Jumat, 02 Oktober 2026

Kapolri Baru, Luka Lama: "Narasi Filosofis tentang Kekuasaan, Kepercayaan, dan Bayang-Bayang Narkoba"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-55)

Pengantar: Pada 1 Oktober 2026, DPR RI menyetujui Komjen Pol Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri baru menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Prosesnya berlangsung kilat: Presiden mengajukan satu nama. Komisi III menyetujui,. Lalu pelantikan digelar pada hari yang sama. Secara hukum. Tak ada yang salah. Mekanisme berjalan. Administrasi rapi. Namun filsafat kekuasaan mengajarkan satu hal yang sering dilupakan. Legalitas tidak selalu sama dengan legitimasi. Sesuatu bisa sah secara prosedur. Tetapi belum tentu sah di hati rakyat. Jangan sampai luka lama terkuak kembali.

Sudah Waktunya?

Pergantian Kapolri bukan sekadar rotasi jabatan. Ia adalah cermin bagaimana negara memaknai kepercayaan. Polri adalah institusi yang diberi hak istimewa untuk memakai kekuatan. Melakukan penahanan. Dan bahkan merenggut kebebasan. 

Karena itu, ia seharusnya menjadi institusi paling terbuka. Paling diawasi. Dan paling takut kehilangan legitimasi. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Tidak ada uji publik. Tidak ada evaluasi kinerja yang dibuka ke ruang publik. 

Ketua DPR Puan Maharani hanya menyebut “sudah waktunya”. Publik, terutama para korban yang bertahun-tahun menanti keadilan. Tidak diajak bicara. Padahal mereka adalah pemilik sah dari institusi yang disebut pelayan masyarakat itu.

Survei menunjukkan kepercayaan publik terhadap Polri berada di angka 76,2 persen. Angka itu terdengar melegakan. Namun filsafat kepercayaan tidak hidup di atas kertas. Ia hidup di pengalaman. 

Amnesty International Indonesia mencatat sedikitnya 34 warga sipil menjadi korban pembunuhan di luar hukum sepanjang 2025. Dengan pelaku didominasi anggota Polri. 

Aliansi Jurnalis Indonesia mencatat 21 dari 31 kasus kekerasan fisik terhadap jurnalis dilakukan aparat kepolisian. Di kota-kota, warga masih mengeluh laporan sulit diproses tanpa koneksi atau biaya. Ada jurang antara statistik dan realitas. Jurang itu tidak bisa ditutup hanya dengan mengganti pucuk pimpinan.

Masih Tebang Pilih dan Rawan Konflik

Pengamat kepolisian ISESS, Bambang Rukminto, menegaskan bahwa PR terbesar Polri bukan soal siapa yang duduk di kursi Kapolri. Melainkan penegakan hukum yang masih tebang pilih dan rawan konflik kepentingan. 

Reformasi kultural belum tuntas. Pendidikan kepolisian yang hierarkis. Loyalitas korps yang sering mengalahkan kebenaran. Mekanisme etik yang tertutup. Serta promosi jabatan yang tidak transparan. 

Selama akar-akar kultural ini tidak dibenahi. Pergantian Kapolri hanya akan menjadi siklus yang berulang. Harapan baru. Kekecewaan lama.

Janji Dengar 9 Kegelisahan

Suyudi membawa visi “Polri Bersama Masyarakat” dan berjanji mendengarkan sembilan kegelisahan utama rakyat. Janji itu mulia. Namun reformasi kultural tidak akan lahir dari slogan humanis. 

Ia lahir dari keberanian membawa pelanggaran berat ke proses pidana terbuka. Bukan sekadar mutasi atau sidang etik tertutup. Ia lahir dari transparansi promosi jabatan dan keterbukaan dalam setiap investigasi yang menyangkut nyawa warga.

Yang paling menghunjam dari krisis kepercayaan ini. Adalah ketika mereka yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan narkoba. Justru menjadi bagian dari jaringan itu sendiri. 

Data KontraS mencatat 106 anggota polisi terlibat kasus peredaran narkotika sepanjang 2019–2022. Kasus AKBP Didik Putra Kuncoro, Kapolres Bima Kota, yang kedapatan menyimpan sekoper narkoba dan menerima Rp2,8 miliar dari bandar. Hanyalah puncak gunung es. 

Sebelumnya, Irjen Teddy Minahasa memanipulasi barang bukti 5 kilogram sabu untuk dijual kembali melalui bandar di Jakarta. Di Majene, Aipda AK berperan sebagai pemasok utama sabu bagi komunitas nelayan dengan sistem titip jual.

Setiap kasus ini bukan sekadar pelanggaran individu. Melainkan cermin bahwa loyalitas korps dan budaya impunitas telah menciptakan ruang aman bagi kejahatan untuk tumbuh dari dalam.

Kejahatan Narkoba sebagai Kejahatan Jejaring

Komisioner Kompolnas Choirul Anam menegaskan bahwa kejahatan narkoba adalah kejahatan jejaring. Tidak cukup hanya menghukum anggotanya tanpa membongkar jaringannya. 

Ironi terbesar dari pergantian Kapolri. Bahwa orang yang dipercaya memimpin pemberantasan narkoba justru datang dari institusi. Yang sebagian anggotanya masih menjadi bagian dari rantai pasok barang haram itu sendiri. 

Tanpa pembenahan kultural yang radikal. Transparansi promosi. Pengawasan melekat yang nyata. Dan keberanian membongkar jaringan hingga ke atas. Maka visi “Polri Bersama Masyarakat” akan tetap menjadi slogan kosong di tengah rakyat. Yang setiap hari melihat polisi menangkap pengedar kecil sementara bandar berpangkat terus lolos.

Apakah Negara Hanya Hadir Bagi Yang Punya Kuasa?

