Rabu, 28 Oktober 2026

Hak Angket Ijazah Gibran, Terlanjur Basi atau Kurang Seksi?


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-68)

Leaderline: Wacana hak angket untuk mengusut ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ibarat panggung teater yang lampunya sudah mulai redup. Tetapi para aktornya masih bersikeras memainkan babak terakhir. Di satu sisi, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 telah menutup pintu yudisial. Dengan menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan atas keberadaan ijazah setara SMA milik Gibran. Di sisi lain, gelombang dorongan dari masyarakat sipil terus mengalir ke Senayan. Memaksa partai politik mendefinisikan sikap. Pertanyaannya kemudian bukan lagi soal benar atau salah secara hukum. Melainkan apakah instrumen politik ini masih memiliki daya bakar. Atau justru telah menjadi fosil yang kehilangan relevansi di tengah prioritas kekuasaan? Atau sudah terlanjur basi dan kurang seksi secara politis? Yuk, kita jajal...!

Senjata yang Terlalu Besar

Secara prosedural, hak angket memang tampak "basi". Anggota Komisi II DPR dari Golkar, Ahmad Doli Kurnia, secara terang-terangan menyatakan bahwa pansus dan hak angket tidak diperlukan. Cukup Komisi II memanggil KPU untuk menjelaskan mengapa pencalonan Gibran bisa lolos verifikasi administratif. 

Argumen Doli berangkat dari logika efisiensi. Jika persoalannya adalah keabsahan dokumen. Maka mekanisme komisi yang sudah ada lebih tepat digunakan ketimbang membentuk instrumen politik besar yang berpotensi mengguncang stabilitas. 

Sikap ini diperkuat oleh kekhawatiran bahwa hak angket. Yang secara konstitusional dapat bermuara pada pemakzulan. Justru berisiko menimbulkan persoalan konstitusional baru jika dasar faktualnya masih ditafsirkan berbeda. Dalam kerangka ini. Hak angket tampak seperti senjata yang terlalu besar. Untuk target yang sudah selesai secara hukum.

Daya Tarik Hak Angket Sulit Dipadamkan

Namun, "kurang seksi" adalah klaim yang perlu diuji dengan lebih jujur. Jika yang dimaksud "seksi" adalah kemampuan menarik perhatian publik secara luas dan instan. Maka hak angket ijazah memang kalah pamor dibanding isu ekonomi atau politik dinasti. 

Tetapi politik tidak selalu tentang sensasi. Ia juga tentang preseden dan akuntabilitas. Di sinilah hak angket tetap memiliki daya tarik yang sulit dipadamkan. 

Peneliti Formappi, Lucius Karus, berargumen bahwa forum DPR. Baik angket maupun hak menyatakan pendapat, adalah ruang sah bagi Gibran untuk mempertanggungjawabkan ijazahnya di hadapan publik. 

Jika Gibran benar memiliki ijazah, justru forum inilah panggung terbaik untuk membuktikannya, bukan malah menghindarinya. Sebaliknya, jika ia tidak dapat membuktikan. Maka pembiaran hanya akan meninggalkan preseden bahwa syarat konstitusional jabatan dapat dilewati tanpa konsekuensi.

Dilema yang Dihadapi DPR

Ketegangan sesungguhnya bukan terletak pada basi atau tidaknya hak angket. Melainkan pada dilemma yang dihadapi DPR. Antara stabilitas koalisi dan akuntabilitas publik. 

Sebagian besar fraksi berada dalam barisan pendukung pemerintah. Sehingga menyentuh Gibran berarti mengguncang rumah sendiri. Inilah yang membuat hak angket terasa "kurang seksi" secara politis. Ia menuntut para legislator untuk berpolitik melawan kenyamanan mereka sendiri. 

PDIP dan PKS memang membuka opsi. Tetapi langkah mereka masih sebatas komunikasi politik. Belum menjadi kesepakatan fraksi yang bulat. 

Sementara itu, Golkar yang semula menolak kini membahas usulan angket secara internal. Dan PKB menerima surat aspirasi sambil menunggu reses usai. Semua ini menunjukkan bahwa hak angket tidak mati. Ia hanya ditahan oleh kalkulasi kekuasaan.

Menguji Legitimasi Jabatan

Yang membuat wacana ini tetap "seksi" secara substansi adalah kenyataan bahwa putusan MK tidak serta-merta menghapus keraguan publik. MK menyatakan ijazah "tidak ditemukan", bukan "tidak ada". Perbedaan frasa ini bukan sekadar permainan bahasa. Ia menyisakan ruang epistemik yang membuat publik terus bertanya. 

