Minggu, 19 Juli 2026

Sajak Sebilah Pisau Bengkok


Hukum di negeri ini, kawan,
bagai pisau dapur ibumu
yang hanya tajam untuk memotong sayur
tetapi tidak pernah untuk memotong kursi.

Ah, kursi!
Kursi itu bertengger di singgasana.
Kursi itu tempat  duduk yang berjas rapi berdasi sutra.
Kursi  itu yang kerap bersaksi tentang ketertiban dan keadilan
tempat berongkang kaki kaum pendusta
seraya menginjak leher buruh pabrik
yang mogok meminta segenggam beras.

Hukum itu tajam ke bawah, kawan!
Benar-benar tajam!
Tajam seperti pandangan mata setan,
tajam seperti silet yang mengiris kelopak mata
untuk membangunkan gadis kecil yang ketakutan
di tengah malam buta.

Hukum tajam untuk si penjual kacang
yang kakinya terpincang berjalan sepanjang hari.
Hukum tajam untuk si pengemudi angkot
yang keringatnya membasahi setir.
Hukum tajam untuk si pemulung
yang mencari plastik bekas di bawah jembatan.
Hukum tajam untuk perempuan tua
yang mencuri tiga butir labu
karena perutnya sudah berteriak meminta ampun.

Tapi lihat lah ke atas, kawan!
Lihat lah ke atas!
Di sana, di lantai marmer yang dingin,
hukum berubah menjadi kapas.
Kapas lembut yang menyumbat telinga para hakim,
kapas halus yang membalut luka para koruptor,
kapas tebal yang menutup mulut para saksi
yang seharusnya berteriak pada fakta yang benar.

Tuan-tuan yang duduk di kursi rotan!
Kalian tahu siapa saya!

Saya adalah Ki Gempur Mudharat yang melihat
dengan mata kepala sendiri.
Saya melihat perampok bertopi dinas
membawa kabur uang rakyat
dan hukum hanya tersenyum manis
sambil menyilangkan dan bergoyang kaki di ruang sidang.

Saya melihat jenderal pensiunan
bermain catur dengan keadilan
dan keadilan kalah di langkah ketiga
karena wasitnya adalah teman makan siangnya.

Saya melihat pengusaha tambang
yang meracuni sungai anak-anak desa
lalu diberi medali oleh negara
karena dianggap berjasa menambah devisa.

Oh, di mana kau, Keadilan?
Kau adalah perempuan tua buta
yang pedangnya telah digadaikan
dan timbangannya dimakan rayap.

Kau berdiri di tengah pasar
tapi kau hanya patung bisu
sementara para saudagar besar
saling bertukar koin suap
di bawah mejamu yang kusam.

Tajam ke bawah, tumpul ke atas!
Begitulah lagu lama yang terus dinyanyikan
oleh para penguasa dari masa ke masa.

Mereka menggergaji tulang si miskin
dengan gergaji yang bernama Pasal,
tetapi untuk daging mereka sendiri,
mereka memiliki selimut yang bernama Penangguhan.

Maka berlarilah, kawan!

Larilah ke bawah?
Tidak! Ke bawah jurang sudah menunggu.

Larilah ke atas?
Langit pun telah dijual kepada investor asing.

Larilah ke dalam?
Hati kita sudah terlalu penuh dengan amarah.

Biarlah!
Biarlah hukum tetap tumpul di atas!
Karena palu hakim yang tumpul itu
pada suatu hari akan memukul kepalanya sendiri
ketika rakyat yang tertindas bangkit
menjadi penggiling pedang.

Ya, kita akan menggilingnya!
Menggiling pisau bengkok itu
di atas batu gerinda yang terbuat dari
tulang-tulang pahlawan yang gugur.
Hingga tajam kembali!

Tapi kali ini, tajam ke mana saja!
Tajam ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan,
dan terutama, kawan, terutama...
tajam ke tengah-tengah kerakusan mereka!

Biarkan darah mereka berwarna hitam
mengaliri selokan sejarah.
Karena di negeri ini,
kita sudah terlalu lama
menjadi korban dari senjata yang diasah
hanya untuk melukai orang kecil.