Filsafat kenegaraan mengajarkan bahwa negara adalah tubuh. Polri adalah salah satu tangannya. Jika tangan mencuri. Yang salah bukan hanya tangan itu. Melainkan saraf. Jantung. Dan kesadaran yang menggerakkannya. 

Maka pergantian Kapolri tidak boleh dibaca sebagai titik akhir. Ia adalah awal dari pertanyaan yang lebih dalam. Apakah negara ini benar-benar hadir bagi korban? Atau hanya hadir bagi mereka yang punya kuasa?

Masyarakat tidak menuntut Kapolri yang sempurna. Mereka menuntut polisi yang hadir ketika dilaporkan. Yang menjelaskan perkembangan kasus tanpa harus diminta. Dan yang tidak menembak anak-anak di jalanan. 

Rakyat tidak butuh slogan baru. Mereka butuh bukti bahwa keadilan bukan barang mewah. Yang hanya bisa dibeli oleh mereka yang dekat dengan kekuasaan.

Selama akar kultural tidak dibenahi. Pergantian Kapolri hanya akan memindahkan bayangan. Bukan menghapus kegelapan. 

Kapolri baru adalah cermin. Jika cermin itu retak. Wajah negara ikut retak. Dan tugas kita, sebagai rakyat. Bukan sekadar menunggu perubahan dari atas. Melainkan terus mengawal. Mengkritisi. Dan menuntut agar hukum benar-benar menjadi milik semua orang. Maaf, nih Jenderal. Sekadar mengkritisi...!!

Serial tasawuf-9: "Kisah Mursyid dan para Salik tentang Taubat"


Narasi Pembuka: Malam itu, langit di atas zawiyah (surau) kecil di pinggir kota tampak begitu bening. Bintang-bintang bergantung rendah. Seolah ingin mendengar percakapan yang sedang berlangsung di bawahnya. Di dalam zawiyah, duduklah seorang Guru Mursyid (Guru Spiritual) di atas sajadah lusuh. Yang telah menemaninya puluhan tahun. Di hadapannya, duduk bersila dua puluh orang salik. Para penempuh jalan spiritual. Dengan wajah-wajah yang haus akan cahaya.


Taubat sebagai Pembuka Pintu Utama Spiritual

Seorang salik muda bernama Zaid memberanikan diri mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, aku telah lama menempuh jalan ini. Aku telah berpuasa, berdzikir, dan bershalat malam. Namun hatiku terasa kering. Aku merasa berdiri di depan pintu yang terkunci. Apa yang harus aku lakukan?"

Mursyid tersenyum. Api kecil di sudut ruangan berkobar sejenak. Menerangi keriput wajahnya yang dipenuhi hikmah. "Duduklah, anakku," ujarnya dengan suara lembut namun berwibawa. "Malam ini, aku akan bercerita kepadamu tentang sesuatu yang engkau cari. Tentang pintu pertama—taubat."

Mursyid memulai. "Ada seorang lelaki yang memiliki kebun zaitun. Pohon-pohonnya dulu subur. Buahnya lebat. Dan minyaknya jernih. Tetapi bertahun-tahun ia lalai. Ia tidak memangkas dahan. Tidak menyiram akar. Dan membiarkan rumput liar tumbuh menjalar. Perlahan-lahan, daun-daun mulai menguning. Buah-buah mengecil. Dan akhirnya. Pohon-pohon itu kering. Tak lagi berbuah."

"Suatu hari, lelaki itu datang ke kebunnya dan menangis. Ia menyesali kelalaiannya. Ia ingin pohon-pohon itu hidup kembali. Tetapi akarnya telah membusuk. Apa yang harus ia lakukan?"

Seorang salik menjawab, "Ia harus mencabut rumput liar itu, Wahai Mursyid."

"Benar," ujar Mursyid. "Tetapi sebelum mencabut. Ia harus mengakui bahwa rumput itulah yang membunuh pohonnya. Ia harus menyesali mengapa ia membiarkannya begitu lama. Dan ia harus berjanji tidak akan membiarkannya lagi."

Mursyid memandang para salik satu per satu. "Itulah taubat. Kalian adalah kebun itu. Dosa-dosa adalah rumput liar. Dan Allah adalah Pemilik kebun yang menanti hamba-Nya untuk membersihkan akarnya."

Tiga Lapis Taubat

Mursyid melanjutkan, "Imam al-Ghazali. Semoga Allah merahmatinya. Mengajarkan bahwa taubat bukan sekadar ucapan di lisan. Taubat adalah revolusi yang menyentuh tiga lapis dirimu."

"Lapisan pertama adalah ilmu. Engkau harus benar-benar tahu apa yang engkau lakukan. Bukan sekadar tahu bahwa itu dosa. Tetapi memahami mengapa Allah melarangnya. Dan apa akibatnya bagi jiwamu. Orang yang bertaubat tanpa ilmu ibarat orang buta yang mencoba membersihkan kaca."

"Lapisan kedua adalah hati. Yaitu keadaan hatimu. Ketika engkau menyadari dosamu. Hatimu harus bergetar. Bukan sekadar menyesal karena takut neraka. Tetapi malu kepada Allah. Zat yang telah memberimu begitu banyak nikmat. Namun engkau balas dengan kedurhakaan. Air mata bukan tanda kelemahan. Melainkan tanda bahwa hatimu masih hidup."

"Lapisan ketiga adalah amal. Seperti amal buruk. Engkau harus meninggalkan perbuatan itu. Seketika. Tanpa menunda. Dan engkau harus menggantinya dengan ketaatan. Seperti seorang pencuri yang tidak cukup hanya menyesal. Tetapi harus mengembalikan barang curiannya dan berhenti mencuri."

Syarat-Syarat Taubat

Salik lain, Fatimah, bertanya dengan suara pelan, "Wahai Mursyid, bagaimana kami tahu bahwa taubat kami diterima?"

Mursyid menghela napas. "Ada tiga syarat yang diajarkan al-Ghazali. Dan engkau harus memenuhinya."

