Senin, 18 Mei 2026

Beberapa Amalan Dahsyat di Bulan Dzulhijjah



Kalau ditanya bulan apa yang paling istimewa dalam Islam, kebanyakan orang akan menjawab Ramadhan. Memang benar. Tapi ada satu momen lain yang sering luput dari perhatian, padahal Nabi ﷺ sendiri menyebutnya sebagai hari-hari terbaik di muka bumi, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Bukan sekadar klaim, bulan Dzulhijjah sebagai bulan yang istimewa ditegaskan langsung dalam hadits sahih:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ، يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari (pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari)

Mengapa Begitu Istimewa?

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaiful Ma’arif menjelaskan bahwa keistimewaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah terletak pada berkumpulnya ibadah-ibadah besar di dalamnya yaitu haji, kurban, puasa, sholat dan sedekah. Sesuatu yang tidak terjadi pada bulan lain. Ibnu Rajab menulis:

وَفَضِيلَةُ هَذِهِ الْأَيَّامِ لِاجْتِمَاعِ أُمَّهَاتِ الْعِبَادَةِ فِيهَا مِنَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ

“Keutamaan hari-hari ini karena berkumpulnya induk-induk ibadah di dalamnya: shalat, puasa, sedekah, dan haji.”

Ini bukan sekadar keutamaan musiman. Ibnu Rajab melanjutkan bahwa inilah yang membedakan sepuluh hari Dzulhijjah dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Malam Ramadhan memang lebih utama dari sisi malam dan qiyamnya, tapi siang sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama dari siang hari manapun sepanjang tahun. Kedua waktu istimewa itu punya keunggulannya masing-masing, dan seorang Muslim yang cerdas tidak akan membiarkan keduanya berlalu begitu saja.

Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menyinggung bahwa musim-musim ibadah termasuk sepuluh hari Dzulhijjah diciptakan bukan semata sebagai ritme kalender, melainkan sebagai “mawasim al-qulub”, musim bagi hati. Ia menulis bahwa hati manusia cenderung lalai dan berat, dan Allah dengan rahmat-Nya memberikan waktu-waktu khusus agar semangat ibadah bisa bangkit kembali, seperti tanah yang disiram setelah kering.

Artinya, kalau seseorang melewati Dzulhijjah tanpa ada yang berubah dalam dirinya cara ia bermunajat, cara ia mengingat Allah, cara ia memperlakukan orang di sekitarnya maka ada sesuatu yang perlu direnungkan.

Ketika Allah Bersumpah

Al-Qur’an pun mengisyaratkan keutamaan bulan Dzulhijjah Mayoritas mufasir, di antaranya Ibnu Abbas dan Ibnu Katsir menafsirkan “wal fajr” dan “wa layaalin ’asyr” dalam Surah Al-Fajr ayat 1-2 sebagai sumpah Allah atas fajar dan sepuluh malam Dzulhijjah.

Yang menarik, Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim menegaskan bahwa penafsiran ini adalah pendapat yang paling kuat (al-aqwa), dan ia menukil pernyataan Ibnu Abbas:

الْفَجْرُ: فَجْرُ يَوْمِ النَّحْرِ، وَاللَّيَالِي الْعَشْرُ: عَشْرُ ذِي الْحِجَّةِ

“Al-Fajr adalah fajar hari Nahr (10 Dzulhijjah), dan sepuluh malam itu adalah sepuluh hari Dzulhijjah.”

Ketika Allah bersumpah dengan sesuatu dalam Al-Qur’an, itu sendiri sudah menjadi penanda bahwa sesuatu itu memiliki nilai yang agung. Allah tidak bersumpah dengan sembarang waktu.

Dua Hari Perayaan

Dalam Islam, memang terdapat dua hari perayaan yang disyariatkan, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pada Idul Fitri yang bertepatan pada bulan Syawal, terdapat beberapa amalan atau ibadah yang khusus dilaksanakan pada waktu tersebut. Contohnya seperti melaksanakan puasa selama enam hari setelah hari pertama bulan Syawal.