Hentikan!
Atau biarkan waktu yang menghentikannya.

Tapi ingat, kawan,
pedang yang tumpul di atas
adalah pedang yang paling berbahaya
karena ia tidak terasa menusuk
sampai kematian menyapa dari ujungnya.

Ki Gempur menulis ini dengan bertinta darah,
di atas screen yang terbuat dari mimpi.
Bukan untuk didengar oleh mereka,
tapi untuk diingat oleh kita.

Bahwa pada suatu masa,
hukum adalah seekor anjing piaraan
yang menggigit kaki pengemis,
tetapi menjilati tangan pencuri.

Hukum adalah cermin, kawan,
selamanya akan menjadi cermin
dari wajah busuk penguasanya.

Sampai kita berani memecah kaca itu
dan membuat pedang baru
dari serpihan-serpihan keberanian.

Itulah dia! Itulah dia!
Teriakkan!
Meskipun tenggorokan kita kering,
meskipun kita akan ditangkap dan dibungkam,
teriakkan: Hukum untuk rakyat!

Atau biarkan langit yang diam
menjadi saksi bisu
bagaimana kita memilih mati berdiri
daripada hidup berlutut
di bawah pedang yang hanya tahu
membungkuk ke bawah.

Karena pada akhirnya, kawan,
yang tajam ke bawah akan tumpul oleh air mata,
dan yang tumpul ke atas akan tajam oleh amarah.

Sejarah tidak pernah buta.
Ia hanya menunggu saat yang tepat
untuk memenggal leher para pendusta.

(ekspresionis sajak kigempur/medio-juli/2026)

Sabtu, 18 Juli 2026

Ketika Dosa di Dunia Sudah Diampuni, Apakah di Akhirat masih akan Dihisab?


Pertanyaan ini sangat penting dan berkaitan erat dengan pemahaman kita tentang rahmat dan keadilan Allah. Pada dasarnya, taubat nasuha yang diterima Allah akan menghapus dosa dari catatan amal yang akan dihisab. Namun, ada catatan penting terkait dosa yang melibatkan hak orang lain.

Landasan dari Al-Qur'an dan Sunnah

1. Janji Penggantian Dosa dengan Kebaikan

Ini adalah kabar gembira paling besar bagi orang yang bertobat. Allah berfirman:
"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Furqan: 70)

Ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa dosa-dosa masa lalu diganti dengan kebaikan. Ini bukan sekadar dihapus, tetapi ditransformasikan menjadi catatan pahala.

2. Hadis tentang Penghapus Dosa

Rasulullah ﷺ juga memberikan tuntunan praktis, salah satunya adalah memperbanyak amal saleh:

"Dan iringilah perbuatan kejahatan dengan perbuatan kebaikan, niscaya ia (yang baik) akan menghapuskannya." (HR. Tirmidzi)

Kesimpulan: Dua Skenario di Akhirat

Dari dalil-dalil di atas, para ulama menyimpulkan adanya dua pandangan utama, namun pada intinya sama-sama menekankan rahmat Allah bagi orang yang bertobat:

1. Dihapus dari Catatan dan Tidak Dihisab: Pendapat ini berlandaskan pada surat Al-Furqan ayat 70. Dosa yang telah diampuni dengan taubat nasuha akan dihapuskan sepenuhnya dari catatan amal dan tidak akan diperlihatkan saat hisab. Dalam bahasa yang populer, "sudah dianggap tidak pernah terjadi". Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Orang yang bertaubat dari dosa, bagaikan orang yang tidak berdosa" (HR. Ibnu Majah).

2. Tetap Tercatat, tetapi Tidak Dibebani Siksa: Sebagian ulama berpendapat bahwa catatan dosa tetap ada sebagai bukti keadilan dan agar manusia menyadari kesalahannya, tetapi dosa tersebut tidak akan ditimbang dan tidak akan mendatangkan siksa karena sudah diampuni .

Peringatan Penting: Dosa yang Berkaitan dengan Hak Manusia

Ada satu pengecualian penting: dosa yang berkaitan dengan hak manusia (dzalim kepada orang lain, mencuri, menggunjing, dll). Dosa ini tidak akan diampuni hanya dengan taubat kepada Allah saja. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa urusan orang yang dizalimi akan diselesaikan dengan keadilan di akhirat .