Ketika Istana dan penyelenggara pemilu memberikan penjelasan yang tidak memuaskan. Maka DPR-lah satu-satunya institusi yang tersisa untuk memfasilitasi pertanggungjawaban politik. 

Menolak hak angket dengan alasan "sudah basi" sama saja dengan mengatakan bahwa legitimasi jabatan wakil presiden tidak perlu diuji di ruang publik. Padahal, dalam demokrasi, legitimasi bukan hanya soal sah secara hukum. Tetapi juga soal diterima secara politik.

Pada akhirnya, hak angket ijazah Gibran mungkin memang tidak lagi menjadi primadona pemberitaan harian. Ia tidak lagi "seksi" dalam arti mampu mengalahkan isu ekonomi dalam polling atau trending topic. 

Tetapi menyebutnya "basi" adalah kesimpulan yang terburu-buru. Basi berarti tidak lagi relevan. Sedangkan hak angket ini justru menyentuh akar legitimasi kepemimpinan. 

Ia adalah ujian bagi DPR. Apakah lembaga ini akan menjadi rubber stamp yang memilih diam demi stabilitas. Atau parlemen yang berani memikul risiko akuntabilitas. 

Selama pertanyaan tentang keabsahan ijazah belum terjawab tuntas di ruang publik. Selama itu pula hak angket. Betapapun tidak populernya. Tetap menyala sebagai bara yang menunggu ditiup angin politik berikutnya.

Persoalannya apakah bara itu sanggup ditiup DPR menjadi api? Terpulang pada nyali dan idealismenya. Apakah masih tegar menggelegar atau rontok borontok borokokok...!!!

Serial Tasawuf-35 Al-Hikam: Hikmah Kedua, "Pakaian yang Terlalu Sempit untuk Tubuhmu"


Malam berikutnya, para salik kembali berkumpul di beranda zawiyah. Udara Iskandariyah masih membawa aroma garam dari laut. Lampu minyak di sudut ruangan kembali berkedip-kedip. Syekh Ahmad bin Atha'illah as-Sakandari duduk di tempatnya. Memandang murid-muridnya satu per satu.

Zaid mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, aku ingin bertanya tentang sesuatu yang mengganjal di hatiku sejak lama."

"Silakan, anakku."

"Aku memiliki seorang teman. Ia sangat rajin beribadah. Ia meninggalkan pekerjaannya. Ia menjauhi keramaian. Ia duduk di masjid dari pagi hingga malam. Aku iri kepadanya. Aku ingin seperti dia. Bebas dari urusan dunia. Hanya beribadah kepada Allah. Tetapi aku tidak bisa. Karena aku harus bekerja menghidupi keluargaku. Apakah aku salah?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. "Dengarkanlah, anakku. Ada dua hal yang harus engkau pahami."

"Kehendakmu untuk tajrid (menyepi dan fokus beribadah), padahal Allah masih menempatkanmu dalam asbab (keharusan berusaha), itu termasuk syahwat yang samar. Dan kehendakmu untuk asbab, padahal Allah telah menempatkanmu dalam tajrid. Itu adalah kemerosotan dari derajat yang tinggi."

Zaid terdiam. "Apakah maksudnya keinginanku untuk menyepi itu salah, Wahai Mursyid?"

"Bukan salah, anakku. Tetapi bisa jadi ia adalah syahwat yang tersembunyi. Nafsu yang menyamar sebagai kesalehan."

Dalil Pertama: Bertebaranlah Setelah Beribadah

Ibnu Atha'illah membuka mushafnya. "Allah berfirman:

'Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Carilah karunia Allah. Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.' (QS. Al-Jumu'ah: 10)

"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Allah tidak berkata 'duduklah di masjid setelah shalat'. Ia berkata 'bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia-Ku'. Mencari rezeki bukanlah lawan dari ibadah. Ia adalah bagian dari ibadah itu sendiri, jika diniatkan untuk Allah."

"Bahkan Allah menyebutkan dalam firman-Nya:

'Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah...' (QS. Al-Muzzammil: 20)

Allah menyebut mereka yang berjalan mencari rezeki dalam ayat yang sama dengan mereka yang shalat dan berdzikir. Keduanya adalah hamba-Nya."

Dalil Kedua: Jangan Lupakan Bagianmu dari Dunia

Seorang salik bernama Fatimah bertanya, "Wahai Mursyid, bagaimana jika seseorang memilih bekerja. Tetapi ia merasa berdosa karena tidak bisa beribadah sepanjang hari?"