"Pertama, meninggalkan dosa itu seketika. Bukan besok. Bukan setelah Ramadhan. Bukan setelah engkau tua. Sekarang. Seperti orang yang melihat ular di kasurnya. Ia tidak menunggu. Ia segera bangkit."

"Kedua, menyesali yang telah lalu. Penyesalan ini bukan sekadar sedih. Tetapi penyesalan yang membakar. Yang membuatmu bertanya: 'Mengapa aku melakukan itu? Bagaimana aku bisa tega melanggar perintah Zat yang mencintaiku?'"

"Ketiga, berketetapan untuk tidak mengulangi. Ini yang paling sulit. Karena syaitan tidak pernah tidur. Tetapi ketahuilah. Jika engkau jatuh lagi. Bangkitlah lagi. Taubat tidak membatalkan taubat yang sebelumnya."

"Dan jika dosamu berkaitan dengan hak orang lain," tambah Mursyid, "maka engkau harus meminta maaf dan mengembalikan haknya. Tidak ada taubat yang sah jika engkau masih memakan hak tetanggamu. Atau masih menyakiti hati orang tuamu."

Dalil-Dalil dari Al-Qur'an

Mursyid membuka mushaf kecil di sisinya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang kalian."

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Al-Baqarah: 222)

"Perhatikan, Allah tidak berkata 'mengampuni'. Ia berkata 'menyukai'. Ada perbedaan besar antara diampuni dan dicintai. Orang yang diampuni mungkin masih jauh. Tetapi orang yang dicintai. Ia berada di dekat Allah."

Mursyid membacakan lagi:

"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang mukmin, supaya kamu beruntung." (An-Nur: 31)

"Keberuntungan hakiki," ujar Mursyid. "Bukanlah harta, bukanlah jabatan. Keberuntungan hakiki adalah ketika engkau kembali kepada Allah dan Dia menerimamu."

Dan ia membaca ayat yang paling membuat hati para salik bergetar:

"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'" (Az-Zumar: 53)

"Lihatlah," kata Mursyid dengan mata berkaca-kaca. "Allah tidak berkata 'hai orang-orang berdosa'. Ia berkata 'hai hamba-hamba-Ku'. Bahkan dalam keadaan melampaui batas. Engkau masih disebut hamba-Nya. Betapa lembutnya Allah kepada kita."

Dalil-Dalil dari Hadits

Mursyid lalu mengisahkan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW bersabda:
'Setiap anak Adam pasti berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.' (HR. Tirmidzi)

Engkau tidak perlu menjadi sempurna, anakku. Engkau hanya perlu menjadi orang yang bangkit setiap kali jatuh."

'Penyesalan adalah taubat.' (HR. Ahmad)

Al-Ghazali berkata: "Penyesalan itu sudah mencakup ilmu dan amal. Karena engkau tidak mungkin menyesal tanpa tahu. Dan tidak mungkin menyesal tanpa berubah."

'Sesungguhnya Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang sahara.' (HR. Muslim)

"Bayangkan," ujar Mursyid, "seorang musafir di tengah gurun, kehabisan air. Untanya membawa seluruh bekalnya hilang. Ia sudah putus asa. Sudah bersiap mati. Lalu tiba-tiba—ia melihat untanya berdiri di sana. Betapa gembiranya ia? Itulah gambaran kegembiraan Allah ketika engkau bertaubat."

'Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai ke tenggorokan.' (HR. Tirmidzi)

"Jangan menunda," pesan Mursyid. "Karena engkau tidak tahu kapan ruhmu akan sampai di tenggorokan."

Tingkatan-Tingkatan Taubat

Malam semakin larut. Api di sudut ruangan mulai meredup. Tetapi mata para salik justru semakin bercahaya.

Mursyid berkata, "Ketahuilah, taubat memiliki tingkatan. Taubat orang awam adalah berpaling dari dosa menuju ketaatan. 

Taubat orang pilihan adalah berpaling dari kelalaian menuju kesadaran akan kehadiran Allah. 

Dan taubat para kekasih Allah adalah berpaling dari segala sesuatu selain Allah. Sehingga sekecil apa pun lalai dari mengingat-Nya. Dianggap sebagai dosa yang perlu ditangisi."

Zaid, salik muda itu, bertanya lagi, "Wahai Mursyid, apakah kami bisa mencapai tingkatan tertinggi itu?"

Mursyid tersenyum. "Engkau bisa, jika engkau mau. Tetapi ingatlah, taubat bukan peristiwa sekali seumur hidup. Ia adalah perjalanan. Setiap hembusan nafas adalah kesempatan untuk kembali. Bahkan Nabi SAW, yang telah dijamin bebas dari dosa, beristighfar seratus kali sehari. Apakah engkau lebih suci dari beliau?"

Pintu yang Selalu Terbuka

Sang Mursyid bangkit. Membetulkan sarungnya. Dan memandang para salik dengan penuh kasih.

"Jadi anak-anakku," ujarnya, "taubat adalah gerbang pertama. Tanpa melewatinya, engkau tidak akan pernah sampai ke maqam sabar, zuhud, tawakal, apalagi mahabbah. Seperti orang yang ingin masuk istana. Engkau harus melewati pintu depan. Tidak ada jalan lain."

"Ingatlah pesan Al-Fudhail bin Iyadh: 'Istighfar tanpa meninggalkan dosa adalah taubatnya para pendusta.' Maka janganlah engkau mempermainkan taubat."

"Dan ketahuilah, pintu ini tidak pernah tertutup. Selama matahari belum terbit dari barat. Selama ruh belum sampai di tenggorokan. Selama itu pula Allah menanti. Maka bersegeralah. Sebelum 'besok' menjadi kata yang tidak pernah datang."

Mursyid menutup majelis dengan doa:

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang Engkau cintai karena taubat kami. Dan janganlah Engkau biarkan kami mati dalam keadaan lalai. Aamiin."

Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Malam itu, mereka pulang bukan dengan ilmu baru di kepala. Tetapi dengan cahaya baru di hati. Sebab mereka telah memahami. Bahwa taubat bukanlah akhir dari perjalanan. Melainkan awal dari segalanya.

Wallahu a'lam bish-shawab
(Ikuti dan nantikan Serial Tasawuf-10)

Kamis, 01 Oktober 2026

Dirut Telkom Baru, Nanang Hendarno: "Profile, Kebijakan dan Tantangan"


Pengantar: Nanang Hendarno resmi menjabat sebagai Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk sejak 30 September 2026. Menggantikan Dian Siswarini. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Direktur Network Telkom Indonesia. Berikut Profile, Kebijakan dan Tantangannya. Lalu bagaimana Sekar harus bersikap?

Rekam Jejak Nanang

Nanang memiliki latar belakang pendidikan teknik yang kuat. Beliau alumnus Sarjana Teknik Elektro dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya (1991). Dan Magister (S2), Space System Engineering dari Delft University of Technology, Belanda (1997).

Sebelum menjadi Dirut, Nanang telah menempati berbagai posisi strategis di lingkungan TelkomGroup. Direktur Network Telkom Indonesia (sebelum 2026). Chief Executive Officer PT Infrastruktur Telekomunikasi Indonesia (2022–2025). Chief of Technology PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) (2016–2022). Dan Executive General Manager Divisi Service Operation Telkom (2015–2016).

Susunan Direksi Telkom Terkini

Bersamaan dengan pengangkatan Nanang. Susunan Direksi Telkom menjadi sebagai berikut:

· Direktur Utama: Nanang Hendarno
· Direktur Enterprise & Business Service: Veranita Yosephine
· Direktur Human Capital Management: Willy Saelan
· Direktur IT Digital: Karim Siregar
· Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko: Arthur Angelo Syailendra
· Direktur Network: Budi Satria Dharma Purba
· Direktur Strategic Business Development & Portfolio: Seno Soemadji
· Direktur Wholesale & International Service: Radita Ali Putra
· Direktur Legal & Compliance: Andy Kelana

Agenda Transformasi TLKM 30

Pengangkatan Nanang terjadi bersamaan dengan agenda transformasi TLKM 30. Termasuk penataan struktur bisnis dan pemisahan aset wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).

Berdasarkan strategi transformasi TLKM 30 yang sedang berjalan dan tantangan industri telekomunikasi saat ini. Berikut adalah kebijakan strategis yang perlu menjadi fokus Nanang Hendarno untuk memajukan Telkom ke depan:

Percepatan Eksekusi Empat Pilar TLKM 30

Nanang perlu memastikan akselerasi implementasi empat pilar utama TLKM 30 yang telah dicanangkan:

1. Operational & Service Excellence: Memperkuat disiplin operasional, perbaikan proses bisnis, dan optimalisasi alokasi modal agar lebih efisien.

2. Streamlining: Melanjutkan perampingan anak usaha secara agresif. Telkom menargetkan pemangkasan dari 58 menjadi 18 entitas, dengan 24 sudah ditutup dan 19 ditargetkan selesai pada akhir 2026.

3. Unlock Value: Memonetisasi aset bernilai tinggi melalui InfraNexia dan optimalisasi pengelolaan aset strategis.

4. Modus Operandi Shift: Bertransformasi dari operating holding menjadi strategic holding dengan model HoldCo-OpCo yang lebih agile.

InfraNexia sebagai Mesin Pertumbuhan Baru

Dengan lebih dari 90% aset infrastruktur jaringan (112.000 km fiber optik, termasuk 26.000 km SKKL) kini dikelola InfraNexia. Tugas berat Nanang yang harus diemban, antara lain:

· Peningkatan utilisasi aset dan perluasan kemitraan strategis dengan pelaku industri eksternal (ISP, operator, hyperscaler).

· Modernisasi infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan AI, cloud, dan data center sebagai AI Ready Infrastructure.

· Skema carrier-neutral untuk membuka akses layanan bagi berbagai operator dan memperbesar kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure.

Fokus pada AI, 5G, dan Data Center sebagai Prioritas Capex

Belanja modal (capex) Telkom pada semester I 2026 sebesar Rp10,8 triliun. Dengan lebih dari 96% dialokasikan untuk tiga prioritas utama: B2C, B2B Infrastructure, dan International Business. 

Dengan fokus pada pengembangan jaringan 5G. Tugas Nanang berikutnya: Mengembangkan AI BigBox sebagai ekosistem solusi AI dan big data untuk institusi, perusahaan, hingga UMKM; Mengoptimalkan spektrum 5G yang telah dimenangkan Telkomsel (100 MHz) untuk layanan yang benar-benar 5G, bukan sekadar "5G rasa 4G".

Nanang perlu menyiapkan Telkom menghadapi dua tantangan regulasi besar. Mobile Number Portability (MNP): Perubahan arsitektur telekomunikasi nasional yang membutuhkan investasi besar pada teknologi, regulasi, dan infrastruktur. Telkom harus proaktif dalam kesiapan sistem penomoran terpusat. 

Selain itu penghentian jaringan 2G. Dengan sekitar 29 juta pengguna 2G di Indonesia. Terutama di wilayah terpencil, Telkom perlu menyiapkan strategi migrasi bertahap ke 4G/5G tanpa menghambat akses komunikasi masyarakat.

Terkait dengan penguatan Tata Kelola dan Pengembalian Nilai kepada Pemegang Saham. Maka perlu melanjutkan total governance reset yang diamanatkan Danantara. Termasuk penyelarasan kebijakan akuntansi dan percepatan depresiasi aset untuk laporan keuangan yang lebih akurat.

Selain itu mempertahankan Total Shareholder Return (TSR) yang positif (35,7% pada 2025). Melalui kebijakan dividen yang konsisten dan program share buyback.

