Rabu, 04 November 2026

Mi Babi dan Penggerebegan Pesantren Santriwati


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-73)

Narasi Pembuka: Pukul 03.20, Selasa, 27 Oktober 2026. Di sebuah pondok di Mojolaban, Sukoharjo, dua belas santriwati berusia 10 hingga 16 tahun sedang tidur. Pintu didobrak. Personel Brimob bersenjata laras panjang masuk. Anak-anak itu terbangun dalam kondisi belum mengenakan jilbab.

Operasi Mi Babi

Mereka ditarik keluar. Dibentak. Dan menurut pengurus pondok. Sebagian sempat ditodongkan senjata. Empat ustazah turut diamankan. Dua balita berusia tiga dan lima tahun ikut dibawa ke Polsek tanpa pendampingan wali.

Operasi itu bagian dari penyidikan kasus pembakaran Warung Mi Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro pada 12 September 2026.

Polisi mengejar seorang buronan berinisial "I" yang diduga bersembunyi di sana. Izin pengadilan dikantongi. Tersangka tidak ditemukan.

Yang tersisa: Trauma. Barang pribadi disita. Dan pertanyaan yang jauh lebih berat daripada sekadar prosedur.

Filsafat hukum sejak lama bergulat dengan satu ketegangan: Antara legalitas dan legitimasi. Sesuatu bisa sah secara formal. Ada surat, ada izin, ada dasar penyidikan. Tetapi tetap rapuh secara etis.

Penggerebekan ini adalah contoh telanjang dari jarak antara keduanya. Polisi benar bahwa pembakaran warung adalah tindak pidana yang harus diusut. Tetapi mengusut pidana bukan lisensi untuk menanggalkan seluruh pertimbangan kemanusiaan.

Hukum yang masuk ke sebuah kamar tidur anak-anak pada pukul tiga pagi dengan senjata terhunus telah berhenti menjadi hukum yang melindungi.

Ia telah berubah menjadi kekuasaan yang murni. Dan kekuasaan murni, dalam tradisi filsafat mana pun, selalu curiga terhadap dirinya sendiri.

Komnas HAM menyebut dua belas santriwati itu “anak yang berhak memperoleh perlindungan khusus”. Mereka wajib didampingi orang tua. Pembimbing kemasyarakatan. Dan advokat. Tidak satu pun itu terjadi.

Aparat yang masuk dilaporkan seluruhnya laki-laki, tanpa Polwan, di ruang tidur perempuan pada dini hari.

Komisioner Komnas HAM menyoroti “privasi dan martabat perempuan” sebagai aspek yang tidak bisa dinegosiasikan.

Di sini hukum berhadapan dengan sesuatu yang lebih tua daripada dirinya sendiri. Rasa malu, harga diri, dan hak seorang anak untuk merasa aman di tempat ia seharusnya dilindungi.

Pembelaan pihak kepolisian bergerak di dua rel. 

Pertama, bahwa pondok itu “tidak terdaftar” di Kementerian Agama dan beroperasi tanpa izin.

Kedua, bahwa penggeledahan dilakukan berdasarkan izin pengadilan dan merupakan pengembangan penyidikan yang sah.

Keduanya benar secara administratif. Tetapi keduanya juga tidak menjawab pertanyaan yang paling mendasar: Apakah ketiadaan izin operasional menghapus hak anak-anak di dalamnya untuk diperlakukan sebagai anak?

Apakah surat pengadilan membenarkan masuknya orang-orang bersenjata ke kamar tidur belasan gadis di bawah umur. Tanpa satu pun perempuan di antara mereka?

Jelas ini suatu tindakan yang sangat tidak profesional dan juga bahkan tidak proporsional”.

Yang dipersoalkan bukan penegakan hukumnya. Ia mempersoalkan caranya. Dan caranya, dalam tradisi etika, adalah bagian dari hukum itu sendiri. Bukan pelengkap, bukan hiasan.

Hukum yang dijalankan dengan cara yang melukai anak-anak telah gagal bahkan sebelum ia selesai.

Ada ironi yang lebih dalam. Warung yang dibakar menjual makanan berbahan babi. Pembakaran itu, jika benar dilakukan, adalah kejahatan terhadap hak orang lain untuk berusaha dan hidup aman.

Sebuah pelanggaran serius terhadap prinsip paling dasar dari kehidupan bersama. Tetapi respons negara terhadap pelanggaran itu justru memperluas luka. Dari satu warung yang terbakar. Menjadi dua belas anak yang ketakutan.

Negara seharusnya memulihkan, bukan menambah daftar korban. Jika hukum hanya mampu membalas kekerasan dengan kekerasan lain yang menyasar yang lemah. Maka ia bukan lagi keadilan. Ia hanyalah kekuasaan yang memakai jubah hukum.

MUI menuntut klarifikasi terbuka dan mendesak Propam memeriksa dugaan pelanggaran. Kapolres Sukoharjo menyampaikan permintaan maaf atas “ketidaknyamanan”.