Ibnu Atha'illah menjawab, "Dengarkanlah firman Allah:

'Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, Janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.' (QS. Al-Qashash: 77)

"Allah memerintahkan kita mencari akhirat. Tetapi juga melarang kita melupakan bagian kita dari dunia. Ini adalah keseimbangan. Orang yang meninggalkan dunia sepenuhnya. Padahal ia memiliki tanggung jawab. Bukanlah orang yang bertakwa. Ia adalah orang yang melampaui batas."

Dan Allah juga berfirman:

'Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.' (QS. Al-Mulk: 15)

Dalil Ketiga: Ikatlah Untamu

Umar, seorang salik yang lain, mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, bukankah tawakal berarti kita menyerahkan segalanya kepada Allah?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. "Dengarkanlah sabda Nabi Muhammad SAW kepada seorang lelaki yang bertanya tentang untanya: 'Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.' (HR. Tirmidzi)"

"Perhatikanlah, anakku. Nabi SAW tidak berkata 'lepaskan untamu dan bertawakallah'. Beliau berkata 'ikatlah untamu'. Berusahalah. Lalu bertawakallah'. Serahkan hasilnya kepada Allah. Inilah asbab yang sejati. Berusaha dengan tangan. Berserah dengan hati."

Dalil Keempat: Nabi Daud Makan dari Kerja Tangannya

Ibnu Atha'illah melanjutkan, "Ketahuilah bahwa Nabi Daud AS. Seorang nabi yang mulia. Adalah seorang pembuat baju besi. Beliau bekerja dengan tangannya sendiri."

Nabi SAW bersabda:

'Tidak ada makanan yang lebih baik bagi seseorang daripada yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud AS makan dari hasil kerja tangannya.' (HR. Bukhari)

"Jika seorang nabi saja bekerja, mengapa engkau merasa bahwa bekerja itu menghalangi ibadahmu? Bahkan Nabi SAW bersabda:

'Sesungguhnya Allah menyukai hamba-Nya yang mukmin dan berkarya.' (HR. Thabrani)


Dan beliau juga bersabda:

'Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (meminta).' (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil Kelima: Setiap yang Berhak Punya Haknya

Ibnu Atha'illah kemudian menceritakan kisah Salman al-Farisi dan Abu Darda'. Suatu ketika, Abu Darda' menghabiskan seluruh malam untuk shalat dan seluruh siang untuk puasa. Sehingga ia mengabaikan keluarganya. Salman menegurnya. Lalu keduanya mengadu kepada Nabi SAW.

Nabi SAW bersabda:

'Sesungguhnya bagi Tuhanmu ada hak atasmu, bagi dirimu ada hak atasmu, bagi keluargamu ada hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang berhak akan haknya.' (HR. Bukhari)

"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Bahkan beribadah pun bisa menjadi salah jika engkau mengabaikan hak yang lain. Engkau tidak dipanggil untuk menjadi malaikat. Engkau dipanggil untuk menjadi manusia yang beribadah di tengah kehidupan. "

Ciri Orang yang Mengenal Maqamnya

Zaid bertanya lagi, "Wahai Mursyid, bagaimana kami tahu bahwa kami telah mengenal maqam kami sendiri?"

Ibnu Atha'illah menjawab, "Ciri orang yang mengenal maqamnya adalah hidup dengan tenang. Tidak iri kepada orang lain. Menjalani tugasnya dengan lapang. Ia tidak berkata: 'Mengapa aku harus bekerja sementara si Fulan bisa beribadah sepanjang hari?' Karena ia tahu bahwa ukuran pakaiannya berbeda."

"Jika engkau dipanggil untuk bekerja, bekerjalah dengan sepenuh hati. Karena itu adalah ibadahmu. Jika engkau dipanggil untuk menyepi, menyepilah dengan tenang. Yang penting bukan maqam apa yang engkau jalani. Melainkan apakah engkau menjalaninya dengan ridha dan istiqamah. "

Jangan Iri

Malam semakin larut. Ibnu Atha'illah bangkit dan berkata, "Anak-anakku, janganlah engkau iri kepada maqam orang lain. Jalanmu berbeda, karena Allah menciptakanmu dengan ukuran yang berbeda."

"Maka berdoalah: 'Ya Allah, tunjukkan kepadaku ukuran diriku. Berikan kekuatan kepadaku untuk tetap di situ, tanpa iri kepada orang lain.'"