Dengan fokus pada percepatan TLKM 30. Optimalisasi InfraNexia. Investasi AI/5G/data center. Serta antisipasi tantangan regulasi. Diharapkan Nanang Hendarno dapat memposisikan Telkom sebagai strategic holding digital yang tangguh dan berdaya saing global hingga 2030.

Bagaimana Sikap Sekar

Tidak ada atau belum ada pernyataan resmi atau sikap spesifik dari SEKAR Telkom (Serikat Karyawan Telkom) terkait terpilihnya Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama. 
Sekar sepertinya lebih suka bungkam seribu basa.

Padahal, secara historis, SEKAR Telkom biasanya aktif menyuarakan aspirasinya dalam setiap pergantian direksi.

SEKAR Telkom memiliki tradisi panjang untuk terlibat dalam proses pemilihan Direktur Utama. Beberapa catatan menunjukkan terlibat Aktif dalam RUPSLB.

Pada Desember 2014, misalnya, SEKAR Telkom bahkan sampai mendatangi Kementerian BUMN untuk menyuarakan aspirasinya soal sosok yang akan menjadi Dirut Telkom. 

SEKAR juga pernah mengancam akan menggelar demo besar-besaran jika direksi baru yang dipilih dinilai tidak tepat.

Kriteria yang Diperjuangkan SEKAR Telkom menekankan bahwa calon Dirut harus profesional. Mampu mengembangkan core bisnis. Serta lolos screening KPK. Dan tidak hanya berorientasi pencitraan.

Nanang Hendarno memang bukanlah sosok asing di Telkom. Ia telah berkarier lebih dari 10 tahun di perusahaan. Dan sebelumnya menjabat sebagai Direktur Network.

Penunjukannya merupakan bagian dari agenda transformasi TLKM 30 yang diamanatkan oleh Danantara. Dengan fokus pada perampingan entitas anak usaha dan penguatan InfraNexia.

Namun, sebagai sosok internal yang memiliki rekam jejak panjang di Telkom. Nanang berpotensi mendapatkan penerimaan yang lebih baik dibandingkan jika direksi berasal dari luar perusahaan.

Ada catatan yang perlu dikritisi SEKAR dari penunjukan Nanang Hendarno.  SEKAR Telkom harus tetap konsisten mengawal isu Good Corporate Governance (GCG) dan transparansi. 

Misalnya terhadap desakan transparansi aset. Terkait rencana pemanfaatan Grha Merah Putih. SEKAR meminta manajemen transparan. Melakukan mitigasi risiko hukum dan reputasi. Serta segera menggelar pertemuan bipartit.

Risiko Eksekusi TLKM 30

Transformasi besar-besaran ini menyimpan risiko signifikan. Inilah yang harus dicermati Nanang dan yang harus dipantau SEKAR. Beberapa risiko itu antara lain:

Disrupsi operasional: Transisi aset dan SDM berpotensi mengganggu operasional sementara. Tekanan margin: Biaya restrukturisasi dapat menekan margin jangka pendek. Dan Risiko eksekusi: Skala reorganisasi yang melibatkan banyak entitas meningkatkan kompleksitas eksekusi.

Tekanan Pasar dan Kinerja

Pasar merespons perombakan direksi dengan tekanan. 
Saham TLKM turun 3,38% ke Rp2.290 pada hari RUPSLB.

Semenara pertumbuhan pendapatan semester I-2026 hanya 3,9% (yoy) menjadi Rp75,9 triliun. Dengan laba bersih tumbuh 6,2% (yoy). 

Katalis utama: Pasar menanti unlock value dari penataan aset fiber dan monetisasi infrastruktur. Namun eksekusi spin-off masih menjadi ketidakpastian.

Beban Investigasi SEC

Nanang mewarisi masalah hukum yang belum selesai. Investigasi SEC sejak Oktober 2023 terkait proyek BAKTI Kominfo dan isu akuntansi. Dengan potensi sanksi yang belum pasti.

Dengan demikian Nanang Hendarno menghadapi double challenge. Yakni menuntaskan investigasi SEC. Dan mengeksekusi TLKM 30 yang berisiko tinggi. 

Keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan membangun kepercayaan publik. Dan menjaga momentum transformasi di tengah tekanan pasar. Serta tentu saja perlu dengan dukungan SEKAR.

Nah itu dia. Selamat bekerja Mas Nanang. Semoga di tangan Anda, TELKOM semakin maju dan tangguh. Terutama menghadapi kompetisi yang semakin ketat dan garang...!!

Wawancara Imajiner-2 dengan Donald J. Trump: "Tentang Indonesia"


Lokasi: Ruang Oval, Gedung Putih. Washington, D.C., 23 September 2026, sore hari. Langit Washington berwarna kelabu bagai marmer yang belum dipoles.

Di luar, pengunjuk rasa masih berkumpul. Ada yang membawa bendera Palestina. Ada juga yang membawa bendera Indonesia. Trump tidak peduli. Ia duduk di balik Resolute Desk. Dua layar TV menyala tanpa suara. Satu menayangkan CNN. Satu lagi Fox News. Keduanya menampilkan wajahnya.

Di meja ada tiga benda. Satu gelas Diet Coke. Satu telepon seluler. Dan satu lembar dokumen yang tercetak tebal: "Agreement on Reciprocal Trade: U.S.–Indonesia." Di hadapannya duduk pewawancara seorang Jurnalis Indonesia Ki Gempur Mudharat (KGM).

Trump: (Menatap KGM dengan tajam). You, Jurnalis Indonesia, yang dulu pernah wawancara dengan Aku?

KGM: Betul, Sir. Ini adalah wawancara kedua dengan Anda. And thanks a lot, Mr. Presiden, yang telah berkenan menerima wawancara ini.