Mabes Polri menyebut akan mendalami melalui Propam dan menyiapkan pendampingan psikologis.

Semua itu langkah yang seharusnya ada sejak awal. Bukan setelah kegaduhan. Tetapi permintaan maaf administratif tidak menyembuhkan anak yang terbangun dengan laras senjata di depan wajahnya.

Ia hanya menandai bahwa negara tahu ia telah melampaui batas. Tanpa benar-benar yakin batas itu di mana.

Pertanyaan filosofisnya bukan apakah polisi boleh mengusut pembakaran. Tentu boleh. Pertanyaannya adalah: Kapan negara berhenti menjadi pelindung dan mulai menjadi ancaman?

Jawabannya sederhana dan sekaligus mengerikan: Ketika ia lupa bahwa di balik setiap pintu yang didobrak. Ada manusia yang tidur. Yang berhak bangun tanpa rasa takut.

Akuntabilitas Komando dan Ujian bagi Kapolri

Ironi terbesar dari peristiwa ini bukanlah kesalahan prosedur di lapangan, melainkan siapa yang harus menanggungnya.

Dalam tradisi militer dan kepolisian, dikenal satu prinsip yang tidak bisa ditawar: command responsibility. Seorang komandan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan anak buahnya. Bukan karena ia memerintahkan secara langsung. Tetapi karena ia adalah pemegang tongkat komando.

Kapolres Sukoharjo, AKBP Andika Dharma Sena, tidak mungkin berada di setiap pintu yang didobrak. Tetapi ia adalah penanggung jawab tertinggi di wilayah hukumnya. Ketika anak buahnya masuk ke kamar tidur anak-anak dengan laras senjata terhunus, pertanggungjawaban itu tidak bisa dialihkan kepada “oknum” atau “prosedur”.

Di sinilah Kapolri diuji. Bukan di ruang rapat, bukan di pidato. Tetapi di depan satu pertanyaan sederhana: Apakah ia akan membiarkan prinsip komando menjadi kosong? Ataukah ia akan menegakkannya?

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKB, Abdullah, telah menyerukan agar Kapolri mengevaluasi secara menyeluruh dan mencopot Kapolda Jawa Tengah serta Kapolres Sukoharjo. “Kapolda dan Kapolres harus bertanggung jawab atas tindakan anak buahnya,” tegasnya.

Desakan serupa datang dari Pemuda Masjid Dunia, yang menuntut pencopotan keduanya karena menilai tindakan aparat sebagai “tindakan sewenang-wenang dan dugaan kejahatan prosedur hukum”.

Namun, mencopot bukan satu-satunya jalan. Ada spektrum tindakan yang bisa diambil Kapolri. Dan setiap pilihan mengandung makna filosofisnya sendiri.

Yang paling ringan adalah evaluasi kepemimpinan. Sebuah teguran administratif yang sering kali berhenti sebagai simbol tanpa akibat.

Yang lebih berat adalah pemeriksaan oleh Propam dan penindakan etik jika ditemukan pelanggaran.

Komnas HAM telah mendesak Divisi Propam Polri melakukan pemeriksaan independen terhadap dugaan pelanggaran prosedur, penyitaan, dan penggunaan kekuatan berlebihan. Termasuk mengaudit keabsahan surat izin penggeledahan.

Yang paling berat adalah pencopotan jabatan, sebuah tindakan yang tidak hanya menghukum individu tetapi juga mengirim pesan ke seluruh korps: Bahwa komando bukanlah hak istimewa, melainkan tanggung jawab.

Kapolri juga harus memastikan bahwa proses hukum terhadap kasus pembakaran warung tetap berjalan tanpa menjadikan anak-anak sebagai korban.

Komnas HAM menegaskan bahwa “upaya penegakan hukum tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang melanggar hukum dan mencederai HAM itu sendiri”. Ini adalah pesan ganda: Jangan hentikan penyidikan. Tetapi jangan juga lanjutkan dengan cara yang melukai.

Kapolri harus mampu memisahkan dua hal yang sering kali dicampur: menegakkan hukum dan menghukum warga.

Yang paling mendasar, Kapolri perlu membuka ruang evaluasi publik yang selama ini tertutup.

Selama proses pemeriksaan dilakukan di balik pintu. Selama hasilnya tidak pernah diumumkan. Selama sanksi, hanya berupa pencopotan atau mutasi yang tidak dijelaskan. Maka kepercayaan publik tidak akan pulih.

Hukum yang dijalankan dalam kegelapan selalu tampak seperti konspirasi.

Kapolri harus berani mengumumkan apa yang ditemukan. Siapa yang bertanggung jawab. Dan apa yang akan diubah. Bukan karena publik menuntut sensasi. Tetapi karena akuntabilitas adalah satu-satunya jembatan antara kekuasaan dan kepercayaan.