Begitu juga dengan bulan dari Idul Adha, yakni bulan Dzulhijjah. Terdapat amalan tertentu yang keutamaannya hanya bisa didapatkan pada bulan Dzulhijjah. Bahkan bulan ini termasuk dari empat bulan mulia yang tercantum dalam Surat Taubat ayat 36.

Imam Ar-Razi, pengarang kitab Tafsir Mafatihul Ghaib, berkomentar perihal keutamaan empat bulan yang tercantum dalam ayat 36 surat Taubat. Menurutnya, yang dimaksud Haram adalah apabila melakukan maksiat akan mendapatkan siksaan yang lebih berat, jika melakukan ketaatan saat bulan haram maka akan mendapatkan banyak pahala.

Ia juga mengilustrasikan bahwa perbedaan antara keempat bulan mulia dengan bulan lainnya bukan yang bertentangan dengan syariat. Beliau memberikan beberapa contoh, seperti hari Arafah menjadi berbeda dengan hari-hari lainnya lantaran terdapat beberapa ibadah khusus. (Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib,[Mesir, Al-Mathba'ah Al-Islamiyah: 1872] Juz 4, halaman 432).

Berdasar pada penjelasan sebelumnya, bulan Dzulhijjah yang termasuk dari empat bulan mulia, sangat dianjurkan untuk menghidupkan ibadah-ibadah tertentu pada bulan tersebut. Berikut 7 ibadah di bulan Dzulhijjah beserta dalilnya:

1. Berpuasa pada sepuluh hari pertama

Pada kurun sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, seorang Muslim disunnahkan untuk melaksanakan ibadah puasa secara terus menerus, seperti yang tercantum pada hadits riwayat Imam Bukhari:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ أَنَّهُ قَالَ: مَا الْعَمَلُ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِى هَذِهِ قَالُوا وَلاَ الْجِهَادُ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ

Artinya: “Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada amal ibadah yang lebih utama selain yang dikerjakan pada sepuluh hari ini (maksudnya sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya: “Apakah sekalipun jihad di jalan Allah?”. Rasulullah saw menjawab: “Sekalipun dari jihad. Kecuali seseorang yang keluar untuk berjihad dengan diri dan hartanya, lalu tidak ada sedikitpun yang pulang dari padanya” (HR. Bukhari).

Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, para fuqaha (ahli fiqih) menjadikan hadits ini sebagai dalil disunnahkannya berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dikarenakan kelaziman dalam melaksanakan puasa sebagai suatu amal. (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, [Mesir, Al-Mathba'ah Al-Islamiyah: 1872] Juz 2, halaman 480).

2. Menghidupkan malam sepuluh hari pertama


عن قتادة، عن ابن المسيب، عن أبي هريرة عن النبي ﷺ قال: ما من أيام أحب إلى الله أن يتعبد له فيها من عشر ذي الحجة، يعدل صيام كل يوم منها ، وقيام كل ليلة منها بقيام ليلة القدر

Artinya: “Dari Qatadah, dari Ibnu Al-Musayyib, dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad saw bersabda: Sepuluh hari pertama dalam Dzulhijjah merupakan hari yang sangat disenangi oleh Allah, karenanya beribadahlah pada-Nya, dirikanlah puasa dan hidupkanlah malam seperti menghidupi Lailatul Qadar.” (HR. Imam Tirmidzi).

Selain berpuasa pada sepuluh hari pertama, pun dianjurkan menghidupi malam setiap harinya.

3. Memperbanyak dzikir (Tahlil, Tahmid, Takbir)

Disunnahkan pula memperbanyak dzikir, seperti memperbanyak bacaan tahlil, tahmid, dan dzikir. Sebagaimana hadits:

عن ابن عمرعن النبي ﷺ، قال: ما من أيام أعظم [عند الله] ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

Artinya: “Dari Ibnu Umar dari Nabi Muhammad saw bersabda: Sepuluh hari pertama dalam Dzulhijjah merupakan hari yang sangat diagungkan dan disenangi oleh Allah, karenanya perbanyak ucapan tahlil, takbir, tahmid.” (HR. Imam Ahmad).

