Selasa, 28 April 2026

Hukum Bersalaman Setelah Shalat


Bersalaman setelah shalat adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam karena bisa menambah eratnya persaudaraan sesama umat Islam. Aktifitas ini sama sekali tidak merusak shalat seseorang karena dilakukan setelah prosesi shalat selesai dengan sempurna. 

Meskipun demikian, banyak orang yang mempertanyakan tentang hukum bersalaman, perbincangan seputar ini masih terfokus tentang bid’ah tidaknya bersalaman ba’das sholat. Inilah yang perlu dijelaskan lebih lanjut. 

Ada beberapa hadits yang menerangkan tentang bersalaman diantaranya adalah riwayat Abu Dawud:

عَنِ اْلبَرَّاءِ عَنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

Artinya : Diriwayatkan dari al-Barra’ dari Azib r.a. Rasulallah s.a.w. bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

عَنْ سَيِّدِنَا يَزِيْد بِنْ اَسْوَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَنَّهُ صَلَّى الصُّبْحَ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وَسَلّمْ. وَقالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأخُذوْنَ بِيَدِهِ يَمْسَحُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ

Artinya : Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulallah, lalu setelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing, dan begitu juga saya menyalami tangan Nabi lalu saya usapkan ke wajah saya. (H.R. Bukhari, hadits ke 3360).

عَن قلَدَة بن دِعَامَة الدَّوْسِيْ رَضِيَ الله عَنهُ قالَ قلْتُ لاَنَسْ : اَكَانَتِ اْلمُصَافحَة فِى اَصْحَابِ رَسُوْلِ الله, قالَ نَعَمْ

Artinya :Dari Qaladah bin Di’amah r.a. berkata : saya berkata kepada Anas bin Malik, apakah mushafahah itu dilakukan oleh para sahabat Rasul ? Anas menjawab: Ya (benar)

Hadits-hadits di atas adalah menunjuk pada mushafahah secara umum, yang meliputi baik mushafahah setelah shalat maupun di luar setelah shalat.

Jadi pada intinya mushafahah itu benar-benar disyariatkan baik setelah shalat maupun dalam waktu-waktu yang lainnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits di atas.

Pendapat para ulama.

1. Imam al-Thahawi.

تُطْلَبُ اْلمُصَافحَة فَهِيَ سُنَّة عَقِبَ الصَّلاةِ كُلّهَا وَعِندَ كلِّ لَقِيٍّ

Artinya: Bahwa bersalaman setelah shalat adalah sunah dan begitu juga setiap berjumpa dengan sesama Muslim.

2. Imam Izzuddin bin Abdissalam
Beliau berkata :

اَنَّهَا مِنَ اْلبِدَعِ المُبَاحَةِ

Artinya : (Mushafahah setelah shalat) adalah masuk dalam kategori bid’ah yang diperbolehkan.

3. Syeikh Abdul Ghani an-Nabilisi
Beliau berkata :

انَّهَا دَاخِلَة تحْت عُمُوْمِ سُنّةِ اْلمُصَافحَةِ مُطْلقا

Artinya : Mushafahah setelah shalat masuk dalam keumuman hadits tentang mushafahah secara mutlak.
4. Imam Muhyidin an-Nawawi
Beliau berkata :

اَنَّ اْلمُصَا فحَة بَعْدَ الصَّلاة وَدُعَاء المُسْلِمِ لآخِيْهِ اْلمُسْلِمِ بِأنْ يَّتقبَلَ الله مِنهُ صَلاتهُ بِقوْلِهِ (تقبَّلَ الله) لاَ يَخفى مَا فِيْهِمَا مِنْ خَيْرٍ كَبِيْرٍ وَزِيَادَةِ تَعَارُفٍ وَتألُفٍ وَسَبَب لِرِبَطِ القلوْبِ وَاِظهَار للْوَحْدَةِ وَالترَابُطِ بَيْنَ اْلمُسْلِمِينْ

