(Secangkir Anggur Merah, Edisi-84)
Catatan Pembuka: Esai kesembilan ini kelanjutan dari serial sebelumnya. Fokusnya adalah tersangka baru, Irjen Pol Slamet Uliandi. Tetapi bukan untuk menghakimi individunya. Fokusnya adalah apa yang diungkap oleh perannya tentang arsitektur penyadapan yang jauh lebih dalam daripada satu atau dua jenderal yang berkhianat. Nama-nama yang disebut tetap berhak atas praduga tak bersalah.
Tersangka Kapten Jack
Tersangka Kapten Jack
Pada 5 November 2026, Mabes Polri mengumumkan nama keempat dalam skandal penyadapan yang mengguncang istana: Irjen Pol Slamet Uliandi. Ia bukan nama baru dalam sejarah kelam Polri. Julukannya, “Kapten Jack”. Melekat sejak ia memimpin penjemputan paksa Ferdy Sambo ke Mako Brimob pada 2022.
Sebuah momen ketika institusi kepolisian mencoba membersihkan dirinya dari noda pembunuhan Brigadir J. Kini. Pria yang pernah menjadi wajah penegakan hukum itu berdiri di sisi lain dari meja penyidikan. Sebagai tersangka keempat dalam perkara penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo, para menteri, politikus, pengusaha, media/jurnalis, dan tokoh masyarakat.
Namun, yang membuat penetapan Slamet sebagai tersangka begitu menghunjam bukanlah ironi biografinya. Yang menghunjam adalah perannya. Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Suhermanto, mengungkap bahwa Slamet adalah Dewan Pembina Monitoring Center (MC) Bareskrim Polri. Sebuah posisi yang tidak mencolok dalam struktur formal. Tetapi menentukan dalam praktik.
Namun, yang membuat penetapan Slamet sebagai tersangka begitu menghunjam bukanlah ironi biografinya. Yang menghunjam adalah perannya. Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Suhermanto, mengungkap bahwa Slamet adalah Dewan Pembina Monitoring Center (MC) Bareskrim Polri. Sebuah posisi yang tidak mencolok dalam struktur formal. Tetapi menentukan dalam praktik.
Dalam bahasa yang telanjang, Suhermanto menjelaskan: “Tersangka EH dan AS jika akan melaksanakan provisioning ataupun penyadapan harus mendapat izin dari Saudara SU”. Dan pada awal Oktober 2026, ketika Irjen Ahrie Sonta meminta izin untuk menghapus hasil penyadapan, Slamet menyetujuinya.
Restu sebagai Wewenang yang Tidak Terlihat
Di sinilah arsitektur sebenarnya dari skandal ini terlihat. Slamet bukanlah penyadap teknis. Ia bukan orang yang menekan tombol atau memasukkan nomor ke dalam sistem. Ia adalah pemberi restu. Ia adalah pintu gerbang tempat operasi gelap memperoleh legitimasi internalnya.
Restu sebagai Wewenang yang Tidak Terlihat
Di sinilah arsitektur sebenarnya dari skandal ini terlihat. Slamet bukanlah penyadap teknis. Ia bukan orang yang menekan tombol atau memasukkan nomor ke dalam sistem. Ia adalah pemberi restu. Ia adalah pintu gerbang tempat operasi gelap memperoleh legitimasi internalnya.
Dalam struktur birokrasi Weberian, wewenang biasanya mengalir dari aturan tertulis dan hierarki formal. Tetapi dalam “Dewan Pembina MC”, wewenang mengalir dari kedekatan personal, pengalaman lama, dan otoritas informal yang tidak tercatat dalam bagan organisasi.
Slamet pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Monitoring Bareskrim dari 2010 hingga 2019. Ia mengenal mesin itu dari dalam. Ia tahu siapa yang bisa diizinkan. Apa yang bisa dihapus. Dan bagaimana jejak bisa dilupakan.
Filsuf Italia Giorgio Agamben menyebut figur yang memiliki kekuasaan untuk menetapkan pengecualian sebagai pemegang state of exception. Orang yang dapat menangguhkan aturan demi “kepentingan yang lebih tinggi”.
Filsuf Italia Giorgio Agamben menyebut figur yang memiliki kekuasaan untuk menetapkan pengecualian sebagai pemegang state of exception. Orang yang dapat menangguhkan aturan demi “kepentingan yang lebih tinggi”.
Dalam kasus ini, “kepentingan yang lebih tinggi” itu tidak pernah dirumuskan secara publik. Yang ada hanyalah restu: Sebuah anggukan yang mengubah tindakan ilegal menjadi operasi yang “sah” di dalam lingkaran dalam.
Penyadapan tanpa surat perintah, penghapusan log, akses tanpa prosedur. Semuanya menjadi mungkin karena ada satu orang yang mengizinkan. Dan orang itu bukan presiden, bukan kapolri, melainkan seorang dewan pembina yang duduk di lapisan kedua institusi.