4. Beramal shalih

قوله ﷺ: ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام

Artinya: “Nabi Muhammad saw bersabda: beramal shalih di saat sepuluh hari pertama merupakan amal yang sangat disukai oleh Allah.” (HR. Imam Ahmad).

Ibnu Abbas berpendapat bahwa amal shaleh yang diutamakan merupakan amal shaleh secara umum. (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif [Beirut, Maktabah Islami:2007], Hal 459)

5. Puasa Tarwiyah

Disunnahkan pada bulan Dzulhijjah melaksanakan puasa Tarwiyah yang bertepatan pada tanggal delapan. Seperti yang dijelaskan Al-Qarafi:

وفي الجواهر يستحب صوم تاسوعاء ويوم التروية وقد ورد صوم يوم التروية كصيام سنة وصوم الأشهر الحرم وشعبان وعشر ذي الحجة وقد روي أن صيام كل يوم منها يعدل سنة

Artinya: “Menurut pendapat ulama mayoritas, berpuasa pada hari Tasu'a dan Tarwiyah disunnahkan. Sesungguhnya sudah disebutkan bahwa berpuasa pada hari Tarwiyah sama dengan puasa satu tahun, berpuasa pada bulan Haram dan Sya’ban, Dzulhijjah. Dan sesungguhnya diriwayatkan bahwa berpuasa pada hari-hari tersebut setara dengan setahun.” (Al-Qarafi, Adzakhirah Lil Qarafi, [beirut: Darul Gharab Al-Islami: 1994], Juz 2, Hal 530)

6. Puasa Arafah

Setelah berpuasa pada hari Tarwiyah, lalu berlanjut berpuasa pada hari Arafah:

عن أبي قتادة، قال: سئل رسول الله ﷺ: عن صوم يوم عرفة؟ قال:"يكفر السنة الماضية والباقية" رواه مسلم

Artinya: “Dari Abi Qatadah, berkata suatu ketika Nabi saw ditanya: bagaimana pendapatmu wahai Nabi mengenai puasa hari Arafah? Nabi menjawab: Puasa tersebut akan melebur dosa yang lampau maupun akan datang.” (HR. Imam Muslim).

7. Menunaikan Ibadah Haji

Tidak hanya termasuk dari rukun Islam, melaksanakan ibadah haji pun merupakan amalan yang disunnahkan di bulan Dzulhijjah.

فينبغي أن يكون الحج أفضل من الجهاد؛ لأن الحج مخصوص بالعشر، وهو من أفضل ما عمل في العشر، أو أفضل ما عمل فيه

Artinya: “Sudah sewajarnya bahwa haji lebih utama dari jihad, sebab peribadatan haji terkhususkan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun ibadah haji merupakan amal yang paling utama dilaksanakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif [Beirut, Maktabah Islami: 2007], Hal 462).

Itulah keutamaan dan amalan bulan Dzulhijjah yang bisa dilakukan umat Muslim terutama yang belum berkesempatan untuk dipanggil berhaji.


Rabu, 13 Mei 2026

Tidak Semua Bid'ah Sesat



Bid’ah merupakan istilah dalam Islam yang merujuk kepada inovasi atau penambahan sesuatu yang baru dalam agama yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. 

Secara umum, bid'ah dianggap sebagai sesuatu yang tidak diinginkan dalam Islam, karena bisa menyebabkan penyimpangan dari ajaran asli agama Islam. Akan tetapi dalam perjalanan Islam, tidak semua bid’ah digolongangkan sesat. 

Ada beberapa yang dikategorikan sebagai bid’ah yang baik, seperti pembukuan Al-Qur’an dan Hadits, diadakannya shalat tarawih berjamaah dan sebagainya. Selain itu juga kita harus menguasai ajaran Nabi saw secara menyeluruh. Bisa dilihat dari berbagai literasi tentang sunnah-sunnah Nabi dengan segala amaliahnya. 

