Selasa, 17 Maret 2026

Jangan Tertipu dengan Salafi Palsu


Istilah "Salafi palsu" merujuk pada kelompok yang mengeklaim mengikuti manhaj Salaf (generasi awal Islam) tetapi perilakunya bertentangan, seperti mudah mengafirkan (takfiri), membid'ahkan sesama Muslim, kaku, dan gemar memanipulasi ajaran, seringkali dikaitkan dengan paham Wahabi atau kelompok ekstrem. Mereka cenderung eksklusif dan merasa paling benar.
Ciri-ciri Salafi Palsu (Menurut Berbagai Sumber): Mudah Mengafirkan dan Membid'ahkan: Seringkali menyesatkan atau mengafirkan kelompok di luar pemahaman mereka.
Biasanya berusaha untuk memanipulasi Ajaran, seperti menggunakan label "Manhaj Salaf" untuk membenarkan tindakan yang manipulatif.
Mereka juga tergolong kaum yang sangat kaku dan eksklusif. Merasa paling benar sendiri dan tidak mau berjamaah dengan orang lain yang dianggap salah dalam ajaran mereka. Mereka juga bersikap Radikal/Ekstrem. Dalam beberapa kasus, cenderung ke arah ajaran yang membawa perpecahan.
Ada indikasi mereka pun memanipulasi kitab-kitab klasik untuk menyebarkan kebingungan di kalangan umat.
Beberapa pandangan menyebutkan bahwa Wahabi adalah kelompok yang sering berkamuflase menggunakan label "Salafi".
Mengapa Salafi Palsu?

Penting untuk membedakan antara Salaf (mengikuti ajaran ulama salaf yang benar) dan Salafi palsu yang memanipulasi ajaran untuk kepentingan tertentu
Dizaman sekarang banyak orang atau kelompok tertentu melabelkan dirinya pengikut salaf atau bermanhaj salaf dan dgn PEDE-nya mengaku SALAFI.

Jika semua mengaku pengikut salafi tetapi paham saling bertentangan maka sebenarnya yang benar yang mana?

Dimulai dengan sebuah hadits:

Rasulullah SAW bersabda,
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).”
(HR. Bukhari no. 6429 dan Muslim no. 2533 hadits ini adalah Mutawatir)

Siapakah pengikut ulama SALAF sebenarnya?
Mari kita lihat generasi generasi ulama salaf agar dapat melihatnya dengan jelas.

Mulai masa imam madzab sbb :

1) Imam Hanafi lahir:80 hijrah
2) Imam Maliki lahir: 93 hijrah
3) Imam Syafie lahir:150 hijrah
4) Imam Hanbali lahir:164 hijrah
5) Imam Asy’ari lahir: 240 hijrah

Mereka ini semua ulama Salafus Soleh atau dikenali dengan nama ulama SALAF.

Apa itu salaf

Salaf ialah nama “zaman” yaitu merujuk kepada golongan ulama yang hidup antara kurun zaman kerasulan Nabi Muhammad hingga 300 HIJRAH.

1) Golongan generasi pertama dari 300 tahun hijrah tu disebut “Sahabat Nabi” karena mereka pernah bertemu/bersama Nabi.

2. Golongan generasi kedua disebut “Tabi’in” Yaitu golongan yang pernah bertemu Sahabat nabi tapi tak pernah bertemu Nabi.

3) Golongan generasi ketiga disebut sebagai “Tabi’ut Tabi’in” yaitu golongan yang tak pernah bertemu nabi dan sahabat tapi bertemu dengan Tabi’in.

Jadi Imam Abu Hanifah (penggagas mazhab Hanafi) merupakan murid Sahabat nabi maka beliau seorang TABI’IN.
Sedaangkan Imam Malik, Imam Syafie, Imam Hanbali, Imam Asy’ari berguru dengan Tabi’in maka mereka disebut sebagai golongan TABI’UT TABI’IN.

Jadi kesemua Imam-Imam yang mulia ini merupakan golongan SALAF YANG SEBENARNYA dan pengikut mazhab merekalah yang paling layak digelar sebagai “Salafi” “Pengikut Golongan SALAF”.

Mayoritas umat islam yang masih berpegang kepada imam madzab terutama mazhab Syafie.
Inilah mazhab SALAF yang SEBENARNYA dan tidak lari dari pemahaman NABI DAN SAHABAT…

Mereka bukan ulama salaf

Sebab mereka tidak hidup di era 300 H tetapi jauh berabad abad kemudian.
Berikut ini beberapa pentolan Wahabi yg dijadikan panutan para ternaknya...
1) Ibnu Taimiyyah lahir: 661 Hijrah (lahir 361 tahun sesudah berakhirnya zaman SALAF)

2) Syaikh Albani lahir: 1333 Hijrah (mati tahun 1420 hijrah atau 1999 Masehi,lahir 1033 tahun sesudah berakhirnya zaman SALAF).