Pada akhirnya, tindakan Kapolri terhadap Kapolres Sukoharjo bukanlah soal satu jabatan. Ia adalah soal apakah institusi ini masih percaya bahwa komando berarti tanggung jawab. Ataukah komando telah berubah menjadi sekadar simbol yang bisa dilepas ketika badai datang.

Jika Kapolri memilih diam. Ia mengajarkan seluruh korps bahwa yang penting adalah selamat. Bukan benar.

Jika Kapolri memilih bertindak. Ia mengajarkan bahwa bahkan yang berpangkat pun harus mempertanggungjawabkan apa yang terjadi di bawah komandonya.

Pilihan itu, sekecil apa pun kelihatannya. adalah cermin dari seluruh masa depan Polri.

Slogan terbaru "Polri bersama masyarakat". Hendaknya tanpa ragu segera realisasikan. Sangat menyedihkan kalau slogan luhur berbudi itu cuma slogan omong kosong belaka...!!

Serial Tasawuf-42 Al-Hikam: Hikmah Kesembilan, Rahasia di Balik Beragamnya Amal

 

Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup lebih dingin dari biasanya. Para salik duduk melingkar di beranda zawiyah, tetapi suasana terasa ganjil. Seorang salik bernama Zaid memandang teman-temannya satu per satu, lalu menghela napas panjang.

“Wahai Mursyid,” ujarnya dengan suara berat. “aku bingung. Aku melihat seorang salik yang menghabiskan malamnya untuk shalat. Sementara yang lain lebih banyak berdzikir. Ada yang rajin bersedekah. Ada yang lebih suka berpuasa. Ada yang memilih menyepi. Ada yang terjun ke tengah masyarakat. Manakah yang paling benar, Wahai Mursyid? Manakah yang paling dicintai Allah?”

Syekh Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari memandang Zaid dengan mata teduh. Ia tidak langsung menjawab. Ia membuka kitab di pangkuannya dan membacakan:

تَنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ الْأَعْمَالِ لِتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الْأَحْوَالِ

“Beragamnya jenis amal itu disebabkan oleh beragamnya warid (karunia yang turun) pada ahwal (keadaan batin) seorang hamba.”

Amal, Ahwal, dan Warid

Seorang salik bernama Fatimah mengangkat tangan. “Wahai Mursyid, apa yang dimaksud dengan ahwal dan warid?”

Ibnu Atha’illah menjawab dengan sabar. “Ahwal adalah keadaan hati. Ia seperti cuaca—kadang cerah, kadang mendung, kadang hujan. Warid adalah karunia yang turun ke dalam hati sesuai dengan keadaan itu. Dan amal adalah buah yang lahir dari keduanya.”

“Engkau tidak bisa memaksakan satu jenis amal kepada semua orang, karena keadaan hati setiap hamba berbeda. Allah memberikan karunia-Nya sesuai dengan kesiapan hati masing-masing. Maka janganlah engkau menghakimi saudaramu hanya karena amalnya berbeda denganmu.”

Ibnu Atha’illah kemudian membacakan ayat yang menjadi landasan hikmah ini:

“Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak pula dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Fushilat: 35)

“Perhatikanlah,” ujarnya. “Dalam ayat ini, sabar adalah ahwal—keadaan hati seorang hamba. Dan al-hasanah—sifat-sifat baik—adalah warid yang Allah turunkan. Allah tidak memberikan warid kepada sembarang hati. Ia memberikannya kepada hati yang telah siap, hati yang telah bersabar.”

Dalil Pertama: Setiap Hati Memiliki Kebutuhan

Umar, salik yang lain, bertanya, “Wahai Mursyid, mengapa Allah tidak memberikan karunia yang sama kepada semua hamba?”

Ibnu Atha’illah tersenyum. “Karena Allah mengetahui apa yang dibutuhkan setiap hati. Allah berfirman:

‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.’ (QS. Al-Baqarah: 286)

“Dia tidak memberikan ujian yang sama kepada semua orang, dan Dia tidak memberikan karunia yang sama kepada semua orang. Ada hati yang disembuhkan dengan kesabaran, ada yang disembuhkan dengan syukur, ada yang disembuhkan dengan keduanya. Allah-lah yang mengetahui obat setiap hati.”

Dan Allah juga berfirman:

‘Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.’ (QS. Al-Isra: 82)

“Al-Qur’an adalah warid yang turun kepada hati yang siap menerimanya. Tetapi kesiapan itu berbeda-beda. Maka janganlah engkau heran jika amal manusia berbeda-beda—karena hati mereka pun berbeda-beda.”

Dalil Kedua: Amal yang Paling Dicintai

Zaid bertanya lagi, “Wahai Mursyid, jika amal itu beragam, adakah amal yang paling utama?”