Karena ada beberapa orang yang sering salah kaprah menuduh amaliah saudara Muslim lainnya sebagai ajaran bid’ah yang menyimpang, padahal ada sumber dan dalilnya. 

Kapan Mau Tambah Ibadah? Mengutip tulisan dari KH Ma’ruf Khozin yang ditulis di media sosialnya, bahwa ada empat tema yang digolongkan sebagai bahan tuduhan bid’ah. 

Jika kita menguasai dalilnya dan sejarah para ulama Salaf maka kita bisa mematahkan klaim yang keliru tersebut. 

1. Hadits Dhaif

Apakah Bid'ah? Soal talqin, membaca Yasin, membaca Al-Qur’an di makam dan sebagainya selalu dituduh bid’ah karena dianggap hadisnya dhaif. Sesungguhnya cukup dijawab bahwa ulama salaf yang ahli di bidang Hadits pun juga mengamalkan Hadits dhaif. 

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Qaul Musaddad:

 وقد ثبت عن الإمام أحمد وغيره من الأئمة أنهم قالوا إذا روينا في الحلال والحرام شددنا وإذا روينا في الفضائل ونحوها تساهلنا 

Artinya: Telah tetap dari Imam Ahmad dan imam yang lain, bila kami meriwayatkan dari Nabi tentang hukum halal dan haram, maka kami sangat selektif dalam hal sanad. Jika kami meriwayatkan keutamaan amal dan selain hukum, maka kami tidak selektif (Al-Hafidz Ibnu Hajar, Qaul Musaddad, 1/11). 

Musnad Ahmad memuat sekitar 6000 dhaif dari 27.688 sebagaimana ditakhrij oleh Syekh Syuaib Arnauth. Adab Al Mufrad karya Imam Bukhari mengoleksi hadits dhaif sebanyak 215, seperti ditakhrij oleh Syekh Albani. 

Demikian pula Muwatha’ Imam Malik dengan 333 riwayat dhaif. Jika mengaku pengikut salaf padahal ulama salaf menerima hadits dhaif, lalu ulama salaf mana yang mereka ikuti? 

2. Dalil Qiyas 

Dalam fiqih Syafi’i ada metode qiyas sebagai salah satu sumber hukum setelah Al-Qur'an, Hadits dan Ijmak. Jika kita ditanya mana dalil keabsahan qiyas? Maka jawabannya terdapat dalam firman Allah swt: 

قَوْلُهُ : { أَطِيْعُواْ اللهَ وَأَطِيْعُواْ الرَّسُوْلَ } يَدُلُّ عَلَى وُجُوْبِ مُتَابَعَةِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ . قَوْلُهُ : { وَأُوْلِى الْأمْرِ مِنْكُمْ } يَدُلُّ عِنْدَنَا عَلَى أَنَّ إِجْمَاعَ الْأُمَّةِ حُجَّةٌ ... قَوْلُهُ : { فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ } يَدُلُّ عِنْدَنَا عَلَى أَنَّ الْقِيَاسَ حُجَّةٌ 

Artinya: Firman Allah (ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul) menunjukkan kewajiban mengikuti Al-Quran dan Hadits. Firman Allah (dan ulil amri) menunjukkan bagi kita bahwa ijma’ umat Islam adalah sebuah hujjah. Dan firman Allah (jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu...) menunjuk-kan bagi kita bahwa qiyas adalah sebuah hujjah (Tafsir Al-Kabir 5/248-251). 

Dari hasil ijtihad para ulama, bahwa qiyas ini sangat banyak sekali, mulai mengeraskan niat shalat yang diqiyaskan saat Nabi mengeraskan bacaan niat haji. Hal ini tercantum dalam sabda Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari: 

قَالَ أَنَسٌ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحَجٍّ (رواه مسلم 2195) 

Artinya: Anas berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda (dalam niat Haji dan umrah): "Saya penuhi panggilan-Mu dengan Umrah dan Haji" (HR Muslim, nomor 2195). Salah satu imam mazhab empat, Imam Syafi'i pun mengeraskan bacaan niat sebelum salat. 