3) Muhammad Abdul Wahhab* (Pendiri gerakan Wahhabi): 1115 Hijrah (lahir 815 tahun sesudah berakhirnya zaman SALAF).
4) Syaikh Abdullah Bin Baz lahir: 1330 Hijrah (mati tahun 1420 hijrah atau 1999 Masehi, sama dengan Albani, lahir 1030 tahun sesudah berakhirnya zaman SALAF).

5) Syaikh Utsaimin lahir: 1928 Masehi (mati tahun 2001, lebih kurang 12 tahun lepas dia mati, lahir entah berapa ribu tahun sesudah zaman SALAF.

Mereka ini ulama ulama rujukan wahabi salafi yg melabelkan dirinya MANHAJ SALAF padahal hidup jauh dari era salaf.

Mereka ini semua hidup di AKHIR ZAMAN kecuali Ibnu Taimiyyah yang hidup di pertengahan zaman antara zaman salaf dan zaman dajjal (akhir zaman).

Jadi sesungguhnya tak ada sorang pun Imam rujukan kaum Wahabi adalah ulama salaf.
Boleh dibilang mereka ini semua TERAMAT LAH JAUH DARI ZAMAN SALAF.

SUNGGUH SANGAT-SANGAT ANEH apabila Wahabi mengikrarkan diri sebagai “Salafi” (pengikut Golongan Salaf). Sedangkan rujukan mereka adalah dari kalangan yang datang dari golongan ulama akhir zaman.

Ilmu dari kalangan ulama mereka banyak sekali bertentangan dgn ulama salaf generasi awal.
Padahal ajaran tauhid Wahabi yaitu Tauhid Uluhiyyah, Rububiyah, dan Asma wa Shifat yang mereka ajarkan juga bid’ah dan diajarkan Khalaf yang lahir tahun 1115 H.

Demikian penjelasan singkat semoga bermanfaat...

Sabtu, 14 Maret 2026

Benarkah Wahabi Bagian dari Yahudi



Tidak banyak yang mengetahui kalau wahabi itu bagian dari Yahudi. Bahkan menyebut wahabi sebagai bagian dari penegak Islam tauhid sebagaimana dikampanyekan oleh pengikut-pengikutnya di Indonesia.

Sejarawan Yahudi bernama Ishaq bin Zafi mengakui kalau wahabi itu bagian dari sekte Yahudi. Dalam buku Ensiklopedia Sekte-Sekte Yahudi, ia menulis bahwa paham wahabisme adalah salah satu sekte Yahudi. Bahkan, dalam buku yang terbit pada 1957 M itu, Ishaq memberikan bukti-bukti konkrit tak terbantahkan.

Ini teks yang ditulis olehnya:

Dalam ensiklopedia ini, tepatnya pada kata yang digaris bawahi dengan tinta merah, tertulis bahwa golongan wahabi adalah salah satu sekte Yahudi yang luarnya terlihat Islami tapi di dalamnya menyimpan syiar-syiar Yahudi. Silakan simak teks lengkapnya dalam bahasa Arab beserta artinya, di bawah ini:

ونشر اسحاق بن زفي الرئيس السابق للدولة اليهودية المغتصبة لفلسطين كتابا عن الدونمة بالعبرية وترجمه للانكليزية اليهودي اسحاق عبادي واصدرته دار النشر اليهودية في امريكا عام 57 واعيد طبعه مرة ثانية عام 1961
يقول ::
((هناك طوائف دينية لاتزال تعتبر نفسها جزءا من بني اسرائيل واعضاء هذه الطوائف — رغم اختلاف اسلوبهم عن مجموعة الشعب اليهودي — استمروا على اقامة شعائر الدين اليهودي ومن هؤلاء طائفة السامريين ومنهم طائفة هامة اخرى هي طائفة الوهابية وهي مسلمة في الظاهر الا انها تقيم سرا الشعائر اليهودية ..))

Artinya:

“Ishaq ibn Zafi (Yitzhak Ben Zvi), mantan presiden Negara Yahudi, penjajah Palestina, menerbitkan sebuah buku tentang Dunamah (salah satu Sekte Yahudi) dalam Bahasa Ibrani, lalu diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh seorang berkebangsaan Yahudi bernama Yitzhak Abade. Buku terjemah ini diterbitkan Penerbit Yahudi di Amerika tahun 1957. Dan dicetak ulang pada tahun 1961.

Yitzhak Ben Zvi berkata:
Terdapat beberapa kelompok keagamaan yang senantiasa menganggap diri mereka bagian dari Bani Israel –meski ada perbedaan tradisi dengan Bangsa Yahudi mainstream–, mereka secara terus menerus mempraktikkan syiar-syiar Agama Yahudi. 

Di antara kelompok-kelompok itu adalah Kelompok as-Samiriyyun…..Dan di antara mereka adalah sebuah kelompok penting lain, yaitu Wahhabiyyah. Kelompok ini secara lahiriah muslim, tapi secara sembunyi-sembunyi mempraktikkan ritual-ritual Yahudi.”