Para salik mengaminkan. Zaid tersenyum. Ia bukan salah karena bekerja. Ia hanya salah karena iri. Dan malam itu, ia pulang dengan hati yang lebih lapang.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Bersambung ke Hikmah Ketiga: Dinding Takdir yang Tak Terlampaui Tekad

Selasa, 27 Oktober 2026

Humor Paket Nestapa Indonesiaku


Berikut ini adalah 6 Paket Humor “Nestapa Indonesia". Tentu saja ini merupakan fiksi radikal satire. Radikal dalam arti mengkritik habis-habisan. Tentu saja, bukan mengajak rusuh. Tapi kalau mirip realita. Bukan salah humor. Itu salah kita semua yang sudah terbiasa.

Paket 1: KTP Abadi

Warga: "Maaf pak, saya mau bikin KTP."
Petugas: "Okeh, bawa surat pengantar RT."
Warga: "Bawa pak."
Petugas: "Bawa fotokopi KK."
Warga: "Siap, sudah, pak."
Petugas: "Bawa fotokopi KTP."
Warga: "Lah, saya kan mau bikin KTP pak, kok suruh bawa fotokopi KTP?"
Petugas: "Ini sudah menjadi prosedur. Kalau belum punya KTP, boleh bawa KTP sementara."
Warga: "KTP sementara dari mana pak? dari Hongkong?"
Petugas: "Ya dari kelurahan dong, masa dari Hongkong."
Warga: "Tapi Kelurahan juga dulu minta fotokopi KTP."
Petugas: "Ya sudah, itu namanya lingkaran setan. Selamat datang di Indonesia, ya...!"

Punchline: Di sini, untuk jadi warga negara, kamu harus sudah jadi warga negara. Nah, Puyeng kan...!


Paket 2: Sembako Naik, Gaji Diam.

Istri: "Bapake, harga beras naik lagi."
Suami: "Tenang bu'e, gaji bapak juga ikut naik."
Istri: "Naik berapa?"
Suami: "Naik...harapan."
Istri: "Ealah...emang harapan bisa dimakan kah?"
Suami: "Bisa bu. Tapi harus dimasak dulu biar jadi sabar."
Istri: "Terus ini Anak minta susu piye?."
Suami: "Yo, kasih susu... versi iklan bae bu'e."
Istri: "Maksudnya?"
Suami: "Lihat gambar iklan, bayangken rasane, lalu minum air putih. Wis..beres kan..!"

Punchline: Ekonomi kita emang sedang kuat-kuatnya. Kuat menahan lapar.


Paket 3: Macet Berjamaah

Pengendara A: "Bang, emang mulai macetnya dari mana?"
Pengendara B: "Dari jauh."
A: "Maksudnya jauh dari mana?"
B: "Dari zaman Orde Baru."
A: "Kok bisa?"
B: "Ya iya lah wong jalan nggak nambah, mobilnya terus nambah, sementara para pejabat pada sibuk rapat."
A: "Rapat apa sih?"
B: "Ya Rapat soal macet."
A: "Terus hasilnya?"
B: "Ya dilanjut rapat berikutnya lah."

Punchline: Macet di Indonesia bukan masalah transportasi. Itu agenda nasional yang nggak pernah selesai.


Paket 4: Sekolah Gratis

Bapak: "Sekolah kita sudah gratis, kan?"
Ibu: "Iya, gratis."
Bapak: "Lalu ini tagihan apa?"
Ibu: "Uang gedung, uang seragam, uang buku, uang kegiatan, uang kebersihan, uang keamanan."
Bapak: "Itu yang namanya gratis kah?"
Ibu: "Gratis...cuma ya gitu ada biaya sukarelanya."
Bapak: "Sukarela kok rasanya seperti wajib?"
Ibu: "Yah namanya juga sukarela versi Indonesia pak. Rela atau tidak rela, harus tetap bayar."

Punchline: Pendidikan itu investasi. Investasi paling mahal dan investasi paling sabar.


Paket 5: Antre Rumah Sakit

Pasien: "Maaf Pak, saya mau berobat."
Petugas: "Mohon Antre dulu..!"
Pasien: "Antre berapa lama?"
Petugas: "Tergantung."
Pasien: "Tergantung apa?"
Petugas: "Tergantung kartu."
Pasien: "Saya punya BPJS pak."
Petugas: "Oh, itu antrenya panjang."
Pasien: "Kalau bayar sendiri?"
Petugas: "Antrenya pendek."
Pasien: "Kalau mau cepat?"
Petugas: "Bayar sendiri, berobat ke praktek dokter swasta."

