Rabu, 14 Oktober 2026

Sikap FPP TNI Menyoal Kasus Gibran: Pengawal Konstitusi atau Bayang-Bayang Kekuasaan?



(Secangkir Anggur Merah, Edisi-61)

Spotlight: Forum Purnawirawan Prajurit (FPP) TNI tiba-tiba menjelma menjadi oposisi paling vokal di republik ini. Di tengah sikap dingin para elite politik yang memilih berlindung di balik tembok prosedur. Sekelompok jenderal dan perwira purnawirawan ini justru mengambil posisi yang jarang ditemui: Menuntut pertanggungjawaban konstitusional atas pencalonan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang tidak pernah terbukti memiliki ijazah setara SMA. Namun, sikap FPP TNI ini tidak lahir di ruang hampa. Ia adalah produk dari kekecewaan yang menahun terhadap pembiaran elite. Sekaligus ujian bagi batas antara kenegarawanan dan politik kekuasaan.

Siapa Sebenarnya FPP TNI?

FPP TNI adalah forum yang beranggotakan purnawirawan. Bukan institusi TNI aktif. Perlu ditegaskan sejak awal: Purnawirawan bukan lagi bagian dari struktur kedinasan TNI. Sehingga pandangan politik mereka tidak dengan sendirinya dapat disebut sebagai sikap TNI sebagai institusi. 

Forum ini digerakkan oleh nama-nama besar. Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi (Mantan Wakil Panglima TNI dan Menteri Agama); Jenderal TNI (Purn) Tyasno Sudarto (Mantan KSAD); Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebijanto (Mantan KSAL); Marsekal TNI (Purn) Hanafie Asnan (Mantan KSAU). 

Mereka bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang pernah memegang komando tertinggi di angkatan masing-masing. Yang tahu persis apa artinya sumpah prajurit dan kesetiaan pada konstitusi.

Surat Terbuka yang Menghunjam

Pada 9 Oktober 2026, FPP TNI melayangkan surat terbuka kepada tujuh lembaga negara: Presiden RI, Ketua DPR, Ketua MPR, Ketua MK, Ketua MA, Jaksa Agung, dan Kapolri. 

Juru bicara mereka, Laksamana Pertama TNI (Purn) Moeryono Aladin, menyebut polemik ijazah Gibran sebagai “skandal bangsa” yang mempermalukan Indonesia di mata dunia. Ia menegaskan bahwa sesuatu yang sejak awal dianggap tidak sah tidak serta-merta menjadi sah hanya karena telah berlangsung dalam waktu lama. Ini adalah serangan langsung terhadap logika MK yang menyatakan cacat syarat pencalonan telah kedaluwarsa oleh pelantikan.

Surat terbuka itu bukan sekadar protes administratif. Ia adalah deklarasi bahwa konstitusi tidak boleh menjadi alat negosiasi politik. FPP TNI meminta seluruh penyelenggara negara menghormati dan melaksanakan putusan MK secara jujur, konsekuen, dan transparan. Mereka juga mengajak masyarakat menjaga ketertiban sambil tetap mengawal proses konstitusional.

Dari Desakan Mundur hingga Wacana Pemakzulan

FPP TNI tidak berhenti pada surat terbuka. Mereka secara terbuka mendesak Gibran mundur dari jabatan wakil presiden. “Gibran, Anda tidak pantas jadi wapres. Mengundurkan diri adalah jalan paling baik untuk Anda,” kata Moeryono Aladin. 

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. FPP TNI merencanakan penggalangan dukungan pemakzulan dengan berkirim surat kepada DPR, MPR, dan pimpinan partai politik, berlandaskan Pasal 7A UUD 1945. 

Perwakilan FPP TNI, Dwi Cahyo, menyatakan bahwa pengiriman surat resmi menjadi agenda utama. Sebelum menggelar pertemuan tatap muka dengan para ketua partai.

Lebih tajam lagi, dalam sebuah podcast, Moeryono menyebut jabatan Gibran sebagai wakil presiden sudah “haram” dan harus diganti. “Wapres tidak memenuhi syarat itu kan sudah haram. Harus diganti, harus diganti. Dan orang sudah tidak bisa hormat lagi,” ujarnya. 