Trump: Dengar! Aku melakukan ini karena tertarik. Karena kau bilang akan menulis tentang Indonesia. Aku suka itu. Bukan tentang Iran, Israel atau Eropa yang membosankan itu.  Lihat ini! (menunjuk dokumen di meja). Ini yang penting. Ini yang orang tidak mengerti.

KGM: Baik. Jadi mari kita bicara tentang Indonesia.

Trump: (bersandar, menyilangkan tangan): Aku akan ceritakan sesuatu. Ketika mereka pertama kali datang ke sini. Delegasi mereka, orang-orangnya Prabowo. Aku bilang, "Berapa jumlah penduduk kalian?" Mereka bilang, "Dua ratus delapan puluh juta." (berhenti, mata membelalak). Aku bilang, "Berapa?" "Dua ratus delapan puluh juta, Tuan Presiden. (menggeleng) Dua ratus delapan puluh juta orang. Itu...itu gila. Itu lebih banyak dari...(menghitung dengan jari)...lebih banyak dari akumulasi jumlah penduduk Jerman, Prancis, Inggris.

KGM: Ya, kami negara terpadat keempat di dunia, sir.

Trump: Keempat. Setelah India, China, dan...(berhenti)...Oh, ya, Amerika nomor tiga. (tersenyum tipis) Tapi dengarkan! Ketika kau bicara tentang pasar. Angka 280 juta itu bukan sekadar angka. Itu market. Itu pelanggan. Itu pembeli. Itu orang-orang yang butuh mobil, pesawat, ponsel, energi, kedelai, gandum. (mengetuk meja) Itu uang. Uang yang sangat besar.

KGM: Ya, saya faham itu. Tapi pada bulan Februari lalu, Anda menandatangani perjanjian dagang dengan Presiden Prabowo. Tarif 19 persen. Turun dari 32 persen. Apa yang membuat Anda menurunkan angka itu?

Trump: (condong ke depan): Aku menurunkannya karena Indonesia membayar. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan uang. (mengangkat tiga jari) Tiga puluh tiga miliar dolar. Itu angka yang mereka komitmenkan. Lima belas miliar untuk energi. Tiga belas setengah miliar untuk pesawat Boeing, sebanyak lima puluh unit, mostly 777. Empat setengah miliar untuk produk pertanian. Dan mereka menghapus tarif untuk 99 persen produk Amerika yang masuk ke Indonesia.

KGM: Jadi ini murni transaksional?

Trump: (tertawa) "Transaksional." (mengulang kata itu dengan nada mengejek) Aku dengar kata itu setiap hari. "Trump terlalu transaksional." (berhenti) Tahukah kau apa artinya itu? Artinya mereka tidak suka aku menghitung. Mereka suka orang yang memberi uang tanpa menghitung. Nah, aku tegaskan sekarang bahwa aku menghitung. Aku selalu menghitung.

KGM: Tapi diskon 19 persen masih lebih tinggi dari Vietnam, yang dapat 20 persen.

Trump: Vietnam dapat 20. Filipina dapat 20. Malaysia 25. Thailand 36. Bangladesh 35. Indonesia dapat 19. Terendah di kawasan. Kau tahu kenapa?

KGM: Kenapa?

Trump: Karena Prabowo. (diam, menatap langsung). Aku tidak suka banyak orang. Tapi aku menghormati dia. Dia tough guy. Kau tahu apa yang kukatakan di depan semua pemimpin dunia itu? Aku bilang, "I don't want to fight him". Itu bukan lelucon. (menunjuk ke arah jendela) Aku pernah berurusan dengan banyak orang. Banyak. Dan aku bisa bilang. Dia bukan orang yang bisa didikte. Dia tidak datang ke sini sebagai peminta. Dia datang sebagai mitra.

KGM: Ada yang mengatakan perjanjian ini mengandung klausul yang ditujukan untuk melemahkan pengaruh China. Indonesia sendiri menyangkal telah memihak.

Trump: (mengangkat tangan) China. Selalu China. (menggeleng) Dengar.!Aku tidak memaksa Indonesia memilih. Aku tidak bilang, "Jangan berteman dengan China." Yang Aku bilang: "Kalau kau mau berteman dengan Amerika, ini harganya. Ini manfaatnya." (berhenti) Indonesia sudah bergabung dengan BRICS. Tahun lalu. Kau tahu itu? Aku tahu. Tapi aku tetap menandatangani perjanjian itu.

KGM: Mengapa?

Trump: Karena mereka punya nikel. Dan mereka punya tanah jarang (LTD, Logam Tanah Jarang, memiliki unsur kimia dan bahan baku komponen teknologi.red.). Dan aku tidak peduli siapa teman mereka. Aku peduli mereka mengirim mineral itu ke sini. (mengetuk meja) Bukan ke Beijing. Bukan ke Moskow. Tapi ke Amerika.

KGM: Jadi maksud Anda, ini tentang rantai pasok?

Trump: Ini tentang semuanya. Mobil listrik, ponsel, jet tempur. Kau tahu jet F-35 butuh berapa banyak mineral langka? (tidak menunggu jawaban) Banyak. Dan siapa yang menguasainya? (berhenti dramatis) Bukan kita. Belum. (tersenyum) Tapi sekarang...Sekarang kita punya Indonesia. Dan Indonesia punya nikel terbesar di dunia. Dan mereka setuju bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Amerika. Itu dia...Itu strategis.

KGM: Presiden Prabowo juga berkomitmen mengirim 8.000 tentara untuk pasukan stabilisasi Gaza. Anda secara pribadi berterima kasih kepadanya di PBB. Apa arti komitmen itu bagi Anda?

Trump: (mengangguk pelan) Itu besar. Sangat besar. (berhenti) Kau tahu berapa banyak negara Muslim yang aku telepon? Dua puluh. Dua puluh negara. Dan kau tahu berapa yang bilang "Ya" untuk pasukan? (mengangkat jari) Tujuh. Indonesia pertama. (menunjuk dokumen di meja) Bukan Saudi. Bukan Mesir. Bukan Uni Emirat Arab. Tapi Indonesia. Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dan mereka berada di deputi komandan pasukan stabilisasi itu.