Syarat taubat untuk dosa ini adalah:

1. Berhenti dari perbuatan dzalim.
2. Menyesali perbuatan tersebut.
3. Bertekad tidak mengulanginya.
4. Mengembalikan hak kepada yang dizalimi atau meminta maaf. 
Jika tidak dilakukan, maka di akhirat kelak, kebaikan pelaku akan diambil untuk diberikan kepada korban, atau dosa korban akan dilimpahkan kepadanya .

Kesimpulannya, untuk dosa yang menjadi hak Allah, taubat nasuha adalah penghapus yang sempurna. Namun, untuk dosa yang melibatkan orang lain, keadilan Allah menuntut penyelesaian hak antar manusia terlebih dahulu.

Semoga penjelasan ini mencerahkan dan menggugah kita untuk selalu bersegera bertobat.
(Muhasabah/kgm/juli/2026)

Kamis, 16 Juli 2026

Berbaik Sangka kepada Allah SWT: Husnudzan sebagai Pilar Iman


Dalam perjalanan hidup sebagai hamba, salah satu akhlak mulia yang sering terlewatkan adalah berbakti dengan prasangka baik (husnudzan) kepada Allah SWT. Ini bukan sekadar optimisme duniawi, melainkan puncak ketundukan hati yang mengakui bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur segala urusan.

Hakikat Berbaik Sangka kepada Allah

Husnudzan kepada Allah berarti meyakini sepenuh hati bahwa apapun ketetapan-Nya adalah yang terbaik, meskipun akal kita belum mampu menjangkaunya. Ibn Atha'illah dalam Kitab Hikam mengingatkan, siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, lihatlah seberapa tinggi kedudukan Allah dalam hatinya.

Allah SWT berfirman:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah: 216)

Ayat ini menjadi landasan bahwa keterbatasan ilmu manusia mengharuskan kita berserah dan berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan .

Dalil-Dalil Agung tentang Husnudzan

Keutamaan berbaik sangka ini ditegaskan dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya:

"Sesungguhnya Allah berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka kebaikan baginya. Dan jika ia berprasangka buruk, maka keburukan baginya."

Rasulullah SAW juga bersabda:

"Sungguh berprasangka baik kepada Allah termasuk ibadah yang baik kepada-Nya." (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim)

Wujud Baik Sangka dalam Kehidupan

1. Saat Doa Belum Terkabul

Ketika doa yang dipanjatkan belum tampak dikabulkan, seorang hamba tidak boleh berputus asa. Para ulama menjelaskan bahwa pengabulan doa bergantung sepenuhnya pada kehendak Allah . Mungkin Allah menunda karena ingin memberi yang lebih baik, atau menolaknya karena itu lebih maslahat bagi kita .

2. Saat Ditimpa Musibah

Musibah yang menimpa bukanlah tanda kemurkaan, melainkan bentuk kasih sayang Allah untuk mengangkat derajat atau menghapus dosa. Saat terpuruk, justru kesempatan terbaik untuk membuktikan keimanan dengan tetap berprasangka baik .
3. Saat Mendapat Nikmat

Ketika Allah melimpahkan kebaikan, jangan lupa bersyukur dan menyadari bahwa semua itu adalah karunia-Nya . Husnudzan dalam nikmat adalah meyakini bahwa ini amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Bekal Menuju Husnudzan

Untuk membiasakan hati berbaik sangka kepada Allah, perbanyaklah zikir dan mengingat-Nya dalam setiap kesempatan . Rasulullah mengajarkan agar kita mengakhiri hidup dalam keadaan husnudzan: "Jangan sampai kalian mati kecuali dalam keadaan husnuzzhan kepada Allah SWT." (HR Muslim)

Semoga Allah menganugerahkan hati yang senantiasa dipenuhi prasangka baik kepada-Nya. Karena sesungguhnya, siapa yang berbaik sangka kepada Allah, maka Allah pun akan memperlakukannya dengan kebaikan.
(Ekspresionis spiritual/kgm/medio-juli-26)

Selasa, 14 Juli 2026

Menjadi Pribadi Bermental Tangguh: Kekuatan yang Dapat Dilatih


(
Secangkir Anggur Merah Edisi-21)

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, kehilangan, atau tekanan hidup. Namun, yang membedakan satu individu dengan individu lainnya bukanlah jumlah masalah yang dihadapi, melainkan cara mereka meresponsnya. 