Ibnu Atha’illah menjawab dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang istiqamah (terus-menerus), meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Perhatikanlah, Zaid. Nabi SAW tidak berkata ‘amal yang paling banyak’. Beliau berkata ‘yang istiqamah, meskipun sedikit’. Karena yang Allah lihat bukanlah banyaknya amal, melainkan keikhlasan dan keberlangsungannya. ”

“Seorang yang berdzikir sedikit tetapi istiqamah setiap hari lebih dicintai Allah daripada seorang yang bershalawat seribu kali sekali lalu berhenti. Seorang yang bersedekah sedikit tetapi rutin lebih dicintai daripada seorang yang bersedekah besar sekali lalu menyesal.”

Dalil Ketiga: Jangan Meremehkan Amal Orang Lain

Ibnu Atha’illah kemudian mengingatkan para salik tentang bahaya membandingkan amal.

“Dan janganlah kamu saling mencela, dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurat: 11)

“Engkau tidak tahu warid apa yang sedang Allah turunkan kepada saudaramu. Engkau tidak tahu ahwal apa yang sedang ia lalui. Maka janganlah engkau meremehkan amalnya, dan janganlah engkau merasa amalmu lebih tinggi darinya. Bisa jadi amalnya yang sedikit diterima, sementara amalmu yang banyak tertolak karena riya’.”

Nabi SAW juga bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Penutup: Satu Tujuan, Banyak Jalan

Malam semakin larut. Ibnu Atha’illah bangkit, membetulkan selendangnya, dan memandang para salik dengan penuh kasih.

“Anak-anakku,” ujarnya, “janganlah engkau menyibukkan diri dengan mempertanyakan mengapa amal manusia berbeda. Sibukkanlah dirimu dengan menjaga hatimu agar siap menerima warid yang Allah turunkan. ”

“Amal adalah buah. Ahwal adalah tanah. Warid adalah hujan. Dan engkau tidak bisa memaksa hujan turun—engkau hanya bisa menyiapkan tanahmu agar ketika hujan datang, ia tumbuh menjadi amal yang diridhai Allah. ”

“Maka berdoalah: ‘Ya Allah, siapkanlah hatiku untuk menerima karunia-Mu. Jadikanlah amalku istiqamah, meskipun sedikit. Dan janganlah Engkau biarkan aku meremehkan hamba-Mu yang lain.’”

Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Zaid tersenyum—ia kini mengerti. Ia tidak perlu bingung memilih amal yang paling utama. Ia hanya perlu menjaga hatinya, dan biarkan Allah yang menentukan amal apa yang paling sesuai untuknya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bersambung ke hikmah kesepuluh. Ruh yang Menghidupkan Jasad Amal

Selasa, 03 November 2026

Tragedi Pensiunan Telkom: "Apa yang Bisa Dilakukan Direksi Telkom, Danantara dan Mahkamah Konstitusi"


Secangkir Anggur Merah, Edisi-71)

Leaderline: Tulisan ini didedikasikan kepada perjuangan kehidupan tragis para mantan karyawan Telkom yang pensiun sebelum 30 Juni 2002. Termasuk para penerima pensiun dini (Pendi). Yang keseluruhan jumlahnya sekitar 25 ribu pensiunan. Dengan kisaran manfaat pensiun (MP) antara Rp 1 juta s/d Rp 1,5 juta per bulan. Tragisnya seumur hidup masa pensiunannya tidak pernah mengalami kenaikan tahunan secara rutin sebagaimana dinikmati para PNS. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang patut mendapat perhatian semua pihak. Lalu dimana posisi Direksi, Danantara dan Mahkamah Konstitusi? Mengapa mereka lebih suka cuci tangan kalau tak mau dibilang berlindung dibalik prosedur?

Awal Tragedi


Pada 20 Desember 1982, ketika Menteri Perhubungan menandatangani pendirian Yayasan Dana Pensiun (DAPEN) Pegawai PERUMTEL. Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa dokumen itu kelak menjadi akta kelahiran sebuah tragedi.

Yayasan itu lahir dengan wajah mulia: Mengurus pensiun pegawai telekomunikasi yang sebelumnya ditanggung APBN.

Namun empat dekade kemudian. Kita berdiri di hadapan reruntuhan janji itu.

Seorang pensiunan Telkom menangis di ruang sidang Mahkamah Konstitusi. Dia hendak menggugat ketidakadilan yang mencekik. Ia berjuang tanpa pengacara. Setelah sepuluh tahun berjibaku sendirian.

Tragedi ini bukan kecelakaan sejarah. Ia adalah konsekuensi logis dari sebuah pilihan filosofis yang dibuat pada 1992.

Ketika pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 11 tentang Dana Pensiun. Regulasi itu memerintahkan seluruh yayasan pensiun berubah menjadi badan hukum tersendiri. Dengan kekayaan yang terpisah dari kekayaan pendiri.