KGM: Banyak yang mengkritik bahwa Anda mengharapkan Indonesia membayar satu miliar dolar untuk keanggotaan Dewan Perdamaian.

Trump: (mata menyipit) Siapa bilang?

KGM: Presiden Prabowo sendiri. Beliau mengatakan Indonesia "tidak pernah berjanji" membayar satu miliar dolar itu.

Trump: (tertawa, tapi matanya tidak): Prabowo cerdas. Sangat cerdas. (diam) Dia tahu apa yang dia lakukan. Dia datang ke sini. Dia tanda tangan. Dia berfoto. Dia pulang. Lalu dia bilang apa yang harus dia bilang kepada rakyatnya. (mengangkat tangan) Itu politik. Aku menghormati itu. Aku juga melakukan hal yang sama.

KGM: Beberapa analis menyebut Indonesia sebagai "Macan Asia". Jangkar stabilitas Indo-Pasifik. Anda setuju?

Trump: (mengangguk perlahan) Macan. (mengulang kata itu) Aku suka itu. (tersenyum) Kau tahu? Dulu orang tidak bicara tentang Indonesia. Tidak di meja-meja besar. Mereka bicara tentang China. Jepang. Korea. Mungkin India. Indonesia? (mengangkat bahu) "Di mana itu?" (berhenti) Lalu sekarang? Sekarang semua orang bicara tentang Indonesia. (menunjuk dirinya) Kau tau? Itu karena aku.

KGM: Jadi Anda mengambil keuntungan?

Trump: (tanpa ragu) Selalu. (tersenyum lebar) Tapi dengarkan. Tanpa Indonesia, kebijakan Amerika di Asia Tenggara pincang. Itu bukan pendapatku. Itu fakta. ASEAN? Enam ratus juta orang. Indonesia adalah seperempatnya. Posisinya di jalur pelayaran Malaka? (mengetuk meja) Vital. Siapa yang menguasai Malaka. Menguasai perdagangan. Kau tahu itu. Aku tahu itu. Dan sekarang. Sekarang Indonesia ada di tim kita.

KGM: Tim Anda?

Trump: (berhenti, memikirkan kata-katanya) Bukan tim. (menggeleng) Tapi Mitra. (diam) Tapi mitra yang membayar. Itu yang penting.

KGM: Satu pertanyaan Tuan Presiden. Jika Anda harus memberikan satu pesan kepada rakyat Indonesia yang 280 juta orang itu, apa yang akan Anda katakan?

(Trump menatap lama. Di luar, suara pengunjuk rasa mulai terdengar — samar, seperti ombak yang jauh.)

Trump: Aku akan bilang ini. (condong ke depan, suara lebih pelan) Kalian punya negara yang besar. Kalian punya sumber daya yang luar biasa. Kalian punya pemimpin yang...(berhenti)...yang aku hormati. (diam) Tapi kalian juga punya pilihan. Kalian bisa memilih untuk bersandar ke Amerika. Atau kalian bisa memilih yang lain. (mengangkat tangan) Aku tidak akan memaksa. Aku tidak pernah memaksa. (tersenyum tipis) Tapi aku akan bilang. Amerika adalah mitra terbaik yang bisa kalian punya. Dan aku...(menunjuk dirinya)...aku akan memastikan kalian tidak menyesal memilih kami.

KGM: Baik. Sekarang mari kita bicara tentang mineral. Perjanjian ART yang Anda tandatangani dengan Prabowo memberi perusahaan Amerika akses luas ke Nikel. Kobalt. Tembaga. Litium. Dan logam tanah jarang Indonesia. Kritikus kami menyebut ini sebagai "kolonialisme ekstraktif". Apa tanggapan Anda?

Trump: (menyandarkan punggung, tersenyum tipis): "Kolonialisme ekstraktif." (mengulang kata itu dengan nada mengejek) Kau tahu apa arti sebenarnya? Artinya mereka marah karena Amerika akhirnya masuk ke permainan yang sudah lama dikuasai orang lain. (mencondongkan tubuh) China sudah ada di sana selama lima belas tahun. Smelter di Sulawesi? Dibangun dengan uang Beijing. Dan tidak ada yang bilang "kolonialisme." Tapi begitu Amerika masuk, tiba-tiba semua orang jadi aktivis lingkungan. Bersama sejumlah tuduhan. (tertawa kering) Menarik, bukan?

KGM: Tapi mereka punya alasan. Klausul perjanjian menghapus kewajiban divestasi 51 persen. Perusahaan AS bisa memiliki 100 persen saham tambang di Indonesia. Itu melanggar Pasal 33 UUD 1945.

Trump: (mengangkat tangan) Pasal 33. (menggeleng) Dengar! Aku menghormati konstitusi kalian. Tapi konstitusi bukanlah tembok. Itu...itu pedoman. (berhenti) Dan pedoman bisa berubah. Kalau kalian mau investasi. Investasi nyata. Bukan janji kosong. Kau harus memberi insentif. Kau harus membuat orang mau datang. Dan aku bilang ke mereka: "Kalau kau mau uang kami, kau harus berhenti bermain-main dengan aturan divestasi yang tidak masuk akal itu." (mengangkat bahu) Mereka setuju. Itu namanya negosiasi.

KGM: Banyak yang melihat ini sebagai penyerahan kedaulatan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menyebutnya "perampasan ruang hidup rakyat".

Trump: (matanya menyipit): Wahana...apa? (mengibaskan tangan) Dengar! Aku sudah dengar semua ini sebelumnya. "Kedaulatan." "Rakyat." "Lingkungan." (berhenti) Kau tahu siapa yang benar-benar diuntungkan dari perjanjian ini? Rakyat Indonesia. Kau tahu berapa banyak lapangan kerja yang akan tercipta? Berapa banyak smelter yang akan dibangun? (mengetuk meja) Freeport sudah membangun smelter tembaga senilai hampir 4 miliar dolar di Gresik. Itu nyata. Itu pekerjaan.