Ia juga mempertanyakan mengapa tidak ada satu pun komentar dari petinggi negeri ini setelah putusan MK pada 6 Oktober 2026. Padahal persoalan itu menyangkut wakil presiden.

Kemarahan terhadap Respons Gibran

Yang membuat FPP TNI semakin geram adalah respons Gibran sendiri. Ketika ditanya soal ijazah SMA, Gibran menjawab dengan nada meremehkan: “Ya, kalau saya nggak lulus SMA, kan saya nggak mungkin bisa kuliah. Saya kan kuliah sampai S1 juga di Singapura”. 

Jawaban itu dianggap sebagai bentuk arogansi intelektual yang mengabaikan fakta hukum. Moeryono Aladin merespons dengan kata-kata yang keras: “Itu goblok, bodoh, tidak punya rasa malu”. Ia menegaskan bahwa Gibran tidak pantas menjadi wakil presiden.

Kritik ini bukan semata soal emosi. Ada logika mendasar yang dilanggar Gibran. Bisa kuliah bukan bukti otomatis lulus SMA. Banyak jalur pendidikan tinggi yang tidak mensyaratkan ijazah SMA secara formal, terutama di luar negeri. Yang diminta publik bukanlah argumen “logis” dari Gibran. Melainkan dokumen. Dan dokumen itu, menurut MK sendiri, tidak pernah ditemukan.

Antara Kenegarawanan dan Bayang-Bayang Politik

Namun, sikap FPP TNI tidak bebas dari kecurigaan. Sebagian pihak menilai bahwa di balik retorika konstitusi, ada kepentingan politik yang lebih besar: Mendorong pemakzulan Gibran untuk melemahkan posisi Jokowi dan keluarganya. 

Analis politik menyebut bahwa jika Prabowo memang ingin menyingkirkan Jokowi secara penuh. Pasti akan dieksekusi melalui pemakzulan. Dan jika dia memakzulkan Gibran, PDIP akan mendukung. 

FPP TNI sendiri, dalam pertemuan dengan Mahfud MD, membahas delapan poin tuntutan. Termasuk pemakzulan Gibran. Ini menunjukkan bahwa isu ijazah bukan satu-satunya agenda mereka.

Pertanyaan kritisnya: Mengapa baru sekarang? Mengapa FPP TNI tidak sevokal ini ketika pencalonan Gibran pertama kali dipersoalkan pada 2023? Mengapa suara mereka baru mengeras setelah MK mengeluarkan putusan yang secara implisit mengakui cacat syarat pencalonan? Apakah ini murni gerakan moral, Atau ada momentum politik yang dimanfaatkan?

Jawabannya mungkin ada di antara keduanya. FPP TNI adalah produk dari sistem politik yang telah lama membiarkan standar ganda. Mereka adalah pengawal konstitusi yang terlambat bangun. Tetapi tetap lebih baik bangun daripada tidak sama sekali. 

Namun, publik berhak bertanya: Jika tujuan mereka adalah menegakkan konstitusi. Mengapa tidak ada suara yang sama kerasnya ketika konflik kepentingan Anwar Usman merusak integritas MK pada 2023?

Refleksi: Suara dari Masa Lalu, Ujian bagi Masa Depan

Sikap FPP TNI terhadap kasus Gibran adalah cermin dari kerapuhan demokrasi Indonesia. Ketika lembaga-lembaga negara yang seharusnya menjadi penjaga konstitusi justru memilih diam atau berlindung di balik prosedur, purnawirawan militer. Yang secara formal tidak lagi memiliki kekuasaan. Justru mengambil peran yang seharusnya diisi oleh DPR, MPR, dan MK. Ini adalah ironi yang pahit.

Namun, FPP TNI juga bukan malaikat. Mereka adalah bagian dari elite yang pernah berkuasa. Dan sikap mereka tidak lepas dari kepentingan politik yang lebih luas. Yang dibutuhkan publik bukan sekadar suara keras. Melainkan konsistensi. 