Di atas kertas. Pemisahan ini terdengar seperti tata kelola yang modern. Tetapi dalam praktiknya. Ia adalah tindakan pemutusan urat nadi moral antara perusahaan dan manusia-manusia. Yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk membangun perusahaan itu.

Pandapotan Nasution, pensiunan PT Telkom yang menggugat UU itu ke MK, menyebutnya dengan telak: Hubungan dengan perusahaan terputus. Hubungan dengan BUMN terputus. Kelayakan hidup para pensiun pun terputus.

Berbeda dengan PNS yang tetap terhubung dengan APBN. Sehingga ketika gaji pegawai aktif naik. Pensiunan ikut merasakan.

Namun pensiunan BUMN, seperti Telkom, dilempar ke dalam sebuah badan otonom dan seolah-olah seluruh beban dialihkan ke sana.

Inilah inti tragedi Dapen Telkom. Ia bukan sekadar badan pengelola uang. Melainkan mesin yang memutus rantai solidaritas antargenerasi.

Secara filosofis. Dana pensiun adalah institusi paling etis dalam dunia kerja. Ia adalah bukti bahwa manusia tidak diperlakukan sebagai komoditas yang nilainya habis saat kontrak berakhir.

Pensiun adalah pengakuan bahwa seseorang yang telah bekerja selama tiga puluh tahun tetap berharga. Bahkan ketika ia tidak lagi memproduksi keuntungan.

Ketika negara memindahkan tanggung jawab ini ke badan hukum yang terpisah. Ia bukan sedang menciptakan efisiensi. Ia sedang membatalkan pengakuan itu.

Negara telah menikmati pengabdian puluhan tahun. Lalu mencuci tangannya dari kewajiban moralnya.

Yang membuat tragedi ini semakin menghunjam adalah fakta bahwa Dapen Telkom sendiri berada dalam kondisi yang tidak sehat.

Rasio Kecukupan Pendanaannya berada di bawah 105 persen. Imbang batas yang ditetapkan perusahaan untuk mulai memberikan kontribusi.

Artinya, badan yang seharusnya menjamin hari tua para pensiunan justru berjuang untuk mencukupi dirinya sendiri.

Dan di tengah kegagalan pendanaan itu. Muncul aturan yang bahkan lebih kejam. Pegawai Telkom yang pensiun sebelum 30 Juni 2002, yang menerima manfaat kurang dari satu juta rupiah per bulan diberikan kenaikan menjadi satu juta rupiah.

Kenaikan menjadi satu juta rupiah bukanlah kebijakan kesejahteraan. Ia adalah pengakuan resmi bahwa ada manusia yang harus hidup dengan penghasilan yang tidak layak. Dan negara hanya sanggup menaikkannya ke ambang batas yang masih tidak layak.

Di sinilah perjuangan SEKAR Telkom menemukan urgensinya yang paling radikal. Serikat pekerja tidak bisa lagi berhenti pada isu upah pekerja aktif. Ia harus memperluas mandatnya untuk membela mereka yang telah pensiun.

Mereka yang telah selesai bertugas tetapi justru ditinggalkan di saat paling rentan. Perjuangan melawan UU Dana Pensiun. Sebagaimana yang dilakukan SEKAR Telkom di MK, adalah perjuangan untuk memulihkan kontrak sosial yang telah dikhianati.

Namun perjuangan itu tidak boleh berhenti di ruang sidang. Ia harus menjadi gerakan politik dan moral yang menuntut revisi total atas arsitektur pensiun BUMN.

Dapen Telkom lahir sebagai janji. Kini ia berdiri sebagai monumen pengkhianatan yang diberi nama kesejahteraan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah para pensiunan akan mendapatkan haknya. Melainkan apakah kita. Yang masih bekerja hari ini. Memiliki keberanian untuk mengakui bahwa tragedi mereka adalah bayangan masa depan kita sendiri.

Direksi, Danantara dan MK

Lalu apa yang Bisa Dilakukan Direksi Telkom, Danantara dan MK? Dari Belas Kasihan menuju Keadilan Struktural?

Tragedi Dana Pensiun Telkom bukan fenomena alam. Ia adalah produk dari keputusan manusia. Keputusan yang dibuat oleh direksi, regulator, dan pemegang saham negara.

Oleh karena itu, jalan keluarnya pun harus lahir dari keputusan manusia yang baru. Keputusan yang berani membalikkan arah pengkhianatan struktural selama puluhan tahun.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Direksi Telkom dan Danantara mampu berbuat sesuatu. Melainkan mengapa mereka belum melakukannya dengan radikal.

Direksi Telkom memegang kunci pertama. Selama ini, kebijakan kontribusi perusahaan terhadap Dapen diatur oleh Peraturan Perusahaan 2014: Telkom berhenti menyetor ketika Rasio Kecukupan Pendanaan (FSR) Dapen berada di atas 105 persen. Fan baru menyetor kembali ketika FSR turun di bawah ambang itu.