Psikologi modern menyebut kemampuan ini sebagai mental toughness atau ketangguhan mental—kemampuan untuk tetap stabil secara emosional, fleksibel secara mental, dan kuat secara psikologis di tengah tekanan hidup. 

Pertanyaannya, bagaimana kita dapat menjadi pribadi yang bermental tangguh?

Memahami Hakikat Mental Tangguh

Mental tangguh bukanlah sifat bawaan sejak lahir, melainkan keterampilan psikologis yang dapat dilatih dan dikembangkan seiring waktu. Psikolog klinis Los Angeles, Cortney Warren, menyatakan bahwa komponen kunci dari ketangguhan adalah fleksibilitas emosional—kemampuan untuk mengatur perasaan dan mengurangi intensitasnya dalam situasi tertentu. 

Orang tangguh tidak bertindak seolah-olah masalah tidak ada; sebaliknya, mereka memiliki rasa welas asih dengan memandang emosi seperti stres atau kekecewaan sebagai kesempatan belajar.

Pendapat Para Psikolog tentang Ketangguhan Mental

Profesor dan pakar kepemimpinan asal Amerika, Brene Brown, menegaskan bahwa inti dari ketangguhan mental sebenarnya adalah belas kasihan pada diri sendiri (self-compassion). Orang tangguh mampu bertahan karena tidak mudah terjerumus dalam rasa malu, mengkritik diri sendiri, atau membenci diri sendiri. 

Sementara itu, Martin Seligman—bapak psikologi positif—menekankan bahwa orang yang resilien adalah mereka yang optimis. Sepanjang kariernya selama 60 tahun meneliti ketahanan, Seligman menemukan bahwa individu yang "tidak terluka" oleh tekanan hidup adalah mereka yang mampu mempertahankan sikap optimistis.

Neuropsikolog Judy Ho menambahkan bahwa orang tangguh sering meyakinkan diri sendiri dengan ucapan "aku bisa menangani apa yang mengadangku". Mereka dapat melepaskan keterikatan pada hasil tertentu, menyesuaikan strategi, dan menemukan solusi alternatif menuju tujuan mereka.

Cara Membangun Mental Tangguh

Langkah awal membangun ketahanan psikologis adalah mengenali pikiran dan perasaan diri sendiri. Mengakui bahwa sedang merasa tertekan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran diri. Kelola emosi dengan menenangkan diri, menarik napas dalam, menulis perasaan, atau melakukan aktivitas yang memberi rasa nyaman.

Karakter kepribadian tangguh dibangun oleh tiga aspek penting: komitmen, kontrol, dan tantangan. Individu tangguh memandang setiap perubahan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Mereka juga menetapkan batas-batas yang sehat—kemampuan mengatakan "tidak" dengan santun namun tegas adalah manifestasi dari rasa hormat terhadap diri sendiri.

Bukan tujuan instan

Menjadi pribadi bermental tangguh adalah perjalanan, bukan tujuan instan. Seperti diungkapkan Cortney Warren, orang terkuat di dunia pun terkadang harus mengambil langkah mundur untuk merenung. Dengan melatih kesadaran diri, mengembangkan optimisme, dan memperlakukan diri sendiri dengan kasih sayang, setiap orang dapat membangun ketangguhan mental. 

Pada akhirnya, mental tangguh bukanlah tentang tidak pernah jatuh, melainkan tentang kemampuan untuk bangkit kembali—setiap kali kita terjatuh.
(Secangkir Anggur Merah-edisi-21)

Sajak Sebilah Pisau Bengkok

Hukum di negeri ini, kawan, bagai pisau dapur ibumu yang hanya tajam untuk memotong sayur tetapi tidak pernah untuk memotong kursi. Ah, kurs...