Jika FPP TNI benar-benar mengawal konstitusi, mereka harus berlaku sama terhadap semua pelanggaran. Bukan hanya terhadap Gibran. Jika tidak, maka sikap mereka hanyalah politik kekuasaan. Yang dibungkus jubah kebangsaan. Dan republik ini sudah terlalu lelah dengan jubah-jubah semacam itu. Nuwun sewu, Jenderal...!!

Serial Tasawuf-21, Landasan Tasawuf Syekh Abdul Qodir al-Jailani: "Tujuh Maqam Menuju Hadirat Ilahi"


Spotlight: Tahun berganti. Madrasah tua di Babul Azaj itu masih berdiri kokoh di tepi sungai Tigris. Namun malam itu, suasana berbeda. Al-Jailani tidak duduk di tempat biasanya. Ia berdiri di depan para muridnya. Memandang mereka satu per satu dengan mata yang dalam. Mata yang telah melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Mata yang telah menangis di hadapan Allah dalam kesunyian malam yang panjang.

Tujuh Maqam Menuju Allah

"Anak-anakku..!" Ujarnya dengan suara yang menggema. "Selama ini kita telah berbicara tentang syariat dan hakikat. Dua sayap yang tidak boleh terpisah. Malam ini. Aku akan membuka pintu yang lebih dalam. Aku akan menunjukkan kepadamu tujuh anak tangga yang harus engkau daki. Jika engkau ingin sampai kepada Allah."

Para murid terdiam. Angin malam berhembus melalui jendela yang terbuka. Membawa aroma tanah basah dari sungai. Al-Jailani membuka sebuah kitab tua. Al-Ghunyah Lithalibi Thoriqi al-Haq. Kitab yang ia tulis untuk para pencari kebenaran.

"Ketahuilah," lanjutnya, "bahwa aku tidak menyebut ini sebagai maqamat dalam kitabku. Aku menyebutnya sebagai tahapan-tahapan yang harus dilalui seorang hamba. Tetapi para ulama setelahku menyebutnya maqamat. Stasiun-stasiun spiritual yang harus dilalui seorang salik. Dalam perjalanannya menuju Allah."

Seorang murid mengangkat tangan. "Wahai Syekh, apa sajakah tujuh tahapan itu?"

Al-Jailani tersenyum. Lalu menjawab dengan suara yang tenang namun berwibawa: "Taubat, zuhud, tawakal, syukur, sabar, ridha, dan jujur."

Maqam Pertama: Taubat. Pintu Gerbang yang Terbuka

Al-Jailani memulai dengan taubat. "Taubat adalah langkah awal sebelum memulai perjalanan menuju Tuhan," ujarnya. "Ia adalah pintu gerbang pertama yang harus engkau lewati. Tanpa taubat, engkau tidak akan pernah bisa memasuki istana-Nya."

Beliau menjelaskan bahwa taubat bukanlah sekadar ucapan di lisan. Taubat adalah kembali kepada Allah dengan melepaskan ikatan dosa dari hati. Lalu melaksanakan setiap hak Tuhan. 

Taubat yang sejati memiliki unsur-unsur: Penyesalan dalam hati. Permohonan ampun. Meninggalkan perbuatan buruk. Dan niat sepenuh hati untuk tidak mengulanginya.

"Dalam pandanganku," kata al-Jailani. "Taubat ada dua macam. Pertama, taubat yang berkaitan dengan sesama manusia. Taubat ini tidak terealisasi kecuali dengan menghindari kezaliman. Memberikan hak kepada yang berhak. Dan mengembalikan kepada pemiliknya. 

Kedua, taubat yang berkaitan dengan hak Allah. Taubat ini dilakukan dengan selalu mengucapkan istighfar dengan lisan. Menyesal dalam hati. Dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang."

Beliau menatap para muridnya. "Ketahuilah, anak-anakku. Taubat bukanlah peristiwa sekali seumur hidup. Ia adalah perjalanan yang berkelanjutan. Setiap kali engkau jatuh, bangkitlah. Setiap kali engkau berdosa, kembalilah. Pintu taubat tidak pernah tertutup selama ruh masih berada dalam raga."