Artinya : Sesungguhnya mushafahah setelah shalat dan mendoakan saudara muslim supaya shalatnya diterima oleh Allah, dengan ungkapan (semoga Allah menerima shalat anda), adalah di dalamnya terdapat kebaikan yang besar dan menambah kedekatan (antar sesama) dan menjadi sabab eratnya hati dan menampakkan kesatuan antar sesama umat Islam.]
(Disarikan dari buku Tradisi Amaliah NU dan Dalil-Dalilnya, LTM-PBNU)


Senin, 27 April 2026

Akan Munculnya Kaum Khawarij


Perilaku WAHABI Seperti Sabda Rasulullah SAW Dalam Hadist Shahih...

Di hadits di bawah Nabi Muhammad SAW menyebut bahwa dari Bani Tamim, suku Muhammad bin Abdul Wahhab berasal, akan muncul kaum Khawarij yang ibadahnya seperti hebat dan rajin membaca Al Qur’an, namun tidak mereka pahami dan tidak juga diamalkan (cuma di kerongkongan saja):

Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bahwa Abu Sa’id Al Khudriy ra berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW yang sedang membagi-bagikan pembagian (harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; 

"Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil."

Kemudian ‘Umar berkata; Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesetnya anak panah dari sasaran (hewan buruan). (HR Bukhari 3341)

Hadits di atas yang menyebut dari Bani Tamim, suku Muhammad bin Abdul Wahhab (MBAW) akan muncul Khawarij, dan juga hadits dari Najd, tempat kelahiran MBAW sebagai sumber fitnah dan tanduk setan harusnya membuat kita sadar bahwa Wahabi lah sebagai sumber fitnah meski ibadah mereka terlihat hebat.

Rasulullah SAW bersabda:”Nanti pada akhir zaman akan muncul kaum mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melebihi kerongkongan, mereka memecah Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya, dan mereka akan terus bermunculan sehingga keluar yang terakhir daripada mereka bersama Dajjal, maka jika kamu berjumpa dengan mereka, maka perangilah sebab mereka itu seburuk-buruk makhluk dan seburuk-buruk khalifah.” (Sunan Nasai/4108, Sunan Ahmad/19783)

Dajjal adalah Yahudi. Zionis Yahudi. Wahabi dari sejak era lahirnya memang selalu dekat dengan Zionis Yahudi membunuhi ummat Islam yang mereka fitnah sebagai musyrik. Cuma jika ummat Islam di Mekkah dan Madinah mereka perangi karena mereka anggap Musyrik, lalu ummat Islam yang lurus di mana? Di Najd yang disebut Nabi sebagai sumber fitnah?

Dajjal mahir menipu ummat Islam. Membuat api terlihat sebagai air dan sebaliknya. Nah cara menipu yang paling ampuh itu lewat informasi. Boleh dikata Media Informasi dunia bahkan sarana mencari informasi dan menyebar informasi seperti Google, Facebook, dsb dikuasai Yahudi. Nah yang menguasai 90% “Media Islam” yang ada pun ternyata antek Yahudi. Antek Dajjal. Sehingga bisa menyebar fitnah dengan mudah.

Wahabi yang jauh lebih kecil, karena didanai pemerintah Arab Saudi yang merupakan sekutu AS dan Israel dengan mudah bisa mendirikan stasiun TV dan Radio serta berbagai Media Online sehingga fitnah begitu gencar. Para ulama NU dan Al Azhar mereka fitnah.
(Sumber : https://www.facebook.com/otwtop/posts/950801668289704:0)

Minggu, 26 April 2026

Apa Yang Menjadi Bukti Keaslian Al-Qur'an?


Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Sebagai kitab suci yang menjadi sumber utama ajaran Islam, keasliannya harus tetap terjaga agar tetap bisa menjadi petunjuk hingga akhir zaman. Allah sendiri telah menjamin penjagaan terhadap Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:


إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَفِظُوْنَ

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami juga yang akan terus menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Allah menjaga Al-Qur’an sejak sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ hingga kini. Sebelum diwahyukan, Al-Qur’an disimpan di Lauh Mahfuzh, tempat yang steril dari gangguan jin dan setan. Allah berfirman:


بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيْدٌ فِيْ لَوْحٍ مَحْفُوْظٍ

“Bahkan yang mereka katakan itu adalah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) di Lauh Mahfuzh.” (QS. Al-Buruj: 21-22)

Setelah diwahyukan kepada Rasulullah ﷺ, penjagaan Al-Qur’an tetap berlangsung melalui generasi para sahabat, tabiin, hingga kini melalui para penghafal, ahli Qiraat, ahli tafsir, dan ulama di berbagai bidang ilmu Al-Qur’an seperti:Ilmu Qiraat, yang membahas cara membaca teks Al-Qur’an dengan sanad yang mutawatir.

Ilmu Tafsir, yang menjelaskan makna ayat sesuai dengan pemahaman Rasulullah ﷺ dan para sahabat.

Ilmu Rasm Utsmani, yang membahas standar penulisan Al-Qur’an seperti yang disepakati oleh Utsman bin Affan.

Kehadiran para ulama dan huffazh (penghafal Al-Qur’an) menjadi bukti bahwa Al-Qur’an tetap terjaga. Satu huruf yang berubah saja dapat langsung diketahui dan dikoreksi oleh jutaan penghafal Al-Qur’an di dunia.

Bukti Tak Terbantahkan: Al-Qur’an Bukan Karya Manusia

Salah satu aspek paling menarik sekaligus menjadi hujjah (argumen kuat) dalam Islam adalah fakta bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang ummi, yaitu tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis.

Status ini bukan kelemahan, melainkan hikmah ilahi sangat dalam, yang justru memperkuat kebenaran risalah yang beliau bawa.

1. Status “Ummi” sebagai Bukti Keaslian Wahyu

Jika seseorang yang tidak bisa membaca dan menulis mampu menyampaikan sebuah kitab dengan kandungan luar biasa seperti Al-Qur’an—baik dari sisi bahasa, hukum, ilmu, maupun berita ghaib—maka secara logika sederhana: Mustahil itu berasal dari dirinya sendiri.

Allah SWT menegaskan:

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya suatu kitab pun dan tidak (pula) menulisnya dengan tangan kananmu; kalau demikian, niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (QS. Al- Ankabut: 48).

Ayat ini secara eksplisit menutup kemungkinan bahwa Al-Qur’an adalah hasil karangan Nabi. Justru keadaan beliau yang ummi menjadi tameng terhadap tuduhan plagiarisme atau rekayasa, sebagaimana tuduhan dari sebagian teman-teman non muslim terhadap Al-Qur'an.

2. Mekanisme Wahyu: Lisan, Hafalan, dan Penulisan Kolektif

Setiap wahyu yang turun melalui Malaikat Jibril, Nabi menyampaikannya secara verbal (lisan) kepada para sahabat. Metode ini memiliki beberapa keunggulan:

- Dihafal langsung oleh banyak sahabat (mutawatir secara lisan)
- Ditulis oleh para penulis wahyu seperti Zaid bin Tsabit
- Diverifikasi berulang oleh Nabi sendiri.

Media penulisan saat itu memang sederhana: pelepah kurma, kulit, tulang, dan batu tipis. Namun justru ini menunjukkan bahwa prosesnya organik, transparan, dan kolektif, bukan karya pribadi tersembunyi.

Rasulullah bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari).

Ini menunjukkan bahwa sejak awal, Al-Qur’an disebarkan melalui tradisi hafalan massal, bukan hanya teks tertulis.

3. Kodifikasi Al-Qur’an: Proses Historis yang Terjaga

Setelah wafatnya Nabi, Al-Qur’an dihimpun secara sistematis atas perintah Khalifah Abu Bakar, lalu disempurnakan pada masa Utsman bin Affan.