Logika ini secara finansial mungkin masuk akal. Tetapi secara etis ia adalah logika seorang penagih utang. Bukan seorang bapak yang bertanggung jawab atas anak-anaknya.

FSR Dapen saat ini berada di bawah 105 persen. Artinya Telkom memang sedang menyetor. Namun pertanyaannya, berapa lama? Dan apakah setoran itu cukup untuk mengangkat martabat pensiunan? Atau hanya cukup untuk mencegah kebangkrutan?

Direksi Telkom harus menetapkan standar yang lebih tinggi. Bukan sekadar FSR 105 persen. Melainkan kecukupan manfaat yang layak bagi setiap pensiunan.

Kebijakan menaikkan manfaat pensiun menjadi minimal Rp1 juta per bulan bagi pensiunan tertentu. Sebagaimana tercantum dalam peraturan perusahaan. Bukanlah kebijakan kesejahteraan. Ia adalah pengakuan bahwa ada manusia yang harus hidup dengan Rp1 juta. Dan itu pun baru “dinaikkan”. Aduh, aduh, tega amat sih...!

Direksi harus berani menetapkan living pension. Bukan minimum pension.

Lebih dari itu, Direksi Telkom harus memulihkan hubungan moral dengan pensiunan yang telah diputus oleh UU Dana Pensiun 1992.

Pemutusan hukum boleh saja terjadi. Tetapi pemutusan etis tidak pernah sah. Telkom dapat membuat program kesejahteraan tambahan yang terpisah dari Dapen. Bukan sebagai belas kasihan. Melainkan sebagai pengakuan atas jasa historis.

Perusahaan telah memberikan manfaat tambahan kepada pensiunan yang masuk masa pensiun sebelum 30 Juni 2002 sebesar puluhan miliar rupiah.

Kebijakan ini benar arahnya. Tetapi skalanya terlalu kecil dan cakupannya terlalu sempit.

Direksi perlu memperluas skema serupa untuk seluruh pensiunan. Dengan formula yang transparan dan terikat pada kinerja perusahaan. Bukan pada sisa anggaran.

Peran Danantara

Danantara memegang kunci kedua. Dan justru yang lebih menentukan. Sebagai badan yang kini menjalankan kewenangan strategis atas Telkom melalui saham Seri A Diwarnya. Danantara memiliki legitimasi konstitusional untuk memaksa perubahan.

Danantara tidak bisa berlindung di balik argumen “ini urusan direksi”.

Ketika sebuah BUMN gagal memenuhi kontrak sosialnya terhadap pensiunan. Itu adalah kegagalan tata kelola negara. Dan Danantara adalah wajah negara di dalam BUMN.

Langkah pertama yang harus dilakukan Danantara adalah melakukan audit forensik terhadap seluruh Dana Pensiun BUMN, termasuk Dapen Telkom.

Danantara telah mengakui bahwa pengelolaan investasi yang sembarangan menyebabkan kekurangan dana pensiun. Seperti yang terjadi pada Pos Indonesia dengan defisit hampir Rp4 triliun.

Jika Danantara serius menata ulang dana pensiun BUMN, maka Dapen Telkom harus menjadi prioritas. Bukan catatan kaki.

Kedua, Danantara harus menetapkan standar tata kelola pensiun yang berlaku seragam untuk seluruh BUMN di bawah pengawasannya.

Standar ini harus mencakup kewajiban pemberi kerja untuk menutup defisit secara bertahap dan terukur. Transparansi laporan aktuaria kepada peserta. Serta representasi pensiunan dalam pengambilan keputusan investasi.

Selama ini, pensiunan Telkom hanya menjadi objek. Mereka menanggung risiko investasi yang tidak pernah mereka pilih.

Dalam filsafat politik. Ini adalah bentuk perampasan otonomi yang paling elementer. Seseorang diminta menanggung akibat dari keputusan yang dibuat orang lain tanpa persetujuannya.

Danantara harus mengembalikan otonomi itu. Bukan dengan retorika. Tetapi dengan kursi di meja pengambilan keputusan.

Ketiga, Danantara harus mendorong revisi UU Dana Pensiun yang menjadi akar pemutusan hubungan antara perusahaan dan pensiunan.

Undang-undang itu lahir pada 1992. Dalam konteks yang sama sekali berbeda.

Hari ini, ketika BUMN dituntut untuk menjadi entitas bisnis yang mandiri. Justru tanggung jawab sosialnya terhadap pekerja harus semakin diperkuat. Bukan dilemahkan.

Danantara, dengan kekuatan politik dan sumber daya yang dimilikinya. Adalah satu-satunya institusi yang mampu mendorong perubahan regulasi ini. Jika ia tidak melakukannya, maka ia hanya akan menjadi super holding yang mahir mengelola aset. Tetapi buta terhadap manusia yang telah membangun aset itu.

