya kekuatannya dan potensinya semata, tetapi boleh jadi karena doa seorang istri yang tidak pernah lelah memohon mengadu bersujud kepada Allah swt.
Terlebih doa seorang muslim untuk saudaranya yang tanpa sepengetahuan orang dimaksud sangat dicintai oleh Allah.

Apalagi doa seorang istri untuk suaminya yang menjadi pasangan hidup dan pemimpin dalam rumah tangga nya.

1. Doa untuk orang lain akan diaminkan malaikat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Artinya:
“Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat berkata: Aamiin, dan untukmu juga seperti itu.”
(HR. Muslim)

Ini berarti ketika seorang istri mendoakan suaminya, malaikat juga mendoakan kebaikan yang sama untuk sang istri.

2. Istri shalihah selalu mendoakan kebaikan suaminya.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Artinya:
“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)

Ayat ini menunjukkan bahwa suami dan istri dianjurkan saling mendoakan agar rumah tangga menjadi penyejuk hati.

3. Doa istri adalah bentuk cinta dan keberkahan rumah tangga

Para ulama mengatakan:
“Di antara tanda wanita shalihah adalah ia memperbanyak doa untuk suaminya, baik dalam keadaan dekat maupun jauh.”

Karena doa seorang istri dapat menjadi sebab:
Suami diberi rezeki yang halal dan berkah, terjaga dari kemaksiatan, serta rumah tangganya akan dipenuhi ketenangan dan kasih sayang.

Maka wahai para istri, jangan pernah lelah untuk mendoakan suami mu.
Karena doa yang tulus dari hati yang ikhlas sering kali menjadi sebab turunnya rahmat dari Allah Swt di dalam sebuah rumah tangga.
Wallahu alam bishowab

Sabtu, 11 April 2026

Transformasi Besar Telkom Via Empat Pilar

 



Transformasi besar sedang disiapkan oleh Telkom melalui program TLKM 30.
Strategi ini menjadi arah baru perusahaan menuju 2030 agar tetap relevan di tengah perubahan industri teknologi yang semakin cepat.


Ada empat pilar utama yang menjadi fondasi transformasi ini:

🔹 Operational Excellence – meningkatkan kualitas operasional dan budaya kerja
🔹 Strategic Holding – fokus pada manajemen klaster bisnis
🔹 Streamlining – penyederhanaan struktur anak usaha
🔹 Unlocking Value – optimalisasi aset perusahaan

Saat ini Telkom memiliki sekitar 66 entitas bisnis, namun melalui langkah penggabungan, divestasi, hingga penutupan entitas yang tidak lagi strategis, jumlah tersebut akan disederhanakan menjadi sekitar 20 entitas inti.

Langkah ini diharapkan membuat Telkom bergerak lebih lincah, meningkatkan efisiensi, serta memperkuat fokus pada layanan digital dan infrastruktur telekomunikasi di masa depan.

Ketika Mengharamkan Tanpa Dalil

Mengharamkan sesuatu tanpa dalil yang jelas menunjukkan keharamannya adalah Bid'ah Dholalah, hukumnya haram, karena membuat syariat bar...