KGM: Tapi Freeport juga mendapat perpanjangan izin hingga "life of mine". Seumur tambang. Jaringan Advokasi Tambang menyebut ini "kolonialisme permanen".

Trump: (tertawa) "Permanen." (menggeleng) Kau tahu apa yang permanen? Kemiskinan. Itu yang permanen kalau kalian tidak membuka pintu. (condong ke depan) Dengarkan aku baik-baik. Papua punya emas. Punya tembaga. Selama lima puluh tahun, Freeport mengambilnya. Dan apa yang terjadi? (berhenti) Jalan? Sekolah? Rumah sakit? (menggeleng) Tidak. Tapi sekarang. Sekarang aku bilang ke mereka: "Kalian bisa tetap di sana. Tapi kalian harus membangun." Dan mereka setuju. (menunjuk) Itu bukan kolonialisme. Itu tanggung jawab.

KGM: Tapi Indonesia juga harus membiayai infrastruktur ekspor batu bara AS ke Asia Tenggara. Itu bagian dari perjanjian.

Trump: (mengangkat alis) Kau tahu apa itu? Itu timbal balik. (tersenyum tipis) Kalian dapat akses pasar. Kami dapat akses mineral. Dan kalian juga dapat...batu bara kami. (berhenti) Kau tahu berapa banyak listrik yang bisa dihasilkan? Berapa banyak pabrik yang bisa berjalan? (menunjuk) Itu bukan eksploitasi. Itu pembangunan.

(Ruangan sunyi sesaat. Trump meraih gelas Diet Coke-nya, meneguk, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi yang tajam.)

Trump: Kau tahu apa masalahnya dengan kalian, para jurnalis? (menatap langsung) Kalian selalu melihat hanya satu sisi. Kalian tidak pernah melihat gambaran besarnya. (berhenti) Indonesia punya nikel terbesar di dunia. Punya kobalt. Punya bauksit. Dan selama ini, selama puluhan tahun, mineral itu mengalir ke China. Ke pabrik-pabrik mereka. Ke baterai-baterai mereka. Ke mobil-mobil listrik mereka. (mengetuk meja) Itu bukan kedaulatan. Itu penjajahan yang kalian tidak sadari.

KGM: Dan Amerika menawarkan alternatif?

Trump: (mengangguk) Kami menawarkan kemitraan. Bukan dominasi. (diam) Kami akan membangun smelter. Kami akan transfer teknologi. Kami akan membeli. Bukan mencuri. (berhenti) Dan kalau itu berarti aku harus menghapus beberapa aturan yang... (mencari kata) ...tidak efisien? (mengangkat bahu) Aku melakukannya. Itu namanya mempercepat. Bukan menjajah.

(Ia berdiri. Berjalan ke jendela. Di luar, langit Washington mulai gelap.)

Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang tidak akan kuceritakan pada mereka? (diam) Aku butuh mineral itu. Jet tempur. Ponsel. Mobil listrik. Semua butuh nikel. Butuh tanah jarang. Dan aku tidak akan membiarkan China menguasainya. (menoleh, matanya tajam) Jadi kalau kau bertanya apakah ini tentang kedaulatan Indonesia. Jawabannya ya. Kedaulatan untuk memilih siapa yang mereka ingin bersandar. Dan mereka memilih kami. (tersenyum) Itu demokrasi, kan?

(Pintu Ruang Oval terbuka. Seorang ajudan muncul, membawa dokumen. Trump melambaikan tangan, tanda wawancara selesai. Tapi sebelum pintu tertutup, ia sempat berucap.)

Trump: Oh, dan satu hal lagi. Kalau kalian benar-benar peduli dengan lingkungan. Kalian harus mulai bertanya kenapa China tidak pernah dikritik. (tertawa kecil) Tulis itu..!

(Pintu menutup. Langit Washington tetap kelabu. Di suatu tempat, ribuan kilometer jauhnya, sebuah smelter di Sulawesi menyala sepanjang malam. Dan tidak ada yang tahu apakah itu api pembangunan atau cahaya kolonial yang baru.)

(Ia mengulurkan tangan. Jabatannya kuat, singkat, seperti seseorang yang telah berjabat tangan ribuan kali dan masih belum lelah.)

Trump: Sekarang pergilah. Aku ada telepon dengan...(melihat teleponnya) ...Ah, tidak penting. (melambaikan tangan) Tulis yang bagus. Dan pastikan kau tulis. Indonesia adalah teman Amerika. Sekarang lebih dari sebelumnya.

(Pintu ditutup.)

(Di luar, langit Washington tetap kelabu. Tetapi di suatu tempat. Dua belas ribu kilometer jauhnya. Di atas kepulauan yang tersebar seperti permata di antara dua samudra. Sebuah negara dengan 280 juta jiwa sedang menghitung. Menghitung apa yang telah mereka berikan. Menghitung apa yang akan mereka terima. Dan bertanya-tanya, dalam bahasa yang tidak diterjemahkan oleh siapa pun. Apakah ini kemitraan? Atau apakah ini harga yang harus dibayar untuk berdiri di bawah sayap elang?)

Trump: (dari balik pintu, suaranya masih terdengar) Hey..! Jangan lupa. Aku menaikkan tarif negaramu dari 32 jadi 19. Itu diskon. Diskon terbesar di Asia. Tulis itu..!

== SELESAI ==

Kapolri Baru, Luka Lama: "Narasi Filosofis tentang Kekuasaan, Kepercayaan, dan Bayang-Bayang Narkoba"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-55) Pengantar : Pada 1 Oktober 2026, DPR RI menyetujui Komjen Pol Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri baru mengg...