Maqam Kedua: Zuhud, Melepaskan Dunia dari Hati

Setelah taubat, al-Jailani membahas zuhud. Namun ia segera mengoreksi kesalahpahaman yang umum. "Banyak orang menyangka zuhud berarti meninggalkan dunia sepenuhnya. Itu bukan zuhud yang aku maksud," ujarnya tegas.

Beliau menjelaskan bahwa zuhud ada dua macam. Pertama, zahid hakiki. Yaitu mengeluarkan dunia dari hati. Kedua, mutazahid shuwari. Yaitu zuhud lahir. Mengeluarkan dunia dari hadapan.

"Namun hal ini tidak berarti bahwa seorang zahid hakiki menolak rezeki yang diberikan Allah kepadanya," lanjutnya. "Ia mengambilnya. Lalu menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah. Ia memiliki dunia di tangannya. Tetapi tidak di hatinya."

Al-Jailani menegaskan bahwa zuhud bukanlah penolakan total terhadap dunia. Zuhud adalah pengendalian hati agar tidak diperbudak oleh harta, kekayaan, dan kesenangan. "Dunia ini adalah jembatan. Lewatilah jembatan itu. Dan janganlah engkau membangun rumah di atasnya."

Beliau mengingatkan bahwa zuhud membawa kesucian kepada diri seorang salik. "Zuhud mengajarkan betapa engkau harus menahan hawa nafsu dan menolak semua tuntutannya. 

Ketahuilah bahwa hawa nafsulah puncak segala kecelakaan diri, baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, nafsu tidak boleh dijadikan teman. Justru harus dianggap sebagai lawan dan pembinasa manusia."

Maqam Ketiga: Tawakal, Menyerahkan Segalanya kepada Allah

Al-Jailani kemudian membahas tawakal. "Tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Tuhan dan membersihkan diri dari gelapnya pilihan," ujarnya.

Beliau menjelaskan bahwa tawakal adalah salah satu gerbang utama dalam keimanan. "Seseorang yang benar-benar telah mengenal Tuhannya melalui makrifat yang telah dicapainya. Tidak mungkin sifat tawakal tersisih dari dirinya. Sebab, mustahil jika seseorang yang mengenal Tuhannya tidak memiliki jiwa tawakal."

"Tawakal bukanlah meninggalkan usaha," tegas al-Jailani. "Tawakal adalah menggantungkan hati kepada Allah. Setelah melakukan usaha semaksimal mungkin. Engkau berusaha dengan tanganmu. Tetapi hatimu bergantung kepada Allah. Engkau bekerja dengan tubuhmu. Tetapi jiwamu berserah kepada-Nya."

Beliau mengingatkan bahwa tawakal adalah buah dari tauhid. Pengakuan bahwa tidak ada yang berkuasa selain Allah. "Jika engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Engkau tidak perlu gelisah. Karena Allah tidak pernah tidur. Engkau tidak perlu takut. Karena Allah tidak pernah lalai."

Maqam Keempat: Syukur, Mengakui Nikmat dengan Hati, Lisan, dan Perbuatan

Al-Jailani melanjutkan ke maqam syukur. "Syukur adalah mengakui nikmat Allah dengan hati. Mengucapkannya dengan lisan. Dan menggunakannya untuk ketaatan dengan anggota badan."

Beliau menjelaskan bahwa syukur bukanlah sekadar ucapan "alhamdulillah". Syukur adalah kesadaran yang mendalam bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Dan tindakan nyata yang menunjukkan kesadaran itu.

"Orang yang bersyukur tidak pernah merasa kurang," ujar al-Jailani. "Ia melihat apa yang ia miliki. Bukan apa yang ia tidak miliki. Ia bersyukur atas kesehatan sebelum sakit. Atas kekayaan sebelum miskin. Atas waktu luang sebelum sibuk. Ia tahu bahwa nikmat Allah tidak terhitung. Dan ia tidak pernah merasa cukup untuk bersyukur."

Beliau mengingatkan bahwa syukur adalah kunci kebahagiaan. "Jika engkau bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya kepadamu. Tetapi jika engkau kufur, azab Allah sangat pedih."