Pada akhirnya, baik Direksi Telkom maupun Danantara harus memahami satu hal. Pensiunan bukanlah beban historis yang harus dikelola agar tidak meledak.

Mereka adalah bukti hidup bahwa perusahaan ini pernah berdiri karena keringat manusia.

Menelantarkan mereka berarti mengkhianati masa lalu. Membiarkan mereka hidup dalam ketidakpastian berarti mengkhianati masa depan.

Direksi Telkom harus berani menaikkan standar manfaat dan memulihkan hubungan moral.

Danantara harus berani memaksa, mengaudit, dan mereformasi.

Keduanya tidak bisa lagi bersembunyi di balik prosedur. Keadilan bagi pensiunan Telkom bukanlah permintaan yang perlu dinegosiasikan. Ia adalah utang yang harus dibayar.

Bagaimana MK Harus Menyikapi?

Mahkamah Konstitusi (MK) tidak boleh mengulang tragedi Putusan Nomor 61/PUU-XXIII/2025, yang menolak permohonan SEKAR Telkom.

Dengan alasan bahwa pembayaran manfaat pensiun secara berkala “tidak bertentangan dengan UUD 1945”. Dan bahwa penentuan ambang batas pencairan sekaligus adalah “kebijakan legislatif” yang sah.

Argumen itu secara formal benar. Tetapi secara etis tumpul. MK bukan sekadar mesin pembaca pasal. Ia adalah penjaga konstitusi yang hidup. Dan konstitusi tidak pernah memerintahkan negara membiarkan manusia lanjut usia hidup di bawah martabat.

Ketika seorang pensiunan menangis di ruang sidang tanpa pengacara. Itu bukan persoalan “kebijakan legislatif” yang netral. Itu adalah penderitaan konkret yang menuntut keadilan substantif. Bukan legalisme yang steril.

MK harus berani meninggalkan positivisme hukum yang selama ini menjadi tempat berlindung.

Ia perlu menafsirkan Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28H ayat (4) UUD 1945 bukan sebagai norma kosong. Melainkan sebagai mandat untuk memastikan bahwa jaminan hari tua yang layak adalah hak konstitusional. Bukan belas kasihan badan otonom.

Dalam perkara yang diajukan Pandapotan Nasution (Nomor 347/PUU-XXIV/2026), MK harus menguji bukan hanya prosedur.
Tetapi akibat: Apakah pemutusan hubungan antara pensiunan dan perusahaan oleh UU Dana Pensiun 1992, serta pembatasan pencairan oleh UU P2SK, telah merampas hak hidup yang layak bagi ribuan manusia yang telah mengabdi puluhan tahun.

MK harus berani menyatakan bahwa negara tidak boleh mencuci tangan dari kontrak sosial yang telah ia nikmati. Dan bahwa hukum yang membiarkan pensiunan hidup dalam ketidakpastian dan kemelaratan adalah hukum yang gagal menjadi hukum.

Bijaklah, Wahai Direksi, Danantara dan MK...Raihlah pahala yang melimpah ruah dengan mengangkat derajat para sepuh pensiunan lama yang hidup kesehariannya semakin menggelepar...!!


Serial Tasawuf-41 Al-Hikam: Hikmah Kedelapan, "Ketika Allah Membuka Pintu Perkenalan"


Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup pelan. Membawa aroma sawit ke beranda zawiyah. Para salik duduk melingkar. Tetapi salah seorang dari mereka, Zaid, tampak gelisah. Beberapa pekan terakhir, amal ibadahnya berkurang. Bukan karena malas, tetapi karena ia sering sakit dan tidak sanggup bangun malam. Namun anehnya. Hatinya justru terasa lebih dekat kepada Allah daripada sebelumnya.

“Wahai Mursyid,” ujarnya dengan suara berat, “aku malu. Amal ibadahku berkurang. Tetapi aku merasa Allah semakin dekat. Apakah ini bisikan syaitan yang menipuku?”

Syekh Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari memandang Zaid dengan mata teduh. Ia tidak langsung menjawab. Ia membuka kitab di pangkuannya dan membacakan:

إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا أَنْ قَلَّ عَمَلُكَ، فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ

“Apabila Allah membukakan bagimu suatu jalan untuk ma’rifat (mengenal-Nya). Maka janganlah engkau pedulikan amalmu yang sedikit. Karena Dia tidak membukakan pintu itu kepadamu melainkan karena Dia ingin memperkenalkan diri-Nya kepadamu.

Amal adalah Hadiah, Ma’rifat adalah Anugerah

Seorang salik bernama Aishah mengangkat tangan. “Wahai Mursyid, apakah maksudnya amal tidak lagi penting?”

Ibnu Atha’illah tersenyum. “Bukan amal yang tidak penting, Aishah. Tetapi engkau harus membedakan antara hadiah dan anugerah.”