Hal tersebut terdapat dalam Al-Mu’jam-nya Ibnu Al-Muqri:

 أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ ، ثَنَا الرَّبِيْعُ قَالَ كَانَ الشَّافِعِي إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ : بِسْمِ اللهِ مُوَجِّهًا لِبَيْتِ اللهِ مُؤَدِّيًا لِفَرْضِ اللهِ عَزَّ وَجَل َّاللهُ أَكْبَرُ 

Artinya: Mengabarkan kepadaku Ibnu Khuzaimah, mengabarkan kepadaku Ar-Rabi’, ia berkata, Imam Syafi’i ketika akan masuk dalam shalat beliau mengucapkan “Bismillah Aku menghadap ke Baitullah, menunaikkan kewajiban kepada Allah, Allahu Akbar (Ibnu Al-Muqri, Al-Mu’jam: 317). 

3. Keabsahan Tradisi dalam Agama 

Bagi yang pernah belajar ilmu ushul fiqih dan kaidah fiqih, maka akan mengerti bahwa tradisi dapat diterima untuk diamalkan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Di antaranya adalah yang dijelaskan oleh Syekh Khatib Asy-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj:

 وَحَكَى الْمُصَنِّفُ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَالْأَذْكَارِ وَجْهًا أَنَّ ثَوَابَ الْقِرَاءَةِ يَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ كَمَذْهَبِ الْأَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ ، وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ الْأَصْحَابِ مِنْهُمْ ابْنُ الصَّلَاحِ ، وَالْمُحِبُّ الطَّبَرِيُّ ، وَابْنُ أَبِي الدَّمِ ، وَصَاحِبُ الذَّخَائِرِ ، وَابْنُ أَبِي عَصْرُونٍ ، وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ ، وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ 

Artinya: Al-Nawawi menyebutkan suatu pendapat Syafiiyah dalam Syarah Muslim dan Adzkar bahwa pahala bacaan al-Qur’an bisa sampai kepada mayit, seperti tiga mazhab yang lain. Pendapat ini dipilih oleh ulama Syafiiyah diantaranya Ibnu Shalah, Muhib al-Thabari, Ibnu Abi ad-Dam, pengarang al-Dzakhair, Ibnu Abi Ashrun. Inilah yang diamalkan umat Islam. Apa yang dilihat baik oleh umat Islam, maka baik pula bagi Allah (Mughni al-Muhtaj 11/220). 

Di bagian ini kita sering distigma dengan kalangan Tradisionalis Aswaja, atau sering disingkat Asli Warisan Jawa, dan lainnya. Sekali lagi, tradisi bisa diterima asalkan tidak ada unsur keharaman di dalamnya. 

Apakah semua bentuk kesamaan tradisi dengan agama lain tidak boleh dilakukan dalam Islam? Tidak demikian cara memahami dalil tasyabuh, tetapi harus ada kriterianya seperti yang disampaikan oleh Ibnu Najim dari Mazhab Hanafi:

 ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ التَّشْبِيهَ بِأَهْلِ الْكِتَابِ لَا يُكْرَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ وَإِنَّا نَأْكُلُ وَنَشْرَبُ كَمَا يَفْعَلُونَ إنَّمَا الْحَرَامُ هُوَ التَّشَبُّهُ فِيمَا كَانَ مَذْمُومًا وَفِيمَا يُقْصَدُ بِهِ التَّشْبِيهُ كَذَا ذَكَرَهُ قَاضِي خَانْ فِي شَرْحِ الْجَامِعِ الصَّغِيرِ فَعَلَى هَذَا لَوْ لَمْ يَقْصِدْ التَّشَبُّهَ لَا يُكْرَهُ عِنْدَهُمَا 

Artinya: Tasyabbuh (serupa) dengan Ahli Kitab tidak makruh dalam segala hal. Kita makan dan minum. Mereka juga sama. Haram tasyabbuh jika (1) tercela (2) sengaja tasyabbuh. Jika tidak sengaja maka tidak makruh (Al-Bahr al-Raiq, 4/74). 