Punchline: Di Indonesia, sehat itu pilihan. Tapi pilihan sehat itu mahal.


Paket 6: Banjir Tahunan

Warga: "Pak Lurah, daerah kita banjir lagi nih.."
Lurah: "Itu sebenarnya bukan banjir, tapi siklus."
Warga: "Siklus apa?"
Lurah: "Siklus tahunan: hujan, banjir, foto, janji, lupa."
Warga: "Solusinya?"
Lurah: "Normalisasi."
Warga: "Sungai?"
Lurah: "Bukan. Anggaran."
Warga: "Anggaran dinormalisasi bagaimana?"
Lurah: "Dikurangi, sisanya dibagi."

Punchline: Banjir di Indonesia bukan bencana alam. Itu acara tahunan yang wajib dihadiri.


Bonus Pantun Nestapa:

Pergi ke pasar beli jamur,
Pulang lagi nonton fim avatar.
Negeri ini katanya makmur,
Tapi rakyatnya jago menahan lapar.

Serial Tasawuf-34, Al Hikam-1: "Ketika Amal Menjadi Tirai yang Menutupi Rahmat"


Malam itu, angin dari laut Iskandariyah berhembus pelan. Membawa aroma garam dan debu pasir ke beranda zawiyah. Syekh Ahmad bin Atha'illah as-Sakandari (Ibnu Atha'illah) duduk di atas sajadah lusuh yang telah menemaninya puluhan tahun. Di hadapannya, duduk bersila para salik. Murid-murid yang tengah menempuh jalan menuju Allah. Wajah mereka bersih. Tetapi hati mereka menyimpan pertanyaan yang belum terjawab.

Seorang salik muda bernama Zaid mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, aku ingin bertanya tentang sesuatu yang mengganjal di hatiku."

"Silakan, anakku," ujar Ibnu Atha'illah dengan suara lembut namun berwibawa.

"Aku telah lama beribadah. Aku shalat, aku puasa, aku bersedekah. Tetapi suatu hari, aku berbuat dosa. Sejak saat itu, aku merasa tidak mungkin lagi diampuni. Aku merasa amalku sia-sia. Aku merasa Allah pasti marah dan tidak akan memaafkanku. Apakah perasaanku ini benar?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. Senyumnya bukan senyum yang ringan. Melainkan senyum yang mengandung beban hikmah yang dalam. Ia memandang Zaid dengan mata yang teduh, lalu berkata:

"Ketahuilah, anakku, bahwa di antara tanda-tanda seseorang bersandar pada amal usahanya adalah berkurangnya harapan kepada rahmat Allah ketika ia melakukan kesalahan atau dosa. "

Zaid terdiam. "Wahai Mursyid, apakah maksudnya bahwa putus asaku itu adalah tanda bahwa aku bersandar pada amalku sendiri?"

"Benar, anakku," jawab Ibnu Atha'illah. "Ketika engkau berbuat dosa. Lalu engkau merasa tidak mungkin diampuni. Itu artinya engkau mengira bahwa keselamatanmu ditentukan oleh amalmu sendiri. Engkau lupa bahwa yang menyelamatkanmu bukanlah amalmu. Melainkan rahmat Allah semata. "

Dalil Pertama: Rahmat Allah Meliputi Segala Sesuatu

Ibnu Atha'illah membuka mushaf kecil di sisinya. "Dengarkanlah, anakku, apa yang Allah katakan tentang rahmat-Nya."

"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS. Al-A'raf: 156)

"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Allah tidak berkata 'rahmat-Ku meliputi orang-orang yang beramal saleh.' Ia berkata 'rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.' Rahmat Allah lebih luas dari amalmu. Lebih luas dari dosamu. Lebih luas dari seluruh perjalanan hidupmu."

Seorang salik bernama Fatimah mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah rahmat Allah benar-benar lebih luas dari murka-Nya?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. "Dengarkanlah sabda Nabi Muhammad SAW:

Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menuliskan di dalam kitab-Nya. Yang kitab itu berada di sisi-Nya di atas Arsy:

"Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku." (HR. Bukhari dan Muslim)

"Rahmat Allah bukan hanya lebih luas dari murka-Nya. Rahmat-Nya mengalahkan murka-Nya. Itulah janji Allah yang tertulis di atas Arsy. Sebelum engkau dilahirkan. Sebelum engkau berbuat dosa. Sebelum engkau menyesal."