Maqam Kelima: Sabar, Fondasi Segala Kebaikan

Al-Jailani kemudian membahas sabar. Maqam yang ia sebut sebagai fondasi segala bangunan spiritual. "Bangunan kenabian, kerasulan, kewalian, makrifatullah, dan mahabbah," katanya. "Berdiri kokoh di atas fondasi kesabaran."

Beliau mengilustrasikan maqam spiritual sebagai bangunan yang memiliki struktur dan unsur-unsur yang membentuknya. "Tanpa fondasi, sebuah bangunan fisik tidak akan dapat berdiri. Hal yang sama juga terjadi pada bangunan spiritual."

Dalam kitab Al-Fathur Rabbani, al-Jailani berkata: "Jangan kau lari dari ujian, karena ujian yang dihadapi dengan kesabaran merupakan fondasi spiritual bagi setiap bangunan kebaikan. Fondasi atas bangunan kenabian, kerasulan, kewalian, makrifat, dan mahabbah adalah bala'. Jika kau tidak bersabar atas bala', maka kau tidak memiliki fondasi."

"Sabar bukanlah berdiam diri tanpa usaha," tegas al-Jailani. "Sabar adalah menahan diri dari keluh kesah kepada selain Allah. Sambil tetap berusaha semaksimal mungkin. 

Sabar adalah tali yang mengikat jiwamu ketika musibah datang, sehingga engkau tetap tenang, tetap berhusnuzan kepada Allah, tetap yakin bahwa apa yang Dia berikan adalah yang terbaik."

Maqam Keenam dan Ketujuh: Ridha dan Jujur

Al-Jailani menutup majelis malam itu dengan membahas dua maqam terakhir: ridha dan jujur.

"Ridha adalah menerima segala ketentuan Allah dengan lapang dada. Ia adalah buah dari mahabbah, cinta kepada Allah. Ketika engkau mencintai Allah dengan sepenuh hati. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia lakukan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau percaya bahwa Dzat yang engkau cintai tidak akan pernah menyakitimu."

"Dan jujur (ash-shidq)," lanjutnya, "adalah kejujuran yang mencakup segala aspek. Jujur dalam perkataan. Jujur dalam perbuatan. Jujur dalam niat. Dan jujur dalam hubungan dengan Allah. Orang yang jujur tidak pernah berpura-pura. Ia adalah dirinya sendiri. Di hadapan manusia maupun di hadapan Allah."

"Ketahuilah," ujar al-Jailani dengan suara yang menggema, "tujuh maqam ini bukanlah tujuan. Mereka adalah jalan. Tujuan akhirnya adalah makrifat. Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Dan makrifat tidak akan dicapai apabila syariat dilanggar."

Para murid mengaminkan dengan hati yang bergetar. Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pengetahuan tentang tujuh maqam. Tetapi dengan tekad baru untuk menapaki jalan itu. Satu anak tangga demi satu anak tangga. Hingga mereka sampai kepada Dzat yang telah menciptakan tangga itu.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Bersambung ke Serial-22: Tazkiyatun Nafs, Penyucian Jiwa dalam Tasawuf al-Jailani

Selasa, 13 Oktober 2026

Pendidikan gratis, Wacana Indah di Atas Kertas


Di ujung gang itu. Sebuah sekolah berdiri dengan atap yang bocor. Sejak tahun pertama republik ini merdeka. Ia bernama negeri. Tetapi tak seorang pun tahu siapa yang benar-benar memilikinya. 

Anak-anak datang dengan seragam yang lusuh. Sepatu yang bergantian dipakai kakak-beradik. Dan mata yang menyala. Mata yang percaya bahwa di balik pintu kelas. Ada sesuatu yang tak bisa dirampok oleh siapa pun: Pengetahuan.

Konon, pendidikan itu gratis. Konon, negara menjaminnya. Konon, konstitusi telah menuliskannya dengan tinta emas. Tetapi tinta emas. Rupanya, tak pernah sampai ke desa ini. Yang sampai hanyalah brosur. Spanduk. Dan janji-janji yang bertebaran seperti daun kering di musim kemarau.

