Hidup yang dinamis ini menuntut kita untuk menghargai setiap detik. Jangan pernah menyia-nyiakannya. Saatnya memaksimalkan waktu yang terbatas ini. Demi kebaikan dan persiapan masa depan.
Roda kehidupan selalu berputar. Tidak selamanya di atas, juga tak langgeng di bawah. Sungguh sang Waktu Tidak Bisa Diulang. Kehadirannya adalah modal utama yang tidak bisa kembali. Kata orang arief bijak manfaatkanlah dia dengan sebaik-baiknya.
Perubahan adalah sebuah kepastian. Tak terkecuali tubuh dan kondisi kita yang senantiasa berubah seiring waktu. Pastinya itu dipengaruhi juga oleh tindakan kita hari ini.
Hikmah yang bisa diambil bahwa waktu yang singkat di dunia ini harus digunakan untuk perbaikan diri (istiqomah) sebelum terlambat. Jadi tak ada salahnya untuk memanfaatkan waktu dengan bijak agar tidak ada penyesalan di masa depanWaktu terus berputar
Seperti mentari yang berlari menuju tempat terbenamnya..
Dan ajalpun semakin mendekat...
Namun boleh jadi perbekalan ini terasa amat sedikit...
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Aku pernah bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, ‘Wahai Rosulullah, mukmin manakah yang paling baik..?’
Beliau bersabda, ‘Yang paling baik akhlaknya..’
Ia kembali bertanya, ‘Lalu mukmin manakah yang paling cerdas..?’
Beliau bersabda, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas..’
(HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani)
Kalau kita tidak gunakan waktu untuk beribadah kepada-Nya pastilah Allah Ta’ala akan memberikan kesibukan-kesibukan lain yang menyebabkan kita terhalang dari beribadah kepada-Nya.
Sekali berhalangan, dua kali berhalangan, akhirnya syaitan musuh nyata manusia makin dahsyat meniupkan berbagai was-was dan “alasan” untuk tidak melakukan ibadah kepadaNya
Malam itu panjang maka jangan dipendekan dengan tidur, dan siang itu terang maka jangan juga dikeruhkan dengan dosa dan maksiat.
Allah Ta’ala, berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ‘Tafsir al-Quran al-Azhim’ VII/38 (cet. Dar Ibnul Jauzy th. 1431 H) menjelaskan tentang ayat diatas yaitu,
أَيْ إِنَّمَا خَلَقْتُهُمْ لِآمُرَهُمْ بِعِبَادَتِي لَا لِاحْتِيَاجِي إِلَيْهِمْ. وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ أَيْ إِلَّا لِيُقِرُّوا بِعِبَادَتِي طَوْعًا أَوْ كَرْهًا. وَهَذَا اخْتِيَارُ ابْنِ جَرِيرٍ
“Maksudnya, Aku ciptakan mereka itu dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah hanya kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka. Mengenai firman Allah Illa liya’buduun “Melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Artinya melainkan supaya mereka mau tunduk beribadah kepada-Ku, baik secara sukarela maupun terpaksa. Ini adalah yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.”
Imam Ibnul jauzi Rahimahullah mengungkapkan dalam sebuah risalah, yang diberi nama Laftatul Kabid Nashihatul Walad, yang berisi nasihat kepada putra beliau, sebagai pesan agar putranya senantiasa menjaga waktu.
Imam Ibnul jauzi Rahimahullah mengungkapkan dalam sebuah risalah, yang diberi nama Laftatul Kabid Nashihatul Walad, yang berisi nasihat kepada putra beliau, sebagai pesan agar putranya senantiasa menjaga waktu.
Beliau mengatakan, “Ketahuilah wahai anakku bahwa hari-hari itu dibentangkan menjadi kumpulan jam. Jam dibentangkan menjadi kumpulan desah-desah napas, dan setiap desah nafas ibarat lemari. Maka, waspadalah agar desah napas itu tidak berlalu, tanpa faedah dan manfaat. Karena, di hari kiamat kelak engkau akan mendapati lemari itu kosong sehingga engkau pun menyesal!