Panitia penghimpunan dipimpin oleh Zaid bin Tsabit, dengan metode ketat:

- Harus ada hafalan + bukti tertulis
- Harus disaksikan minimal dua orang
- Disusun sesuai urutan dari Nabi.

Ini menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya kitab suci yang memiliki sanad kolektif dan verifikasi berlapis sejak awal.

4. Jaminan iIlahi atas Keaslian Al-Qur’an

Tidak hanya melalui mekanisme manusia, Allah sendiri menjamin penjagaan Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang menjaganya.”(QS. Al-Hijr: 9)

Ini berarti:

- Tidak akan berubah
- Tidak akan hilang
- Tidak akan bisa dipalsukan.

Dan fakta sejarah membuktikan: teks Al-Qur’an tetap sama selama lebih dari 1400 tahun.

5. Analisis Logis: Mengapa Al-Qur'an Tidak Mungkin Karangan Manusia

Jika Al-Qur’an adalah karya Nabi, maka muncul kontradiksi:

- Bagaimana mungkin orang yang ummi menyusun teks dengan *struktur bahasa tertinggi dalam sejarah Arab?
- Bagaimana mungkin Al-Qur'an memuat informasi ilmiah dan sejarah* yang baru terungkap berabad-abad kemudian?
- Mengapa isinya konsisten selama 23 tahun tanpa kontradiksi?
Allah menantang:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”_ (QS. An-Nisa: 82).

6. Hikmah yang Lebih Dalam

Status “ummi” bukan sekadar pembelaan dari tuduhan, tetapi juga mengandung hikmah besar:

- Menunjukkan bahwa kebenaran tidak bergantung pada kemampuan duniawi
- Menegaskan bahwa wahyu adalah sumber utama ilmu
- Menghancurkan kesombongan intelektual manusia.

Ini juga menjadi pelajaran bahwa:

Kebenaran sejati datang dari Allah, bukan dari kecerdasan manusia semata.
Keummian Nabi Muhammad SAW bukan kelemahan, melainkan argumen kuat atas keotentikan Al-Qur’an. 

Justru karena beliau tidak bisa membaca dan menulis, maka Al-Qur’an menjadi:

- Mustahil hasil karangan manusia
- Terbukti sebagai wahyu ilahi
- Terjaga secara sempurna hingga kini

Masyaallah...Barrakallahu Fikum


Kamis, 23 April 2026

Dzikir Nafas Bekal Mudik Ke Kampung Akhirat


Ketika jasad mulai membeku
dan nafas terakhir melayang pelan
kita pun akan pulang ke negeri yang tak pernah dikenal
namun selalu disebut dalam doa..

Wajah-wajah yang dulu hilang
tersenyum di balik kabingungan ingatan
seakan berkata: "Kita telah menunggumu
di sini, di negeri yang tak pernah redup..."

Apatah jadinya ketika pulang tanpa bekal yang cukup
bahkan hanya selembar iman yang bolong-bolong
atau sebongkah catatan amal yang buram termakan waktu...

Tapi duhai Engkau yang Maha Mengetahui
mengapa masih Kau sambut dengan cahaya?
mengapa pintu-Mu tak pernah terkunci
untuk hamba yang tersesat di jalan pulang?

Membayang negeri akhirat, adalah pembelajaran
bahwa pulang bukan tentang sampai
tak cukup sekedar tuntasnya di dunia fana
tapi tentang bagaimana selama perjalanan
kita tak lupa pada Yang Memberi Pulang...

Maka tariklah nafas dan suarakanlah "Huuuu..."
Serta lepaskan nafas dan bisikanlah "Allah..."
Itulah Dzikrullah Nafas yang boleh jadi akan
menyelamatkan kita di alam barzah dan akhirat..
hingga bumi pun tak sanggup membusukannya...
(kgm/puisisepertigaapril/04/2026)

Hukum Bersalaman Setelah Shalat

Bersalaman setelah shalat adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam karena bisa menambah eratnya persaudaraan sesama umat Islam. Aktifitas ...