Jadi, wajar jika orang-orang wahabi memiliki sifat yang sama dengan satu sekte nya, bangsa Yahudi, yang suka menghalalkan segala cara (meski dengan dalih sunnah), suka memfitnah, mengubah isi kitab kuning, lalu suka menuduh orang lain kafir, syirik, sesat, bid’ah dan lainnya.

Begitulah.
Mereka tidak sungkan bekerjasama dengan Yahudi, saudaranya itu. Demi kekuasaan dan keserakahan. Wahabi dibuat untuk memecah belah umat Islam di seluruh dunia..Waspadalah !!!

Dia Sangat Dekat


"Dia Sangat Dekat"
Dia berbisik mengusik qalbu,
Saat sunyi menikam waktu.
Tak ada suara mengganggu,
Cukup hati jernih menanti.

Firman-Nya tersurat abadi ,
Qaf-16 "Aku lebih dekat dari urat leher",
Namun sering kita berpaling,
Mencari-Nya nun jauh ke angkasa,
Padahal Ia terbenam, tenggelam, bersemayam dalam qalbu yang dalam.

Dalam hela nafas tak terbilang,
Dalam detak jantung berdentang.
Allah tahu gundah yang tak terucap,

Ketika air mata jatuh di sepertiga malam,
Doa pun tersimpan dalam sunyi dan diam.

Dekat bukan karena jarak,
Tapi karena kasih tak terbatas.

Hamba berpaling, Ia tetap menanti,
Hamba kembali, Ia sambut dengan kasih sayang
Maha Pengasih, sungguh tiada akan pernah pergi.

Maka, dekatkanlah jarak ini,
Bukan dengan langkah, tapi dengan dzikir hati.
Dengan sujud, dan butiran air mata,
Agar dapat bersua, dalam dekap rahmat-Nya.

(KGM/medioramadhan26)

Kamis, 12 Maret 2026

Mensyukuri Rahmat Allah


Bismilahirahmanirahim
Asalamumualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,

Mensyukuri rahmat Allah adalah bentuk pengakuan tulus atas segala karunia yang telah diberikan-Nya, mulai dari nikmat iman, kesehatan, hingga rezeki yang tampak maupun tidak.

Berdasarkan ajaran Islam, terdapat tiga cara utama untuk menunjukkan rasa syukur, yakni:

Pertama, melalui Hati (Syukur bil Qolbi): Meyakini sepenuhnya bahwa segala nikmat berasal hanya dari Allah dan merenungkan kebaikan-Nya.

Kedua, melalui Lisan (Syukur bil Lisan): Memuji Allah dengan mengucapkan kalimat Alhamdulillah dan senantiasa berzikir. 

Dan yang ketiga, melalui Perbuatan (Syukur bil Arkan) yakni dengan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan dan kebaikan. Seperti menggunakan tubuh yang sehat untuk beribadah dan bekerja. Mengeluarkan zakat atau sedekah atas nikmat harta yang diterima agar lebih berkah. Serta mendoakan orang lain dengan tulus dan berbagi kebahagiaan.

Berterimakasih kepada Allah

Betapa sering kita menerima nikmat Allah tanpa mensyukurinya. Setiap pagi kita bangun dari tidur, menikmati udara segar, dan merasakan kesehatan, tetapi seberapa sering kita merenung dan berterima kasih kepada Allah atas rahmat-Nya yang tiada henti?

Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (QS. Ibrahim: 7)

Kita perlu merenung sejenak, mengingat bahwa setiap detik hidup kita adalah bukti dari rahmat Allah. Mari kita belajar untuk selalu bersyukur dalam setiap keadaan, baik ketika kita menerima nikmat maupun ketika kita menghadapi ujian, karena dalam setiap peristiwa, Allah selalu menyertakan rahmat-Nya.

Allah berfirman:
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A'raf: 156).

Rahmat Allah tidak hanya hadir dalam bentuk kenikmatan, tetapi juga dalam bentuk ujian. Terkadang, Allah menguji kita dengan kesulitan bukan untuk menyakiti, tetapi untuk mendekatkan kita kepada-Nya. 

Dalam setiap air mata yang jatuh, dalam setiap cobaan yang kita hadapi, ada rahmat Allah yang terselubung, yang bertujuan untuk membersihkan dosa-dosa kita dan meningkatkan derajat kita di hadapan-Nya. Kita hanya perlu bersabar dan yakin bahwa segala sesuatu yang datang dari Allah pasti membawa kebaikan.

Marilah kita selalu mengingat dan mensyukuri rahmat Allah, karena hanya di bawah naungan rahmat-Nya kita akan menemukan ketenangan dan kebahagiaan sejati Aamiin,

Wallahu'alam bishawab...
Saudaraku, selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita menjadi para PEMENANG. Aamiin Yaa Rabbal'alamiin

Jangan Tertipu dengan Salafi Palsu

Istilah "Salafi palsu" merujuk pada kelompok yang mengeklaim mengikuti manhaj Salaf (generasi awal Islam) tetapi perilakunya berte...