Gratis, kata mereka. Tetapi lihatlah. Uang pangkal, uang seragam, uang buku, uang kegiatan, uang ini, uang itu. Semuanya berbaris rapi seperti pasukan yang menunggu komando. 

Orang tua di kampung ini menggarap sawah orang lain. Upahnya tak cukup untuk membeli sepatu. Apalagi membayar "sumbangan sukarela" yang nilainya lebih besar dari penghasilan sebulan. 

Pendidikan gratis? Ia adalah hantu yang menakut-nakuti dompet orang miskin.

Seorang ibu pernah berkata kepadaku. Sambil menumbuk padi. "Kalau sekolah itu gratis. Kenapa anakku harus berhenti di kelas empat? Apa karena kami miskin. Jadi kami tak berhak tahu?" Ia tidak menangis. 

Matanya kering seperti sawah di musim kemarau panjang. Dan aku tak punya jawaban. Hanya ada rasa malu yang menjalar. Sebab aku tahu. Negara ini punya uang untuk membangun gedung-gedung megah. Punya uang untuk perjalanan dinas ke luar negeri. Punya uang untuk segala hal yang tak pernah menyentuh dapur orang miskin.

Pendidikan gratis adalah wacana yang indah di atas kertas. Ia adalah puisi yang dibacakan di seminar-seminar. Dikutip dalam pidato kenegaraan. Ditulis dalam naskah akademik. 

Tetapi di lapangan. Ia adalah rakyat yang berjuang sendiri. Guru-guru honorer yang digaji sebesar uang rokok. Mengajar dengan sepenuh jiwa. Lalu pulang ke rumah untuk menghadapi tagihan listrik. Yang tak bisa dibayar dengan idealisme. 

Kepala sekolah yang harus memutar otak mencari dana. Bukan untuk kesejahteraan. Tetapi agar sekolah tetap berdiri. Dan anak-anak. Anak-anak yang seharusnya menjadi masa depan. Terpaksa memilih: Sekolah atau makan?

Ada ironi yang menganga seperti luka. Negara ini kaya. Tanahnya subur. Lautnya luas. Tambangnya berlimpah. Tetapi kekayaan itu mengalir ke tempat yang salah. Ia menjadi gedung-gedung pencakar langit. Mobil-mobil mewah. Dan rekening-rekening di bank asing. 

Sementara itu. Di desa-desa. Di pinggiran kota. Di pelosok-pelosok yang tak tersentuh peta pembangunan. Anak-anak belajar di bawah langit yang retak. Dengan papan tulis yang sudah putih karena terlalu tua. Dan buku yang halamannya hilang dimakan zaman.

Pendidikan gratis bukanlah utopia. Negara-negara lain telah membuktikannya. Finlandia, Kuba, Jerman. Mereka tahu bahwa investasi terbaik adalah manusia. Mereka tak bertanya: "Apakah kita mampu?" Mereka bertanya, "Apakah kita mau?" Dan mereka mau. Mereka menganggap pendidikan sebagai hak. Bukan belas kasihan. Mereka menganggap anak-anak sebagai aset. Bukan beban.

Di negeri ini, kita terlalu sibuk bertanya: "Dari mana uangnya?" Padahal, uangnya ada. Korupsi merajalela. Anggaran bocor di mana-mana. Tapi ketika bicara pendidikan. Tiba-tiba kita menjadi pelit. 

Ada uang untuk membangun monumen. Tapi tak ada uang untuk membangun sekolah. Ada uang untuk membeli alutsista. Tapi tak ada uang untuk membeli buku. Ada uang untuk segalanya. Kecuali untuk masa depan.

Maka pendidikan gratis tetap menjadi wacana. Ia menjadi dongeng yang diceritakan dari generasi ke generasi. Seperti mitos tentang keadilan yang tak pernah datang. 

Sementara itu, di ujung gang. Sekolah itu masih berdiri. Atapnya masih bocor. Anak-anaknya masih datang. Dan mereka masih percaya. Karena itulah satu-satunya yang mereka punya.