Dalil Kedua: Jangan Berputus Asa

Ibnu Atha'illah kemudian membacakan ayat yang paling membuat hati para salik bergetar:

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'" (QS. Az-Zumar: 53)

"Lihatlah," kata Ibnu Atha'illah dengan mata berkaca-kaca. "Allah tidak berkata 'wahai orang-orang berdosa.' Ia berkata 'wahai hamba-hamba-Ku.'

Bahkan dalam keadaan melampaui batas. Engkau masih disebut hamba-Nya. Dan Allah tidak berkata 'jangan berputus asa dari amalmu.' Ia berkata 'jangan berputus asa dari rahmat-Ku.'"

Zaid menunduk. Air matanya jatuh ke sajadah. "Wahai Mursyid, aku telah lama merasa bahwa dosaku terlalu besar untuk diampuni."

Ibnu Atha'illah meletakkan tangannya di pundak Zaid. "Ketahuilah, anakku, bahwa tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir. " (QS. Yusuf: 87) "Putus asa bukanlah tanda kerendahan hati. Putus asa adalah tanda bahwa engkau belum mengenal Allah."

Dalil Ketiga: Amal Tidak Memasukkan Seseorang ke Surga

Seorang salik bernama Umar bertanya, "Wahai Mursyid, jika bukan amal yang menyelamatkan kami, lalu untuk apa kami beramal?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. "Pertanyaan yang sangat baik, Umar. Dengarkanlah sabda Nabi Muhammad SAW:

'Tidak akan masuk surga seorang di antara kalian karena sebab amalnya.' Ditanya para sahabat, 'Termasuk engkau, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya.' (HR. Bukhari dan Muslim)

"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Bahkan Nabi Muhammad SAW. Manusia yang paling mulia, yang amalnya paling banyak, yang dosanya telah diampuni. Tidak akan masuk surga karena amalnya. Beliau masuk surga karena rahmat Allah."

"Lalu untuk apa kita beramal?" tanya Umar lagi.

"Amal bukanlah tujuan, anakku. Amal adalah persembahan, bukan sandaran. " "Kita beramal karena Allah memerintahkan kita untuk beramal. Kita beramal karena kita mencintai Allah. Tetapi kita tidak bersandar pada amal kita. Kita bersandar pada rahmat Allah."

Kisah Nabi dan Seorang Ibu yang Mencintai Anaknya

Ibnu Atha'illah kemudian bercerita. "Suatu hari, Nabi Muhammad SAW melihat seorang perempuan yang sedang menyusui anaknya. Beliau bertanya kepada para sahabat: 'Apakah engkau pikir perempuan ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam api?' Para sahabat menjawab: 'Tidak, Wahai Rasulullah.'

Nabi SAW bersabda: 'Sungguh, Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada perempuan ini kepada anaknya.' (HR. Bukhari dan Muslim)"

"Jika seorang ibu, yang hatinya dipenuhi cinta, tidak tega menyakiti anaknya, bagaimana mungkin Allah, yang menciptakan cinta itu sendiri, tega menyiksa hamba-Nya yang bertaubat? Rahmat Allah lebih besar dari cinta seorang ibu. Dan engkau, Zaid, adalah anak yang dicintai Allah."

Kembali ke Rahmat

Malam semakin larut. Angin dari laut masih berhembus, membawa aroma garam yang segar. Ibnu Atha'illah bangkit dari duduknya. Membetulkan selendangnya. Dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya, "janganlah engkau bersandar pada amalmu sendiri. Janganlah engkau merasa aman karena amalmu. Dan janganlah engkau putus asa karena dosamu. Yang menyelamatkanmu bukanlah amalmu. Melainkan rahmat Allah. "

"Maka berdoalah seperti ini: 'Ya Allah, janganlah Engkau serahkan aku kepada amalku sendiri. Karuniakanlah kepadaku rahmat-Mu, karena rahmat-Mulah yang menyelamatkanku.'"

Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Ia bukan salah karena berbuat dosa. Ia hanya salah karena putus asa.

Dan malam itu, ia pulang dengan hati yang lebih lapang. Karena ia telah menemukan bahwa pintu rahmat Allah tidak pernah tertutup.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Hikmah Kedua Al-Hikam: Pakaian yang Terlalu Sempit untuk Tubuhmu"

Hak Angket Ijazah Gibran, Terlanjur Basi atau Kurang Seksi?

( Secangkir Anggur Merah, Edisi-68 ) Leaderline : Wacana hak angket untuk mengusut ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ibarat pangg...