Ironi Kapten Jack: Penegak Hukum yang Memberi Restu
Ironi Slamet Uliandi bukanlah ironi kecil. Ia adalah ironi struktural. Pada 2022, ia diutus Listyo Sigit untuk menjemput Ferdy Sambo. Sahabat satu angkatannya di Akpol 1994. Karena Sambo telah melanggar batas paling elementer dari kewenangan polisi: Menggunakan kekuasaan untuk membunuh.
Ironi Kapten Jack: Penegak Hukum yang Memberi Restu
Ironi Slamet Uliandi bukanlah ironi kecil. Ia adalah ironi struktural. Pada 2022, ia diutus Listyo Sigit untuk menjemput Ferdy Sambo. Sahabat satu angkatannya di Akpol 1994. Karena Sambo telah melanggar batas paling elementer dari kewenangan polisi: Menggunakan kekuasaan untuk membunuh.
Saat itu, Slamet adalah wajah dari pembersihan internal. Simbol bahwa Polri mampu mengoreksi dirinya sendiri. Empat tahun kemudian. Ia berdiri sebagai tersangka karena melakukan apa yang paling ditakuti publik: Mengizinkan penyadapan terhadap presiden dan warga negaranya sendiri.
Ironi ini bukan sekadar cerita tentang individu yang jatuh. Ia adalah cermin tentang bagaimana institusi merekrut dan mendaur ulang orang-orang yang pernah dianggap bersih.
Ironi ini bukan sekadar cerita tentang individu yang jatuh. Ia adalah cermin tentang bagaimana institusi merekrut dan mendaur ulang orang-orang yang pernah dianggap bersih.
Slamet adalah orang kepercayaan Listyo Sigit sejak lama. Ketika Listyo menjadi Kapolri, Slamet menjadi Kadiv TIK. Ketika Listyo berpindah ke Istana, Slamet tetap memegang kunci Monitoring Center.
Dalam bahasa Pierre Bourdieu, ini adalah reproduksi modal sosial. Jaringan loyalitas yang dibangun di masa lalu terus menghasilkan posisi dan restu di masa kini. Bahkan ketika tindakan yang direstui sudah melampaui batas hukum.
Yang Tidak Ditahan dan Sistem yang Tetap Menyala
Ada detail yang tidak boleh luput: Slamet Uliandi tidak ditahan. Alasannya, ia sedang sakit pascastroke. Tiga tersangka lain—Listyo Sigit, Ahrie Sonta, dan Eko Hadi Santoso—ditahan di Mako Brimob.
Yang Tidak Ditahan dan Sistem yang Tetap Menyala
Ada detail yang tidak boleh luput: Slamet Uliandi tidak ditahan. Alasannya, ia sedang sakit pascastroke. Tiga tersangka lain—Listyo Sigit, Ahrie Sonta, dan Eko Hadi Santoso—ditahan di Mako Brimob.
Sementara Slamet, sang pemberi restu, tetap di luar jeruji. Ini bukan soal kemanusiaan; ini soal arsitektur impunitas. Orang yang memegang kunci operasi gelap justru adalah orang yang secara fisik tidak dapat dimintai pertanggungjawaban penuh.
Dan selama ia di luar, mesin yang ia restui tetap menyala. Monitoring Center tetap berdiri. Prosedur “izin” tetap berlaku. Hanya aktornya yang berganti.
Yang paling menghunjam dari penetapan Slamet sebagai tersangka bukanlah bahwa jumlah tersangka bertambah menjadi empat. Yang menghunjam adalah bahwa narasi “oknum” akhirnya runtuh.
Yang paling menghunjam dari penetapan Slamet sebagai tersangka bukanlah bahwa jumlah tersangka bertambah menjadi empat. Yang menghunjam adalah bahwa narasi “oknum” akhirnya runtuh.
Selama ini, publik diarahkan untuk percaya bahwa penyadapan adalah perbuatan segelintir jenderal yang menyalahgunakan wewenang. Tetapi peran Slamet menunjukkan bahwa penyadapan memiliki rantai komando, mekanisme perizinan, dan budaya restu yang berlapis.
Ia bukan oknum yang menyimpang dari sistem. Ia adalah produk dari sistem yang memang dirancang untuk memungkinkan penyimpangan. Selama “dewan pembina” masih ada, siapa pun orangnya, selama itu pula penyadapan dapat diulang.
Pada akhirnya, Irjen Slamet Uliandi bukanlah akhir dari cerita. Ia adalah pintu masuk ke lapisan yang lebih dalam. Lapisan di mana hukum tidak lagi menjadi pembatas, melainkan prosedur yang perlu direstui.
Pada akhirnya, Irjen Slamet Uliandi bukanlah akhir dari cerita. Ia adalah pintu masuk ke lapisan yang lebih dalam. Lapisan di mana hukum tidak lagi menjadi pembatas, melainkan prosedur yang perlu direstui.
Kapten Jack yang pernah menjemput Sambo kini menjadi simbol bahwa institusi yang mampu membersihkan dirinya sendiri juga mampu menutupi dirinya sendiri. Dan selama restu masih dapat diberikan dalam gelap. Selama itu pula tidak ada presiden, menteri, jurnalis, atau warga negara yang benar-benar aman.
Semoga cepat pulih ya Kapten? Agar segera dapat menerima hukuman setimpal atas kecerobohannya...!