Tetapi sampai kapan? Sampai kapan kita membiarkan mereka belajar di bawah langit yang retak? Sampai kapan kita menutup mata pada kenyataan. Bahwa pendidikan gratis hanyalah ilusi bagi mereka yang tak punya suara?

Jika negara ini benar-benar merdeka. Maka merdekanya harus dimulai dari ruang kelas. Bukan dari pidato. Bukan dari spanduk. Tetapi dari keberanian untuk mengakui bahwa pendidikan adalah hak. Bukan kemewahan. Dan bahwa selama satu anak saja masih berhenti sekolah karena miskin. Selama itu pula republik ini belum sepenuhnya merdeka.

Langit masih retak. Tetapi selama masih ada yang mau menambalnya. Harapan itu belum mati. 

Jangan jadikan pendidikan gratis terus-terusan menjadi wacana dan slogan politis. Kalau pada kenyataannya "an-sich nonsens". Hanya omong kosong belaka...!!

Serial Tasawuf-20: "Syariat dan Hakikat, Dua Sayap Tak Terpisahkan"


Pendahuluan: Tahun 521 Hijriah. Kota Baghdad. Pusat peradaban dunia. Tenggelam dalam cahaya lentera yang bergoyang ditiup angin Tigris. Di sebuah madrasah tua di Babul Azaj. Seorang lelaki duduk di atas sajadah yang telah lusuh dimakan usia. Wajahnya teduh. Namun matanya menyimpan kedalaman. Yang membuat siapa pun yang memandangnya merasa sedang berdiri di tepi samudra. Namanya Abdul Qadir al-Jailani. Lelaki yang kelak dijuluki Sulthan al-Auliya. Raja Para Wali.

Landasan Tasawuf Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Di hadapannya. Ratusan murid duduk bersila. Mereka datang dari berbagai penjuru. Dari Yaman. Dari Syam. Dari negeri-negeri yang jauh. Ada yang berilmu tinggi. Ada yang buta huruf. Ada yang kaya. Ada yang miskin. Tetapi semua datang dengan satu tujuan yang sama. Mencari jalan menuju Allah.

Malam itu, seorang murid mengangkat tangan. "Wahai Syekh, aku telah mempelajari fiqih selama sepuluh tahun. Aku hafal Al-Qur'an. Aku tahu halal dan haram. Tetapi hatiku terasa kering. Apakah aku harus meninggalkan ilmu syariat untuk menempuh jalan tasawuf?"

Al-Jailani tersenyum. Senyumnya bukan senyum yang ringan. Melainkan senyum yang mengandung beban hikmah berabad-abad. "Duduklah, anakku," ujarnya dengan suara yang dalam. Seperti gemuruh sungai di kejauhan. "Malam ini, aku akan bercerita tentang dua sayap yang tidak boleh terpisah."

Kisah Burung yang Kehilangan Satu Sayap

"Ada seekor burung yang ingin terbang tinggi ke langit. Ia memiliki dua sayap. Sayap kanan dan sayap kiri. Suatu hari, ia berkata kepada dirinya sendiri: 'Sayap kananku terlalu berat. Aku akan memotongnya. Agar aku bisa terbang lebih ringan.'"

"Burung itu memotong sayap kanannya. Ia mencoba terbang. Tetapi ia hanya berputar-putar di tempat. Ia tidak bisa naik. Tidak bisa turun. Tidak bisa ke mana-mana. Ia jatuh ke tanah. Dan ia menangis."

"Seorang bijak datang kepadanya dan bertanya: 'Mengapa engkau menangis?'"

"Burung itu menjawab: 'Aku ingin terbang tinggi. Tetapi aku telah memotong sayapku.'"

"Bijak itu berkata: 'Engkau bodoh. Sayap kanan dan sayap kiri adalah satu kesatuan. Engkau tidak bisa terbang dengan hanya satu sayap. Engkau harus memiliki keduanya.'"

Al-Jailani memandang para muridnya. "Syariat adalah sayap kanan. Hakikat adalah sayap kiri. Engkau tidak bisa terbang menuju Allah dengan hanya salah satunya. Engkau tidak bisa mengabaikan fiqih dan hanya berdzikir. Dan engkau tidak bisa hanya mempelajari hukum dan mengabaikan hatimu. Keduanya harus berjalan bersama."