Lihatlah setiap waktumu, untuk apakah engkau menggunakannya?Janganlah engkau membiarkannya berlalu, kecuali untuk urusan yang paling mulia.Janganlah engkau telantarkan jiwamu. Biasakanlah ia untuk melazimi amalan yang paling terpuji. Dan, bangkitlah untuk mempersiapkan tabunganmu di kubur nanti, agar engkau bahagia kelak ketika tiba di sana.”
Banyak orang mengetahui nilai dan urgensi waktu, dan mengetahui perkara-perkara bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi waktu, tetapi karena lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak melakukannya. Maka seorang muslim wajib mengobati perkara ini dan bersegera serta berlomba melaksanakan amalan-amalan sholih, serta memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, kemudian bergabung dengan kawan-kawan yang sholih.
Jika kita benar-benar mengerti tujuan hidup, dan kita benar-benar memahami nilai waktu, maka seharusnya kita isi waktu kita dengan perkara yang akan menjadikan ridho Penguasa kita, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Allahuma Aamiin.
Wallahu a’lam
(Komunitas Akhlaq Mulia)
Banyak orang mengetahui nilai dan urgensi waktu, dan mengetahui perkara-perkara bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi waktu, tetapi karena lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak melakukannya. Maka seorang muslim wajib mengobati perkara ini dan bersegera serta berlomba melaksanakan amalan-amalan sholih, serta memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, kemudian bergabung dengan kawan-kawan yang sholih.
Jika kita benar-benar mengerti tujuan hidup, dan kita benar-benar memahami nilai waktu, maka seharusnya kita isi waktu kita dengan perkara yang akan menjadikan ridho Penguasa kita, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Allahuma Aamiin.
Wallahu a’lam
(Komunitas Akhlaq Mulia)


𝗔𝗱𝗮 𝗱𝘂𝗮 𝘀𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝘂𝘁𝗮𝗺𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗻𝗮𝗶 𝗮𝘀𝗮𝗹-𝘂𝘀𝘂𝗹 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹:
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗺𝘂𝗹𝗮-𝗺𝘂𝗹𝗮 𝗱𝗶𝗿𝗶𝗻𝘁𝗶𝘀 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗞𝗚𝗣𝗔𝗔 𝗠𝗮𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗲𝗴𝗮𝗿𝗮 𝗜 (𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿 𝟬𝟴 𝗔𝗽𝗿𝗶𝗹 𝟭𝟳𝟮𝟱) 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗱𝗶𝗸𝗲𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗻𝗴𝗲𝗿𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗺𝗯𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘄𝗮.
Guna menghemat waktu, tenaga, pikiran serta biaya, maka seusai sholat ‘𝙄𝙙𝙪𝙡 𝙁𝙞𝙩𝙧𝙞 diadakanlah pertemuan antara raja dengan punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua penggawa dan prajurit secara tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.
𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, 𝗵𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗴𝘂𝗮𝘁 𝗶𝘀𝘁𝗶𝗹𝗮𝗵 ‘‘𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹‘’ 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗱𝗶𝗹𝗮𝘁𝗮𝗿𝗯𝗲𝗹𝗮𝗸𝗮𝗻𝗴𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗸𝗲𝗿𝗲𝘀𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗿𝗲𝘀𝗶𝗱𝗲𝗻 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼.
𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝗟𝗮𝗻𝗱𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹
𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗞𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗦𝗵𝗼𝗵𝗶𝗵 𝗕𝘂𝗸𝗵𝗼𝗿𝗶, 𝘁𝗲𝗿𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗹𝗮𝗻𝗱𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗸𝘂𝗮𝘁 𝗴𝘂𝗻𝗮 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗕𝗶𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹, 𝗯𝘂𝗻𝘆𝗶 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁:
𝗕𝘂𝗻𝘆𝗶 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘁𝘀 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁 𝗶𝗮𝗹𝗮𝗵: