Minggu, 11 Oktober 2026

Wawancara Imajiner-3, dengan Presiden Donald J. Trump: "Tentang Korupsi Indonesia"


Lokasi: Ruang Oval, Gedung Putih. Washington, D.C. Waktu: 06 Oktober 2026, pagi. Hujan turun di luar.Membasahi jendela-jendela tinggi itu seperti air mata yang tidak diminta. Trump sudah duduk sebelum seorang Jurnalis Indonesia, KGM (Ki Gempur Mudharat) masuk. Kali ini tidak ada TV menyala. Tidak ada dokumen tebal di meja. Hanya ada selembar kliping koran Indonesia. Terjemahan bahasa Inggris. Dengan judul besar yang dicetak tebal.

"Daftar Kasus Korupsi Terbesar di Indonesia (Berdasarkan Nilai Kerugian Negara)."


Trump: (menunjuk kliping saat aku duduk) Baca ini..!

KGM: Saya sudah membacanya, Mr. Presiden.

Trump: Baca lagi. (mendorong kliping itu ke arahku) Aku ingin kau tahu apa yang aku tahu.

(Aku membaca. Angka-angka itu. Ada triliunan rupiah, Ratusan nama. Puluhan tahun. Foto koruptor. Sebuah sistem yang tidak dibangun dalam semalam. Tetapi bertahan selama puluhan tahun.)

Trump: (bersandar) Kau tahu apa yang paling menggangguku? (berhenti) Bukan angkanya. Angka itu...(mengibaskan tangan)...angka itu tidak begitu berarti apa-apa bagiku. Yang menggangguku lihat wajah-wajahnya. (mengetuk kliping) Lihat, mereka semua tersenyum. Di foto-foto itu. Semua tersenyum dan ada yang melambaikan tangan ke wartawan. (menggeleng) Aku tahu senyuman dan lambaian tangan itu. Aku pernah melihatnya di New York. Di Atlantic City. Orang-orang yang mengambil uang orang lain. Lalu berfoto seolah-olah mereka pahlawan.

KGM: Anda menyebut korupsi sebagai masalah. Tapi banyak yang mengatakan perjanjian ART justru membuka celah baru untuk korupsi. Karena perusahaan AS bisa masuk tanpa divestasi. Tanpa transparansi penuh.

(Catatan: Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat pada 19 Februari 2026 menandai babak baru hubungan ekonomi bilateral kedua negara. Perjanjian ini menekankan kedaulatan ekonomi, kemakmuran, serta ketangguhan rantai pasok.red.)

Trump: (mata menyipit) Transparansi. (mengulang kata itu) Kau tahu siapa yang bicara tentang "transparansi"? Orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. Atau orang yang ingin kau percaya bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. (berhenti) Dengar. Aku tidak datang ke Indonesia untuk memberantas korupsi kalian. Itu bukan tugasku. Itu tugas kalian. (mengetuk meja) Tapi aku tidak akan menambah masalah itu. Perjanjian kami punya klausul anti-suap. Punya klausul audit. Punya klausul pemutusan kalau ada pelanggaran.

KGM: Tapi klausul itu hanya berlaku untuk perusahaan Amerika. Bukan untuk pejabat Indonesia yang menerima suap.

Trump: (tertawa, tanpa humor) Oh, jadi sekarang aku yang harus mengawasi pejabat kalian? (menggeleng) Aku sudah mengawasi negaraku sendiri. Kau tahu berapa banyak orang yang kupecat karena korupsi? (tidak menunggu jawaban) Banyak. Dan kau tahu apa yang terjadi? (berhenti) Mereka menulis buku. Mereka muncul di CNN. Mereka bilang aku "otoriter". (mengangkat tangan) Jadi maafkan aku kalau aku tidak terlalu bersemangat membersihkan rumah orang lain. Ketika rumahku sendiri masih penuh tikus.

KGM: Tapi Anda sendiri pernah mengatakan Indonesia adalah mitra strategis. Bukankah mitra seharusnya saling membantu?

Trump: (diam lama..untuk pertama kalinya dan terlihat benar-benar berpikir): Kau tahu apa arti "mitra" bagiku? (menatapku) Mitra berarti kau tidak menipuku. Kalau kau menipuku, kau bukan mitra. Kau musuh. (berhenti) Dan aku sudah melihat cukup banyak negara yang bilang "mitra" sambil menggelapkan uang bantuan. (menggeleng) Indonesia? Memang Aku belum melihat itu. Tapi aku juga belum mempercayai sepenuhnya.

KGM: Jadi Anda tidak percaya pada Indonesia?

Trump: Aku percaya pada Prabowo. (menunjuk) Dia datang ke sini. Dia menatap mataku. Dia bilang apa yang dia mau. Dan dia bilang apa yang dia tidak mau. (berhenti) Itu jarang. Sangat jarang. (diam) Tapi Prabowo bukan Indonesia. Prabowo adalah satu orang. Dan satu orang...(mengangkat bahu)...satu orang tidak bisa mengubah sistem yang sudah berkarat selama puluhan tahun.

(Hujan di luar semakin deras. Trump berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap kota Washington yang basah.)

Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang paling kusesalkan? (diam) Bukan perjanjian. Bukan tarif. (menoleh, matanya tajam) Aku menyesal tidak memasukkan klausul yang lebih keras. Klausul yang bilang: "Kalau kalian korupsi, kalian bayar." (berhenti) Tapi aku tidak bisa. Karena kalau aku lakukan itu, mereka tidak akan tanda tangan. (tertawa pahit) Itulah politik. Itulah dunia.

KGM: Jadi Anda tahu ada korupsi, Dan Anda tetap tanda tangan?

Trump: (kembali ke kursinya, duduk, menatapku langsung) Aku tanda tangan karena alternatifnya lebih buruk. (berhenti) Kalau aku tidak tanda tangan, China yang akan tanda tangan. Dan China tidak peduli soal korupsi. China menggunakan korupsi. (mengetuk meja) Aku memilih kalah kecil daripada kalah besar. Itu namanya strategi.

KGM: Beberapa pihak menyebut itu "membiarkan".

Trump: (mengangkat alis) Membiarkan? (tertawa) Aku tidak membiarkan apa pun. Aku memilih. Itu berbeda. (mencondongkan tubuh) Dan kau tahu apa bedanya? Orang yang "membiarkan" tidak peduli. Tapi Aku peduli. Aku peduli karena kalau Indonesia runtuh karena korupsi, Amerika rugi. (menunjuk dirinya) Dan aku tidak suka rugi.

KGM: Satu pertanyaan terakhir. Jika Anda bisa berbicara langsung kepada rakyat Indonesia yang 280 juta orang yang setiap hari membayar harga dari korupsi. Apa yang akan Anda katakan?

(Trump menatap lama. Hujan berhenti di luar. Sinar matahari pertama menembus jendela, jatuh di meja, tepat di kliping itu.)

Trump: Aku akan bilang ini. (suaranya lebih pelan) Korupsi bukan masalah Amerika. Bukan masalah Trump. (berhenti) Itu masalah kalian. Dan hanya kalian yang bisa menghentikannya. (diam) Aku bisa menandatangani perjanjian. Aku bisa mengirim investasi. Aku bisa menekan Prabowo untuk membersihkan rumahnya. (menggeleng) Tapi aku tidak bisa memaksa kalian untuk memilih pemimpin yang jujur. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk berhenti menerima amplop. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk marah. (menatapku) Itu... itu pekerjaan kalian.

Trump: Kau tanya soal korupsi. Sudah Aku jawab. Tapi kau tidak tanya apa yang harus dilakukan Prabowo. (menaikkan alis) Itu pertanyaan yang seharusnya kau ajukan sejak awal.

KGM: Baik. Jadi apa yang harus dilakukan Prabowo?

Trump: (bersandar, menyilangkan tangan): Pertama, berhenti berpura-pura. (mengetuk meja) Aku sudah melihat banyak pemimpin. Yang berhasil adalah yang bilang, "Ya, negara saya korup. Saya akan hadapi." Yang gagal adalah yang bilang, "Tidak, itu fitnah." (menggeleng) Prabowo bukan orang bodoh. Dia tahu. Tapi tahu saja tidak cukup. Dia harus mengatakannya. Di depan rakyatnya. Di depan dunia. (berhenti) Pemimpin yang tidak mengakui masalahnya. Tidak akan pernah menyelesaikannya.

KGM: Dan yang kedua?

Trump: Kedua, jangan lindungi kawan. (matanya tajam) Kau tahu kenapa korupsi bertahan di mana pun? Bukan karena orang jahat. Karena orang baik melindungi orang jahat. (mengetuk meja) "Dia teman saya." "Dia membantu saya waktu kampanye." "Dia dari partai saya." (menggeleng) Itu... itu kanker. Prabowo harus siap kehilangan koalisi. Kehilangan kursi. Kehilangan suara. Kalau dia tidak siap. Ia bukan pemimpin. Dia pedagang.

KGM: Itu berat secara politik.

Trump: (tertawa kering) Politik? (mencondongkan tubuh) Aku pernah kehilangan segalanya. Tiga kali bangkrut. Kau tahu apa yang kupelajari? Kalau kau takut kehilangan. Kau akan kehilangan segalanya. Prabowo harus berani. Bukan berani mati. Berani kehilangan.

KGM: Ketiga?

Trump: Ketiga, beri KPK gigi. (menunjuk) Bukan taring. Bukan cakar. Gigi. (berhenti) Kau tahu apa yang terjadi pada lembaga anti-korupsi yang lemah? Mereka jadi monumen. Bagus untuk foto. Tidak berguna untuk penjara. (menggeleng) Prabowo harus memastikan KPK punya anggaran. Punya perlindungan. Punya kebebasan. Kalau tidak. Dia sama saja dengan pendahulunya.

KGM: Sekarang KPK. Apa yang harus dilakukan lembaga anti-rasuah itu?

(Trump diam lama. Untuk pertama kalinya sejak wawancara ini dimulai, ia terlihat tidak nyaman.)

Trump: KPK. (mengulang kata itu dengan pelan) Kau tahu apa yang kupikirkan tentang KPK?

KGM: Apa?

Trump: Mereka berani. (mengangguk) Aku sudah baca. Mereka menangkap menteri. Menangkap gubernur. Menangkap hakim. (berhenti) Di negara mana pun, itu...itu bunuh diri politik. Dan mereka melakukannya. (diam) Aku menghormati itu. Aku tidak suka mereka. Karena mereka pernah menyelidiki hal-hal yang...(mengibaskan tangan)...tidak penting. Tapi aku menghormati mereka.

KGM: Jadi apa yang harus mereka lakukan?

Trump: Pertama. Berhenti mengejar tikus kecil. (mengetuk meja) Aku dengar KPK menangkap pejabat desa. Pejabat kecamatan. (menggeleng) Itu bukan korupsi. Itu kelaparan. (berhenti) Kejar yang besar. Yang menandatangani kontrak triliunan. Yang punya rekening di Singapura. Yang anaknya kuliah di London. (menunjuk) Itu...Itu target yang sebenarnya.

KGM: Kedua?

Trump: Kedua, jangan main politik. (matanya tajam) KPK harus netral. Bukan alat pemerintah. Bukan alat oposisi. (berhenti) Kalau KPK menangkap orang karena dia oposisi — itu bukan penegakan hukum. Itu balas dendam. Dan rakyat tahu. (menggeleng) Rakyat selalu tahu.

KGM: Ketiga?

Trump: Ketiga, bekerja dengan kami. (mencondongkan tubuh) Amerika punya FBI. Punya CIA. Punya Treasury. Kami punya data. Kami punya jejak uang. (mengetuk meja) Kalau KPK mau, kami bisa membantu. Tapi KPK harus meminta. Jangan sombong. Jangan merasa bisa sendiri. (berhenti) Korupsi itu lintas negara. Uangnya lari ke Singapura, ke Swiss, ke Amerika. Kalau KPK tidak bekerja dengan kami. Mereka hanya menangkap bayangan.

KGM: Tapi ada kritik bahwa Amerika sendiri tidak serius memberantas korupsi. Bahwa Anda justru menerima uang dari oligarki.

Trump: (mata menyipit) Oligarki. (mengulang kata itu) Kau tahu siapa oligarki? Orang yang punya uang. Dan orang yang punya uang... (mengangkat tangan) ...biasanya pintar. (tersenyum tipis) Aku tidak menerima uang dari oligarki. Aku menerima investasi. Itu berbeda. (berhenti) Dan kau tahu apa bedanya dengan korupsi Indonesia? Di sini, itu legal. (mengetuk meja) Kalau kalian mau uang kami. Kalian harus membuatnya legal. Bukan dengan amplop. Tapi dengan kontrak.

KGM: Itu terdengar seperti pembenaran.

Trump: (tertawa) Pembenaran? (menggeleng) Kau tahu apa itu pembenaran? Pembenaran adalah ketika kau bilang, "Semua orang melakukannya." (menunjuk dirinya) Aku tidak bilang begitu. Aku bilang, "Aku melakukannya. Dan itu legal." (berhenti) Kalau kalian tidak suka. Ubah hukumnya. Jangan salahkan aku.

(Hari mulai sore. Trump berdiri, berjalan ke jendela. Kali ini ia tidak menatap kota. Ia menatap langit.)

Trump: (tanpa menoleh) Kau tahu apa yang paling kuharapkan dari Indonesia?

KGM: Apa?

Trump: Aku berharap...suatu hari nanti. Aku membaca berita dari Jakarta. Bukan tentang korupsi. Bukan tentang skandal. (berhenti) Tapi tentang seorang jenderal yang menolak amplop. Atau seorang menteri yang mengundurkan diri karena tidak mau berbohong. (menoleh, matanya aneh, seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang lama hilang) Sesuatu seperti itu. Sesuatu yang...jujur.

KGM: Anda optimis?

Trump: (diam lama) Aku realistis. (kembali ke kursinya) Optimis adalah ketika kau berharap tanpa alasan. Realistis adalah ketika kau melihat data. (mengetuk meja) Dan datanya bilang. Indonesia punya semua yang dibutuhkan. Pemimpin yang berani. Lembaga yang bertaring. Rakyat yang...(berhenti)...Ah, rakyat. Rakyat yang selalu jadi korban. (menggeleng) Itu yang harus berubah.

(Ia mengambil pena. Menulis sesuatu di kliping itu. Lalu mendorongnya ke arahku.)

Aku membaca. Tulisannya besar. Tebal. Seperti perintah:

"PRABOWO: BERANI. KPK: NETRAL. RAKYAT: MARAH. — DJT"

Trump: Itu resepnya. (bersandar) Kau bisa mengutip aku. Kau bisa membenciku. Tapi kau tidak bisa bilang aku tidak peduli.

KGM: Apakah Anda peduli?

Trump: (menatapku lama. Untuk pertama kalinya. Ada sesuatu di matanya. Bukan kehangatan. Tapi sesuatu yang lebih tua): Aku peduli karena korupsi membuat negara lemah. Dan negara lemah...(berhenti)...negara lemah tidak bisa menjadi mitra. Negara lemah hanya bisa menjadi beban. (mengetuk meja) Dan aku tidak suka beban. Aku suka mitra.

(Ia berdiri. Mengulurkan tangan. Jabatan kali ini. Tidak kuat, tidak lemah. Hanya jujur.)

Trump: Sampaikan ini ke Prabowo. Dari aku. (berhenti) "Jangan jadi pemimpin yang dikenang karena apa yang dia ambil. Jadilah pemimpin yang dikenang karena apa yang dia tolak."

(Ia melepas tangan. Berjalan ke meja. Sudah kembali ke pekerjaannya. Telepon. Layar. Dunia yang tidak pernah tidur.)

(Tapi sebelum aku keluar. Ia sempat berucap. Tanpa menoleh. Hampir seperti bisikan):

Trump: Hey. Kalau kau bertemu orang KPK...bilang aku bilang "terima kasih". (berhenti) Mereka bertarung sendirian. Itu...itu berat.

Pintu menutup.

Di luar, matahari mulai tenggelam di atas Washington. Tetapi di suatu tempat, ribuan kilometer jauhnya, di sebuah kantor di Jakarta, seseorang sedang membaca berkas — dan tidak tahu bahwa di Ruang Oval, seorang lelaki tua dengan rambut pirang baru saja memberikan satu-satunya pujian tulus yang pernah ia berikan kepada lembaga asing.

(Aku sudah berdiri. Sudah memegang tas. Sudah setengah jalan menuju pintu. Trump menghentikanku.)

(Ia hanya berkata. Pelan, hampir ke udara:)

Trump: Tunggu dulu. Sepertinya kau belum tanya soal mereka.

KGM: Mereka?

Trump: (menoleh dari kursinya) Para koruptor. (berhenti) Kau tanya aku soal Prabowo. Soal KPK. Soal Amerika. (mengetuk meja) Tapi kau tidak tanya apa yang harus mereka lakukan. Para Koruptor. Padahal itu...Itu bagian yang paling penting.

(Aku meletakkan tas. Duduk kembali.)

KGM: Baik. Ada saran untuk para koruptor Indonesia?

Trump: (bersandar. Tersenyum tipis. Tapi matanya tidak): Saran? (tertawa pelan) Aku bukan pendeta. Aku bukan hakim. Aku tidak akan bilang, "Bertobatlah." (menggeleng) Itu omong kosong. Orang seperti mereka...Mereka tidak bertobat karena nasihat. Mereka bertobat karena takut.

KGM: Jadi saran Anda adalah ancaman?

Trump: Bukan ancaman. Kenyataan. (condong ke depan) Dengarkan aku. Aku sudah melihat ratusan orang seperti mereka. Di New York. Di Atlantic City. Di Washington. (berhenti) Kau tahu apa yang terjadi pada mereka semua pada akhirnya? (tidak menunggu jawaban) Tiga hal. Penjara. Kebangkrutan. Atau kematian yang menyedihkan. Tidak ada yang keempat.

KGM Itu terdengar seperti vonis.

Trump: Itu pengalaman. (mengetuk meja) Aku pernah bekerja dengan orang yang mengambil uang klien. Dia bilang, "Aku hanya pinjam." (menggeleng) Dia mati sendirian di apartemen sewaan. Aku pernah kenal seorang politisi yang korup. Dia pikir dia pintar. (berhenti) Sekarang dia di penjara. Dan anaknya tidak mau mengunjunginya. (menatapku) Itu...itu harga. Dan harganya selalu lebih mahal dari yang mereka kira.

KGM: Jadi saran pertama Anda untuk koruptor?

Trump: Berhenti sekarang. (mengangkat satu jari) Bukan besok. Bukan setelah pemilu. Sekarang. (berhenti) Kau tahu kenapa? Karena setiap hari kau terus. Kau menambah utang. Bukan utang uang. Utang nyawa. (mengetuk meja) Setiap amplop yang kau terima. Ada anak yang tidak dapat sekolah. Ada ibu yang tidak dapat obat. Ada jalan yang tidak dibangun. (diam) Kau tidak mencuri dari pemerintah. Kau mencuri dari orang-orang yang tidak bisa melawan.

KGM: Kedua?

Trump: Kembalikan. (mengangkat dua jari) Aku tahu. Aku tahu. Kau tidak akan mengembalikan semuanya. Tidak ada yang mengembalikan semuanya. (menggeleng) Tapi kembalikan sebagian. Diam-diam. Lewat perantara. Lewat yayasan. (berhenti) Aku tidak bilang itu cukup. Aku bilang itu lebih baik dari tidak sama sekali. Dan kadang...Kadang itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan.

KGM: Itu terdengar seperti kompromi dengan kejahatan.

Trump: (tajam) Kompromi? (tertawa) Kau jurnalis tahu apa itu kompromi? Kompromi adalah ketika kau duduk dengan orang yang kau benci. Dan kau membuat kesepakatan yang tidak kau sukai. Karena alternatifnya lebih buruk. (berhenti) Aku melakukannya setiap hari. Setiap. Hari. (menunjuk) Aku tidak bangga. Tapi aku realistis.

KGM Baik. Saran ketiga untuk koruptor?

(Trump diam lama. Kali ini, ia menatap keluar jendela. Ke kota Washington yang mulai gelap. Ke lampu-lampu yang menyala seperti bintang jatuh.)

Trump: Ketiga, jangan ajari anakmu. (suaranya lebih pelan) Ini yang paling penting. (menoleh) Kau boleh korup. Kau boleh mengambil. Kau boleh berbohong. (berhenti) Tapi jangan wariskan itu. Jangan ajari anakmu bahwa itu normal. Jangan biarkan dia tumbuh berpikir bahwa mengambil uang rakyat adalah...cara hidup.

KGM: Mengapa itu yang paling penting?

Trump: Karena itu satu-satunya hal yang bisa mengubah Indonesia. (mengetuk meja) Bukan KPK. Bukan Prabowo. Bukan Amerika. (menggeleng) Anak-anak kalian. Kalau mereka tumbuh jujur. Dalam dua puluh tahun Indonesia akan berbeda. Kalau mereka tumbuh seperti kalian...(berhenti)...Dalam dua puluh tahun, Indonesia akan sama. Atau lebih buruk.

(Hening. Lampu ruangan berkedip sekali.)

KGM: Anda bilang Anda bukan pendeta. Tapi itu terdengar seperti khotbah.

Trump: (tersenyum. Kali ini ada sesuatu yang lain di matanya): Mungkin. (bersandar) Tapi kau tahu apa bedanya aku dengan pendeta? (berhenti) Pendeta bilang, "Tuhan akan mengampuni." (menggeleng) Aku bilang, "Aku tidak akan."

KGM: Tapi Anda kan bukan hakim.

Trump: Memang Aku bukan hakim. (mengangguk) Tapi aku presiden. Dan presiden...Presiden punya ingatan. (mengetuk meja) Kalau kau korup. Dan kau datang ke Amerika untuk berbisnis. Untuk menaruh uang. Untuk mengirim anakmu ke sekolah. (berhenti) Aku akan tahu. Dan aku tidak akan lupa.

KGM: Itu ancaman?

Trump: Itu informasi. (mengangkat bahu) Kau bisa mengabaikannya. Banyak orang mengabaikan. (diam) Mereka semua menyesal.

(Ia berdiri. Berjalan ke pintu. Membukanya sendiri. Sesuatu yang jarang ia lakukan.)

Trump: (berdiri di ambang pintu): Kau tahu apa yang paling kusuka dari Indonesia?

KGM: Apa?

Trump: Rakyatnya. (berhenti) Mereka sabar. Mereka tabah. Terlalu sabar dan tabah. (menggeleng) Mereka bisa memaafkan. Mereka bisa lupa. (menatapku) Itu kekuatan kalian. Tapi juga kelemahan kalian. (diam) Karena orang yang terlalu sabar...Akan selalu dimanfaatkan.

(Ia mengulurkan tangan. Jabatan terakhir. Kuat, singkat, seperti segel.)

Trump: Sampaikan ini ke mereka. Dari aku. Langsung. (berhenti) "Aku tidak akan mengejar kalian. Aku tidak akan menghukum kalian. Aku tidak akan mengirim FBI ke Jakarta." (menatap mataku) "Tapi ingat. Dunia mengecil. Dan pada akhirnya. Kalian akan bertemu seseorang yang tidak sabar."

(Ia melepas tangan. Masuk kembali. Pintu mulai menutup.)

(Tapi sebelum tertutup sepenuhnya. Suaranya masih terdengar. Dan, hampir seperti doa yang tidak ia akui:)

Trump: Semoga kalian tidak bertemu orang itu. Karena kalau kalian bertemu... (berhenti)...dia tidak akan sebaik aku.

(Pintu menutup.)

(Di luar, malam sudah penuh. Washington menyala seperti kota yang tidak pernah tidur dan tidak pernah jujur. Dan di suatu tempat. Ribuan kilometer jauhnya. Di sebuah rumah besar berpagar tinggi. Seseorang sedang menghitung uang dan emas batangan. Dan mereka tidak tahu bahwa di Ruang Oval. Seorang lelaki tua dengan rambut pirang baru saja menulis wasiat untuk jiwanya.)

(Yang tersisa di mejanya. Tertinggal di bawah kliping koran:)

"BERHENTI. KEMBALIKAN. JANGAN WARISKAN. — DJT"

(Wawancara imajiner ini adalah karya fiksi sastra. Semua dialog adalah imajinasi. Tidak ada klaim faktual atas pernyataan Donald Trump atau Prabowo atau maupun pihak mana pun. Isu korupsi yang disebutkan berdasarkan laporan publik dan tidak menunjuk individu tertentu. )

== T A M A T ==
(Nantikan Wawancara Imajiner Berikutnya)


Serial Tasawuf-15 (2): "Tujuh Anak Tangga Menuju Ketenangan Jiwa"


Narasi Pemicu: Malam itu, hujan turun kembali. Bukan hujan yang deras seperti malam-malam sebelumnya, Melainkan gerimis halus yang membasahi dedaunan tanpa suara. Para salik datang dengan pakaian yang sedikit basah. Tetapi wajah-wajah mereka bersinar. Yunus, yang beberapa malam lalu menangis karena kehilangan anaknya, kini duduk paling depan. Matanya masih sembab. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan yang mulai tumbuh di sana. Seperti tunas kecil yang menembus tanah setelah lama tertidur.

Guru Mursyid memandang Yunus dengan senyum tipis. "Engkau datang lebih awal malam ini, anakku."

"Aku tidak ingin melewatkan apa pun, Wahai Mursyid," jawab Yunus. "Engkau berkata bahwa ridha adalah maqam yang paling tinggi. Tetapi aku belum memahaminya sepenuhnya. Apakah ridha itu satu tingkatan saja. Atau ada tingkatan-tingkatan di dalamnya?"

Mursyid mengangguk. Seolah telah menunggu pertanyaan itu. "Engkau bertanya tentang sesuatu yang jarang ditanyakan orang, Yunus. Kebanyakan orang berhenti pada 'ridha' sebagai satu kata. Tanpa tahu bahwa di dalamnya ada tujuh anak tangga. Dan engkau, malam ini, akan menaiki tangga itu satu per satu."

Anak Tangga Pertama: Menerima dengan Sabar

Mursyid memulai dengan suara yang pelan. Seperti orang yang sedang membacakan kitab tua.

"Tingkatan pertama adalah ridha yang lahir dari kesabaran. Ini adalah tingkatan paling dasar. Engkau menerima musibah karena engkau tahu bahwa engkau harus bersabar. Engkau tidak mengeluh. Engkau tidak menyalahkan Allah. Engkau tidak berputus asa. Tetapi hatimu masih terasa berat. Engkau masih bertanya: 'Mengapa ini terjadi padaku?' Engkau masih menahan diri. Bukan menerima dengan lapang."

"Orang pada tingkatan ini seperti seorang yang meminum obat pahit. Ia tahu obat itu baik untuknya. Ia meminumnya tanpa membantah. Tetapi wajahnya tetap berkerut karena rasa pahitnya. Ia sabar. Tetapi belum ridha."

Yunus mengangguk. "Itulah yang aku rasakan, Wahai Mursyid. Aku telah bersabar. Tetapi hatiku masih terasa berat."

Mursyid tersenyum. "Dan itu sudah cukup untuk memulai, anakku. Tidak ada yang mencapai ridha tanpa melewati sabar."

Anak Tangga Kedua: Menerima dengan Lapang

"Tingkatan kedua adalah ridha yang lahir dari keikhlasan. Engkau menerima musibah bukan karena engkau terpaksa. Tetapi karena engkau ikhlas. Engkau tidak lagi bertanya mengapa. Karena engkau tahu bahwa pertanyaan itu tidak akan mengubah apa pun. Engkau mulai melihat musibah sebagai bagian dari perjalanan. Bukan sebagai hukuman."

"Orang pada tingkatan ini seperti seorang yang meminum obat. Tetapi ia telah tahu bahwa obat itu akan menyembuhkannya. Wajahnya tidak lagi berkerut. Ia meminumnya dengan tenang. Karena ia percaya pada dokter yang meresepkannya."

Anak Tangga Ketiga: Menerima dengan Tenang

"Tingkatan ketiga adalah ridha yang lahir dari ketenangan. Engkau menerima musibah tanpa kegelisahan. Hatimu tenang. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau tahu bahwa sakit itu akan berlalu. Engkau seperti orang yang berjalan di atas jembatan yang kokoh. Ia tidak takut jembatan itu akan runtuh, meskipun ia belum melihat ujungnya."

Anak Tangga Keempat: Menerima dengan Syukur

"Tingkatan keempat adalah ridha yang lahir dari syukur. Ini adalah tingkatan yang lebih tinggi. Engkau tidak hanya menerima musibah dengan tenang. Tetapi engkau bersyukur atasnya. Engkau melihat musibah sebagai karunia. Bukan karena musibah itu menyenangkan. Tetapi karena engkau tahu bahwa di baliknya ada hikmah yang tidak engkau lihat."

"Orang pada tingkatan ini seperti seorang yang menemukan permata di dalam lumpur. Ia tidak membenci lumpur itu, karena lumpur itulah yang menyembunyikan permata."

Anak Tangga Kelima: Menerima dengan Cinta

"Tingkatan kelima adalah ridha yang lahir dari mahabbah. Engkau menerima musibah karena engkau mencintai Dzat yang memberikannya. Engkau tidak lagi memikirkan apakah musibah itu menyakitkan atau tidak. Yang engkau pikirkan hanyalah: 'Apakah Allah ridha kepadaku?' Jika Allah ridha. Maka segala sesuat, bahkan musibah, menjadi manis."

"Orang pada tingkatan ini seperti seorang kekasih yang menerima apa pun dari kekasihnya. Jika kekasihnya memberi bunga, ia bahagia. Jika kekasihnya memberi duri, ia tetap bahagia. Karena duri itu datang dari tangan yang dicintainya."

Anak Tangga Keenam: Menerima Sebelum Terjadi

"Tingkatan keenam adalah ridha yang mendahului musibah. Engkau tidak hanya ridha setelah musibah datang. Tetapi engkau telah ridha sebelum musibah itu terjadi. Engkau telah menyerahkan dirimu sepenuhnya kepada Allah. Sehingga apa pun yang terjadi. Engkau sudah siap menerimanya."

"Orang pada tingkatan ini seperti seorang hamba yang telah menyerahkan kunci rumahnya kepada tuannya. Apa pun yang tuannya lakukan terhadap rumah itu. Apakah ia renovasi. Apakah ia ratakan dengan tanah. Hamba itu tidak keberatan. Karena rumah itu bukan miliknya."

Anak Tangga Ketujuh: Ridha yang Menjadi Hakikat

"Tingkatan ketujuh adalah ridha yang telah menjadi hakikat dirimu. Engkau tidak lagi merasa sedang ridha, karena ridha telah menyatu dengan jiwamu. Engkau tidak lagi merasa sedang menerima. Karena engkau tidak lagi memiliki kehendak sendiri. Kehendakmu telah melebur dalam kehendak Allah. Engkau tidak lagi berkata 'aku ridha'. Karena tidak ada lagi 'aku' yang bisa ridha. Yang ada hanyalah Allah."

"Orang pada tingkatan ini seperti setetes air yang jatuh ke laut. Ia tidak lagi berkata 'aku adalah setetes air'. Ia telah menjadi laut."

Mursyid berhenti sejenak. "Inilah tingkatan tertinggi. Hanya segelintir orang yang mencapainya. Para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan para salihiin yang telah dipilih Allah."

Allah Akan Menuntunmu

Hujan telah berhenti. Awan mulai terbuka, dan bintang-bintang muncul satu per satu. Mursyid bangkit dari duduknya, membetulkan selimutnya, dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya. "Engkau tidak perlu mencapai tingkatan tertinggi dalam semalam. Engkau hanya perlu menaiki satu anak tangga setiap hari. Mulailah dari sabar, lalu ikhlas, lalu tenang, lalu syukur, lalu cinta. Dan suatu hari. Ketika engkau menoleh ke belakang. Engkau akan menyadari bahwa engkau telah sampai di puncak. Bukan karena engkau kuat. Tetapi karena Allah telah menuntunmu."

"Ingatlah pesan ini: Ridha bukanlah tujuan yang engkau capai. Tetapi perjalanan yang engkau lalui. Engkau tidak akan pernah merasa 'sudah ridha'. Karena ridha selalu bisa lebih dalam. Engkau hanya bisa terus menaiki anak tangga itu. Satu per satu. Sampai engkau bertemu dengan Dzat yang telah menciptakan tangga itu. "

Mursyid menutup majelis dengan doa:

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ridha yang Engkau ridhai. Naikkanlah kami dari satu anak tangga ke anak tangga yang lain. Sampai kami mencapai tingkatan tertinggi. Ketika kehendak kami telah melebur dalam kehendak-Mu. Aamiin Yaa Robbal Aalamin."

Yunus tersenyum. Ia masih berada di anak tangga pertama. Tetapi ia tahu bahwa ia sedang bergerak. Dan itu sudah cukup.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Serial Tasawuf-15 (3) Buah-Buah Ridha dalam Kehidupan Sehari-hari



Sabtu, 10 Oktober 2026

Humor Kaum Bajingan Pengadilan


Pengantar: Berikut ini adalah paket humor kaum bajingan pengadilan. Tentu saja ini merupakan fiksi satire. Sebuah jurnalistik rekayasa. Jadi, ya, jangan ditiru. Lalu kalau mirip? Berarti pengadilan kita sejatinya sedang tidak humor.

Paket 1: Keadilan Express

Terdakwa: "Yang Mulia, saya minta keadilan."
Hakim: "Minta keadilan? Boleh-boleh saja. Tapi harap antre dulu..!"
Terdakwa: "Antreannya berapa lama Yang Mulia?"
Hakim: "Tergantung."
Terdakwa: "Tergantung apa?"
Hakim: "Tergantung siapa yang mengantar dan berapa nominalnya."
Terdakwa: "Kalau saya hanya sendiri dan gak bawa apa-apa??"
Hakim: "Bisa saja. Tapi jangan harap."
Terdakwa: "Jangan harap apa?"
Hakim: "Jangan harap dilayani dengan cepat. Harap berbekal sabar tak terbatas."
Terdakwa: "Duh, nasib orang kecil.."

(Punchline: Di negeri ini, keadilan bukan buta. Cuma pura-pura tidak melihat.)

Paket 2: Lelang Pasal

Jaksa: "Pasal yang cocok untuk Anda ada tiga paket: 2 tahun, 5 tahun, atau 10 tahun."
Terdakwa: "Saya pilih yang 2 tahun, pak Jaksa."
Jaksa: "Boleh. Itu namanya paket hemat. Tapi ada biaya tambahan."
Terdakwa: "Berapa?"
Jaksa: "Tergantung kecepatan putusan."
Terdakwa: "Kalau saya mau cepat?"
Jaksa: "Berarti di-upgrade ke paket express. Sidang pagi. Vonis siang, Sore bebas."
Terdakwa: "Kalau nggak bayar?"
Jaksa: "Itu paket reguler. Lama sidang lima bulan. Vonis lima menit. Penjara lima tahun."

(Punchline: Pasal bisa dipilih seperti menu restoran. Yang mahal bukan makanannya. Tapi diskonnya.)

Paket 3: Amplop Kenangan

Hakim: "Catat..! Saya tidak menerima suap..!"
Terdakwa: "Keren, Yang Mulia. Saya juga tidak berniat untuk menyuap."
Hakim: "Lalu ini apa?"
Terdakwa: "Ini...cuma kenang-kenangan Yang Mulia."
Hakim: "Kenang-kenangan apa?"
Terdakwa: "Agar Yang Mulia ingat saya."
Hakim: "Loh, Saya sudah ingat kok.."
Terdakwa: "Tapi belum cukup Yang Mulia. Jangan sampai lupa saat putusan."
Hakim: "Saya tidak pernah lupa pasal."
Terdakwa: "Saya tahu Yang Mulia. Tapi kan yang sering terjadi. Begitu lupa amplopnya, otomatis pasalnya jadi lupa."

(Punchline: Kadang hakim lupa pasal, tapi tidak lupa kado.)


Paket 4: Mediasi Damai


Pengacara A: "Kita sudahi dengan damai saja."
Pengacara B: "Damai bagaimana?"
A: "Klien saya bayar, Klien Anda terima. Perkara hilang."
B: "Itu bukan damai. Itu transaksi."
A: "Sama saja. 
B: "Lalu bedanya apa?"
A: "Bedanya,  kalau  damai ada berita acaranya."
B: "Kalau transaksi?"
A: "Nggak ada berita acara. Tapi ada rekaman dan tanda terima."
B: "Rekaman?"
A: "Iya. Rekaman...Kalau nanti ada yang tidak beres dan tidak puas."

(Punchline: Di pengadilan, damai bisa berarti kedua pihak sepakat untuk tidak jujur.)


Paket 5: Kasasi Express

Terdakwa: "Saya mau kasasi."
Pengacara: "Boleh. Ada dua jalur. Jalur hukum atau jalur cepat."
Terdakwa: "Bedanya?"
Pengacara: "Jalur hukum butuh bukti. Jalur cepat butuh kenalan."
Terdakwa: "Saya pilih yang jalur kenalan dan cepat saja."
Pengacara: "Bagus. Tapi kalau ketahuan, kita ganti nama jadi upaya hukum luar biasa ya..."
Terdakwa: "Maksudnya luar biasa apa?"
Pengacara: "Luar biasa...muahal..."

(Punchline: Kasasi bisa lambat, bisa cepat. Tergantung siapa yang dihubungi dan berapa besaran nominalnya.)

Paket 6: Keadilan Masih Tersedia

Terdakwa: "Yang Mulia, saya minta keadilan."
Hakim: "Siap. Kebetulan keadilan masih tersedia. Tapi ada biaya administrasinya."
Terdakwa: "Administrasi apa?"
Hakim: "Administrasi...dalam rangka mempercepat proses."
Terdakwa: "Kalau tidak bayar?"
Hakim: "Prosesnya tetap jalan terus."
Terdakwa: "Bagus dong."
Hakim: "Iya. Tapi arahnya pake baju orange ke penjara."
Terdakwa: "Kalau bayar?"
Hakim: "Arahnya ke rumah sakit. Nominalnya bikin sakit perut dan mencret mendadak."

Bonus 
Punchline: 

Di pengadilan, yang disebut negeri bisa berarti tempat berjuang membela hukum. Atau tempat jual beli hukum.

Bonus Pantun:

Pergi ke pasar beli kacamata
Beli juga sepasang selop
Bajingan itu setengah buta,
Mata ijo lihat amplop

Serial Tasawuf-15 (1): "Ridha, Ketika Hati Berdebat dengan Takdir"


Pengantar: Hujan telah berlalu, dan sumur di belakang zawiyah kembali terisi. Namun malam itu, langit kembali gelap. Bukan karena awan. Melainkan karena gerhana yang menelan bulan. Para salik duduk di serambi. Memandangi langit yang kehilangan cahayanya. Di antara mereka, seorang salik bernama Yunus menangis tanpa suara. Ia baru saja kehilangan anaknya yang masih bayi. Dan hatinya masih bergulat dengan pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

Ketika Bulan Tersembunyi di Balik Awan

Mursyid duduk di sampingnya. Tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan tangannya di pundak Yunus. Membiarkan kehangatan itu berbicara lebih dari seribu kalimat.

Setelah lama terdiam. Mursyid akhirnya berbicara dengan suara yang pelan. Seperti bisikan angin di antara dedaunan.

"Yunus, anakku. Malam ini bulan tertutup. Tetapi ia tidak hilang. Cahayanya masih ada. Hanya tersembunyi di balik awan. Begitu pula hikmah dari apa yang engkau alami. Engkau tidak melihatnya sekarang. Tetapi ia ada. Dan ia akan muncul. Ketika engkau siap melihatnya."

Yunus mengangkat wajahnya. Matanya merah. "Wahai Mursyid, bagaimana aku bisa menerima ini? Bagaimana aku bisa ridha ketika hatiku hancur?"

Mursyid menghela napas. "Itulah pertanyaan yang paling berat, anakku. Dan jawabannya adalah maqam yang paling tinggi: Ridha."

Kisah Seorang Ayah dan Dua Anaknya

Mursyid memulai kisahnya malam itu dengan suara yang dalam. Seperti air yang mengalir di bawah tanah.

"Ada seorang ayah yang memiliki dua anak. Ketika ayah itu sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit jauh. Ia memanggil kedua anaknya. Kepada anak pertama. Ia berkata: 'Aku akan pergi untuk waktu yang lama. Jagalah rumah. Rawatlah ibumu. Dan janganlah engkau berhenti berdoa untukku.'"

"Anak pertama menangis. Tetapi ia berkata: 'Baik, Ayah. Aku akan melakukan apa yang engkau minta.'"

"Kepada anak kedua. Ayah itu berkata hal yang sama. Tetapi anak kedua menjawab: 'Ayah, mengapa engkau harus pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami? Apakah engkau tidak mencintai kami? Aku tidak mau engkau pergi. Aku akan melakukan apa pun agar engkau tetap di sini.'"

Mursyid berhenti sejenak. "Anak pertama menerima keputusan ayahnya dengan ridha. Anak kedua menolaknya dengan keluh kesah. Keduanya mencintai ayah mereka. Tetapi hanya anak pertama yang memahami bahwa cinta sejati bukanlah memaksa kehendak sendiri. Melainkan menerima kehendak yang dicintai."

"Ayah itu pergi juga. Ia tidak bisa tinggal hanya karena anaknya menangis. Tetapi ketika ia kembali, setelah sembuh, ia memeluk anak pertama dengan erat dan berkata: 'Engkau telah membuatku bangga. Engkau telah menunjukkan cinta yang sejati.'"

Mursyid menatap Yunus. "Allah adalah Ayah kita yang sejati. Ia mengambil sesuatu dari kita bukan karena Ia tidak mencintai kita. Tetapi karena Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Ridha adalah ketika kita menerima keputusan-Nya. Meskipun kita tidak memahaminya."

Hakikat Ridha yang Sesungguhnya

Seorang salik bernama Bilal mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah ridha berarti kami tidak boleh bersedih? Apakah ridha berarti kami harus tersenyum ketika hati kami menangis?"

Mursyid menggeleng pelan. "Tidak, anakku. Itu bukan ridha. Itu kemunafikan."

"Ridha bukanlah tidak adanya kesedihan. Ridha adalah ketenangan hati di tengah kesedihan. Nabi Muhammad SAW menangis ketika anaknya, Ibrahim, meninggal. Beliau bersabda: 'Mata ini menangis. Dan hati ini bersedih. Tetapi kami tidak mengatakan apa pun yang tidak diridhai Allah.'"

"Perhatikanlah, Nabi SAW tidak mengatakan bahwa beliau tidak sedih. Beliau bersedih. Tetapi beliau tidak mengeluh. Beliau tidak menyalahkan Allah. Beliau tidak berputus asa. Itulah ridha. Kesedihan yang tidak melahirkan kedurhakaan."

Mursyid menjelaskan, "Imam al-Ghazali, mengajarkan bahwa ridha adalah buah dari mahabbah. Ketika engkau mencintai Allah dengan sepenuh hati. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia lakukan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau percaya bahwa Dzat yang engkau cintai tidak akan pernah menyakitimu."

"Ridha bukanlah pasrah yang buta. Ridha adalah kepercayaan yang total. Engkau tidak tahu mengapa Allah melakukan sesuatu. Tetapi engkau tahu bahwa Allah tidak pernah salah. Engkau tidak tahu apa hikmah di balik musibah. Tetapi engkau tahu bahwa Allah selalu ingin yang terbaik untukmu."

Dalil-Dalil dari Al-Qur'an

Mursyid membuka mushafnya. "Dengarkanlah, anak-anakku, apa yang Allah katakan tentang ridha."

"Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah (karunia) yang besar." (Al-Maidah: 119)

"Perhatikanlah," ujar Mursyid, "ridha itu timbal balik. Jika engkau ridha kepada Allah, Allah akan ridha kepadamu. Dan keridhaan Allah adalah karunia yang paling besar. Lebih besar dari surga. Lebih besar dari segala kenikmatan."

"Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh. Niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah benar-benar ridha terhadap mereka. Dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah (karunia) yang besar." (Al-Mujadilah: 22)

"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai." (Al-Fajr: 27-28)

Mursyid menatap para salik. "Perhatikanlah ayat ini. Allah tidak memanggil jiwa itu dengan 'hai jiwa yang sabar' atau 'hai jiwa yang zuhud'. Ia memanggilnya dengan 'hai jiwa yang tenang'. Ketenangan adalah buah dari ridha. Ketika engkau ridha. Jiwamu menjadi tenang. Tidak lagi gelisah. Tidak lagi memberontak. Tidak lagi bertanya-tanya."

"Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak." (Ibrahim: 42)

Dalil-Dalil dari Hadits

Mursyid melanjutkan dengan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.

"Rasulullah SAW bersabda:

'Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya.' (HR. Muslim)

"Perhatikanlah, Nabi SAW menyebutkan bahwa orang mukmin selalu dalam kebaikan. Tetapi ada satu tingkatan yang lebih tinggi dari syukur dan sabar. Yaitu ridha. Orang yang ridha tidak hanya bersyukur ketika senang dan bersabar ketika susah. Ia ridha dalam segala keadaan."

'Barangsiapa yang ridha. Maka ia mendapat keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang murka. Maka ia mendapat murka Allah.' (HR. Tirmidzi)

Mursyid juga mengisahkan sabda Nabi:

'Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah, lalu ia berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" dan "Ya Allah, berilah aku pahala atas musibahku ini, dan gantilah untukku dengan yang lebih baik," melainkan Allah akan memberinya pahala dan menggantinya dengan yang lebih baik.' (HR. Muslim)

"Ridha," ujar Mursyid, "bukanlah sekadar menerima musibah. Ridha adalah yakin bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Jika bukan di dunia, maka di akhirat."

Ridha Maqam Paling Berat

Malam semakin larut. Gerhana telah berlalu. Dan bulan kembali menampakkan wajahnya yang pucat namun indah. Mursyid bangkit dari duduknya. Membetulkan sarungnya. Memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya. "Ridha adalah maqam yang paling tinggi. Tetapi juga yang paling berat. Ia bukan dicapai dengan kekuatan. Tetapi dengan cinta. Ketika engkau mencintai Allah dengan sepenuh hati. Engkau akan ridha dengan segala yang Dia lakukan. Bukan karena engkau tidak merasakan sakit. Tetapi karena engkau percaya bahwa Dia tidak akan pernah menyakitimu."

"Ingatlah pesan ini: Engkau tidak bisa memahami hikmah di balik setiap kejadian. Tetapi engkau bisa mempercayai Dzat yang mengetahui hikmah itu. Engkau tidak bisa melihat masa depan. Tetapi engkau bisa mempercayai Dzat yang menciptakan masa depan. Engkau tidak bisa mengubah takdir. Tetapi engkau bisa ridha dengan takdir. Dan ridha itu akan mengubah hatimu menjadi taman yang penuh kedamaian."

Mursyid menutup majelis dengan doa:

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang ridha—hati yang tidak berdebat dengan takdir, hati yang tidak mengeluh atas musibah, hati yang tidak gelisah atas masa depan. Jadikanlah kami hamba-hamba yang Engkau ridhai, dan berikanlah kami keridhaan-Mu, karena keridhaan-Mu adalah kebahagiaan yang sejati. Amin."

Yunus mengusap air matanya. Ia belum bisa ridha sepenuhnya. Tetapi ia mulai memahami. Anaknya tidak hilang. Ia hanya dipanggil pulang oleh Dzat yang lebih mencintainya daripada ia sendiri. Dan suatu hari, ia akan bertemu lagi.

Malam itu, para salik pulang dengan hati yang lebih lapang. Mereka belum mencapai ridha. Tetapi mereka telah melihatnya. Dan melihatnya adalah langkah pertama.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Serial-15 (2): "Tujuh Tingkatan Ridha"

Wawancara Imajiner-3, dengan Presiden Donald J. Trump: "Tentang Korupsi Indonesia"

Lokasi: Ruang Oval, Gedung Putih. Washington, D.C. Waktu: 06 Oktober 2026, pagi. Hujan turun di luar.Membasahi jendela-jendela tinggi itu s...