Syariat Zahir, Hakikat Batin

Al-Jailani menegaskan bahwa syariat adalah aspek zahir (lahiriah) dari ibadah. Sedangkan tarekat atau hakikat adalah aspek batin-nya. Keduanya tidak boleh dipisahkan. 

Ia sendiri adalah pengikut mazhab Hanbali yang tegas dalam fiqih. Namun juga seorang sufi yang mendalam dalam spiritualitas. Ia menjembatani kesenjangan antara ulama fiqih yang sibuk dengan nash-nash. Dengan para sufi yang kadang melampaui batas dalam aspek rohani.

"Akidah yang benar adalah pondasi pertama," ujar al-Jailani. "Pada masa hidupnya. Beliau selalu mewanti-wanti pentingnya berakidah seperti generasi salaf. Yaitu Ahlussunnah wal Jamaah". 

Caranya adalah dengan bersungguh-sungguh memahami dan mengamalkan Al-Qur'an dan Sunnah. Dengan begitu, seseorang akan mendapatkan petunjuk dalam menapaki jalan menuju Allah.

Al-Jailani berkata kepada murid-muridnya: "Lihatlah dirimu dengan penglihatan yang penuh kasih sayang dan cinta. Jadikanlah Al-Qur'an dan Sunnah di depanmu. Lihatlah keduanya lalu kerjakan. Jangan terpedaya dengan perkataan orang."

Beliau juga menegaskan: "Ambilah nasihat dari Al-Qur'an dengan mengamalkannya. Bukan dengan menentangnya."

Tauhid yang Hidup

Menurut al-Jailani, tauhid bukan sekadar doktrin atau spekulasi rasional. Ia adalah bukti eksistensial yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Kesadaran akan kehadiran Allah menjadi sumber inspirasi bagi aktivitas hidup yang dinamis. Sekaligus menanamkan nilai transendental pada setiap tindakan.

"Jika engkau benar-benar bertauhid," ujar al-Jailani, "engkau akan melihat Allah dalam setiap helaan napas. Dalam setiap detak jantung. Dalam setiap langkah kakimu. Engkau tidak akan pernah merasa sendirian. Karena engkau tahu bahwa Allah bersamamu. Engkau tidak akan pernah takut. Karena engkau tahu bahwa Allah melindungimu."

Dua Sayap yang Terbang Bersama

Malam semakin larut. Lampu-lampu minyak di madrasah mulai meredup. Tetapi mata para murid justru semakin bercahaya. Al-Jailani bangkit dari duduknya. Membetulkan serbannya. Dan berkata dengan suara yang menggema di seluruh ruangan:

"Anak-anakku, tasawuf tanpa syariat adalah bangunan tanpa pondasi. Syariat tanpa tasawuf adalah jasad tanpa ruh. Engkau harus memiliki keduanya. Engkau harus mempelajari fiqih. Tetapi engkau juga harus membersihkan hatimu. Engkau harus menjalankan shalat. Tetapi engkau juga harus khusyuk dalam shalatmu."

"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa mencapai Allah dengan hanya satu sayap. Engkau harus terbang dengan keduanya. Syariat dan hakikat. Agar engkau bisa naik ke langit yang tinggi. "

Para murid mengaminkan dengan hati yang bergetar. Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman baru tentang tasawuf. Tetapi dengan kesadaran bahwa jalan menuju Allah adalah jalan yang seimbang. Antara zahir dan batin. Antara ilmu dan amal. Atara syariat dan hakikat.

Wallahu a'lam bish-shawab.
(Bersambung ke Serial-21: Tujuh Maqam Menuju Hadirat Ilahi.)

Sikap FPP TNI Menyoal Kasus Gibran: Pengawal Konstitusi atau Bayang-Bayang Kekuasaan?

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-61) Spotlight : Forum Purnawirawan Prajurit (FPP) TNI tiba-tiba menjelma menjadi oposisi paling vokal di repu...