4. Ibadah Mahdhah. 

Di poin keempat inilah yang paling banyak mendapat tuduhan bid’ah. Semua ibadah dianggap sama sehingga setiap ada ijtihad di dalam agama dituduh bid’ah. Bagi fiqih Syafi’i khususnya, ada ibadah mahdhah yang secara tuntunan dan pengamalan sudah final dari Nabi, sehingga tidak ada peluang ijtihad karena dalilnya sudah jelas dan gamblang, misalnya jumlah rakaat salat. 

Tidak ada cerita bahwa umat Islam, terkhusus pengikut ulama Aswaja menambah rakaat shalat Subuh menjadi 5 rakaat, jumatan jadi 10 rakaat dan lainnya. Selain ibadah mahdlah, ada juga ibadah ghairu mahdhah, yakni ibadah yang dalil umumnya ada tetapi teknis pelaksanaannya terjadi beda pendapat di kalangan ulama, misalnya jumlah rakaat Tarawih. Mayoritas mengatakan 20 rakaat, ada yang mengatakan 8 rakaat, bahkan ada yang lebih banyak, seperti dalam mazhab Maliki. 

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Bidayat al-Mujtahid:

 وَذَكَرَ ابْنُ الْقَاسِمِ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ كَانَ يَسْتَحْسِنُ سِتًّا وَثَلَاثِيْنَ رَكْعَةً وَالْوِتْرُ ثَلَاثٌ … وَذَكَرَ ابْنُ الْقَاسِمِ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ اْلأَمْرُ الْقَدِيْمُ : يَعْنِي الْقِيَامَ بِسِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ رَكْعَةً 

Artinya: Ibnu Qasim menyebutkan dari Imam Malik bahwa beliau menilai baik (salat Tarawih) 36 rakaat dan witir 3 rakaat… Ibnu Qasim menyebutkan dari Imam Malik bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang dahulu, yakni Tarawih 36 rakaat (Bidayat al-Mujtahid, 1/312). 

Contoh lain dari hal serupa, adalah anjuran melakukan shalat sunnah sebanyak-banyaknya sesuai kemampuan. Maka Imam Ahmad selaku ulama salaf, pernah salat 300 rakaat setiap hari padahal tidak ada contoh dari Nabi saw: 

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ كَانَ أَبِي يُصَلِّي فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثَلاَثَ مِئَةِ رَكْعَةٍ 

Artinya: Abdullah bin Ahmad berkata: Bapak saya (Ahmad bin Hanbal) melakukan salat dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat (Mukhtashar Tarikh Dimasyqa, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/399). 

Demikian pula Imam Bukhari, beliau menentukan sendiri waktu shalat istikharah padahal tidak ada ketentuan dari Nabi, yaitu saat menulis kitab Sahihnya:

 قَالَ الْفَرْبَرِي قَالَ لِي الْبُخَارِي: مَا وَضَعْتُ فِي كِتَابِي الصَّحِيْحِ حَدِيْثاً إِلاَّ اغْتَسَلْتُ قَبْلَ ذَلِكَ وَصَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ 

 Artinya: Al-Farbari berkata bahwa Al-Bukhari berkata, saya tidak meletakkan satu Hadits pun dalam kitab sahih saya, kecuali saya mandi terlebih dahulu dan saya salat 2 rakaat (Siyar A’lam an-Nubala’, 12/402). Pada ranah ini juga, pendapat Mufti Saudi membenarkan amalan Tarawih di Makkah padahal tidak dilakukan oleh Nabi saw:

 هذا عمل حسن فيقرأ الإمام كل ليلة جزءا أو أقل ... وهكذا دعاء الختم فعله الكثير من السلف الصالح ، وثبت عن أنس - رضي الله عنه - خادم النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه فعله ، وفي ذلك خير كثير والمشروع للجماعة أن يؤمنوا على دعاء الإمام رجاء أن يتقبل الله منهم 

Artinya: Khataman Al-Qur’an saat shalat Tarawih ini adalah amal yang bagus. Juga membaca doa khatam sudah diamalkan oleh banyak ulama salaf, Anas bin Malik. Bagi makmum dianjurkan membaca amin (Majmu’ Fatawa Bin Baz 11/388).