Ia melanjutkan dengan kalimat berikutnya dari hikmah ini:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ، وَالْأَعْمَالُ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ، وَأَيْنَ مَا تُهْدِيهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ؟

“Tidakkah engkau tahu bahwa ma’rifat itu adalah pemberian yang Dia datangkan kepadamu. Sedangkan amal-amal itu adalah hadiah yang engkau haturkan kepada-Nya?

Maka di manakah kedudukan hadiah yang engkau berikan dibandingkan dengan anugerah yang Dia berikan kepadamu?”

“Zaid,” kata Ibnu Atha’illah, “engkau menghaturkan amal kepada Allah. Tetapi Allah menghaturkan diri-Nya. Pengenalan akan diri-Nya kepadamu. Mana yang lebih berharga? Amalmu? atau perkenalan dengan Allah?”

Zaid terdiam. Ia mulai memahami.

Dalil Pertama: Allah Memperkenalkan Diri-Nya

Ibnu Atha’illah membuka mushafnya. “Allah berfirman:

‘Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (QS. An-Naml: 9)”

“Perhatikanlah, Zaid. Allah tidak berkata ‘Wahai Musa, perbanyaklah amal.’ Ia berkata ‘Aku adalah Allah’. Dia memperkenalkan diri-Nya. Itulah ma’rifat: Allah sendiri yang membuka pintu perkenalan. Bukan amal hamba yang memaksa pintu itu terbuka.”

Dan Allah juga berfirman:

‘Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.’ (QS. Al-Ankabut: 69)

“Jihad di sini bukan hanya perang,” jelas Ibnu Atha’illah. “Ia adalah kesungguhan melawan hawa nafsu. Tetapi perhatikan. Allah-lah yang menunjukkan jalan. Amal hanyalah sarana. Perkenalan adalah anugerah.”

Dalil Kedua: Siapa yang Mengenal Dirinya, Mengenal Tuhannya

Umar, salik yang lain, bertanya, “Wahai Mursyid, bagaimana kami tahu bahwa yang kami alami adalah ma’rifat. Bukan sekadar perasaan?”

Ibnu Atha’illah menjawab dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”

“Ma’rifat bukanlah perasaan yang melayang tanpa dasar. Ia lahir dari kesadaran akan kelemahan diri. Bahwa engkau tidak berdaya. Bahwa amalmu tidak berarti apa-apa tanpa rahmat Allah. Ketika engkau melihat dirimu kecil. Engkau mulai melihat Allah besar. Itulah awal ma’rifat.”

Nabi SAW juga bersabda:

“Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia mengenalmu di waktu sempit.” (HR. Tirmidzi)

“Perhatikanlah,” ujar Ibnu Atha’illah. “Engkau mengenal Allah melalui amal. Tetapi Allah-lah yang mengenalmu dan membuka pintu perkenalan. Amalmu hanyalah sebab. Perkenalan adalah buah.”

Dalil Ketiga: Jangan Diserahkan kepada Diri Sendiri

Ibnu Atha’illah kemudian mengajarkan doa yang selalu dibaca Nabi SAW:

“Wahai Dzat yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya; dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.” (HR. An-Nasai, Al-Hakim)

“Zaid,” kata Ibnu Atha’illah, “jika engkau diserahkan kepada dirimu sendiri, amalmu tidak akan menyelamatkanmu. Jika engkau diserahkan kepada amalmu. Amalmu akan menjadi tirai antara engkau dan Allah. Tetapi jika Allah membuka pintu perkenalan. Meskipun amalmu sedikit. Engkau telah sampai kepada-Nya. ”

Penutup: Kembalikan Amal kepada Pemiliknya

Malam semakin larut. Ibnu Atha’illah bangkit. Membetulkan selendangnya. Memandang para salik dengan penuh kasih.

“Anak-anakku,” ujarnya, “janganlah engkau mengukur kedekatanmu dengan Allah dari banyaknya amal. Ukurlah dari seberapa dalam engkau mengenal-Nya. ”

“Amal adalah kendaraan. Ma’rifat adalah tujuan. Jangan sibuk memperbaiki kendaraan hingga engkau lupa bahwa engkau sedang menuju kepada Dzat yang memperkenalkan diri-Nya kepadamu. ”

“Maka berdoalah: ‘Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada amalku sendiri. Bukakanlah pintu perkenalan-Mu. Karena Engkaulah yang mengenalkan diri-Mu. Dan aku hanyalah hamba yang rindu mengenal-Mu.’”

Zaid mengusap air matanya. Ia tidak perlu malu karena amalnya berkurang. Yang ia butuhkan bukan amal yang lebih banyak. Melainkan hati yang lebih mengenal Dzat yang ia sembah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bersambung ke hikmah kesembilan, Rahasia di balik beragamnya amal.

Mi Babi dan Penggerebegan Pesantren Santriwati

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-73) Narasi Pembuka: Pukul 03.20, Selasa, 27 Oktober 2026. Di sebuah pondok di Mojolaban, Sukoharjo, dua belas...