Demikianlah beberapa amalan umat Islam, khususnya kalangan Ahlussunnah wal Jamaah yang masih dilakukan hingga saat ini, akan tetapi kadang amalan ini sering dianggap bid’ah dan tidak mendasar dari sesama saudara semuslim yang juga berbeda pendapat.​​​​​​​

Maka diharapkan kita sebagai umat Islam harus benar-benar mempelaari ilmu dalam agama Islam secara menyeluruh (komprehensif) dan mendetail. Jangan sampai mempelajarinnya hanya sepotong-sepotong, karena dikhawatirkan akan merasa benar sendiri.

Senin, 11 Mei 2026

Dahaga Bersua Ilahi



Dalam sunyi kusebut nama-Mu
Bagai kasturi semerbak di kalbu
Rindu ini membara tak terpadu
Bagai gurun dahaga akan biru...

Di malam buta kudamba cahaya-Mu
Seperti kuntum melati pohon rindu
Angin berbisik membawa wangi syahdu
Namun tetap kucari wajah-Mu yang satu...

Wahai kekasih sejati yang abadi
Jangan biarkan hamba sendiri menanti
Ruh ini layu tanpa sentuhan ilahi
Bagai bumi tandus menanti hujan suci...

Kutunggu fajar di balik jingga senja
Namun gelap terus menyergap nyata
Sampai kapan rindu ini menggejala?
Hanya nama-Mu jadi obat yang nyata...

Ya Rabbi, ampuni dahaga yang melampau
Bukan maksud hati menguji cinta-Mu
Hanya kerinduan yang tak sanggup berpura-pura
Bahwa tanpa-Mu, hidup hampa belaka...

Minggu, 10 Mei 2026

Kεtikα Jiwα Sεdαng Ditεmρα: "ADΑ LΑNGIT YΑNG MΕNYΑPΑ"



Sαhαbαt yαng bεrbαhαgiα,

Kεtikα lαngit mεnghujαni bumi, kitα sεring mεngirα iα sεdαng mεnggαnggu. Pαdαhαl di dαlαm tεtεs-tεtεs itu, tεrsεmbυnyi kεhidupαn yαng bαru. Dεmikiαn pulα ujiαn. Ujiαn itu tαndα kαsih sαyαng Allαh. Iα dαtαng bukαn untuk mεnyulitkαn, mεlαinkαn untuk mεnyuburkαn. Kαlimαt ini mυngkin tεrdεngαr indαh, tεtαpi tidαk sεlαlu mυdαh untuk dirαsαkαn.

Sεbαb kεtikα ujiαn itu dαtαng, yαng kitα rαsαkαn bukαn kαsih sαyαng, mεlαinkαn sαkit, sεsαk, dαn kεlεlαhαn. Mαkα wαjαr jikα kitα bεrtαnyα, “Di mαnα lεtαk kαsih sαyαng itu?” Sεbεntαr… jαngαn tεrburu-buru mεnjαwαb. Mαri kitα duduk bεrsαmα, mεnεngok kε dαlαm.

Ujiαn bukαnlαh tαndα Allαh mεnjαuh. Justru sεbαliknyα, iα αdαlαh bukti pεrhαtiαn-Nyα. Sεpεrti sεorαng guru yαng mεnguji muridnyα, bukαn kαrεnα bεnci, tεtαpi kαrεnα ingin mεnαikkαn kεmαmpuαnnyα. Sεpεrti orαng tuα yαng mεlαtih αnαknyα, bukαn kαrεnα ingin mεnyusαhkαn, tεtαpi kαrεnα ingin mεnguαtkαn. Bεgitu pulα Allαh. Diα mεnguji, bukαn untuk mεnjαtuhkαn, mεlαinkαn untuk mεngαngkαt.

Ujiαn itu hαdiαh mεski tidαk sεlαlu dibungkus kεindαhαn. Di dαlαmnyα, αdα bαnyαk hikmαh: mεnguji kεimαnαn, mεnghαpus dosα, mεnαikkαn dεrαjαt, dαn mεmbεrsihkαn jiwα. Tεtαpi sεmυα itu tidαk sεlαlu lαngsung tεrlihαt. Sεpεrti biji yαng ditαnαm di dαlαm tαnαh, iα hαrus mεlεwαti gεlαp tεrlεbih dαhulu, sεbεlum αkhirnyα tumbuh mεnjαdi pohon.

Kεtikα kitα sεdαng diuji, mυngkin kitα sεdαng diprοsεs. Diprοsεs untuk mεnjαdi lεbih kuαt, lεbih tαkwα, dαn lεbih dεkαt. Bαhkαn, sεring kαli kεdεkαtαn itu
justru lαhir dαri kεsεmpitαn. Bukαnkαh kεtikα lαpαng, kitα sεring lupα? Dαn kεtikα sεmpit, kitα jαdi lεbih sεring mεnyεbut Nαmα-Nyα. Dαlαm titik itu, ujiαn bεrυbαh mεnjαdi jαlαn. Jαlαn yαng mεmbαwα kitα pulαng.

Mυngkin kitα pεrnαh mεrαsα, “Μεngαpα hαrus αku yαng diuji?” Pεrtαnyααn itu mαnusiαwi. Bαhkαn pαrα Nαbi pun pεrnαh mεrαsαkαn bεrαtnyα ujiαn. Tεtαpi pεlαn-pεlαn, pεrtαnyααn itu bisα kitα ubαh: Bukαn lαgi, “Μεngαpα αku yαng diuji?” tεtαpi, “Αpα yαng ingin Allαh αjαrkαn pαdαku?” Dαri sitυ, hαti kitα mulαi luluh. Bukαn kαrεnα ujiαnnyα hilαng, tεtαpi kαrεnα mαknαnyα tεrbukα.

Sεtiαp kεsulitαn mεmbαwα kεsεmpαtαn. Sεtiαp lukα mεnyimpαn pεmbεlαjαrαn. Dαn sεring kαli, rαhmαt Allαh tidαk dαtαng dαlαm bεntuk yαng kitα hαrαpkαn, tεtαpi dαtαng dαlαm bεntuk yαng kitα butuhkαn. Kitα hαnyα pεrlu bεrtαhαn sεjεnαk, bεrsαbαr sεdikit, dαn pεrcαyα bαhwα tidαk αdα yαng siα-siα. Kαrεnα di bαlik sεtiαp ujiαn, sεlαlu αdα hikmαh yαng bisα kitα dαpαtkαn.

Jikα hαri ini lαngit tεrαsα mεndung, jαngαn tεrburu mεnyimpulkαn bαhwα cαhαyα itu tεlαh hilαng. Mυngkin, iα hαnyα sεdαng dititipkαn dαlαm bεntuk yαng lεbih hαlυs. Ujiαn itu, bukαn jαrαk. Iα αdαlαh pεlυkαn yαng tidαk sεlαlu tεrαsα. Kεtikα kitα mαmpu mεlihαtnyα dεngαn hαti, kitα αkαn mεngεrti bαhwα di sεtiαp ujiαn, Allαh sεdαng mεndεkαt.

Sαlαm αwεt sεhαt, jαngαn lupα bαhαgiα.
Bαndυng Sεlαtαn, 09 Mεi 2026
Μυchtαr ΑF
Ιnspirε Withουt Limits
Μεnginspirαsi Τiαdα Ηεnti

Beberapa Amalan Dahsyat di Bulan Dzulhijjah

Kalau ditanya bulan apa yang paling istimewa dalam Islam, kebanyakan orang akan menjawab Ramadhan. Memang benar. Tapi ada satu momen lain ya...